T O H

T O H
Membahas tentang Pulung


__ADS_3

Jaka menghampiri Umi Wati yang tengah membuat dua gelas kopi di dapur.


“Aisyah sini sayang,” Jaka lantas mengulurkan kedua tangan pada Aisyah yang sedari tadi menempel bergelayutan sambil memegang rok Umi.


“Kakak Jaka...,” teriak Aisyah terbata-bata lantas Jaka menggendongnya dan Aisyah nampak begitu riang.


“Eh Jaka, Putri mana kok tidak kelihatan...?,” Kata Umi Wati sambil mengaduk seduhan kopi.


“Entah Bude dari tadi dikamar saja kayaknya sedang tidak enak badan,” kata Jaka.


“Kenapa tidak kamu antar ke dokter saja Jaka..?!,” kata Umi Wati.



Tidak mau dia Bude, katanya Cuma meriang nanti juga sembuh. Lagian tadi sudah aku bantu minum obat dan sudah aku kompres kok Bude,” kata Jaka sambil terus menimang Aisyah di gendongannya.


"Aisyah..., ciluk... baaa..," Kata Jaka menggoda Aisyah digendonganya dan Aisyah hanya tertawa.


“Ya sudah kalau begitu ini tolong bantu Bude bawakan kopi kedepan,” pinta Umi Wati pada Jaka seraya mengambil Aisyah dari gendongan Jaka. Namun Aisyah tidak mau dan terus meronta ingin bermain dengan Jaka.


"Ndak mau..., Kakak Jaka...kakak Jaka," kata Aisyah merengek ingin tetap bermain di gendongan Jaka.


“Aisyah..., sama Nenek dulu ya, kakak Jaka mau antar kopi dulu ke depan. Memang ada siapa bude di depan kok bude buat kopi dua gelas?,” kata Jaka.


“Ada Pak RT...,” teriak Umi Wati seraya pergi ke lantai atas hendak melihat keadaan Putri.


Kletek.. kletek... kletek...


Suara cangkir dan nampan beradu yang sedang di bawa Jaka ke ruang tamu.


“Ini silahkan Pak RT, Pakde di minum kopinya,” kata Jaka sambil meletakkan dua gelas kopi diatas meja di depan Pak RT dan Pak Haji Sugian duduk.


“Nak Jaka mau kemana..?,” tanya Pak RT yang melihat Jaka hendak kembali ke dalam.


“Mau mengembalikan nampan Pak RT,” Jawab Jaka.


“Sudah Jaka sini temani Pak RT ngobrol kebetulan beliau sedang menunggumu. Masalah nampan kamu taruh saja dahulu di bawah meja,” kata Pak Haji Sugian.


“Baik Pakde,” Jawab Jaka seraya ikut duduk dan menaruh nampan di bawah meja.


“Oh iya Nak Jaka kata Pak Haji Nak Jaka sempat melihat penampakan yang mengetuk pintu secara misterius kemarin malam?,” tanya Pak RT.

__ADS_1


“Oh masalah itu, Pakde tuh yang lebih paham,” kata Jaka.


“Kamu itu persis Abahmu Jaka selalu merendah tidak mau menyombongkan diri, padahal kamu anak yang istimewa,” kata Pak RT Ari.


“Saya cuma seorang anak muda layaknya anak muda kebanyakan Pak RT,” timpal Jaka dengan pandangan tertunduk tanda hormat.


“Benar-benar Pak Haji Sugian memiliki keponakan-keponakan yang sangat istimewa,” kata Pak RT.


“Hahaha..., siapa dulu Pakdenya, sudah ayo diminum kopinya Pak RT. Masalah penampakan besok sore kan kita diadakan pengajian. Insya Allah Si korban kecelakaan akan tenang setelah kita kirim doa untuknya,” kata Pak Haji Sugian.


“Insya Allah,” kata Pak RT Ari seraya menyeruput segelas kopi hitam yang di suguhkan.


“Sekarang mumpung di sini kita ganti topik Kita bahas hal yang lain,” kata Pak RT.


“Soal apa itu Pak...?,” kata Pak Haji Sugian.


“Ah Pak Haji ini kura-kura dalam perahu,” kata Pak RT Ari namun belum selesai mengucap Pak Haji Sugian sudah menyahut.


“Loh kura-kuranya kemarin sudah saya kiloin Pak,” kata Pak Haji Sugian menyela pembicaraan Pak RT bermaksud untuk bercanda.


“Lah dalah..., bercanda ini Pak Haji, hahaha....,” kata Pak RT Ari.


