T O H

T O H
Upacara Bendera


__ADS_3

Hari Senin pagi di madrasah ibtidaiah pondok As-salam desa Mojokembang. Telah berbaris rapi di halaman sekolah berjajar berurutan sesuai kelas masing-masing. Para guru serta staf pengajar terlihat ikut pula berbaris rapi di hadapan para siswa.


Terlihat pula kepala sekolah tengah berdiri di mimbar sambil membawa sebuah map berisi teks pidato dan kata sambutan. Pas di samping kiri kepala sekolah Wahyu berdiri tegap dengan sikap sempurna iya bertugas sebagai pembawa map pidato untuk kepala sekolah sebagai pimpinan upacara.


Dengan hikmat seluruh peserta upacara mendengarkan pidato kepala sekolah yang sangat bersemangat dan berapi-api layaknya pidato presiden RI pertama Pak Ir Soekarno saat berpidato kebangsaan di depan mimbar gedung DPR RI.


“Anak-anak siswa dan siswi MI pondok As-Salam yang kami cintai. Bahwa sanya hari ini bapak hendak mengumumken mulai hari ini di sekolahan kita tercinta ini akan diadaken. Apa itu yang namanya ekstra kurikuler bela diri. Dimana ekstrakurikuler ini dimaksutken apa yang namanya itu agar siswa dan siswi di sini mampu dan cakap dalam hal seni bela diri. Dan jua selain itu dapat berfungsi sebagai apa yang namanya itu?,” ucap Pak Kepala Sekolah berpidato tentang adanya ekstrakurikuler bela diri namun belum sempat meneruskan perkataannya para siswa sudah memotongnya dahulu serempak dengan jawaban yang membuat gelak tawa bagi para peserta upacara yang hadir.


“Apa yang namanya itu kami tidak tahu pak,” serempak para siswa teriak disambut gelak tawa semua hadirin.


“Diam anak-anak ini penting!,” teriak Pak Kepala sekolah mencoba menenangkan siswanya seketika para siswa diam menyeluruh.


“Sampai dimana tadi bapak berpidato?,” tanya Pak Kepala sekolah.


“Sampai apa namanya itu pak,” celetuk salah satu murid yang ada dalam salah satu barisan kembali gelak tawa terdengar ramai di antara para siswa.


“Diam anak-anak!,” seorang lelaki berbaju kemeja rapi dan bercelana jin hitam lengkap dengan kopyah hitam terlihat sangar dikarenakan badannya yang tegap dan kekar apalagi wajahnya yang sangar membuat para siswa seakan bergidik ngeri dengan satu teriakannya yang mendiamkan seluruh murid.


Laki-laki tersebut adalah Pak Johan seorang guru bela diri yang didatangkan dari kota Kertosono kebetulan beliau baru pindah ke desa Mojokembang mengikuti sang istri yang meminta untuk tinggal dekat dengan orang tuanya.


Pak Johan tampak maju dengan langkah tegap dengan sikap protokoler upacara bendera berdiri di samping kanan Pak Kepala Sekolah.


“Nah anak-anak perkenalkan beliau ini adalah Pak Johan di sini beliau bertugas untuk mengajar kalian dalam bidang ekstrakurikuler seni bela diri alias yang lebih dikenalnya dengan istilah karate,” tegas Pak Kepala Sekolah.


“Silakan Pak Johan untuk menyampaikan sepatah atau dua patah kata kepada anak-anak,” kata Pak Kepala Sekolah mempersilahkan Pak Johan berpidato singkat.


“Terima kasih Pak Kepala Sekolah sebelumnya atas waktu dan tempat yang di sediakan. Assalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh,” ucap Pak Johan mengawali pidatonya.

__ADS_1


“Waalaikumsalam warahmatulahi wabarakatuh,” jawab para murid dengan nada ogah-ogahan.


“Kurang keras mana semangat kalian!,” teriak Pak Johan menggugah semangat para siswa agar menjawab salam dengan lantang.


“Kalian tahu kota ini setelah hancur sepuluh tahun yang lalu di bangun kembali dengan semangat para penjaga kota. Kalian sebagai penerus dari mereka haruslah semangat menjalani profesi sebagai murid dan haruslah giat belajar,” lantang teruak Pak Johan.


“Mana jawaban siap kalian?,” teriak Pak Johan mengentak para siswa agar tetap bersemangat.


“Siap Pak Johan...!!,” teriak para siswa serempak dengan lantang dan keras.


“Bagus setidaknya kalian memiliki jiwa-jiwa semangat yang di warisi para pejuang kota ini. Mulai hari ini saya akan mengajarkan seni bela diri kepada kalian Bapak memohon bantuannya agar tetap bersemangat kalian siap...!!,” teriak Pak Johan kembali membakar para murid.


“Siap Pak Johan!!,” teriak para murid menggelegar riuh serempak.


