
Mendung hitam kelam seakan tertambat di desa Mojokembang tak mau pergi. Petir bersahut-sahutan mulai mengurung desa bagaikan badai bulan Desember. Padahal hari ini masih terhitung bulan Agustus.
Angin ribut mulai bertiup dengan intensitas cepat dan ribut. Semakin lama-semakin kencang, menimbulkan kegaduhan di beberapa tempat sisi desa. Sedangkan semua pintu rumah telah terkunci.
Bahkan semua mata penghuni desa telah tertidur. Mungkin jua telah berjalan-jalan bersama sang mimpi di setiap isi otak masing-masing. Mereka tak pernah tahu sebuah bahaya tengah berputar bersama tak akrabnya alam sekitar dengan suasana sunyi malam.
Rimbunnya pohon bambu tepian sungai belakang desa saling bergeseran. Menambah gaduh suasana riuh semakin ramai saja. Gerimis mulai datang perlahan, semakin lama semakin deras jua.
Ada satu sosok di tengah sungai belakang desa. Seorang dukun wanita bernama Yayu Yuwana. Tampaknya ia tengah merapal sebuah mantra-mantra. Terlihat dari cara duduknya di atas air sambil bersila. Selayaknya orang bertapa ada pula satu tungku kuali dari tanah liat kecil tampak terbang di depan dukun wanita Yayu yuwana.
Matanya terus terpejam tak terbuka begitu lama sejak satu malam yang lalu. Namun tiada yang tahu akan keberadaannya. Mungkin orang-orang tertentu saja yang mampu melihat keberadaan si dukun wanita.
Sampai pada pas tengah malam ada satu sosok penjaga desa yang sangat melegenda. Dialah Jaka Si Empunya desa yang selalu jarang tertidur, walau pun tertidur mungkin hanya satu atau dua jam saja, itu jua saat ia ingin tidur.
Jaka sudah berdiri di depan dukun Yayu Yuwana agak jauh di depannya. Sekiranya ada jarak sepuluh meter dari tempat dukun Yayu. Jaka terus menatap dukun Yayu Yuwana tanpa berkedip.
__ADS_1
“Sudah sepuluh tahun berlalu Yayu, kenapa kau masih saja mengusik ketenangan desa kami?” ujar Jaka penuh dengan tatapan emosi.
“Sebab desamu desa Mojokembang adalah cikal-bakal trah keturunanmu. Dimanah suatu hari nanti mungkin ratusan tahun mendatang. Akan tercipta suatu klan bernama klan Haji Jaka dari keturunanmu. Saat hal itu terjadi tentu bangsa dari setan dab siluman tak akan pernah mulus menghancurkan bangsa manusia. Maka dari itu aku selalu datang kemari membunuh satu demi satu anggotamu,” terang dukun Yayu Yuwana mulai membuka matanya.
“Bukankah kau tahu bahwa di desa Mojokembang. Adalah sebuah pusat peradaban para pendekar gaib pilihan dari kota Jombang. Bahkan pimpinan tertinggi T O H kali ini ada di hadapanmu. Lalu sekarang apa maumu Yayu?” tutur Jaka masih dengan sikap begitu marah.
Sebab dukun Yayu Yuwana bukannya tak pernah terkalahkan oleh organisasi T O H. Sehingga iya bebas melenggang sepuluh tahun lamanya. Tapi ketika iya kalah dan saat tubuhnya hendak disegel oleh para punggawa T O H. Entah kenapa selalu saja ada sekelebat bayangan yang membawa tubuh Yayu Yuwana pergi.
Setelah itu, entah dukun Yayu sedang memberi jeda atau sedang merancang siasat lain. Biasanya setelah kemunculan dukun Yayu Yuwana dan setelah iya kalah lalu kabur. Pasti ada kedamaian yang serasa di ujung petaka. Sebab sudah dapat dipastikan tanaman di sawah pasti banyak yang gagal panen. Lalu banyak anak kecil mati secara mendadak tanpa sebab.
Kejadian-kejadian wabah dan penyakit selalu terulang. Sebagai tanda akan datangnya sosok dukun wanita Yayu Yuwana. Seperti malam kali ini, dukun wanita Yayu Yuwana sedang menebar teluh, tenun dan tenung ke arah pemukiman warga desa Mojokembang.
