
“He, apa itu?,” kata ibu-ibu yang berkerumun di pinggir trotoar.
“He, iya kenapa itu ada orang berhadapan di tengah jalan?,” sahut ibu satunya.
“Eh, itu bukannya Bupati kita ya Pak Bagus?,” timpal bapak-bapak yang ikut nimbrung bersama ibu-ibu.
“Loh itu di sampingnya bukannya Mas Haji Lurah Dava dari desa Mbanjar Kerep ya?,” teriak ibu-ibu yang lain.
“Eh ada apa ini Ya Allah, bahaya apa lagi yang akan terjadi di kota kita ini, kenapa para petinggi T O H berkumpul. Lalu siapa mereka yang berpakaian seperti dukun itu. Jangan-jangan mau hendak perang lagi, haduh mbok yo jangan lagi,” ucap beberapa ibu-ibu saling menyahut pertanyaan dengan kekhawatiran akan adanya perang lagi seperti sepuluh tahun yang lalu.
“Hei, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sudah-sudah agak menjauh ya ini sangat berbahaya lebih baik pulang deh,” celetuk Gus Pendik yang tiba-tiba ada duduk santai di trotoar di antara kerumunan warga.
“Loh bukannya sampean ini salah satu tokoh T O H ya itu jaketnya ya saya masih ingat jaket kebesaran itu,” ucap seorang nenek tua yang ikut nimbrung menonton.
“Benar Nek kami adalah T O H ayo lebih baik kalian pulang ini berbahaya bukan untuk tontonan,” ucap Gus Bari yang datang berdiri di depan kerumunan juga secara tiba-tiba sambil menghisap rokok.
“Allahuakbar bisa hilang kayak di sinetron televisi ya,” teriak salah satu bapak-bapak.
“Sudah-sudah ayo pada bubar, bubar!!,” teriak Gus Pendik membuyarkan kerumunan warga dan akhirnya para warga menuruti kemauan Gus Pendik dan Gus Bari berhamburan pergi menjauh namun masih tetap banyak yang ngedumel dengan berbagai pertanyaan tentang apakah akan terjadi perang kembali.
“Bagaimana Gus Bari menonton apa ikut gabung bersama kakakmu Mbah Raji?,” tanya Gus Pendik seraya berdiri dari duduknya lalu merogoh sebungkus rokok dari saku dalam jaket kebesaran T O H yang ia pakai.
“Hem, generasi ke tiga memang sangat menarik banyak hal yang tak bisa kita duga ya,” ucap Gus Bari sambil melakukan gerakan pemanasan peregangan otot.
“Ah kebanyakan pemanasan sampean Gus, jadi bagaimana lihat saja apa ikut baris nih?,” kata Gus Pendik yang sudah tak sabaran berjalan dahulu menghampiri Mbah Raji yang tengah berdiri dengan Dava dan Bagus di tengah jalan berhadapan dengan Hendrik Waluya dengan beberapa antek-anteknya.
“Aduh kamu ini Gus Pendik dari dulu enggak pernah berubah tak sabaran. Lagian heran anak semuda itu sudah menjadi pimpinan golongan hitam ya, dengar-dengar namanya Hendrik sayangnya ya dia jadi tokoh penjahat kali ini padahal tampan loh anaknya. Woi Gus Pendik tunggu?!,” teriak Gus Bari menyusul Gus Pendik yang sudah ikut berbaris bersama Mbah Raji.
Ketegangan semakin memuncak jua saat para pemuka T O H kembali berkumpul di tengah-tengah kota. Kali ini yang mereka hadapi adalah seorang anak muda berusia 15 tahunan yang didik oleh iblis Barbadak. Walau masih muda Hendrik Wijaya sudahlah sangat mumpuni dan unggul terbukti hari ini iya memimpin ratusan pasukan gaib yang tak terlibat oleh kaum awam padahal tengah berbaris memanjang di belakang Hendrik Wijaya dan antek-anteknya yang berjumlah sembilan orang.
