T O H

T O H
Gus Bagus Baper (Bawa perasaan)


__ADS_3

Haji Wachid memelankan jalanya tak lagi melesat di atas genting maupun berlari secepat kilat. Kini ia hanya berjalan biasa di jalanan tengah desa Dukuhan Banjar Kerep. Matanya melihat keadaan desa yang begitu miris dan memperhatikan.


Tangan-tangan kurus dari badan yang kurus hanya tinggal daging dan tulang terpasung di setiap depan rumah warga.


Sosok-sosok tersebut hanya duduk di dalam pasungan menatap kosong ke bawah tiada daya dan aura manusia seakan sudahlah sirna dari sang badan bagaikan hidup tapi mati.


“Abah kok berhenti kenapa?,” tanya Dava yang tengah kelelahan setelah melawan Sultan dan tengah dipapah Jaka dengan Gus Bagus berjalan di samping kanannya dan Haji Kardi mengikuti mereka dari belakang.


“Desamu Dik Kardi ternyata tidak jauh beda keadaannya dengan desa ku. Masih belum usai jua pandemi aneh ini,” ucap Haji Wachid berbicara pada Haji Kardi yang berjalan mendekati sang kakak.


“Benar Mas kadang aku merasa sedih dengan keadaan desaku. Padahal aku dan para kiai di sini sudah berupaya sekeras mungkin untuk mengobati mereka namun setelah sembuh sehari malamnya kambuh kembali,” ucap Haji Kardi.


“Memang benar ini sudah akhir jaman sudah masanya bumi ini sudah terlalu tua di tinggali. Bumi ini sudah semakin panas dan berat oleh dosa-dosa kita para manusia. Makanya para setan dan siluman menggerakkan para dukun dan golongan hitam untuk menyatakan perang dengan kita,” ucap Haji Wachid.


“Benar Mas sebenarnya bukan manusia yang memerintah setan atau siluman, namun bangsa setan dan siluman yang mempengaruhi dan memperdaya manusia dengan berpura-pura tunduk pada mereka sehingga mendapat timbal-balik menghisap hawa murni mereka agar menambah kekuatan ya namun mereka para dukun dan golongan hitam tidak menyadari akan hal itu,” jawab Haji Kardi.


“Ya sudahlah aku sudah mengantuk Dik mari kita pulang. Tentu Dik Emi, Putri dan calon menantumu Sari tentu sudah menunggu,” ucap Haji Wachid.


“Loh Mas Wachid tahu juga tentang Sari?,” tanya Haji Kardi.


“Apa sih yang enggak Masmu Wachid ini tahu, hehehe,” ucap Haji Wachid tertawa senang.


“Mulai-mulai sombongnya, sudah ayo pulang ke rumah Paklik cepat kasihan Dik Dava ini sudah kecapean,” ucap Jaka yang sedang memapah Dava.


“Iya Ayo, Bagus kamu apa ikut menginap di rumah Haji Kardi juga toh,” tanya Haji Wachid pada Gus Bagus.


“Ia, kalau boleh Pak Haji, aku hendak merebahkan tubuh sejenak letih,” ucap Gus Bagus.


“Halah datang belakangan saja bilang lelah kamu ini. Yang seharusnya bilang begitu itu kita Gus,” ucap Haji Wachid.


“Hehehe, mengeluarkan senjata trisula Dewa Siwa butuh banyak tenaga low Pak Haji,” ucap Gus Bagus.


“Mas Bagus masih kaku saja kenapa manggil Abah dengan panggilan pak Haji sih kan calon mertua,” ucap Jaka mengejek Gus Bagus.

__ADS_1


“Oh ia Abah,” ucap Gus Bagus


Hahaha...


Tawa mereka pecah di sela-sela perkampungan Dukuhan Banjar Kerep. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah Haji Kardi


Sementara itu di teras rumah Haji Kardi Putri, Sari dan Umi Emi tengah duduk-duduk menunggu kepulangan Haji Kardi dan yang lainya dengan di temani sosok macan kumbang hitam besar yang terus berjalan mengitari rumah berjaga-jaga kalau ada siluman kembali datang.


Macan kumbang hitam besar yang seyogyanya adalah sosok dari Ki Datuk Panglima Kumbang berlari menuju pagar depan rumah meloncat berubah kembali menjadi sosok manusia menyambut kepulangan Haji Wachid, Haji Kardi dan yang lainya.


“Assallamualaikum,” ucap Haji Kardi.


“Waalaikumsalam,” jawab Ki Datuk Panglima Kumbang yang menyambut penuh gembira, karena melihat semua pulang dengan selamat.


