T O H

T O H
Ancaman Adi Yaksa, Kemenangan Lima Kota


__ADS_3

Sebelum lenyap seluruhnya Adi Yaksa sempat memberikan ancaman pada Jaka yang tengah berdiri di depannya dan belum memadamkan api amarah di tubuhnya.


“Hai kalian para penghuni lima kota ada saatnya kelak penerusku datang. Iya lebih sadis, lebih kejam bahkan lebih kuat dariku karena iya dari bangsa kalian dan dilatih sendiri oleh sang raja diraja dari kegelapan yaitu ayahku sendiri,” teriak Adi Yaksa dengan ancamannya lalu musnah terbakar dan lenyap seketika.


“Maka saat itu tiba generasi kami lebih mumpuni lagi dari kami yang sekarang itu janjiku,” jawab Jaka dengan teriakan pula.


Lalu Jaka terduduk pada sebongkah batu mode api amarahnya perlahan menghilang. Diraihnya sebungkus rokok yang hampir habis dan terlihat lecek agak basah. Disulutnya sebatang di bibirnya yang telah pucat-pasih kelelahan.


Asap kemenangan sebatang rokok mengepul perlahan ke udara di sambut teriakan takbir, tahmid dan Alhamdulillah dari berbagai sudut ruang aula kerajaan Adi Yaksa yang sepenuhnya telah di kuasai para punggawa lima kota.


Dava dan Wahyu yang ikut duduk di samping Jaka tersenyum lega seraya mengambil nafas agak panjang sebagai pelepas dahaga lelah.


“Kita menang, kita menang, kita menang, Wahyu kita menang, hahaha kita menang Wahyu,” teriak Dava seakan meluapkan kesenangan dan rasa haru akan kemenangan perang dalam masa sebulan penuh tanpa henti.


Di atas bukit para Pemuda Majapahit yang bertempur di sana sudah berhasil memusnahkan seluruh raksasa dan genderuwo yang tersisa.


“Akhirnya,” ucap Abah Rusdi yang tengah bersandar di sebuah batang pohon besar di ikuti puluhan anggotanya melepas lelah.


“Yai tidak sia-sia kita kemari, kebenaran pasti akan selalu menang sampai kapan pun,” ucap Ustaz Rois ikut melepas lelah merebahkan diri di atas rerumputan di samping Abah Rusdi.


“Jaka...!!, kita menang,” teriak Abah Rusman seraya mengacungkan tangan yang masih memegang tombak kesayangannya yang sudah penuh berlumur darah hitam raksasa dan Jaka hanya menyahut dengan kepalan tangan sembari menghisap rokok di tangannya.


“Kyai kami mohon pamit undur diri kembali ke alam kami,” ucap panglima Menggada sesosok panglima dari ribuan jin Islam di bawah komando Kyai Rusdi.


“Baik Panglima terima kasih atas bantuan kalian kami sangat menghargai itu,” jawab Abah Rusdi.

__ADS_1


“Kami mohon diri Assalamualaikum,” ucap Panglima Menggada menandai seluruh pasukan jin Islam di sana lenyap hilang kembali ke alamnya.


“Pas...,” celetuk Mbah Raji sambil mengolak-alik serta melihat ke dalam gelas yang ia pegang.


“Apanya yang pas Mbah,” kata Gus Bari heran dengan kata-kata Mbah Raji.


“Ini pas kopi habis, pas Adi Yaksa mati, pas perang usai, hahaha...,” kata Mbah Raji sambil tertawa.


“Heluh masih mikirin kopi Pak Tua satu ini,” ucap Gus Bari garuk-garuk kepala keheranan dengan tingkah orang tua di sampingnya.


Namun mereka merasa bangga dengan generasi T O H kali ini yang sangat hebat dan mumpuni dari generasi T O H awal. Karena kali ini hanya mereka berdua anggota T O H yang tersisa yang pernah mencicipi perang dari masa awal berdirinya organisasi T O H.


“Jaka, Dava, Wahyu, kita menang,” teriak Mbah Raji dan Gus Bari dari atas Altar singgasana Adi Yaksa masih dalam posisi duduk berjongkok layaknya menonton pertandingan bola antar kampung.


Di luar area kerajaan para anggota Ormas Mataraman dan Laskar L.A tampak bersorak-sorai ada pula yang bersujud syukur atas kemenangan kali ini yang begitu dramatis.


Selang beberapa saat seluruh anggota lima kota melakukan sujud syukur atas kemenangan yang diraih mengucap Alhamdulillah atas bantuan yang maha kuasa agak lama.


