
Badai petir dan angin serta lebatnya hujan tinggal menyisakan gerimis yang masih meninggalkan genangan-genangan serta menimbulkan tanah di area hutan menjadi semakin becek dan berlumpur.
Pak, Pak, Pak,
Suara langkah kaki Gus Lukman berlari mengejar santri terakhir yang menemaninya berperang melawan para raksasa di bawa lari oleh salah satu pasukan raksasa.
“Oh tidak!” kenapa ini bisa terjadi ucap Gus Lukman terduduk lemas sambil memukul-mukul tanah berlumpur di tengah hutan sehingga jubah putih yang ia kenakan tak lagi putih menjadi coklat kehitaman karena kotoran tanah yang mengenai jubahnya.
“Sudah aku bilang kalau kalian ikut aku tidak bisa maksimal berperang dan tidak bisa melindungi kalian satu-persatu, karena kali ini musuh sangat kuat dan berjumlah ratusan. Akhirnya terjadilah kalian hilang entah dimangsa para raksasa atau di tawan aku pun tak dapat menerawangnya penglihatanku terhalang kabut,” ucap Gus Lukman masih tersimpuh di atas tanah berlumpur di tengah hutan Pinus.
“Gus Lukman, ada apa? Bukan seperti itu seharusnya Gus Lukman yang aku kenal,” ucap tiga bayangan ustad Dwi yang tiba-tiba berdiri di samping kanan dan kiri Gus Lukman.
“Benar Mas Lukman yang aku tahu adalah perwira T O H tercepat dari seluruh anggota dengan sepi anginnya, ada apa Gus denganmu malam ini?” ujar Gus Bagus yang seakan turun dari langit meluncur di sela-sela gelapnya hutan menuju Gus Lukman yang tengah terduduk.
Tiba-tiba ada bayangan hitam besar meloncat seakan ingin menerkam ke arah mereka namun dari belakang bersamaan dari loncatan bayangan tersebut terlontar panah api hijau dari belakang Gus Lukman terduduk.
Slap,
Duar,
Panah tersebut pas menancap si empu bayangan yang ternyata salah satu pasukan genderuwo. Mengenai pas di dadanya dan seketika itu hancur lebur tak bersisa.
“Gus Lukman yang kukenal dia yang mengajariku teknik meringankan tubuh hingga aku tahu caranya berlari dengan cepat bukankah itu benar Gus Lukman,” ucap Dava yang sudah merubah diri menjadi mode api hijau naga Bergala.
“Kalian datang juga akhirnya saudara-saudara ku para perwira T O H,” ucap Gus Lukman seraya berdiri di bantu Gus Bagus Dan Dava.
“Eh aku bukan salah satu dari kalian loh. Aku adalah pemimpin kelompok Alif kecil di kota serang sama seperti T O H kami juga berperang melawan kebatilan,” ucap Ustad Dwi berdiri berjajar memanjang di depan tiga perwira T O H yakni Gus Bagus, Gus Lukman dan Dava.
“Mari kita selesaikan ini dengan cepat, Dava lontarkan panah seribu akan ku susul dengan bayangan-bayangan ku di belakangnya agar panah mu semakin kuat dan terarah,” teriak ustad Dwi berlari ke arah sisi hutan tempat persembunyian ratusan raksasa.
__ADS_1
Dava mengacungkan busur hijau yang ia pegang ke arah depan tiga panah keluar dari ujung jari yang ia tarik melalui tali busur. Secepat kilat lontaran panah hijau dilesatkan Dava dan berubah menjadi ratusan panah ketika melesat jauh.
Bayangan-bayangan Ustad Dwi menyusul, melompat di belakang panah Dava yang melesat bersatu masuk kedalam panah tersebut berbaur sehingga panah Dava semakin mengeras bak besi fosil yang tak kan patah walau terbentur baja.
“Giliranku beraksi, kang Mas Garuda datanglah?” ucap Gus Bagus memanggil Garuda.
Seperti biasanya Garuda datang dengan cepat kali ini terbang membentangkan sayapnya di atas lontaran panah-panah Dava seakan bayangan Garuda menutupi lesatan panah sehingga panah tidak nampak tersamarkan oleh bentangan sayap Garuda yang teramat panjang di atas hutan Pinus.
“Gus Lukman kau tidak menghembuskan angin mu kah seperti biasanya untuk membantu daya dorong ucap Dava.
