
Di sisi depan pas di bawah altar singgasana kerajaan Mas Hasan Jaelani terus bertarung sengit menghadapi puluhan anjing setan dengan pimpinan para anjing adalah Jenggrana yang berbentuk tubuh manusia namun berkepala anjing.
Bertelinga panjang dengan moncong mulut dan gigi yang tampak runcing-runcing serta terus mengeluarkan lendir racun dari sela-sela moncongnya.
Walau hanya berwujud ruh namun Mas Hasan masih sanggup meladeni serangan-serangan anjing setan yang tentu juga berwujud arwah anjing gentayangan pula. Mas Hasan terus melontarkan pukulan-pukulan petirnya namun anjing setan tiada habisnya berdatangan.
Dalam Hati Mas Hasan kalau dia tak mengalahkan sang anjing panglima Jenggrana tentu para anjing setan tiada hentinya terus bermunculan karena itulah kelebihan mereka mati satu hidup lagi menjadi dua.
Mas Hasan Jaelani terus melompat mundur sambil terus melirik ke atas altar singgasana. Dimana di samping singgasana terdapat sebuah tempat dengan tiang-tiang panjang serupa salip untuk menghukum pembangkang diantara para setan ataupun para musuh yang tertangkap.
Betapa robek hatinya seakan terkoyak-koyak saat ia melihat di tiga tiang terdepan dimana di tiang-tiang tersebut terdapat tubuh tanpa busana sehelaipun, lemah tak berdaya dan terdapat luka-luka gores serta memar di sekujur tubuh. Tiga tubuh yang terpampang serupa tersalip tersebut adalah milik Putri, Sari dan Nyi Nurma.
Beberapa waktu yang lalu Mas Hasan Jaelani yang masuk dalam tubuh Nyi Nurma sudah diketahui oleh Adi Yaksa dan dengan mudah Adi Yaksa dapat memukul tubuh Nyi Nurma yang tak siap dengan serangan Adi Yaksa secara tiba-tiba sehingga terpentalah keluar ruh Mas Hasan Jaelani.
Namun bersamaan dengan itu belum sempat Adi Yaksa menyerang ruh Mas Hasan Jaelani keburu ledakan dari arah gerbang oleh gada Jaka yang dilontarkan terdengar sampai telinga Adi Yaksa.
Dan begitu cepat para punggawa lima kota memasuki area dalam Aula kerajaan serta memporak-porandakannya urunglah ruh Mas Hasan Jaelani hancur di tangan Adi Yaksa.
Kalau saja tidak keburu datang para punggawa lima kota tentu Mas Hasan Jaelani yang bukan tandingan seujung kukupun dari Sang Raja Diraja Adi Yaksa pasti sudah musnah tiada lagi.
Mata Mas Hasan masih melirik ke atas altar singgasana tak sadar air matanya menetes melihat sang mantan istri Nyi Nurma serta Putri dan Sari diperlakukan begitu keji.
__ADS_1
Tetapi walau matanya tertuju pada ketiga dara T O H yang tersalip di atas altar samping singgasana Adi Yaksa dia masih tetap mampu menghalau para anjing setan yang terus melompat hendak menerkamnya.
“Nah itu dia…?,” celetuk Mas Hasan Jaelani yang melihat posisi anjing paling nyleneh bertubuh anjing namun berwajah serupa bayi dialah Jenggrana pusat dari kekuatan para anjing setan yang sebenarnya tidak bisa bertarung namun tetap di jaga ratusan anjing siluman sebagai induk semang pusat kekuatan mereka.
Mas Hasan melesat kedepan seraya mengeluarkan sebuah tongkat sakti mirip tongkat tentara kerajaan. Sambil iya putar-putar lalu tongkat ia lontarkan ke arah Jenggrana yang tetap di kerumuni banyak anjing setan.
Mas Hasan tak kekurangan akal sejurus dengan lontaran tongkatnya iya pun melompat di samping tongkat yang terus meluncur sambil memukul beberapa anjing yang menghalangi dengan pukulan petir andalannya.
Jleb..., kaing…, kaing…,
Bruk…,
Kini tampak raut lega dan senyum kecil sedikit lega tersungging di wajah Mas Hasan walau tetap menangis di hati melihat sang mantan istri masih tersalip di atas altar singgasana.
