
Malam sudah teramat larut namun Jaka belum jua bisa terlelap walau sekedar untuk memejamkan mata. Ia teramat khawatir dengan kondisi Putri yang semakin panas badanya.
Dengan hati-hati ia mulai mengganti kain kompres yang ada di kening putri, ia basahi dengan air hangat yang berada di baskom meja rias disamping ranjang sebelah kanan dimana Putri berbaring.
Sementara seisi rumah rupanya sudah terlelap, karena memang waktu telah menunjukkan pukul 23.00 hampir tengah malam. Jaka terus memandang wajah Putri yang tengah terlelap nampak pucat.
“Kasihan Putri harus jauh dari orangtuanya mungkin ia sakit karena sudah rindu pada Abah dan Uminya,” gumam Jaka lirih.
Lalu dengan perlahan Jaka membenahi selimut Putri yang terbuka. Untuk kembali menutupi tubuh Putri agar tidak kedinginan,
“Kalau sudah begini aku kangen sama tingkahmu yang suka jahil Put, aku kangen sama bawel mu, sama cerewetmu,” kata Jaka seraya mengganti kembali kain kompres di kening Putri.
“Oh iya, sampai lupa lapor ke Pak RT kalau aku bakal lama menginap di rumah Pakde sudahlah besok saja,” kata Jaka sambil menepuk kening.
“Putri..., Putri, kalau sedang sakit begini manjanya kamu Put,” kata Jaka ngomong sendiri.
“Ah biar aku kunci pintu dulu, bikin kopi terus nikmati tengah malam di balkon situ, siapa tahu ada hal aneh lewat terus saya tegur mau kemana mbak hahay..., ya kali mbak kunti terbang saya sapa hehehe...,” kata Jaka lantas berdiri dari duduknya di samping putri lalu pergi mengunci pintu kamar.
“Lah ini kopi sudah ada satu gelas pasti Bude tadi yang buat, tapi sudah dingin ini kopi, tidak apalah yang penting minum kopi,” celetuk Jaka mengambil kopi yang terletak di meja televisi sebelah almari pakaian di samping ranjang sebelah kiri.
Dengan seteguk demi teguk Jaka mulai menikmati kopi di atas balkon kamar tamu rumah Pak Haji Sugian.
Menikmati kesunyian malam memandang jauh alam semesta, mengagumi betapa luas ciptaan Sang Kuasa, nikmat mana lagi yang aku lupakan sehingga aku lupa untuk bersyukur, celetuk Jaka dalam hati masih dengan segelas kopi hitam di tangan kanan.
Matanya terus menikmati hamparan alam malam yang begitu tenang dengan rasa syukur yang mendalam, terdengar nyanyian instrumental pohon bambu saling bersahutan dari arah belakang desa tak lupa burung malam termasuk si burung hantu berkicau merdu memecah keheningan malam dengan nada-nada serak manja.
“Ah begitu nikmat sesungguhnya suasana malam kalau benar-benar di ilhami,” celetuk Jaka.
Kali ini matanya tertuju pada sisi luar pagar depan rumah Pak Haji Sugian. Tepatnya sebelah gardu agak di dalam. Nampak bayangan seseorang duduk sendeku seperti menangis.
"Jaka penasaran apa ia, sosok tersebut adalah ruh dari korban kecelakaan kemarin lusa," gumam Jaka dalam hati.
__ADS_1
Jaka terus mengamati sosok tersebut, “Ah, sial tidak begitu kelihatan!!,” kata Jaka menggerutu.
Lalu ia coba melihat sosok tersebut dengan terobosan kontak batin, mencoba memanggilnya dengan kata di dalam hati. Tak terucap di bibir namun terdengar di alam bawah sadar.
“Assalamualaikum wahai kau yang bersendeku di dalam gardu dengan rintihan,” ucap Jaka di dalam hati.
Lalu seolah bicara langsung bertatap muka Jaka seperti tahu bahwa sosok itu kini tidak lagi seperti kemarin yang sangat menyeramkan kini ia berwujud layaknya pemuda biasa namun tetap berwajah pucat seperti mayat.
“Waalaikumsalam mas, ia benar saya korban kecelakaan yang mas maksud,” jawab sesosok makhluk yang berada dalam gardu tersebut.
“Lalu kenapa beberapa hari ini kau mengganggu warga sekitar dengan bergentayangan mengetuk pintu rumah warga,” kata Jaka tetap bicara dalam hati ke hati dengan sosok dalam gardu.