Sari yang melihat Dava pulang dengan kepayahan dipapah Jaka langsung berlari ke arah Dava.


“Mas Dava...,” teriak Sari sambil berlari.


‘’Noh Yayang mu Dik, cie, cie,” ucap Jaka menggoda Dava.


“Tidak apa Ndok bantu Mas Jaka memapah Masmu Dava, tolong ya Ndok Sari antar Jaka Ke kamar Abah biar malam ini Dava tidur sama Abah,” ucap Haji Kardi.


“Ia Abah, Ayo Mas gantian sekarang Adek yang rawat mas ya,” ucap Sari memapah Dava menuju ke dalam rumah.


Tiba-tiba kecupan mesra di pipi kanan Jaka mendarat dari bibir Putri, “Loh satunya dong Dik sekalian nanti iri masak pipi kanan saja yang di kecup yang kiri belum,” ucap Jaka menggoda Putri yang sudah berdiri di hadapannya menyambutnya pulang penuh kasih sayang.


“Ia, ia, manja banget sih suamiku ini, emuuach....., sudah ya hayuk masuk kedalam bobok,” ucap Putri seraya tersenyum.


“Kacang, kacang, kacang pak, buk,” ucap Gus Bagus yang merasa tidak ada yang menyambutnya layaknya Dava dan Jaka yang pulang berperang di sambut dengan mesra oleh pasangannya masing-masing.


“Kenapa Mas iri ya hayo bilang,” ucap Jaka menggoda Gus Bagus.


“Enggak aku enggak iri cuma nyesek saja, hahaha,” ucap Gus Bagus

__ADS_1


“Enak kalian, Dava dipapah Sari masuk kedalam. Kamu di kecup mesra Putri istrimu lah aku duh malangnya nasibku ini,” ucap Gus Bagus menampakkan ekspresi seolah-olah sedih.


“Kata siapa kamu tidak akan di sambut pasanganmu Gus,” ucap Haji Kardi.


“Maksudnya Paklik?,” tanya Gus Bagus penasaran sambil mengerutkan dahi dengan rasa penasaran dengan ucapan Haji Kardi.


“Ia Nak Bagus, kamu ini sama musuh saja fokusnya bukan main. Itu yang berdiri di teras bersama umimu siapa?,” ucap Haji Wachid menunjuk ke arah teras dimana Vivi dan Umi Epi berdiri dengan Vivi tengah tersenyum-senyum melihat kepulangan Gus Bagus.


“Sudah sana...!,” ucap Jaka menggoda Gus Bagus.


Gus Bagus berjalan pelan menuju ke arah Vivi dan Umi Epi yang tengah berdiri di depan teras.


“Assallamualaikum Umi, Dik Vivi,” ucap Gus Bagus.


“Waalaikumsalam,” sahut Umi Epi dan Vivi.


“Mas..,” ucap Vivi memanggil kekasihnya Bagus dengan mesra.


“Ia Dek,” ucap Gus Bagus.


“Oh, ia Abah Maysa Allah,” teriak Umi Epi serasa tahu benar bahwa Vivi dan Bagus telah lama tidak bertemu seakan memberi ruang bagi Bagus untuk berdua sama Vivi.


“Sudah ayo masuk masih kaku Saja Mas Bagus, hahaha,” celetuk Jaka yang berjalan bersama Putri melewati Vivi dan Bagus yang tengah berhadapan setelah sekian lama tidak bertemu.


“Sudah ayo masuk Gus,” ucap Haji Kardi yang bersanding Umi Emi berjalan jua masuk ke dalam rumah diikuti Haji Wachid dan Umi Epi.


“Dik Mas Kangen, kamu tambah cantik ya sekarang,” ucap Gus Bagus seraya Vivi tersipu malu mendengar perkataan sang kekasih.


“Ki Datuk Panglima Kumbang tolong kalau Gus Bagus nakal gigit saja,” teriak Jaka dibarengi dengan gelak tawa seisi rumah.


“Kamu itu Jaka yang bandel. Sudah yuk masuk Mas Bagus,” ucap Vivi berjalan ke dalam rumah di ikuti Gus Bagus berjalan beriringan di samping Vivi.


Sementara itu Ki Datuk Panglima Kumbang kembali merubah wujudnya menjadi sosok macan kumbang hitam besar.

__ADS_1


Kembali menjaga rumah Haji Kardi dengan terus mengitari rumah sedangkan macan putih besar Ki Maung Bodas nampak gagah berdiri di atas atab rumah Haji Kardi.


__ADS_2