“Tenang Dik Dava akan aku lakukan,” ucap Gus Lukman merapal mantra sambil diam tiba-tiba angin kencang berhembus sealur panah Dava melesat.
Seperti kembang api meletus berurutan berbunyi dengan percikan-percikan api hijau dan kuning yang tertembus di dada-dada raksasa.
Argh,
Layaknya kembang api di tahun baru suasana hutan menjadi begitu gaduh karena letupan-letupan dari tubuh raksasa yang hancur lebur menjadi abu.
“Alhamdulillah,” ucap serempak Gus Lukman, Gus Bagus, Dava dan ustad Dwi.
“Terimakasih kalian sudah datang menolong, tetapi bagaimana dengan santri-santri ku?” ucap Gus Lukman.
“Berarti kelemahanmu ada pada kekhawatiran yang berlebih Gus. Tenang saja aku sudah memindahkannya ke rumahnya masing-masing tenang saja Gus aman,” ucap Ustad Dwi yang terkenal bukan saja bisa membelah diri menjadi ribuan bayangan dengan pancasonanya tapi setiap bayangan sama kuatnya juga mampu berpindah tempat dengan cepatnya. Terbukti jarak Serang Banten dan kota Jombang layaknya sekedip mata baginya.
“Allhamdulillah memang benar kalau begitu berita yang ku dengar perwira Alif kecil dari negeri tanah merah para jawara Serang Banten sanggatlah hebat,” ucap Gus Lukman.
“Bukan apa-apa aku hanya kakak dari temanmu Bagus, hahaha,” ucap Ustad Dwi merendah.
“Kalau begitu mari kita ke tempat Jaka bertempur itu Medan terakhir dan terdahsyat yang belum kita datangi,” ucap Gus Bagus.
__ADS_1
“Benar Mas, kasihan Mas Jaka menunggu lama dia sedang berjuang sendirian walau Jatayu dan Ki Datuk Panglima Kumbang bersamanya kali ini yang ia hadapi adalah musuh bebuyutannya Aji dan pemimpin musuh kita Sarpala,” ucap Dava.
“Ngomong-ngomong Mas Bagus Snak kacang mu apa masih ada?" ucap Dava sambil merogoh kantong depan sisi dalam jaket T O H dari Gus Bagus.
“He, ini bocah malah mencari makanan,” celetuk Gus Bagus hendak menyingkirkan tangan Dava namun kalah cepat Dava sudah mengambil Snak kacang satu bungkus dari dalam saku jaket Gus Bagus.
“Asyik dapat satu bungkus Snak kacang,” ujar Dava membuka bungkus Snak kacang di tangannya.
“Dava tinggal satu itu loh Dava jangan di habiskan,” ucap Gus Bagus.
“Pelit amat Mas Bagus nanti aku bilangin Mbak Vivi noh di rumahnya banyak yang kayak begini,” ucap Dava terus makan Snak kacang.
“Malah rebutan makanan itu ustad Dwi sudah pergi noh ayo menyusul,” ucap Gus Lukman berlari meninggalkan Dava dan Gus Bagus yang tengah merebutkan Snak kacang.
“Eh Mas itu ada seperti sosok bayi tapi bercahaya mengikuti Gus Lukman. Apa itu bayi Gus Lukman apa bayi setan atau gimana ya?,” ucap Dava.
“Mana Dik?" tanya Gus Bagus melihat ke arah Gus Lukman yang sudah jauh berlari.
“Itu noh-noh mengikuti lari Gus Lukman. Kalau bayi setan tidak mungkinkan berbentuk cahaya bayi siapa ya?” ucap Dava terus memandang ke arah jabang bayi berbentuk seperti bayi namun dari cahaya.
“Iya ya Dik Bayi siapa ya? diantara kita siapa yang istrinya lagi hamil tua ya?” ucap Gus Bagus.
“Mbak Putri,” ucap Dava dan Gus bagus serempak.
“Masak ya Putri sudah melahirkan, usia kandungannya bukannya masih tujuh bulan,” ucap Gus Bagus.
“Entahlah benar atau tidaknya kita ikuti saja. Semoga saja bayi itu dapat membawa keberuntungan atau pertanda kemenangan kita, karena Sarpala terkenal licik dan kuat aku takut walau T O H bersatu belum cukup menandingi kesaktiannya,” ucap Dava.
“Mari kita susul mereka,” ucap Gus Bagus melesat ke angkasa di ikuti Dava dari belakangnya.
__ADS_1