“Maksudnya begitu saja tidak tahu, yang saya maksudkan ihwal pencalonan Pak Haji Sugian sebagai calon kepala desa yang baru. Kan ini sudah mendekati hari H, alias sudah semakin dekat waktu pemilihan,” kata Pak RT Ari.


“Oh masalah itu toh pak, kalau itu kan Pak RT Ari sudah saya jadikan tim sukses pemenangan saya. Jadi tolong bapak galakkan masyarakat sedemikian rupa untuk menyampaikan visi dan misi saya, tapi ingat ya pak jangan sampai ada minum-minuman keras di dalam kampanye saya nanti,” kata Pak Haji Sugian.


“Oh itu benar Pak kita wujudkan desa yang sehat tanpa segala sesuatu yang dilarang oleh agama. Bukan begitu Nak Jaka...?,” kata Pak RT Ari.


“Siap Pak..., benar sekali,” kata Jaka sambil mengacungkan jempol tanda setuju.


“Terus ini Pak anu...,” kata Pak RT Ari


“Anu apa toh Pak, ona-anu, ona-anu, mbok kalau ngomong yang jelas. Masalah dana toh tenang semua sudah siap tersedia, tapi ini bukan untuk money politik low pak, karena itu sudah tidak boleh dan melanggar undang-undang tentunya,” kata Pak Haji Sugian.


“Kalau itu saya tau Pak, yah sekedar buat kopi dan gorengan buat anak-anak remaja saja,” kata Pak RT Ari.


“Oh kalau itu tidak usah khawatir tenang,” kata Pak Haji Sugian.


“Sebentar Pak sini saya bisikin,” kata Pak RT Ari sambil mendekat ke arah telinga Pak Haji Sugian. Lantas Pak Haji Sugian refleks mendekatkan telinganya untuk mendengarkan apa yang hendak di sampaikan.


“Wah kalau bisik-bisik begitu berarti saya sebagai orang awam dalam berpolitik dan yang paling muda di sini. Saya mohon diri dahulu agar tak mengganggu,” celetuk Jaka.

__ADS_1


“Loh jangan begitu toh Nak Jaka, jadi tidak enak hati saya,” kata Pak RT.


“Endak papa kok Pak kebetulan saya mau nemenin Putri. Kasihan dia lagi sakit di kamar,” kata Jaka


“Loh Putri sakit....?!,” kata Pak Haji kaget karena baru tahu kalau Putri sakit.


“Sudah tidak apa Pakde biar saya yang nemenin Putri Pakde di sini saja nemenin Pak RT,” kata Jaka.


“Ia Jaka tolong ditemani ya Putri nanti Pakde menyusul,” kata Pak Haji Sugian.


“Enggeh Pakde (ia Pakde), Pak RT saya tinggal kedalam dulu,” kata Jaka.


“Ia Nak Jaka maaf loh ya..,” kata Pak RT seakan merasa bersalah.


“Tidak apa-apa Pak RT santai saja,” sahut Jaka seraya masuk kedalam ruang tengah hendak menuju lantai atas.


“Sampai mana tadi Pak RT?,” kata Pak Haji.


“Sampai bisik-bisik Pak, sini aku bisikin..,” kata Pak RT kembali mendekatkan mulut ke telinga Pak Haji Sugian hendak berbisik.


“Loh kenapa kita masih bisik-bisik, kan Jaka sudah kedalam,” kata Pak Haji Sugian.


“Lah ia Pak Haji juga ngikut saja lagi, hahaha,” kata Pak RT tertawa.


“Begini Pak Haji, apa Pak Haji sudah mendapatkan wangsit atau filing tentang Pulung atau yang sering disebut Wahyu keprabuan?,” kata Pak RT Ari.


“Oalah kalau masalah itu saya serahkan semua Pada Allah SWT dan keputusan masyarakat dalam menggunakan hak suaranya Pak,” terang Pak Haji Sugian.


“Saya dengar-dengar sih Pak siapa yang mendapatkan Pulung Wahyu keprabuan pada malam sebelum hari pemilihan besoknya akan terpilih menjadi kepala desa yang baru,” kata Pak RT Ari.


“Ah itu namanya musyrik pak menyekutukan Allah. Lebih baiknya kita serahkan semua pada Allah kita Cuma bisa berdoa saja, bukan begitu Pak Ari?,” kata Pak Haji Sugian.


“Benar sih Pak..,” jawab Pak RT Ari.


_


_


_


_

__ADS_1


__ADS_2