T O H

T O H
Dava & akhir


__ADS_3

Gerimis masih terus berjatuhan di pelataran rumah Haji Kardi menyapu darah yang meluber di setiap sudutnya beberapa tempat menggenang pula bekas luberan di sudut-sudut ruang kental merah matang bercampur lumpur dan tanah basah serta rerumputan.


Dalam area belakang hingga jalanan depan rumah Haji Kardi tergeletak beberapa mayat dari anggota T O H yang telah gugur sebagai syuhada. Tubuhnya pun ada dari beberapa mayat yang sudah tak berbentuk, karena yang mereka lawan bukanlah manusia tapi sebuah pasukan dari kerajaan setan terkuat di kota mereka.


Kondisi rumah Haji Kardi sudah tidak utuh lagi bagaikan yang tersisa hannyalah puing-puing sisa dari robohnya dinding rumah yang semula kokoh kini berantakan tak menyisakan satu pun pilar penyangga untuk menopang semuanya roboh.


Habis sudah keluarga Haji Kardi dengan segala kejayaannya tak bersisa kini tinggallah Dava berdiri mematung di tengah-tengah rumah yang sudah rata oleh tanah. Tetap lekat menatap dua sosok orang tuanya yang telah tiada dengan cara mengenaskan yakni perut yang robek dan isi dalam perut sudah terburai keluar. Bahkan jantung mata dan otak sudah hilang mungkin telah dimakan pasukan anjing setan yang menyerang beberapa saat yang lalu.


Dan saat ini pun para anjing setan masih bergerak di sekitar rumah Haji Kardi menyerang sisa-sisa anggota T O H yang masih terus melawan. Dava masih melamun, menegun dan air matanya terus mengalir menatap mayat Abah dan Uminya. Dalam hatinya berkecamuk antara kecewa dengan diri sendiri yang tak mampu menyelamatkan keluarganya bahkan di depan matanya sendiri mereka di bantai. Bercampur dengan perasaan marah serta murka bercampur menjadi satu.


Aaaaaaaaa....1000×!!,


Teriakan Dava meraung-raung membahana begitu pilu di tengah derasnya gerimis yang semakin mengucur dari atas langit. Kini Dava berlutut di depan mayat kedua orang tuanya memukul-mukul tanah dan terus menangis serta berteriak-teriak tak karuan.


“Abah.., Umi...!!,” teriakkan Dava semakin pilu mengemuka di udara membentur awang langit bersatu dengan awan mendung yang seakan ikut bersedih bersamanya.


“Dava berdirilah mari kita terus bergerak walau harus mati habisi semua setan itu agar anak cucu kita kelak di generasi mendatang sudah tidak lagi mengalami apa yang kita alami, ayo Dik kita berdiri kita berlari kita habiskan semua malam ini,” ucap Gus Bagus yang datang menghampiri Dava perlahan.


“Abah, Umiku Mas,” ucap Dava lirih masih dalam posisi berlutut dengan wajah memandang tanah basah di bawahnya tenggelam penuh kesakitan dalam hati.


Tiba-tiba datanglah dua sosok pejuang T O H yang lain dari arah timur mereka adalah Gus Pendik dan Gus Hargo, “Gus Bagus, Gus Dava, Assalamualaikum?,” ucap mereka berdua yang datang seakan jatuh dari langit.

__ADS_1


“Bagaimana keadaan Mojoagung dan sekitarnya Gus Pendik?,” tanya Gus Bagus memastikan kondisi di daerah Gus Pendik.


“Alhamdulillah Gus tentara setan tengkorak dapat kami pukul mundur makanya itu kami mengejar hingga kemari,” ucap Gus Pendik menjawab.


“Astagfirullah, innalilahi wainnaillaihi raziun, Haji Kardi telah gugur pula. Gus Bagus bagaimana hal ini bisa terjadi?,” celetuk Gus Hargo begitu terperangah melihat kondisi Haji Kardi dan istrinya yang begitu mengenaskan, iya sempat pula memandang keadaan sekitar yang penuh dengan genangan darah, potongan-potongan dari beberapa tubuh yang tak utuh serta mayat-mayat dari kawan seperjuangan yang menggeletak dimana-mana.