__ADS_1
“Heh, generasi tua,” celetuk Hendrik dengan senyum sungging jahat menyeringai.
“Hendrik Wijaya, ada apa sampai kau membuat gaduh di tengah kota serta membawa ratusan makhluk gaib di belakangmu?,” tanya Mbah Raji yang berdiri di tengah-tengah barisan para pemuka T O H.
“Banyak omong sudah tua juga, juh,” cetus Hendrik membuang ludah tanda meremehkan.
“Sombong sekali ini anak langsung habisi saja Mbah,” teriak Gus Bari sudah sangat gemas rupanya.
“Jangan anggap remeh anak ini Gus salah-salah apabila berhadapan satu lawan satu Kau dengan Dia. Kau bisa mati di tangannya,” timpal Jaka yang baru datang berjalan dari sisi selatan.
“Loh Jaka kau di sini juga, apa benar yang kau katakan Jak. Sekuat itukah anak bau kencur ini?,” tanya Gus Bari penasaran.
“Di usianya yang ke 13 tahun dia sudah menaklukkan kerajaan setan dan siluman empat penjuru kota bahkan semua raja mereka mati di tangannya. Di usia 14 iya dinobatkan sebagai Raja Diraja seluruh alam gaib kota ini menggantikan Raja sebelumnya yang telah kita kalahkan aku sudah menyelidikinya beberapa tahunan ini bersama Dava,” terang Jaka ikut masuk barisan.
“Benar itu Dav, apa yang di bicarakan Kakakmu?,” kali ini Gus Bari bertanya pada Dava yang berdiri di samping kanan Mbah Raji.
“Wau sehebat itu ini anak,” ucap Gus Bari tiba-tiba takjub dan heran memandang barisan Hendrik Wijaya.
“Ini anak berati yang bisa menandingi hanya Jaka dan Dava yang levelnya sudah jauh diatas kita ya Jak,” celetuk Gus Pendik yang mulai menampakkan raut kekhawatiran di wajahnya.
“Aku pun bisa jadi kalah melawannya Gus Bar,” jawab Jaka.
“Aku juga rasanya tak bisa mengatasi musuh kita satu ini Gus Bar, kali ini musuh kita terlalu tangguh dan sakti,” sahut Dava memberi pernyataan.
“Kalau begitu Gus Bagus sebagai petinggi utama kita pasti mampu mengatasi Hendrik Wijaya ini iya kan Pak Bupati,” celetuk Gus Pendik semakin khawatir dengan beberapa pernyataan temannya.
“Kalau aku melawannya Gus Pen, bisa-bisa tak pernah usai pertempuran bertahun-tahun lamanya keburu hancur kota kita tercinta ini yang sudah susah payah kita bangun kembali sepuluh tahun ini. Karena aku merasa dari aura hitam yang ia keluarkan mungkin bila aku bertarung dengannya posisinya akan seri tiada berkesudahan,” ungkap Gus Bagus sambil memegang dagu mulai memikirkan sebuah cara agar tak lagi terjadi perang.
“Nah Mbah Raji Kakak ku ini pasti mampu melawannya iya kan Mbah, sampean kan sudah diturunkan ilmu dari Sang Petapa Tanpa Nama,” tanya Gus Bari mendekati Mbah Raji.
__ADS_1
“Bahkan Aku yang di generasi kali ini berdiri di barisan paling depan dari kalian menggantikan Sang Almarhum Abah Kasturi mendiang guru kita semua dahulu, merasa belum mampu mengatasi. Aku bisa saja mengalahkannya tapi apakah kita mampu mengalahkan makhluk tinggi besar bersayap layaknya malaikat pencabut nyawa di belakang anak itu,” ucap Mbah Raji sambil menuding ke arah atas Hendrik Wijaya.