“Baik terima kasih Pak Kepala Sekolah atas waktu untuk saya di depan anak-anak,” ucap Pak Johan mengakhiri pidatonya.


“Siap Pak, anak-anak tetap semangat dan Assalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh,” kata Pak Johan seraya kembali ke tempat barisan awal di tengah-tengah barisan guru dan staf.


“Waalaikumsalam warahmatulahi wabarakatuh Pak Johan,” teriak para murid.


***


Di suatu tempat jalan raya kota Jombang, di salah satu perempatan lampu merah pas sebelah depan taman kota Kebun Rojo. Seorang anak muda yang berkisar usia 15 tahunan sedang menenteng tumpukan koran untuk di jajakannya. Dialah Halilintar bin Hasan seorang anak yatim piatu yang ditinggal mati kedua orang tuanya mati saat perang sepuluh tahun yang lalu. Bertarung dengan hidup yang pelik dan keras demi sebungkus nasi.


Dengan pakaian yang sederhana kaos oblong tampak kucel dan lusuh serta celana pendek levis bolong-bolong di beberapa tempat. Walau panas terik terkadang di terpa hujan Halilintar tak menyurutkan semangatnya menjajakan koran yang diambilnya dari distributor koran kota setempat.


Satu persatu kaca mobil iya ketuk demi terjualnya satu persatu koran yang ia bawa. Pagi ini koran masih jua banyak di tangannya entah mungkin dewi fortuna belum menghampiri sehingga koran hanya laku buah walau seperti biasa Halilintar berangkat menjajakan koran setelah turun dari Musala setelah subuh menjelang.

__ADS_1


Bangku sekolah yang sejatinya harusnya ia nikmati seperti teman sebayanya. Tak mampu ia rasakan karena kendala biaya apa lagi si nenek dan kakek sudah tak mau mengurusnya. Dikarenakan dahulu saat lahir iya sudah ditinggal mati bapaknya dan ibunya menjadi janda yang terkenal suka bergonta-ganti pasangan ia pun di cap sebagai anak haram.


Sejenak di bawah terik panasnya sang surya keringat di dahinya tampak ia sapu dengan pergelangan tangan yang jua telah kotor oleh debu. Matanya mulai menerawang di antara mobil-mobil yang berlalu-lalang dengan harapan lampu lalu-lintas menyala merah kembali sehingga iya bisa mengetuk kaca demi kaca pintu mobil untuk menawarkan koran yang ia bawa.


Karena bila tak terjual sampai habis Halilintar tak mendapatkan vi atau keuntungan dari hasil jualan alhasil iya harus memutar otak untuk berpikir mencari hutang ke warung makan mana lagi demi memenuhi rasa lapar di perutnya sedangkan warung makan di sekitaran taman kota Kebun Rojo sepertinya sudah semua ia hutangi.


Lampu lalu-lintas kini kembali menyala merah. Dengan segera dan cekatan Halilintar mengetuk kaca-kaca pintu mobil para pengguna jalan kota. Sampai di kaca pintu mobil warna merah marun.


Toktoktok,


“Pak koran Pak, korannya Pak,” ucap Halilintar penuh santun dan harapan agar kaca mobil terbuka.


Beberapa saat kaca pintu mobil tersebut terbuka. Seorang ibu muda nan cantik berhijab ayu menoleh ke arah Halilintar seraya tersenyum sangat cantik. Walau sedikit terkesima tak menampik seusia Halilintar tentu sedang hangat-hangatnya mas puberilitas. Namun ia kesampingkan semua rasa dan perasaan menindihnya dalam dan menggantikannya dengan rasa menggebu mencari rezeki.


“Ia Dek korannya berapa harganya per buah?,” ucap Si Ibu Muda kembali tersenyum cantik.


“Anu Bu 6000 rupiah per buah,” jawab Halilintar terbata-bata.


“Ditanganmu itu ada berapa buah Dek yang belum terjual?,” ucap Si Ibu muda kembali bertanya.


“Ini masih banyak Bu 20 buah memang kenapa Bu?,” ucap Halilintar bertanya dengan mimik muka tak mengerti.


“Baik ini uangnya mana semua koran yang kau bawa itu aku beli semua kembaliannya ambil saja,” kata Si Ibu muda mengeluarkan uang kertas tiga buah pecahan lima puluh ribuan.


“Eh anu Bu itu, ini uangnya kebanyakan, tapi aku tak punya kembaliannya,” timpal Halilintar begitu polosnya.


“Begini saja kalau kamu berniat mengembalikan datang saja ke rumah ini kartu namaku,” ucap Si Ibu muda mengulurkan sebuah kartu nama lalu kembali di bawa mobilnya yang melaju karena lampu lalu-lintas telah menyala hijau kembali.

__ADS_1


“Bu Vivi Larasati, eh anu Bu...!,” teriak Halilintar namun mobil merah marun telah jauh melaju.


__ADS_2