T O H

T O H
Percakapan Abah Kasturi dan Sarpala


__ADS_3

Di sebuah kawasan pinggiran kota Jombang tepatnya di salah satu kecamatan bernama Mbareng pas di bawah kaki gunung Arjuna di salah satu hutan Pinus yang masih asri belum banyak terjamah manusia.


Malam ini hujan lebat di Sertai petir menyambar-nyambar tengah menyelimuti kawasan tersebut tak lupa kabut yang selalu muncul hampir tengah malam turun layaknya angin gurun merosok cepat dari atas puncak gunung Arjuna.


Suara geraman dengan menghentakkan-hentak terdengar jelas dari balik berjajarnya Pinus yang menjulang tinggi dan berdaun lebat.


Dalam kawasan ini tengah terjadi pertempuran antara Gus Lukman dan santri-santrinya dengan beberapa makhluk gaib Raksasa yang mendiami sekitar hutan di gunung Anjasmoro.


Nampak salah satu murid Gus Lukman yang bernama Sukoco terpental membentur salah satu pohon Pinus hingga muntah darah. Iya tersungkur tak berdaya.


Untung dengan cepat salah satu murid Gus Lukman yang lain yang bernama Fadlan sigap menolongnya dan membawanya agak jauh dari tempat ia terjatuh. Kalau tidak salah satu sosok Raksasa pasti menghempaskannya kembali hingga tulangnya remuk.


“Gus.., Sukoco terluka parah,” ucap Fadlan pada Gus Lukman yang tengah berdiri di atas batu besar dengan mata terus mengawasi keadaan sekitar agar kalau ada serangan dari bangsa Raksasa iya dapat lekas menangkis atau membalas serangannya.


Para santri dan Gus Lukman tidak begitu leluasa berperang karena terhalang badai angin dan hujan yang tengah terjadi apa lagi di tambah kabut yang semakin tebal sehingga membuat jarak pandang mereka terhalang.


Adapun Gus Lukman dengan mata batinya dapat menerawang jauh hingga ke puncak gunung namun dia juga harus selalu mengawasi para santrinya yang ikut berperang.


“Lekas Fadlan lekas bawa Sukoco ke pondokan obati lukanya rupanya cakar-cakar raksasa yang menghunjam dadanya terlalu dalam di sana ada Bu Nyai dan santriwati yang lain minta bantuan mereka agar menjaga Sukoco dan kau lekas kembali kemari,” ucap Gus Lukman.


“Awas Gus...!,” belum selesai Gus Lukman berbicara sebuah sosok raksasa tinggi besar datang dengan cepat bagai lontaran meriam menerkam ke arah Gus Lukman yang tengah berdiri di batu besar.


Duar...


Suara letupan terdengar dan menimbulkan percikan dari benturan antara cakar raksasa dan tongkat gaharu yang di pegang Gus Lukman.


“Allahuakbar, Fadlan cepat pergi...!,” teriak Gus Lukman menahan serangan dari sosok raksasa di depanya.


Dengan cepat Fadlan berlari sambil menggendong tubuh Sukoco yang sudah berlumuran darah menjauh dari arena pertempuran menuju pondokan di tepian alas tempat Bu Nyai istri Gus Lukman dan Para santriwati berada.


Rahmad salah satu santri Gus Lukman yang lain berlari seraya melompat menuju arah sosok raksasa berniat membantu sang guru menahan serangan raksasa yang berada di depan Gus Lukman.


“Hiak...!,” teriak Rahmad mulai meloncat.


“Jangan Rahmad...!,” teriak Gus Lukman karena iya tahu raksasa yang mereka hadapi sangat banyak bukan saja satu sosok yang tertahan Gus Lukman di depanya namun ratusan sosok tengah menyelinap, tersembunyi di balik lebatnya hutan Pinus.

__ADS_1


Benar juga saat Rahmad meloncat tubuh Rahmad di sambar sebuah bayangan hitam sosok raksasa lain yang tiba-tiba datang dari balik rimbunnya pepohonan Pinus.


Ahh...,


Teriak Rahmad menjerit kesakitan sekilas terlihat darah menyembur dari mulutnya. Bersamaan itu sosok raksasa hilang kembali membawa tubuh Rahmad hilang bersamanya.


Hahaha...


“Kau akan mati di sini Lukman, kau akan Mati...!,” terdengar suara seram menggelegar tanpa sosok yang berkoar di balik lebatnya hutan.


“Rahmad...!!,” teriak Gus Lukman.


***


Sementara itu di area persawahan desa Mbadas utara di balik lebatnya padi yang hampir panen. Sama seperti di wilayah hutan Pinus Mbareng di Mbadas Utara tengah di terpa badai angin, hujan dan petir.


Gus Bari dan Mbah Raji tengah mengatur siasat di tengah pematang sawah di antara tanaman padi. Mereka tengah berperang dengan pasukan Mahesa Sura.


Sekelompok pasukan bangsa siluman kerbau yang sewaktu-waktu dapat dengan cepat merubah wujud dari manusia menjadi sosok Kerbau yang sangat besar.


Namun dengan sigap Gus Bari dan Mbah Raji dapat menghindar, menjauh dari serangan siluman Kerbau. Dan anehnya para siluman tak berani menyerang secara terang-terangan hanya datang lalu hilang kembali.


