T O H

T O H
Keanehan Sebelum kelahiran


__ADS_3

BAB 141


KEANEHAN SEBELUM KELAHIRAN


Jaka sibuk menata berkas-berkas yayasan pondok yang ia kelola. Sudah terlalu sore tapi ia belum pulang. Sedangkan semua karyawan dan stafnya sudah pergi meninggalkan pondok untuk bersua kembali dengan keluarga mereka setelah seharian bekerja di pondok membantu Jaka.


"Hmm.. " Hembusan nafas lelah Jaka membentuk guratan-guratan embun dari hawa dingin yang akhir-akhir ini datang setiap magrib menjelang.


Sedikit ia raih kopi yang dibuatkan oleh pekerja office boy tadi sore. Satu teguk membasahi kerongkongan dan dahaga di tenggorokannya.


Tampak ia berdiri di balik salah satu jendela kaca di sudut ruang kantornya. Matanya memandang luas arah ufuk barat yang masih memudarkan dari kata semarai belum hilang masih terdapat sisa-sisa merah bata masih terlihat menggelayut mesra di sana.


Dari arah jendela kantornya yang sengaja ia buat menghadap ke arah kota dan lurus pas mengahadap Bukit Tunggorono. Sengaja ia buat sedemikian rupa dengan rancangan arsitektur salah satu punggawa TOH yang kebetulan ada anak muda bergelar arsitek telah menjadi salah satu anggota.


Kadang kala ada rasa bangga bahwa TOH sudah semakin luas jaringannya dan sudah semakin diminati, kalangan muda-mudi sudah banyak yang bergabung menjadi anggota. Bukan hanya dari masyarakat kalangan tengah ke bawah seperti dahulu namun sudah menyeluruh.


Terbukti banyak anak muda bergelar sarjana ikut dalam organisasi yang dibentuk oleh almarhum sang gurunya Abah Kasturi sepuluh tahun yang lalu.


Generasi yang sekarang juga sudah begitu ahli bahkan melebihi atau melampaui keahlian para pendahulunya. Semoga jua tak lekas menyerah, tetap bermental juara seperti generasinya dahulu, begitulah harapan Jaka, tampaknya yang tersirat dalam hati sore ini.


Terdengar getar ponsel yang ia kantongi di saku samping celana jeans bergetar, menandakan ada sebuah chat WA masuk. Sejenak ia raih ponsel di saku celana, mengusap layarnya lalu membaca isi WA yang tertera.


''Ayah sayang cepat pulang, mamah sudah kangen. Jangan lama-lama kerjanya! Pulang tak totok loh.'' Sebuah pesan singkat dari aplikasi pesan whatsapp terbaca dari sang istri di rumah.


Selalu dan setiap hari, pasti sama isi chat WA dari sang istri dan selalu membuat bibir Jaka tersenyum puas sebab ia tau rasa cinta Putri istrinya teramat besar sehingga ia selalu khawatir kalau sang suami tak kunjung pulang.


Namun Jaka merasakan ada sebuah kejanggalan dari warna langit magrib yang ia pandangi sejak tadi. Ada sebuah bayangan besar menutupi langit di atas kota Jombang seakan burung besar mengepakkan sayapnya yang hitam teramat besar sehingga keseluruhan langit kota Jombang nyaris tertutupi.

__ADS_1


"Apa lagi ini? Masalah apa lagi yang akan timbul? Baru saja kami tenang, kenapa ada saja setan yang datang mengacau?" Jaka bergegas menembus kaca jendela, berdiri di atas udara seakan udara seperti lantai baginya.


Sejenak ia mengamati langit, mencoba menerka makhluk apa yang berani menutupi langit kota yang ia jaga kedamaiannya selama ini dengan susah payah dan bertaruh antara hidup dan mati.


Terdengar kembali ponselnya bergetar untuk kedua kalinya dan kedua kalinya tangannya yang sudah mulai berotot dan kekar akibat terlalu banyaknya bertempur semasa muda, merogoh saku samping celananya.


''Ayah, ini Wahyu. Dede Elang mau lahir, Ayah. Tadi om Dafa nelepon Mamah. Pulang ya, Ayah! Jangan lupa coklatnya Wahyu.'' Rupanya pesan WA dari anak lelaki semata wayangnya, Wahyu. Mengabarkan kalau keponakannya yang dikandungan istri dari Dafa sudah saatnya melahirkan.


"Berarti itu yang menutupi langit, Elang dong." Celetuk Jaka memejamkan mata, sejenak berkonsentrasi, fokus pada bayangan di atas langit kota Jombang.


Ketika Jaka mencoba berkomunikasi kepada Elang hanya untuk memastikan bahwa bayangan itu adalah benar-benar wujud dari Elang itu sendiri, seperti ada aliran listrik yang menyambar langsung menuju matanya. Sehingga pandangannya kembali terpentalkan.


