
Jaka terus terbakar amarah tubuhnya semakin lama semakin membara, kekuatan api hitam yang ia hasilkan setidaknya cukup untuk membakar seluruh desa beserta isinya.
Kini ia semakin tak terkendali, setiap sel ditubuhnya mengeluarkan api seakan ia tak serupa manusia lagi namun berwujud kobaran api hitam menyala-nyala bahkan air hujan tak mampu memadamkan api yang ditimbulkan oleh amarah Jaka.
Langkah Jaka kini begitu cepat, secepat cahaya bagai angin badai tak terbendung bergerak tak beraturan. Jaka sudah berada tepat didepan Dewi gaib yang terikat kencang oleh panah tali yang di lontarkan Jaka beberapa saat yang lalu.
“Kau sudah membangunkan Api di dalam tubuhku Dewi. Kini kau harus merasakan amarah yang ditimbulkannya?,” kata Jaka dengan suara nada tak lazimnya manusia, suaranya malah bertambah semakin berat dan berserak.
“Kau sudah menyesatkan banyak orang selama ini, karena ilusi fatamorgana yang kau buat. Sehingga mereka yang lemah akan iman pada Sang Pencipta bertekuk lutut di hadapan mu,” kata Jaka seraya mencekik leher Dewi sehingga tubuh Dewi gaib ikut terangkat ke atas.
“Tidak Kangmas jangan kau binasakan aku menjadi abu...,” rengek sang Dewi gaib memohon dengan iba dan memelas.
“Sayangnya aku sudah tidak percaya lagi dengan ocehan makhluk halus sepertimu,” kata Jaka seraya menatap tajam mata Dewi gaib.
Aaaaaaaa.......
Teriakan Dewi gaib memekik telinga dengan suara kengerian layaknya seseorang yang hendak tercabut nyawanya oleh Sang Malaikat Maut. Lalu sekejap tubuh Dewi gaib pecah berantakan setiap pecahannya, sekecil apapun terbakar menjadi abu.
Namun Jaka masih belum bisa mengendalikan kekuatan besar di dalam tubuhnya dalam mode amarah api. Sehingga terdengar suara meledak-ledak menghancurkan sekitar. Entah kenapa hujan menjadi reda seakan alam mendukung Jaka dalam kemarahannya.
Haji Kasturi yang tengah berada di dalam gubuk kecilnya dalam posisi bersila dan memutar-mutar tasbih dengan mulut terus berkulit seperti biasanya. Seketika terhenti sejenak iya tahu Jaka membutuhkannya. Hanya dia yang mampu memadamkan api yang terus keluar dari tubuh Jaka.
Seketika tubuh Haji Kasturi lenyap dari tempatnya bersila, berpindah tempat secara ghoib langsung muncul di hadapan Jaka. Dengan jari telunjuknya yang ia sentuhkan didahi sang murid perlahan penuh kasih. Api hitam yang keluar dari tubuh Jaka perlahan padam.
Hingga kembalilah wujud Jaka menjadi layaknya manusia namun kini dengan baju compang-camping tak karuan akibat ikut terlalap api hitam. Sang guru Haji Kasturi tersenyum melihat Jaka yang nampak terengah-engah menarik nafas tak karuan.
“Guru.., kau disini..,” ujar Jaka seakan baru tersadar kembali.
“Aku sudah mengatakan padamu berulang kali Jaka, jangan kau ikuti amarahmu, jangan sampai amarah menguasaimu. Andai aku tidak lekas datang kemari tentu satu desa Mojokembang sudah habis menjadi abu karena api amarahmu,” kata Haji Kasturi.
“Maaf guru murid mengaku salah,” kata Jaka dengan penuh penyesalan.
“Jangan memohon maaf padaku, mintalah ampun pada Allah, kau pun tahu amarah yang berlebih bagi manusia akan memberi celah bagi para setan untuk masuk kedalam tubuh kita, kardan amarah adalah sifat alami setan,” kata Haji Kasturi
“Aku memohon petuah guru untuk memperbaiki kesalahan ini,” kata Jaka.
__ADS_1
“Bawa keponakanmu pulang, bersihkan dirimu mumpung belum usai seperempat malam sujudlah dalam dua rakaat tahajud memohon ampunlah pada yang Kuasa,” kata Haji Kasturi.
“Baik Guru sesuai perintahku..,” sahut Jaka.
“Jangan pernah lagi memunculkan mode Api amarah atau aku akan memadamkan kekuatan apimu selamanya, baik aku pergi Assalamualaikum..,” ucap Haji Kasturi tiba-tiba lenyap dari hadapan Jaka.
Dengan tubuh yang sangat kelelahan akibat terlalu terkuras energi yang dikeluarkan dalam mode Api amarah. Jaka mulai memapah Jaka dan melangkah pergi menjauh dari kebun pisang milik Pak RT.
Sudah pukul dua pagi hujan sudah reda namun bekas rintik dan genangan air yang ditimbulkan masih ada. Putri belum jua dapat memejamkan mata ia terus memandang keluar jendela menantikan sosok sang kekasih yang belum kunjung terlihat melewati pagar depan rumah.