“Bagaimana ini Mbah kalau begini terus nyawa kita bisa-bisa terancam. Kita tidak bisa menyerang atau membalas serangan hanya bisa menghindar saja. Tenaga kita bisa terkuras habis dalam perang seperti ini,” ucap Gus Bari.


“Benar Gus aku pun hampir kehabisan stok azimat yang aku punya, karena melemparkannya sedari tadi sebagai bom kertas namun belum ada yang benar-benar mengenai tepat sasaran. Habis mereka datang lalu hilang,” ucap Mbah Raji.


“Awas Mbah Raji...!?,” teriak Gus Bari yang melihat sesosok manusia kerbau muncul secara tiba-tiba dari belakang mereka.


Kali ini Mbah Raji tidak siap dan tidak sigap menghindar seperti Gus Bari dari punggungnya tembus ke perut tanduk kerbau menancap sempurna.


“Kali ini kalian para T O H akan habis. Kami akan meniadakan kalian dari muka bumi ini,” ucap Mahesa Sura si siluman kerbau.


Nampak tubuh Mbah Raji terkoyak tak berdaya di atas tanduk Mahesa Sura.


“Mbah...!, tidak, Mbah Raji...!!,” teriak Gus Lukman.

__ADS_1


***


Di area bendungan Rejosari dimana panglima tertinggi sang Maha guru dari organisasi T O H berada. Abah Kasturi nampak duduk berhadapan dengan seorang pemuda di atas tikar kecil di depan gubuknya.


Tak lupa secangkir kopi iya suguhkan kepada tamu yang tak lazim tersebut. Kali ini tamu dari Abah Kasturi bukanlah sosok sembarangan.


Karena tamu Abah Kasturi kali ini bukanlah manusia tapi sosok ghoib yang tengah menyamar. Namun tak serta merta samarannya tersebut berhasil, karena aura Abah Kasturi yang teramat besar dan kuat sehingga membuat samaran sosok ghoib tetap memiliki ciri khusus yang dapat di kenali.


Saat sosok itu duduk bersila berhadapan bersama Abah Kasturi nampak sebuah ekor merah tetap ada di belakangnya ciri yang lain adalah ia tak memiliki bayangan dan Tek memiliki cela di bawah hidung.


Ya dia adalah sosok Sarpala panglima tertinggi bangsa ghoib yang tengah menyamar mendatangi Abah Kasturi.


“Akhirnya kau datang kemari Sarpala,” ucap Abah Kasturi dengan tenang sambil menyeruput secangkir kopi panas yang baru ia buat dan menghisap sebatang rokok yang hampir habis.


“Hahaha..., Matamu memang masih jeli Kasturi. Walau aku telah berganti rupa dengan teknik penyamaran tingkat tinggi kau masih dapat mengenaliku,” ucap Sarpala.


“Tidak usah banyak bicara utarakan maksud kedatanganmu menemuiku?,” ucap Abah Kasturi bermuka serius menatap Sarpala.


“Jangan terlalu serius Adik sepeguruan ku, santailah jangan terburu-buru. Kau tahu anak buahmu dan orang-orang ku kali ini sedang menang banyak dari orangmu yang sekarat. Aku di atas angin kejahatan pasti menang pada akhirnya, hahaha...,” kata Sarpala meneguk secangkir kopi di depanya.


“Jangan senang dulu Kakang Sarpala. Kita memang dahulu satu guru satu ilmu tapi semenjak kau menghabisi guru kita dan membantai seluruh santri-santrinya sebagai tumbal ilmu hitammu,"


"Sejak saat itu aku bersumpah di atas makam guru akan mendirikan perkumpulan dimana orang-orang baik yang berjalan di jalan Allah berada yang akan melindungi kota ini dari makhluk seperti mu,” ucap Abah Kasturi.


“Hahaha..., Jangan bercanda adikku Kasturi. Lihat aku sekarang masih awet muda tidak sepertimu yang sudah tua renta. Aku masih seperti berumur belasan dan aku yang sekarang mampu membunuh seluruh kota hanya dengan menghentakkan tongkatku ke tanah sekali bentakan," ucap Sarpala.


“T O H yang kau banggakan sekarang belum siap adikku. Mereka belum siap mengemban tugas sebesar itu dari mu, kami akan membunuhnya satu persatu seperti dahulu,"


"Persis seperti dulu kau bersiaplah, karena kali ini tak akan kuampuni kalian dan tak akan kusisakan satu pun dari anggota T O H walaupun itu keluarganya sekalipun kami akan membantai mereka,"


"Seperti dulu yang aku lakukan pada anak istri mu. Walau Ambar istrimu adalah adik kandungku,” ucap Sarpala tersenyum sinis sambil mengebulkan asab rokok yang iya hisab.


“Tempat mu seharusnya bukan di sini tapi di neraka Sarpala,” ucap Abah Kasturi.


“Masih Kaku saja kau adik ipar. Kali ini aku serius perang kali ini tak akan kuberi ampun kau pun akan ku bunuh jantungmu akan kulumat habis sebagai tumbal ilmuku,” celetuk Sarpala seraya menghilang dari pandangan Abah Kasturi secara tiba-tiba.

__ADS_1


“Ingat Adi Kasturi perang kali ini pasti kejahatan yang akan menang, hahaha...,” teriak Sarpala yang sudah hilang entah kemana.


__ADS_2