"Allahu Akbar. Aku tau itu kamu, Elang. Aku tau itu wujudmu. Benar kata Mbah Raji ternyata sosok pendamping generasi ketiga TOH memang susah untuk diajak berunding, kalau bukanlah si pemilik sah yang ditakdirkan untuk dirinya." Setelah mengecek bayangan dan memastikan kalau itu benar-benar Elang, makhluk pendamping yang ditakdirkan untuk bakal keponakannya, anak dari Dafa yang akan segera lahir, Jaka akhirnya turun namun tak melewati dalam gedung bertingkat Yayasan Pondok yang ia pimpin.


Jaka turun perlahan dari udara selayaknya menaiki lift perlahan namun tiada lift, hanya udara sebagai pijakan. Seperti sinetron laga yang memakai tali untuk bergelantungan.


~RSUD Kota Jombang~


"Aduh... Sakit, Pah!!" Teriak Sari memegang erat tangan Dava di sampingnya sedangkan ia sendiri terbaring di atas tempat tidur dorong Rumah Sakit untuk segera dibawa ke ruang bersalin.


"Ia... Sabar ya... Sabar ya.. Pasti Ayang bisa kok." Ucap Dava terus menenangkan Sari yang tengah kesakitan.


Setelah sampai di depan pintu ruang bersalin lalu Sari dimasukkan bersama beberapa perawat dan suster ke dalam ruang bersalin. Salah satu dokter bertanya pada Dava.


"Bapak mau ikut masuk apa menunggu di luar saja?"


Dava yang sangat khawatir setiap Sari merasakan kesakitan sebab pengalaman berbicara Sari selalu menjadi korban akan kebrutalan para setan, tak mau melewatkan perjuangan antara hidup dan mati sang istri, memutuskan untuk ikut masuk ke dalam ruangan bersalin menemani sang istri berjuang mengantarkan sang buah hati pertamanya.

__ADS_1


"Saya ikut ke dalam, Dok." Dengan mantap Dava mengangguk seraya melangkah mengikuti ibu dokter memasuki ruangan bersalin.


Namun belum jua pintu ruangan bersalin ditutup oleh ibu dokter, tiba-tiba ada hawa angin aneh yang berhembus tak beraturan di atas rumah sakit.


Seraya menggoyangkan beberapa batang pohon di area Rumah Sakit menimbulkan gaduh seakan bagai jeritan-jeritan aneh dari alam.


Satu petir meluncur dan menyambar salah satu pohon di belakang area Rumah Sakit. Lalu berbarengan dengan itu rintik hujan mulai turun, terus turun, dan cepat sekali menjadi begitu derasnya bercampur angin yang tak beraturan seakan ada yang memanipulasi alam. Kaca-kaca sepanjang lorong Rumah Sakit dimana tempat ruang bersalin untuk Sari melahirkan mulai bergerak sendiri dihembuskan angin.


Terdengar suara benturan antara sisi frame jendela dan sisi sekat gawang antara tembok dan jendela membuat semakin gaduh di area lorong pas depan ruang bersalin yang kebetulan berada pas di ujung lorong.


Para suster dan perawat menjadi ketakutan dengan keadaan yang belum pernah mereka alami sebelumnya.


"Bu dokter, ini bagaimana? Takut, Bu!" Teriak salah satu suster ketakutan.


"Pak Dava, apa Bapak sebaiknya menunggu di luar saja barangkali ada sesuatu yang janggal mendekati ruang bersalin ini." Ucap Ibu Dokter yang memang sudah sangat mengenal siapa Dava dan Sari.


"Tenang, Bu! Masuklah dahulu! Laksanakan tugas bu dokter sebagaimana mestinya, kasihan istri saya menahan sakitnya. Sebentar nanti saya menyusul. Tolong jangan tutup pintu! Saya tidak lama." Pinta Dava kepada ibu dokter dan ibu dokter pun segera memasuki ruangan bersalin.


Dava tampak terpejam sejenak, untuk memanggil beberapa punggawa TOH dari desanya yang sudah mumpuni yang ia latih sendiri.


"Siap Mas Haji ketua. Kami sudah datang." Ucap dua orang pemuda bernama Falak dan Ami dari desa Mbanjar Kerep yang tiba-tiba datang secara gaib dan berdiri membelakangi Dava.


Kembali petir menyambar, kali ini pas di dua buah pohon di depan ruang bersalin. Dari bekas sambaran petir keluar asap hitam tebal muncul dari tanah membentuk sebuah makhluk seperti genderuwo, namun begitu besar selayaknya raksasa.


"Kami diutus Raja untuk mengambil Elang agar menjadi raja penerus dari golongan hitam." Teriak dua sosok genderuwo muncul dari bekas sambaran.


"Ami, ayo kita bersenang-senang!" Ucap Falak meloncat ke arah dua makhluk genderuwo.

__ADS_1


"Siap Kakang." Teriak Ami mengikuti kakaknya.


__ADS_2