Dimana di atas Hendrik Wijaya terdapat sebuah bayangan hitam besar dengan bentangan sayap begitu lebar dan panjang hingga menutupi matahari. Sehingga apabila bayangan itu tampak di belakang Hendrik walau hanya bayangan bisa memenuhi langit menghalangi sinar matahari sehingga gelap bagai malam semua area yang di lewati Hendrik penuh kengerian yang di timbulkan.
“Waduh kalau kalian para petinggi saja tak mampu mengalahkan musuh kali ini. Ciloko ini bagaimana dengan nasib kota Jombang kali ini akankah nama dan sejarahnya hanya tinggal nama dan sejarah cerita dari mulut ke mulut saja,” ucap Gus Bari sambil menepuk jidat dan bergeleng kepala.
“Woi, kalian para orang tua bangka terlalu banyak bicara rupanya,” teriak Hendrik Wijaya tiba-tiba mengeluarkan aura aneh yang begitu dahsyat meluas bagai hantaman. Sehingga ambles tanah yang ia injak ambles agak dalam melingkar agak luas. Bahkan aura yang di keluarkan bagai aura pukulan dahsyat sempat memukul mundur beberapa langkah para petinggi T O H beberapa jengkal.
“Gila, ini gila, aura anak ini begitu dahsyat. Memang benar apa yang kalian katakan,” teriak Gus Bari yang sudah mundur beberapa meter terseret aura dengan posisi lengan tangan menangkis di depan wajah.
“Mas Jaka bagaimana ini aura anak ini terlalu kuat untuk kita tangkis apa tidak ada cara menghentikannya. Baru mengeluarkan aura saja dia sudah membuat kita kalang kabut begini tidak adakah seseorang dari kita yang berani maju melawannya,” teriak Dava menangkis lingkaran aura aneh menyala-nyala dan berputar terus menerus dari Hendrik Wijaya.
“Ada...!!,” sebuah teriakan sebuah sosok kecil jatuh di depan Hendrik pas bahkan bekas jatuhnya memberi dampak lebih luas amblesnya tanah dari bekas aura yang di timbulkan Hendrik.
“Woi Mas dukun sampean tidak tahu ya kalau aku ini sedang buru-buru ingin ketemu tanteku malah menghalangi jalan,” ucap sosok kecil tersebut yang ternyata adalah Wahyu.
Lalu perlahan telapak tangan kecilnya di tempelkan pada dada Hendrik Wijaya. Seketika, duar..., Hendrik Wijaya beserta beberapa antek-anteknya terlempar beberapa meter namun masih sanggup berdiri.
“Orang kok tidak punya sopan santun tiba-tiba bikin onar saja. Dari tadi aku lihat sampean pamer kekuatan saja, diatas langit ada langit Mas Dukun jangan sok sampean, jengkel aku lama-lama,” celetuk Si Kecil Wahyu yang membuat para petinggi toh terbengong-bengong tak menyangka dan tak menduga Wahyu anak Jaka sehebat itu.
“Uhukz, uhukz, huek, juh,” tampak Hendrik Wijaya terbatuk-batuk memegangi dadanya meludahkan sebuah lendir merah seperti darah kental merah agak hitam.
“Aku tak menyangka T O H memiliki kartu as seperti anak ini, Hai kalian para tetua T O H, baik kali ini aku tak akan menantang perang tapi tunggulah saatnya nanti sepuluh tahun lagi aku akan datang kembali,” teriak Hendrik Waluyo tiba-tiba menghilang sekejap, antek-anteknya jua hilang ikut bersama sang Raja Hendrik Wijaya.
“Ah banyak bicara, nanti nangis, nangis, week orang jelek banyak omong,” celetuk Wahyu sambil menari-nari gaya mengejek dan menjulur-julurkan lidah.
“Lah kok bisa Wahyu?,” ucap Mbah Raji.
“Hehehe, itulah anak ku Mbah,” ucap Jaka.
__ADS_1