
Wuk... Wuk... Wuk...
Suara burung hantu mulai terdengar dengan sorot matanya yang tajam di dalam kegelapan. Sosok dari si burung hantu terlihat bertengger di sebuah batang pohon mangga samping rumah pak rt pas di tepi kebun pisang.
Dengan mata menyeramkan sebesar lepek dari alas secangkir kopi iya seakan mengawasi setiap makhluk yang berada di bawah ia bertengger.
Wuk.... Wuk... Wuk...
Sekali lagi suara si burung hantu terdengar seperti hendak mengabarkan bahwa di mana ia berada di sekitar area ia hinggap pasti ada sosok-sosok yang tidak terlihat sosok kasat mata bermukim di sana.
Tiktak... tiktak... tiktak...
Suara jam dinding di dalam rumah pak rt terdengar perlahan. Jarum jam yang terus bergerak memutar searah, telah menunjuk bahwa waktu sudah memasuki tengah malam yakni pukul 00.05, angin dingin mulai berhembus perlahan menerpa disela-sela pepohonan pisang membuat daun-daun pisang nampak bayangan. Layaknya tangan besar melambai-lambai memanggil setiap orang yang melihatnya.
Begitupun dengan bayangan dedaunan itu yang tergambar di sepanjang dinding rumah pak rt ada pula yang menjadi sebuah bayangan di atas aspal jalan depan kebun tersebut. Menggambarkan layaknya bayangan seseorang menari-nari namun hanya bayangan tidak nampak wujud dari bayangan tersebut.
Ada pula kabut putih yang biasa menampakkan diri saat tengah malam tiba, mulai merayap melengkapi kesuraman setiap sudut kebun pisang yang memiliki panjang satu kilo meter tersebut sehingga begitu gelap dingin dan mencekam.
Kengerian malam jumat keliwon seakan menambah daya magis yang di timbulkan dari setiap pemikiran warga sekitar sehingga pada malam ini tidak ada yang berani mendekati area kebun pisang milik pak rt.
Apa lagi setelah tersiar kabar beberapa orang yang pernah melewati kebun pisang ini saat lewat tengah malam sering diganggu oleh penampakan sosok menyeramkan yakni hantu pocong.
Jaka dan Dava terlihat memasuki perkebunan lewat pintu samping di sebelah rumah pak rt. Beberapa saat lalu Jaka sudah meminta ijin pak rt untuk melaksanakan niatnya memotret sebuah bunga dari pohon pisang yang baru saja berkembang.
“Nak Jaka dan nak Dava memang maksud kalian baik, tetapi hal ini sanggatlah berbahaya. Bunga itu mekar hanya pada saat tengah malam dan tersiar kabar akan muncul sosok Dewi gaib di bawah ontong pisang tersebut,” kata Pak RT.
“Aku tau Pak RT, Sang Dewi tersebut sanggatlah cantik dan menggoda setiap lelaki bujang yang melihatnya pasti akan terpesona sehingga sang lelaki pasti akan terbius lalu Dewi itu membawanya ke alam lain untuk dijadikan budak,” kata Jaka dan Dava hanya menyimak seraya menelan ludah kengerian karena penjelasan dari Jaka.
“Kemarin lontong sayur, eh salah lontong susu, halah si poci, haduh apa namanya pocong, sekarang Dewi gaib haduh kebun Pak RT ini kebun pisang apa sarang hantu..?,” celetuk Dava.
“Baiklah kalau niat kalian berdua sudah bulat pergilah pesan Pak RT hati-hati, maaf saya tidak bisa menemani kalian berdua,” kata Pak RT.
"Tidak mengapa Pak," kata Jaka.
__ADS_1
Begitulah sekiranya percakapan Jaka, Dava saat meminta ijin pada pak rt untuk memasuki kebun pisang beberapa saat yang lalu.
“Mas Jaka mana tidak ada pohon pisang yang baru berkembang?,” kata Dava berjalan di belakang Jaka sambil memegangi lengan Jaka dengan wajah agak ketakutan.
“Hiiih..., lepasin napa...!?,” kata Jaka menyuruh Dava melepaskan pegangan tanganya sambil terus masuk lebih dalam lagi.
“Atuuut..., Mas....,” kata Dava masih berjalan di belakang Jaka.
“Kamu ini laki-laki kok penakut. Pakai mukena sana kalau takut,” ejek Jaka.
“Ah Mas ini kayak enggak takut saja tadi pagi siapa yang kabur duluan saat ada poci hayo,” kata Dava.
“Itukan tadi pagi, sudah jangan di sebut terus nanti dia muncul lagi,” kata Jaka.