Tetapi setelah sesaat kemenangan diraih Mas Hasan dengan telak oleh para anjing setan. Tiba-tiba sebuah sengatan dari ekor ular putih besar menembus ruh Mas Hasan.
Tembus hingga perut depan tak disangka-sangka Hasan Jaelani yang dulu terkenal paling sigap dan siaga dan paling awas kali ini, karena kesalahan kecil akibat senyum kemenangan sesaat yang membuatnya lengah beberapa saat berakibat fatal olehnya.
“Aaarhgh…, uhuk…, uhuk…,” ruh Mas Hasan Jaelani sedikit-demi sedikit menghilang perlahan seakan hendak musnah.
“Jaelani kali ini kau lengah juga ternyata ya…,” ucap ratu si Blirik Putih sang ratu ular pimpinan dari ribuan ular siluman sambil menancapkan sengatan dari ekornya yang sangat mematikan dan beracun.
__ADS_1
Mas Hasan sempat melirik kepada tubuh Nyi Nurma yang terpampang di atas altar dan tersalip bersama tubuh Putri dan Sari. Berkata dalam hati sayang maaf aku dulu meninggalkanmu bukan karena aku hanyut di sungai saat mencari ikan untuk lauk makan kita.
Tetapi aku hanyut karena dibunuh oleh beberapa orang suruhan orang jahat yang mengiginkan tubuhmu. Dan maaf sayang kali ini aku kembali meninggalkanmu tak mampu menolongmu maafkan aku, aku sayang kau sampai mati dan sampai musnah janjiku dulu kini sudah kubuktikan maaf Nurmaku,” ucap Mas Hasan Jaelani terbata-bata.
Di kejauhan Jaka yang mengetahui bahwa Hasan Jaelani teman terbaiknya sejaak kecil yang kini berwujud ruh akan segera sirna tinggal separuh saja dari pinggang ke atas kepala yang masih tampak itu pu terus sirna.
Jaka segera berlari menuju arah Hasan di sela-sela langkah Jaka berlari iya masih melihat senyum hasan sedikit kaku menahan sakit. Seakan-akan Hasan berkata dalam isyarat mata dan bibir bahwa lihatlah Jaka diatas sana istrimu dan istriku serta calon istri Dava kumohon tolong mereka.
Belum sempat Jaka sampai di tempat Hasan Jaelani keburu ruh dari Mas Hasan Jaelani sudah sirna. Jaka terhenti sejenak dan terlihat semakin kesal bercampur marahnya tergambar dari wujudnya yang kembali berubah menjadi api amarah membara.
Meledak-ledak sampai-sampai beberapa pohon di sekitar Jaka berdiri daunnya yang semula lebat habis terbakar serta beberapa pohon besar di sekitarnya gosong tak hidup lagi layaknya terbakar seluruhnya.
“Aaaaaa, Adi Yaksa….!!,” teriak Jaka meraung-raung begitu kesal dengan teriakan menggelegar yang tak biasa kini Jaka sudah tak terkontrol lagi begitu kuat begitu marah tak sadar lagi membabi buta.
Secepat kilat ia telah berada di sisi ratu Sri Blirik putih memegangnya lalu mencabik-cabiknya menjadi beberapa pecahan. Sehingga tubuh Ratu Ular yang semula panjang kini terpotong-potong beberapa bagian tak tersisa lalu terbakar menjadi abu.
Keberingasan Jaka tiada berhenti disitu setiap setan yang menghadang sekali pukul langsung sirna. Tubuh Jaka kini bertambah besar tak bedanya seperti klan genderuwo dan raksasa karena kekuatan over kapasiti yang di keluarkan dari dalam tubuhnya.
Kali ini iya berhadapan langsung dengan sang Raja setan Adi Yaksa yang tepat berada di tengah-tengah arena medan perang aula kerajaan Adi Yaksa.
“Hai Adi Yaksa jangan kau menghindar inilah aku Jaka Bin Haji Wachid suami dari Putri datang padamu bersiaplah,” ucap Jaka dengan suara yang beda dari biasanya tak seperti Jaka yang semula.
__ADS_1