T O H

T O H
Manjanya Si Putri


__ADS_3

Tengah malam sudah berlalu di gardu RT 01 disana tinggal segelintir orang yang tengah duduk-duduk mengobrol santai yang lain sudah pulang ke rumah masing-masing, karena rasa mengantuk yang mendera.


Waktu pun telah menunjukkan pukul 02.15 namun Si Pulung yang ditunggu tidak kunjung muncul juga. Ya kini tinggal tiga orang saja menghuni gardu yang baru di renovasi tiga hari yang lalu.


“Mana Mbah Yono pulungnya tidak muncul-muncul juga ini sudah hampir pagi?,” celetuk Pak RT Ari seraya menelaah langit mencari-cari.


“Tenang Pak RT yang sabar Pulung atau Wahyu Keprabuan bukanlah hal remeh dia ghoib, tidak sembarangan orang bisa melihatnya. Hanya orang terpilih yang mampu melihatnya,” jawab Mbah Yono yang tengah duduk bersila di samping Pak Haji Sugian.


“Yah yang bisa melihat pertama kali biasanya yang akan terpilih besok sebagai kepala desa,” jelas Pak Ustad RW Gianto seraya menyeruput kopi yang hampir habis di gelas depan ia duduk.


“Tenanglah Pak RT Insya Allah dengan Izin Allah dengan atau tanpa Pulung kalau saya diizinkan menerima amanah warga menjadi Lurah besok pasti akan terpilih,” kata Pak Haji Sugian.


“Ini yang saya suka dari Pak Haji orangnya selalu merendah, makanya saya selalu mendukung mu sobat,” ujar Pak RT Ari.


“Hahaha...., bisa saja Pak RT ini,” kata Pak Haji Sugian seraya tertawa mendengar ucapan Pak RT.


“Pasang mata bapak-bapak semua jangan sampai lalai. Ini hawa sudah semakin dingin berarti Pulung akan segera terlihat,” kata Mbah Yono seraya berdiri keluar gardu melihat langit.


......


Rumah Pak Suroto


Sementara para pendukungnya tengah asyik mengobrol di depan rumah Pak Suroto dan seorang dukun tengah berada di dalam kamar duduk bersila berhadap-hadapan.


Di tengah-tengah mereka terlihat satu nampan sesajen dari mulai bunga setaman, kopi, hingga tungku kecil tempat pembakaran kemenyan yang tengah mengeluarkan asab dan bau wangi kemenyan menyengat.


“Mbah pokoknya besok saya harus jadi Lurah saya sudah mengeluarkan banyak uang untuk warga agar besok dalam pemilihan kepala desa memilih saya, dan ini bagian Mbah dukun,” kata Pak Suroto seraya mengulurkan amplop kecil berisi tumpukan uang.


“Tenang saja Pak Suroto besok pasti Pak Suroto terpilih menjadi lurah, karena saya tahu Pak Haji Sugian adalah orang yang tak percaya pada dukun. Iya tak mungkin meminta pertolongan dukun untuk memenangkan pemilihan. Sebaliknya saya akan mengajak beberapa teman seprofesi untuk bergabung membantu Pak Suroto,” kata Si Mbah dukun seraya mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan untuk disebarkan kepada teman-teman seprofesinya.


“Kalau bisa musuh saya Pak Haji Sugian dibikin mampus Pak biar besok tidak bisa datang di tempat pemilihan sehingga saya otomatis menang,” kata Pak Suroto hendak melakukan kecurangan.


“Oh itu bisa diatur Pak, saya tadi sebelum bapak masuk ke sini masih di luar dengan pendukung bapak, saya telah melepaskan satu peliharaan saya yakni bayi bajang yang bisa membuat orang linglung dan hilang akal lalu mati karena rasa takut yang sangat berlebihan. Begitupun teman-teman saya telah melepaskan peliharaannya berupa makhluk halus dan jin,” kata Si Mbah dukun dengan tak henti-hentinya menaburi kemenyan yang telah dihaluskan diatas tungku kecil.

__ADS_1


“Kalau begitu saya lega kali ini saya yang akan mengalahkanmu Pak Haji Sugian. Kali ini kau pasti mati di tangan ku,” kata Pak Suroto sambil bergaya bertolak pinggang.


.........


Rupanya Jaka yang tengah duduk di sofa samping tempat tidur sedang menerawang jauh di rumah Pak Suroto ia tau benar dan melihat serta mendengar dengan jelas apa yang sedang dibicarakan Pak Suroto dan Si Dukun.


Matanya menatap tajam menerobos alam bawah sadar dan Jaka telah bersiap menyambut para makhluk halus yang dikirimkan para dukun pendukung Pak Suroto agar Pakdenya yakni Pak Haji Sugian selamat dari maut.


