T O H

T O H
Bayi Setan Kesepian


__ADS_3

Kelompok Hendrik Wijaya dari golongan hitam telah pergi beberapa menit yang lalu. Tapi masyarakat kota Jombang yang sudah kadung melihat tontonan yang begitu mengerikan menjadi trauma tik sangat ketakutan akan adanya perang kembali.


Sejenak Wahyu mengamati ada yang aneh dari kejauhan tempatnya berdiri. Setelah mengalahkan Hendra Wijaya dengan hanya sekali sentuh. Wahyu tampak gelisah, karena sekejap ia seperti melihat sepasang mata menyeramkan yang tengah mengintainya.


Wahyu terus memandang ke arah timur jauh tempatnya berdiri agak bingung mematung. Melihat apa sebenarnya yang ia rasakan benar adanya. Si kecil Wahyu yang masih begitu polos tak mengerti bentuk makhluk apa yang membuat desir dalam dadanya sampai bergetar kencang. Seperti ada sesuatu benturan hawa atau aura antara dia dengan makhluk tak kasat mata lain.


Sedangkan para petinggi T O H yang sangat senang dapat membatalkan perang setidaknya damai akan tercipta sampai sepuluh tahun ke depan. Masih teramat senang meluapkan kegembiraannya.


“Jaka itu Wahyu cucuku kan, benar itu Wahyuku kan?,” teriak Mbah Raji berlari ke arah Wahyu yang sedang bingung tentang kengerian rasa dahsyat dari aura gelap teramat menyakitkan di ujung jalan sebelah timur kota. Yang Wahyu pun tak tahu apa dan siapa si empunya aura.


“Benar Mbah dia Wahyu, Si Kecil Wahyu cucumu,” ujar Jaka tersenyum bangga pada anaknya tersebut membiarkan Mbah Raji berlari menyongsong Wahyu meluapkan kegembiraannya.


“Jaka sampean berhasil mendidik anak, aku bangga pada sampean Jak,” kata Gus Bari menepuk pundak Jaka.


“Sebenarnya Gus, aku tak mengajarkan barang satu ilmu pun pada Wahyu, dahulu terakhir aku ketemu Si Petapa Tanpa Nama. Beliau hanya berpesan untuk selalu menjaga Wahyu suatu saat kekuatannya akan pulih secara utuh seperti sediakala selaras dengan pertumbuhannya yang beranjak dewasa,” jawab Jaka menegaskan.


“Wahyu cucu Embah halo Si Ganteng,” teriak Mbah Raji mendekati Wahyu merengkuh serta memeluk lalu menggendong Wahyu namun Wahyu tetap memandang ke arah ujung jalan paling timur.


“Ada apa Nak, ada apa Wahyu cucu embah yang sakti Mandra guna ini. Kenapa sayang kok sepertinya kamu sangat khawatir akan sesuatu?,” itu Kek ada sesuatu di ujung jalan paling timur ia duduk di bawah pohon beringin kembar sana paling timur. Dia lebih kecil dari aku kek bergigi taring seperti momok (hantu). Berambut panjang menggimbal pakaiannya tak karuan. Dia manggil Wahyu dengan sebutan Mas Wahyu,” ujar Wahyu sambil menunjuk-nunjuk ke arah timur.


“Sudah-sudah mungkin setan blarahan (Hantu tak bertuan) enggak usah dipedulikan hal yang semacam itu,” ujar Mbah Raji.


“Kakek ke mana saja sekarang sudah jarang ke rumah Wahyu, Kakek jarang main sama Wahyu?,” tanya Wahyu sambil mencabuti jenggot Mbah Raji yang sudah lebat dan panjang serta mulai memutih.


“Aduh, jangan dicabut Wahyu sakit Kakek. Kakek tidak ke mana-mana sayang kalau Wahyu ingin bertemu Kakek sebut nama Kakek tiga kali dalam hatimu Pasti Kakek datang,” terang Mbah Raji masih menggendong Wahyu.


Namun Wahyu masih saja mencuri-curi pandang ke ujung jalan timur jauh. Masih saja iya penasaran akan sosok astral diujung jalan yang membuatnya berdebar sebab besarnya aura tenaga yang dimiliki si makhluk astral tersebut.

__ADS_1


“Ada apa Nak Ayah di sini, kenapa seakan anak Ayah yang hebat dan super tangguh ini seperti layaknya orang sedang cemas yang berlebihan,” sahut Jaka menghampiri Wahyu yang di gendong Mbah Raji.


“Itu Ayah makhluk itu sedari tadi memanggilku dengan panggilan Mas Wahyu sambil melambaikan tangan seakan dia sangat sedih dan kesepian. Seakan dia ingin memanggilku mengajaknya bermain,” ujar Wahyu kembali menuding ke arah timur.


“Jaka coba kau lihat makhluk apa yang ada di ujung jalan itu. Kata Wahyu tadi dia duduk diam di bawah pohon beringin kembar ujung jalan paling timur,” pinta Mbah Raji.


“Baik Mbah,” jawab Jaka membuka matanya menimbulkan urat-urat di sisi kelopaknya seakan keluar ke permukaan dan bola matanya berubah seakan mengeluarkan cahaya terang.


“Allahuakbar, bukankah itu Si Bayi Setan yang dilahirkan oleh Sari. Bukankah makhluk ini sudah aku segel di atas langit kenapa ada di sana?,” ucap Jaka terbelalak sangat kaget.


