T O H

T O H
Garuda Untuk Wahyu


__ADS_3

“Mas Jaka...,” ujar Dava tersenyum sambil menghantarkan pelukan kepada Jaka.


“Kita berhasil Dek, ini sudah usai,” ucap Jaka membalas pelukan Dava.


“Beginikan enak...,” ucap Gus Bari sembari menghirup angin fajar pagi merekah setelah pertempuran panjang yang dilewati.


Angin kembali berubah arah hawa segar kembali hadir menerpa setiap desa di kota Jombang. Kabut yang semula selalu menyelimuti kota perlahan menghilang jua. Kota yang selama ini serasa tiada siang dan selalu petang kembali ceria seakan hari baru telah tiba.


Para pejuang dari organisasi T O H dan partisipan dari organisasi Alif kecil cabang kota Serang serta sejawat persaudaraan dari organisasi Lokajaya tidak ketinggalan pula para haji T O H generasi pertama dari seluruh kota Jombang berdatangan hadir ke desa Mojokembang sebagai pusat tanah perjuangan.


“Mas Kasturi ya Allah Allhamdulillah,” ucap Haji Wachid memeluk Haji Kasturi yang tengah berjalan menuju rumahnya.


“Dik Wachid selamat ya akhirnya kau mendapatkan cucu laki-laki yang tampan seperti ayahnya,” ucap Haji Kasturi membalas pelukan saudara seperjuangannya dahulu saat masih dalam masa T O H generasi pertama.


Para penduduk dari seluruh pelosok kota bersuka cita akan kemenangan yang diraih dalam menghadapi ujian berat dalam perang melawan kebatilan.


Seraya berucap syukur atas karunia yang di limpahkan dari pertolongan Allah selama masa sulit peperangan dengan menggelar Istigasah di setiap sudut desa.


Langkah gontai para pejuang T O H sekarang nampak ringan berjalan bersama, bercanda dan saling melempar gurauan walau baju sudah tak utuh lagi sobek di sana-sini tapi senyum sungging di bibir mereka nampak begitu lepas.


“Mbah Raji akhirnya sampean bisa pulang dan tidur agak lama malam ini ya Mbah,” ucap Gus Bari merangkul Mbah Raji yang terkekeh dengan gigi yang hampir habis termakan usia.


Di sampingnya berjalan Gus Lukman diikuti para santrinya berjalan santai bersama-sama menuju rumah Jaka. Di belakang mereka pemuka kelompok Lokajaya Kan ha dan Pak Nazaruddin tengah berjalan santai bercakap-cakap ringan.


Di ikuti oleh beberapa anggota lain di belakangnya nampak riang bercanda satu sama lain. Satu hal yang selama ini tak bisa mereka lakukan.


Di tempat lain di ujung barat kota Jombang tepatnya di bukit Tunggorono Gus Bagus dan Ustad Dwi tengah bercakap santai duduk di batu-batu besar perbukitan.


“Hah, akhirnya usai sudah, huftz...,” ucap Gus Bagus menghembuskan nafas lega begitu panjangnya tanda kelegaan yang begitu mendalam.


“Terimakasih ya mas kau mau datang mulut membantu kami disaat kami hampir saja dalam pemusnahan masal kau datang membalikkan keadaan, kau memang terbaik kakak ku,” ucap Gus Bagus seraya berdiri menatap kota Jombang nan luas dengan perbukitan gunung Anjasmoro di sisi timurnya.


“Semua itu sudah di atur Dik Bagus ketetapan Allah dulu saat kami hampir mati di kota Serang tiba-tiba T O H hadir membawa harapan. Kali ini aku dibutuhkan di kota kelahiranku sendiri kenapa aku tidak pulang kampung?. Ya sudahlah ayo pulang aku kangen pepes ikan bikinan simbol,” ucap Ustad Dwi merangkul Gus Bagus mengajaknya pulang.


Di depan rumah Jaka Sari tengah menanti kedatangan Dava. Iya menengok kesana-kemari melihat-lihat dalam kerumunan orang yang datang mencari sang kekasih. Bertanya berulang kali pada beberapa orang yang datang namun tak menemukan sosok yang iya cintai Dava.


“Mas kamu dimana?,” ujar Sari seraya berkaca-kaca terlihat menetes air mata bening di pipinya.

__ADS_1


“Nak Putriku tenang saja nanti juga pulang Mas mu Jaka juga belum datang kok. Pasti Dava mu masih berjalan kemari bersama Jaka,” ujar Umi Emi mencoba menenangkan kekhawatiran Sari.


Sari tersenyum hatinya sangat tersentuh, karena kali ini Umi Emi memanggilnya dengan panggilan Nak pertanda sudah ada restu baginya dan Dava.


Dalam benak Sari mungkin aku sudah dianggap layaknya anak sendiri itu pula yang mendorong Umi berkata Mas Jaka sebagai Mas ku sendiri.


Sedangkan Putri tengah duduk di ruang tamu di temani Umi Epi. Sosok bayi laki-laki mungil nan menggemaskan tengah tidur terlelap di pangkuan Putri.


“Loh Wahyu habis mimik susu langsung tertidur pulas pintarnya,” ucap Umi Epi.


“Ia dong Nenek, wahyukan penerus dari Ayah Jaka harus pintar dong, ya nak ya. Nanti kalau Ayah datang bangun ya Nak. Biar Ayah Jaka tahu senyumanmu yang manis ya nak,” ucap Putri mengudang Wahyu yang tetap tertidur di pangkuan Putri.