“Hanya Allah yang boleh mengambil ruh manusia setan tak berhak atas itu,” celetuk Jaka seraya menyeruput kopi hitam di tangannya.


“Berapa pun banyaknya setan yang kau kirimkan wahai Pak Suroto dengan izin Allah akan aku hadapi demi tegaknya kebenaran,” ujar Jaka kembali merasa sangat tertantang berapi-api sehingga tak menyadari sedari tadi Putri yang semula tertidur pulas di kasur telah di sampingnya mengamatinya yang tengah mengoceh sendiri dengan wajah heran.


“Jaka kamu tidak apa-apa kan, tidak sakitkan?,” kata Putri sambil menempelkan punggung telapak tangan di kening Jaka.


“Eh, yah....,yah tumpah deh, ahh... kamu Put, ngagetin aku saja jadi tumpahkan kopiku,” kata Jaka sontak berdiri kaget melihat Putri yang telah duduk disampingnya sehingga membuat kopi yang ia pegang tumpah ke lantai


“Hihihi, habis kamu dari tadi ngomong sendiri aku kan jadi ke bangun Jaka,” kata Putri.


“Anu, sedang latihan buat baca puisi di acara tujuh belasan,” kata Jaka berbohong untuk menutupi apa yang tengah dilihatnya tadi.


“Apasih Put sana sudah tidur lagi...!,” kata Jaka seraya mengepel lantai bekas tumpahan kopi.


“Ihhh..., dasar Julit, sinio loh duduk sini...!?,” kata Putri sambil membersihkan bagian sofa disampingnya agar Jaka duduk disampingnya.


“Emmm..., mulai deh mancing-mancing, jangan konyol deh Put,” kata Jaka namun tetap duduk di samping Putri.


“Huuuu, mengomel tapi tetap duduk juga,” celetuk Putri.


“Jaka..., Jaka....,” kata Putri sambil bergaya seksi tapi tetap duduk dan mulai memberi sinyal-sinyal pada Jaka dengan sentuhan-sentuhan manja di lengan Jaka.


“Hiiih, hiiiii..., apa sih Put, jangan Lebay deh.., kamu kok jadi begini sih Put,” kata Jaka berpindah duduk mengambil jarak agak jauh dari tempat Putri duduk namun tetap satu sofa.


“Jadi begini apanya...?,” kata Putri agak marah.

__ADS_1


“Aku kenal Putri dulu yang alim Soleha, layaknya Ukhty pondok sangat rohani, sekarang kok pecicilan begini kamu,” kata Jaka menatap Putri heran.


“Ya kamu yang buat aku begini Lo kenapa kemarin malam kamu meluk aku semalaman kan nagih,” teriak Putri.


“Luh..., Bahaya ini anak kok bisa begini yah, gaswat..., gaswat.., hey.., jangan kencang-kencang ngomongnya nanti seisi rumah tahu,” kata Jaka merasa ngeri melihat Putri yang berubah menjadi sangat centil.


“Biar..., biar saja seisi rumah tahu tentang cinta kita Jaka, masak manja-manja sama pacar sendiri enggak boleh,” kata Putri seraya terus menggeser duduknya mendekati Jaka.


“Cinta kita..., Pacar...., eh bentar kapan kita jadian yah Put...,” kata Jaka mengernyitkan dahi sambil mengingat-ingat.


“He,em...., jahat..., jahat...,” kata Putri sambil memukuli punggung Jaka namun tidak seberapa keras dan tiba-tiba meneteskan air mata hendak menangis.


“Lah... Lah... Lah...., dia nangis jangan nangis dong malah mewek...,” kata Jaka.


“Terus maumu bagaimana sekarang...?,” kata Jaka...


“Bobok kayak kemarin sambil di peyuk Jaka,” kata Putri begitu manja.


“ini kalau tidak diturutin bisa enggak tidur-tidur nih anak, bahaya aku tidak bisa membantu Pakde ini,” gumam Jaka dalam hati


“Yaudah..., hayuk..., tapi cepat bobok ya kamu loh masih belum sehat benar soalnya.,” kata Jaka.


“Iyah..., yaudah cini loh...,” kata Putri yang sudah berbaring di kasur nampak begitu manja.


“Loh cepat amat udah di kasur ajah bisa ngilang apa yah nih cewek kok jadi ngeri aku Put sama kamu,” kata Jaka namun tidak jua ikut berbaring masih di samping kasur berdiri.


“Tidur di kasur..., Jangan...., tidur...., jangan...,” kata Jaka nampak bingung menuruti Putri atau tidak.


Tiba-tiba tangan Jaka ditarik Putri seketika jatuh di pelukan Putri dan Putri langsung memeluknya erat, “Sudah sini sayang temenin aku bobok kebanyakan mikir kamu,” kata Putri terus memeluk erat Jaka.


_


_

__ADS_1


_


__ADS_2