“Jaka coba kau gendong anakmu dahulu biar aku yang berbicara padanya sebentar saja,” ucap Mbah Raji memberikan Wahyu pada Jaka.


“Hati-hati Mbah,” teriak Jaka pada Mbah Raji yang sudah berjalan menghilang begitu cepat sudah terlihat teramat jauh.


Sementara itu di dalam taman Kebon Rojo tepatnya di dalam sebuah rumah-rumahan adat yang dibuat sengaja oleh pemda agar dapat membuat pengunjung betah dan bersua foto. Halilintar bersembunyi di sana di temani Senja badanya tampak menggigil bukan karena ketakutan tapi karena terimbas benturan aura dahsyat Wahyu yang merasuk ke dalam aliran darahnya sehingga berkontraksi pada seluruh sendi dan otot membuatnya seakan menggigil kedinginan.


“Hal aku harus bagaimana?, aku jadi ikut bingung melihat kondisimu seperti ini. Apa aku panggil saja orang-orang petinggi T O H itu lalu aku pinta mereka untuk menyembuhkanmu ya Hal,” ucap Senja sambil terus memeluk dan mengusap punggung Halilintar.


Senja mulai melepas pelukannya hendak berjalan keluar mencari bantuan untuk mengobati Halilintar yang terdera kedinginan teramat sangat. Namun belum sejengkal Senja beranjak dari samping Halilintar. Tangan Halilintar sudahlah merengkuhnya kembali memeluknya lagi kali ini begitu eratnya.


“Jangan ke mana-mana Senja aku kedinginan, aku sendirian aku tiada berkawan, kawanku hanya sepi tetaplah di sampingku,” cetus Halilintar dalam keadaan terus menggigil.


“Tenang Hal aku tetap disini, aku akan tetap di sampingmu, disisimu selalu tak akan pergi jauh. Tetapi badanmu semakin dingin aku harus bagaimana?,” kata Senja teramat kebingungan.


“Yah, ya, kalian malah asyik berpelukan di sini ternyata dicari dari tadi ternyata sembunyi di sini kalian,” celetuk Gus Bari yang datang secara tiba-tiba di samping Halilintar dan Senja yang tengah berpelukan.


“Gus biarlah kayak tidak pernah muda saja sampean ini,” timpal Gus Pendik yang imut memasuki rumah-rumahan adat tengah taman Kebun Rojo.

__ADS_1


“Ada apa Nak?, kau masih ingat aku kan yang memberimu kartu nama atas nama Ibu Vivi lusa yang lalu,” sahut Pak Bupati Bagus yang jua datang secara tiba-tiba berjongkok seraya mengecek kondisi Halilintar. Dengan cara menempelkan punggung telapak tangan pada kening Halilintar.


“Tidak parah kok tenang di kasih obat lalu istirahat juga sembuh. Bagaimana kalau kalian ikut denganku ke rumahku saja. Mau ya Nak Halilintar lagian kau juga kan ada janji ke rumahku menemui Ibu Vivi, mau ya Nak,” ucap Bagus tersenyum kepada Senja dan Halilintar.


Sedangkan Senja yang teramat kaget dengan kejadian yang baru dialami. Melihat beberapa orang manusia yang dapat datang dan pergi menghilang semaunya hanya melongo dan mengangguk perlahan mengingat kondisi Halilintar yang semakin kedinginan Senja menyetujui permintaan Pak Bupati Bagus membantu Halilintar berdiri.


Kembali seakan terperangah tak mengira dan terkejut saat tangannya di sentuh Gus Bari lalu tiba-tiba sudah di tengah jalan perempatan.


“Loh, loh kok bisa Pak,” teriak Senja ketakutan.


“Sudah tenang saja Ndok Senja kami orang baik dan dulu Ayahnya Halilintar jua salah satu bagian dari kami,” celetuk Gus Pendik tersenyum.


“Woi Jaka apa kalian sudah selesai,” teriak Gus Bagus melambaikan tangan pada Jaka yang sedang berdiskusi dengan Mbah Raji.


“Oh iya Mas duluan saja tidak apa nanti aku susul ke rumahmu sama Wahyu,” teriak Jaka ikut melambai.


“Eh Pak Bupati Dava mana ya?,” tanya Gus Bari menengok ke sana-kemari mencari keberadaan Dava.


“Biasa kayak tidak tahu Dava ya pulang duluan lah apa lagi Sari sedang hamil tua begini. Kan ibu hamil tua pasti sangat manja lah kayak tidak pernah mengalami saja sampean Gus,” jawab Bagus.


“Oalah ia lupa aku hayuk dah pergi bagaimana dibantu atau bagaimana bawa Halilintar ke rumahmu,” ucap Gus Bari.


“Loh ya, iya dong Gus sekalian Gus Pendik juga ikut ke rumah kita bahas maslah Si anak badung Raja Diraja yang menyerang kita barusan,” jawab Bagus.


“Okelah hayuk kemon,” timpal Gus Bari yang tiba-tiba menghilang seketika.


“Jaka woi cepat menyusul ya tadi Bibik Amanah lagi masak enak di rumah,” teriak Gus Bagus langsung menghilang bersama yang lain membawa Halilintar dan Senja.

__ADS_1


“Siap Kang Mas,” teriak Jaka.


__ADS_2