“Alhamdulillah,” sekali lagi terucap dari mulut punggawa teratas Jaka seraya berdiri.


“Jaka kita ke atas kita ambil tubuh bidadari kita. Nasihatku padamu walau calon istrimu sudah tak perawan jangan kau membencinya. Karena hal ini bukan kemauannya sama dengan mbakmu Putri kan mereka adalah korban bukan tanpa sengaja. Bagaimanapun risikonya nanti kita tanggung berdua. Setelah selesai semua ini benar-benar selesai, saat pulang nanti kuharap kau bersedia di nikahkan di depan jasad mendiang orang tuamu dan tak lupa kakak kita Vivi juga harus mau tak mau dinikahkan di depan jasad Almarhum orang tuaku itulah tradisi Dek,” ucap Jaka meyakinkan Dava.


“Masalah sekolahmu yang belum usai bisa kita rundingkan secara kekeluargaan nanti bersama guru-gurumu yang tersisa yang mungkin masih hidup saat kita pulang nanti ya Dek,” ucap Jaka sekali lagi kali ini seraya merangkul Dava.


Dava hanya mengangguk seraya meneteskan bening air mata kesedihan. Dan bertanya pada hati sendiri kenapa semua ini harus terjadi.

__ADS_1


“He sudahlah kita sudah menang ayo kita jemput bidadari T O H yang masih tertidur di atas sana,” ucap Wahyu mencoba menetralkan situasi dan kondisi Ayah dan Omnya yang tengah larut dalam kesedihan.


“Ah kau anak kecil tahu apa soal pernikahan,” celetuk Dava memukul kepala Wahyu yang membuat tubuh Wahyu kembali semula menjadi balita kecil.


“Lah dia kembali kecil Mas, hahaha...,” teriak Dava bahagia melihat keponakannya Wahyu yang kembali menjadi wujud semula. Lantas menggendongnya gemas lalu bersama Jaka meloncat jauh ke arah atas singgasana Adi Yaksa.


Sampai di sana mereka disambut pelukan oleh Gus Bari dan Mbah Raji. Menghampiri tubuh para bidadari mereka yang tengah tertidur. Dava meletakkan Wahyu di samping Putri tampak Wahyu mengelap air mata yang menetes di pipi Mamanya.


Sementara Dava mengecup kening Sari perlahan seraya menggendongnya dari belakang dibantu Mbah Raji. Tak mau kalah Jaka menggendong Putri dari depan.


“Mbah Raji, Gus Bari terima kasih telah patuh perintahku dan menjaga bidadari kami,” ucap Jaka memandang kedua punggawa T O H paling tua kali ini. Setelah Gus Lukman Gugur malam sebelumnya.


“Siap Ketua, setelah guru kita Haji Kasturi Gugur sekarang kau Jaka sebagai punggawa teratas setelah Masmu Gus Bagus. Tapi tetap kau yang paling terpenting karena kau lebih unggul dari Masmu Bagus. Dia teramat ditelan kesedihan sehingga tak mampu berangkat kemari atas kondisi kakakmu Vivi,” ucap Gus Bari.


“Aku tak merasa begitu Gus bagiku semua di sini sama kita setara tiada yang unggul dan di unggulkan. Masalah Mas Bagus aku memakluminya atas kondisi kak Vivi yang kehilangan kedua kakinya tentu saja sebagai pasangan Mas Bagus sangat terpukul,” ucap Jaka.


“Baiklah bagi kalian saudaraku yang selamat sebelum fajar tiba mari kita bawa yang telah gugur kita letakkan di pelataran Masjid jamik masing-masing kota. Saya memohon bantuannya,” teriak Jaka dengan santun dan penuh hormat.


“Siap ketua...,” teriak seluruh anggota seketika mereka sibuk dengan jasad para anggota yang gugur layaknya burung berterbangan begitu cepat pergi dan kembali lagi.


“Mbah Raji kau masih punya peledak kecil sejenis mercon atau petasan yang ledakannya bisa menghancurkan satu gedung bertingkat-tingkat itu kan?,” tanya Jaka.


“Ada, oh aku paham Jaka baik laksanakan,” ujar Mbah Raji mengambil sebuah peledak kecil lalu di letakkan di atas singgasana Adi Yaksa serta menyulut sumbu peledaknya.


“Mari semua kita keluar dari lembah terkutuk ini,” teriak Jaka. Seraya melesat keluar dari gua bawah tanah di lembah Neraka di ikuti ratusan punggawa yang lain.

__ADS_1


__ADS_2