Wajahnya semakin menampakkan guratan-guratan kecemasan langkah kakinya menjadi tak karuan terkadang berdiri di depan jendela memandang keluar. Terkadang mondar- mandir di samping tempat tidur. Terkadang mematung di depan pintu dengan sebuah penantian.
Toktoktok... Toktoktok... Toktoktok...
Pintu kamarnya terketuk perlahan namun ia masih belum jua sadar kalau ada suara ketukan pintu dari balik kamar. Putri terlalu sibuk dengan pikirannya yang sangat mencemaskan Jaka.
Toktok... Toktok...
Kembali terdengar suara ketukan dari balik pintu kini disambut dengan suara memanggil namanya, “Putri sudah tidur...,”
“Ya Allah Jaka.., kenapa, ada apa, apa yang terjadi Jaka..?,” rentetan pertanyaan terlontar dari bibir mungil Putri namun tiada jawaban hanya disambut senyuman oleh Jaka.
“Dava mana Jaka...?,” kembali sebuah pertanyaan diajukan oleh Putri kali ini Jaka sudah tak mampu tersenyum. Tubuh Jaka ambruk di pelukan Putri.
“Loh.., loh, Jaka...,” Putri nampak kebingungan dengan keadaan Jaka yang tengah begitu kelelahan dan lemas.
Dalam pelukan Putri dengan kondisi kepala bersandar di pundak Putri Jaka berbisik lirih kepada Putri, “Dava berada di kamarnya Putri tadi dia pingsan dan sudah aku baringkan di tempat tidur besok juga sadar, tolong bersihkan tubuhku sayang kau ingat pintaku saat aku berangkat tengah malam yang lalu,” bisik Jaka.
“Ya Jaka kau meminta aku melakukan lebih dari apa yang kita lakukan setiap malam di rumah Pakdemu,” kata Putri.
“Yah sekarang tolong bersihkan tubuhku dan bantu aku mengganti pakaianku. Setelah itu bawakan aku teh hangat agar aku mampu mengajakmu berjamaah tahajud bersama karena itu lah pintaku melebihi apa yang kau lakukan saat malam di rumah Pakde,” kata Jaka.
“Baik Sayang...,” kata Putri seakan begitu kaget dengan permintaan Jaka betapa tidak semula Jaka hendak meminta yang tidak sewajarnya dan meminta yang aneh-aneh. Namun ia sangat bangga kali ini dengan kekasihnya bahwa permintaan Jaka adalah menemaninya bertahajud.
Dengan berhati-hati dan penuh cinta Putri membantu Jaka membersihkan tubuhnya dengan handuk dan air hangat tak lupa pakaian Koko lengkap dengan sarung dan Kopyah ia bantu kenakan di tubuh Jaka. Lalu Jaka meneguk segelas teh hangat yang Putri buatkan.
__ADS_1
Setelahnya dengan penuh hikmat dan kekhusyukan Jaka menjadi Imam dan Putri sebagai makmum dalam sholat sunat tahajud.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam terucap dalam rakaat terakhir tahajud dalam balutan mukena Putri menyambut tangan Jaka seraya mengecup punggung tangan Jaka penuh kemesraan. Seketika Jaka meraih kening Jaka sembari mengecupnya perlahan dan berkata lirih
“Terimakasih sudah membantuku sayang dan maaf sudah membuatmu khawatir,” kata Jaka.
Putri pun tersipu malu dengan rekahkan senyum tipis di bibir manisnya lesung Pipit tergambar indah di pipi Putri membuat wajahnya yang masih tertutup mukena nampak begitu ayu.
“Biarkan malam ini aku tidur disini ya Put,” bisik Jaka.
“Tapi Jaka..,” sahut Putri namun belum selesai Putri berucap jari telunjuk Jaka sudah menempel di bibir Putri membuatnya diam terpaku sejenak.
“Putri..., tenanglah aku tidak akan macam-macam padamu, aku hanya sangat lelah sehingga untuk berjalan ke kamarku terasa berat, sekarang aku hanya ingin tertidur di sampingmu, masalah orangtua ku biar aku yang jelaskan besok,” kata Jaka.
“Ia, ia, kekasihku aku mengerti,” sahut Putri seraya membantu Jaka berdiri lalu menolongnya berbaring di tempat tidur Putri. Perlahan Putri menyelimuti tubuh Jaka dan iya pun menemani Jaka berbaring di sampingnya.
Jaka masih membuka matanya berbaring menghadap Putri sambil membelai-belai poni depan rambut Putri menyelipkanya di atas telinga.
"Sudah di pejamkan dong matanya Jaka.., katanya mau tidur," celetuk Putri
"I love you Bawel ku," kata Jaka.
"I love you too Julit ku," balas Putri sambil tersenyum bahagia.
Akhirnya mereka memejamkan mata tertidur bersama.
_
_
_
__ADS_1
_