“Maaf mas aku terpaksa karena walau sudah menjadi ruh tapi aku masih bisa merasakan sakit akibat ulah manusia yang menetesi air perasan jeruk nipis di bekas darahku,” terang Si Sosok dalam Gardu.
“Terus maumu bagaimana, tu... hantu ..?,” kata Jaka masih mengontak melewati telepati pikiran.
“Sampaikan maaf ku pada warga sekitar aku sudah tenang, kalau bisa pelaku yang membuat aku gentayangan tolong di tangkap dan aku berterimakasih karena kalian hendak mengadakan pengajian untukku,” kata Si Hantu Sosok dalam gardu.
“Terimakasih mas untuk bantuannya, saya Pamit...,” kata Si Hantu Sosok dalam Gardu menghilang dari pandangan mata batin Jaka.
“Dasar hantu pergi tidak pakai salam dia, lah kopi ku habis sudah, tidur.. tidur,” kata Jaka ngedumel sendiri seraya pergi kedalam kamar dan menutup pintu kaca yang menyambung kearah balkon.
“Lihat Si Bawel Putri dulu ah kali selimutnya kembali ke buka kasihan kan nanti kedinginan,” gumam Jaka melangkah ke arah Putri berbaring.
“Astafirullahhaladzim, hadeh selimutnya kebuka, baju tidurnya kesingkap ke atas lagi kan jadi kelihatan perutmu Putri, Ya Allah ujian apa cobaan ini, sabar.., sabar,” Jakapun membenahi selimut dan baju tidur Putri yang tersingkap dengan mata yang ia tutup telapak tangan kiri sedangkan tangan kanan meraih baju Putri yang tersingkap dengan hati-hati.
“Yah..., Yah..., Astagfirullah kepegang kan perutmu, haduh..., maaf ya Put enggak sengaja, beneran sumpah dah,” kata Jaka bergegas membenahi selimut Putri kembali.
“Dingin...., dingin... dingin..,” tiba-tiba Putri merintih badanya semakin menggigil bertambah Panas namun, karena semakin panas suhu di badanya sehingga ia seakan merasa begitu kedinginan.
“Loh Putri bagaimana ya, waduh aku harus bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan ini mana masih tengah malam lagi,” kata Jaka mondar-mandir bingung tak karuan.
__ADS_1
“Oh ia di kompres lagi ya Putri tenang ya,” celetuk Jaka mengganti kain kompres di kening Putri.
“Jaka dingin..., dingin...,” namun Putri masih terus merintih kedinginan walau kompres telah diganti dengan kain yang dibasahi air hangat.
“Ya Allah Putri, mana Pakde dan bude sudah pada tidur mau bangunin enggak berani aku, jam segini juga mana ada dokter yang buka Putri,” kata Jaka nampak khawatir melihat keadaan Putri.
“Ini terpaksa ini Putri ya, Ya Allah apa aku harus melakukan cara itu ya aku takut dosa ya Allah,” kata Jaka.
“Maaf..., Maaf sekali ya Putri aku terpaksa melakukan cara itu yang pernah kau katakan dulu, katamu kalau ada teman atau orang kedinginan tentunya lawan jenis. Cara yang paling manjur untuk mengobati dan menghilangkan rasa dingin itu adalah dengan cara memeluknya, begitu katamu dulu,” ucap Jaka.
“Maaf sekali Putri, bukan maksudku untuk kurang ajar atau lancang ya ini demi keselamatan mu ya Bawel,” ucap Jaka.
Lalu Jaka berbaring di sebelah Putri berbagi selimut seraya memeluk tubuh Putri yang tengah menggigil kedinginan. Namun tak seberapa lama Jaka keluar kembali dari dalam selimut seraya bangun turun dari ranjang.
“Astagfirullah... Astagfirullah hal Adzim, Jaka apa yang kau lakukan bukan muhrim Jaka,” ucap Jaka dalam hati namun tak tega melihat Putri yang terus menggigil kedinginan.
“Hari ini demi keselamatan mu Bawelku, aku melanggar batas keyakinan ku, semoga Allah mengampuni dosa ku dan memakluminya,” celetuk Jaka kembali menuju ranjang berbaring di samping Putri seraya memeluknya, berbagi selimut dan terpejam bersama.
_
_
_
_
_
_
_
__ADS_1