“Masalah itu adalah masalah manusiawi. Masalah ha belum minannas, tak ada sangkut-pautnya dengan masalah perangku denganmu,” tandas Jaka dengan nada membentak.
“Suatu hari kau akan mengingat perkataanku ini Jaka. Bahwa nanti ada sebuah peristiwa besar terhapusnya klan T O H dan musnahnya organisasi yang kau banggakan. Karena permusuhan di antara kalian sendiri. Akan ada masa di mana antara anggota T O H sendiri akan berperang. Ingatlah perkataanku ini Jaka dan bersiaplah saat itu tiba. Karena jikalau waktu itu datang kau jua akan binasa,” sentak dukun wanita Yayu Yuwana sambil memulai membuat segel tangan pemanggilan sebuah sosok gaib pendampingnya.
__ADS_1
Tiba-tiba datanglah gumpalan-gumpalan asap pekat berwarna gelap seolah berjalan entah dari mana. Asap tersebut datang dari segala penjuru membentuk sebuah wujud astral bersosok jin selayaknya jin dari timur tengah. Seperti sosok jin dalam serial Aladin dari negeri seribu satu malam.
Sosok jin tersebut berdiri menjuntai di belakang dukun wanita Yayu Yuwana. Begitu garang, begitu mengerikan dan begitu gahar.
“Astagfirullah Hal Adzim, kenapa seakan dukun satu ini tiada habis dalam persediaan setan. Malah kali ini dia mendatangkan jin timur tengah,” tutur Jaka sambil menggerutu dan bersiap untuk adu baku hantam dengan kuda-kuda yang mulai ia peragakan.
“Jaka sombong sekali kau Mas Bro. Kenapa sekarang kau bertarung sendirian sedang kami juga adalah temanmu. Walau kami memang sosok jin, tapi kami juga pernah berjuang dengan kalian. Bahu-membahu dalam menegakkan kedamaian melawan para setan?” tegur Datuk Panglima Kumbang yang tiba-tiba datang berdiri di samping Jaka.
“Maaf Panglima, bukannya aku tak mau lagi memanggil kalian. Tapi kedatangan dukun wanita ini selalu mendadak bahkan bisa dibilang sangat tiba-tiba. Aku pun tak sempat memanggil kalian. Aku berterima kasih jikalau kalian sudi meluangkan waktu untuk membantuku,” ucap Jaka tetap dengan posisi siap siaga.
“Halah jangan sungkan, aku jua sudah berjanji padamu dahulu dijauh-jauh hari. Sampai nanti dunia ini berakhir, aku Panglima tertinggi bangsa macan gaib. Akan selalu mendampingi anak cucumu sampai kapan pun. Hati-hati Jaka sebab tadi aku sempat mendengar ramalan dukun wanita ini. Bahkan aku mendapatkan firasat hari itu akan terjadi,” tegas Panglima Kumbang.
“Jikalau hari perang saudara itu memang akan terjadi. Maka aku berharap nanti ada di sisi kebenaran. Jika benar aku harus mati saat peristiwa itu benar terjadi. Aku sungguh ikhlas mati dalam keadaan membela keyakinanku. Mari kita selesaikan malam ini bersama-sama Panglima. Selayaknya hari-hari kita dahulu saat masih berperang bersama,” ujar Jaka menatap Panglima kumbang dengan senyuman.
“Mari sahabatku, sampai kapan pun aku akan di sampingmu,” jawab Panglima Kumbang, sontak mengubah wujudnya menjadi sosok macan kumbang hitam besar menyemai besarnya sosok jin timur tengah milik Yayu Yuana.
__ADS_1
Jaka dan Datuk Panglima Kumbang melesat menuju arah Yayu Yuwana dan jin peliharaannya. Begitu jua dukun wanita Yayu Yuana dan jin timur tengah miliknya. Menyambut Jaka serta Datuk Panglima dengan cepat melesat.
Sehingga dua kubu saling bertemu, beradu kesaktian. Saling hantam dan saling pukul beradu kekuatan.