“Ini Kak Vivi ada-ada saja tugas pakai motret bunga pisang yang baru kembang. Bunga Kamboja ngapa di teras kan banyak tidak usah capek-capek ke tempat yang seram begini,” gerutu Dava.
“Diam kenapa Dik jangan berisik nanti penunggu sini terusik malah muncul lagi,” kata Jaka agak jengkel dengan Dava yang cerewet.
Jaka dan Dava terus berjalan perlahan-lahan penuh waspada menuju agak kedalam lagi sambil melihat-lihat kalau ada bunga pisang yang baru mekar hingga tanpa terasa sampailah mereka di tengah-tengah kebun pisang.
“Ia Mas padahal sudah ke tengah kebun loh kita,” ujar Dava.
“Eh apa itu kok seperti ada asab,” kata Jaka melihat asab putih yang mengepul tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Ehm ini dari baunya sih asab kemenyan Mas,” celetuk Dava dengan gaya mengendus-endus bau yang ditimbulkan dari asab tersebut.
“Masak iya ada orang bakar kemenyan di tengah malam di tengah-tengah kebun pisang, tapi dari aromanya sih benar, coba kita agak dekat Dik jadi penasaran . Siapa yang bakar kemenyan?,” kata Jaka kembali berjalan diikuti Dava dari belakang kali ini berjalan dengan agak merunduk dan tak bersuara agar orang yang membakar kemenyan tersebut tidak mengetahui keberadaan mereka.
Setelah agak dekat sekitar sepuluh meter dari seseorang yang membakar kemenyan Jaka dan Dava berhenti dengan posisi duduk supaya tidak terlihat.
“Yah benar kan orang bakar kemenyan,” kata Dava saat melihat sosok laki-laki paruh baya berbaju lengkap layaknya dukun tengah duduk bersila berkomat-kamit merapal mantra di bawah salah satu pohon pisang lengkap pula di depanya semua jenis sesaji untuk mengundang makhluk halus tertata rapi dan di depan ia duduk pas ada tungku kecil yang terus mengepul mengeluarkan asab putih berbau kemenyan.
“Loh Mbah Yono...!?,” kata Jaka mengenali sosok tersebut tidak lain adalah salah satu sesepuh desa Serapah.
__ADS_1
“Siapa Mbah Yono Mas bukanya ia penjual nasi goreng yang biasa mangkal depan rumah Mas,” kata Dava.
“Ia benar Dik, Mbah Yono kalau siang jadi penjual nasi goreng keliling. Kalau malam berubah menjadi dukun,” kata Jaka menjelaskan.
“Sedang apa dia bersemadi di bawah pohon pisang..?,” tanya Jaka penasaran.
“Kau ingat kata Pak RT tadi, saat ontong dari bakal buah pisang hendak berbunga pertama kali akan muncul Dewi di bawahnya, nah mungkin Mbah Yono ini hendak meminta kesaktian atau kekuatan dari Dewi gaib itu Dik,” kata Jaka.
“Minta kok ke demit, minta ya pada Allah orang kaya gini ini yang bisa menyesatkan warga,” celetuk Dava.
“Jangan berisik kita tunggu dan amati dulu noh diatas Mbah Yono itu kan menggantung ontong pisang. Ini kesempatan kita kalau sudah berbunga kita potret bunganya lalu kita pulang, tapi diam-diam saja biar tidak ketahuan Mbah Yono,” kata Jaka.
“Masih terlalu jauh Mas apa lagi ini gelap apa kelihatan kalau kita motret dari sini..?,” kata Dava.
“Halah ia kalau handphone mu mereknya abal-abal, hp ku kan samuhung jadi bisa saja,” kata Jaka.
“Ia, ia yang hpnya bagus,” kata Dava agak manyun.
Setelah menunggu beberapa menit, asab yang ditimbulkan dari tungku kecil di depan Mbah Yono semakin tebal saja.
Komat-kamit dari mulut dukun tua tersebut semakin kencang pula. Ontong pisang yang menggantung di atas pak Yono akhirnya mulai terbuka perlahan. Bakal buah pisang terlihat perlahan bunga putih kecil di setiap ujung ****** pisang mulai mekar. Jaka yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini mulai memotret dari kejauhan.
“Sudah kita sudah dapat fotonya ayo balik Dik,” kata Jaka.
“Sebentar Mas itu ada yang muncul di belakang Mbah Yono, cantik banget Mas bahenol lagi jadi pengen,” kata Dava telah terhipnotis oleh kecantikan Dewi gaib yang telah menampakkan wujudnya di belakang Mbah Yono.
“Aduh..., ciloko Iki Dava.., Dava...,” kata Jaka.
_
_
_
__ADS_1
_