Jaka dan Dava yang di nanti-nanti kepulangannya malah duduk santai di tepian kali Brantas di dekat desa Megaluh. Nampak Jaka tengah berwudu di tepian kali sedangkan Dava menggelar daun pisang yang ia ambil dari kebun sekitar kali.


“Sudah Dek...,” ucap Jaka datang menghampiri Dava.


“Sudah Mas, ayo Mas Jaka yang mengimami,” ucap Dava.


“Baik ayo kita sholat sunat dua rakaat untuk mengaturkan syukur kepada Allah dan Rasulullah karena telah memenangkan kita dalam perang kali ini,” ucap Jaka.


“Ayo Mas..,” ucap Dava.


Di desa Mbongso Pak Paimen dan Aris tengah bersiap pergi menuju desa Mojokembang karena mendapat kabar Jaka telah mendapatkan putra yang berarti Aris mendapat keponakan baru.


“Dek Eni ayo, aku sudah tidak sabar melihat keponakanku yang tengah viral dibicarakan orang se kota Jombang karena senyumnya yang menawan itu,” ucap Aris.


“Iya, ia Mas, Pak ayo buruan!?,” teriak Eni istri Aris memanggil Pak Paimen yang sedang mengunci pintu.


“Ayo, sudah kau kunci semua jendelamu tadi Ndok?,” ucap Pak Paimen.


“Sudah Pak mungkin nanti kita akan menginap di sana,” ujar Eni mulai masuk mobil keluarga.


“Sudah siap ayo kita berangkat,” ucap Aris yang berada di depan sebagai sopir.


Semakin sore semakin banyak yang datang berkunjung ke rumah Jaka entah itu dari pihak pejuang ataupun dari pihak warga, tetapi Sari semakin sedih jua hatinya tak mendapati Dava yang belum pulang jua.


Ia semakin resah dan gelisah duduk di teras sambil memandang darah kerumunan orang yang datang sekiranya Dava datang ia bisa segera tahu.

__ADS_1


“Bulek itu Dek Sari mbok ya di ajak kedalam,” ucap Putri pada Umi Emi yang tengah duduk menikmati teh hangat di ruang tamu bersama Umi Epi dan Putri.


“Tadi sudah aku ajak kedalam kok Putri tapi katanya biar aku di sini Umi nanti biar tahu kalau Dava pulang,” ucap Umi Epi menjelaskan perkataan Sari pada Putri.


“Cie Bulek sebentar lagi punya menantu nih,” ucap Putri menggoda Umi Epi.


“Kamu ini Putri sekarang beda ya bisa menggoda Bulek coba kemarin-kemarin pas Jaka enggak pulang-pulang di awal-awal terjadinya perang juga sama kayak Ndok Putrikan, bukan begitu Mbakyu..?,” ucap Umi Emi melirik ke arah Umi Epi.


Akhirnya dari kejauhan terlihat Jaka dan Dava berjalan santai bercanda bersama seraya menyapa beberapa orang yang hadir. Sari langsung saja berlari menuju Dava seraya menghamparkan pelukan kerinduan pada Dava.


“Mas kenapa lama enggak pulang-pulang, Sari khawatir tau,” ucap Sari memeluk Dava begitu erat.


“Halah sudah aku jadi obat nyamuk kalau begini ah mau lihat anakku ah...,” ujar Jaka berlalu meninggalkan Dava Dan Sari.


Belum sampai di depan pintu tiba-tiba Gus Bagus dan Ustad Dwi mendampingi Jaka hadir di sebelah kanan dan kiri Jaka.


“Ets..., Ets..., Mau kemana...?,” ujar Jaka menghalangi langkah Gus Bagus dan Ustad Dwi yang hendak langsung masuk keruang tamu.


“Alah Jaka aku mau melihat anak mu lah,” ucap Ustad Dwi memohon pada Jaka.


“Sebentar itu kenapa Garuda belum di suruh pulang Mas Bagus nanti kalau anak ku lihat kan bisa ketakutan,” ucap Jaka menunjuk Garuda yang tengah santai bertengger di atas rumah Jaka.


“Halah masak anak dari Panglima Jaka takut sama begituan. Minggir ah Jaka aku mau lihat Wahyu nah,” ucap Gus Bagus menyingkirkan tangan Jaka yang menghalangi langkah Gus Bagus.


“Lah aku saja Ayahnya belum ketemu,” ucap Jaka.


“Mas Jaka..., Wahyu ilang Mas...!!,” teriak Putri berlari ke arah Jaka.


“Loh lah kemana Dek?,” ucap Jaka ikut kebingungan.


Lalu seluruh orang yang hadir jadi sibuk mencari Wahyu yang tiba-tiba hilang entah kemana tidak ada jejaknya.


“Kok bisa kemana nih bocah masak sebegini banyaknya orang tidak ada yang melihat,” ucap Gus Bagus.


Tiba-tiba ketika Jaka mendongak ke atas atap rumahnya. Jaka melihat Garuda tengah kesakitan, karena bulu di lehernya di buat gelayutan oleh Si Beby Wahyu yang tengah asyik bergelayutan layaknya Tarsan mondar mandir bergantian berpegangan oleh bulu di leher Garuda.


“Dasar anaknya Jaka, Wkwkwk...,” ucap Gus Bagus tertawa.

__ADS_1


“Mas Bagus rupanya kau harus merelakan Garuda untuk Wahyu Mas,” ucap Jaka.


__ADS_2