“Biadab kalian para setan Adi Yaksa!!,” teriak Gus Hargo


“Tenangkan dirimu Gus Hargo aku tahu kekalahan kita kali ini sanggatlah telak. Aku tahu kondisi di daerahmu pun sama begitu pula daerah yang lainnya, maka dari itu mari kita terus bergerak maju apa pun yang akan terjadi nanti entah kita esok melihat matahari terbit atau tidak mari terus berjuang,” ujar Gus Bagus menepuk pundak Gus Hargo yang ikut meneteskan air matanya pula.


“Bagaimana ini semua bisa terjadi Gus Bagus aku tak mengerti tolonglah, tolong jelaskan padaku Gus aku tak mengerti semua dengan keadaan ini?,” ucap Gus Hargo memohon penjelasan.


“Lalu petapa Effendik di mana Gus, ia kan yang maha paling sakti di antara kita semua. Di mana iya sekarang berada Gus?,” teriak Gus Hargo sekali lagi meminta penjelasan pada Gus Bagus yang terkenal sebagai pengawas seluruh kota Jombang.


“Kabar terakhir petapa Effendik dan Beby Wahyu sedang melawan Kebo Marcuet panglima tertinggi dari musuh kita di atas langit sana,” jelas Gus Bagus sambil menunjuk ke atas langit.


Lalu Dava yang semula terdiam dalam terpuruknya dengan keadaan terduduk lemas kembali berdiri dan menatap Gus Bagus di sampingnya, “Mas pergilah ke rumah Mas Jaka selamatkan calon istrimu Mbak Vivi jangan sampai sampean mengalami apa yang kurasakan,” pinta Dava sambil memegang kedua pundak Gus Bagus.


“Tapi Dek kamu bagaimana?,” kata Gus Bagus yang tetap menghawatirkan Dava.


“Sudah pergilah...!!,” bentak Dava dan kali ini Gus Bagus yang biasanya memarahi Dava dengan maksud mengajarinya. Kali ini tak berkutik di bentak oleh Dava dan hanya bisa mengangguk tanda setuju lalu menghilang seketika.

__ADS_1


“Maung Bodas....!!,” sekali lagi Dava berteriak memanggil raja dari siluman harimau putih seketika beberapa harimau besar tiba-tiba mewujud datang melalui kegelapan mengitari Dava, Gus Pendik dan Gus Hargo.


Salah satu harimau yang terbesar maju lalu berubah menjadi seorang tua berjubah putih, bersorban putih dialah Maung Bodas raja dari semua harimau putih, “Saya menghadap Mas Dava,” ujarnya memberi hormat pada Dava.


“Kau dan seluruh bala tentaramu jagalah di sekitar sini hancurkan, binasakan semua setan dan siluman yang mendekat. Dan jagalah baik-baik jenazah orang tuaku,” ucap Dava.


“Sandiko dawuh Mas (Apa pun yang Mas perintahkan kami laksanakan),” jawab Maung Bodas.


“Kalian pasukan harimau putih dari telatah Pasundan berpencarlah. Habisi semua yang mendekat baik itu setan atau siluman hancurkan semua,” teriakan perintah komando dari Sang Raja Maung Bodas membuat separuh dari bala tentara harimau put8h berpencar seketika.


“Gus Pendik, Gus Hargo demi kata mati syahid mari bersamaku berjuang kita rebut lagi kota ini dari tangan para setan durjana itu,” ucap Dava menatap Gus Pendik dan Gus Hargo yang berdiri di sampingnya.


“Baiklah sampean (kamu dalam bahasa Jawa dalam konteks memperhalus kalimat) yang memimpin di depan Mas Dava monggo (silakan),” ucap Gus Pendik.


“Mari berlari Gus,” ucap Dava.


“Mari Mas,” sahut Gus Pendik dan Gus Bari kompak.


Allahuakbar...!!


Teriakan ketiga punggawa T O H di desa Mbanjar kerep itu membahana sampai langit berlari menyongsong terus maju ke depan entah apa pun yang terjadi mereka terus melaju membabi buta.

__ADS_1


__ADS_2