T O H

T O H
Ketahuan


__ADS_3

Mentari telah bersinar terang menebarkan cahaya Surya berdiri dengan gagahnya. Menerangi seluruh alam raya dan Maya pada, memberikan kehidupan untuk seluruh dedaunan dengan zat klorofil yang dihasilkan.


Menebar cinta dan daya juang bagi para petani untuk segera menyemai padi agar mendapatkan hasil dari jerih payah kerja kerasnya selama tiga bulan masa tumbuhnya tanaman padi.


Desa Mojokembang juga tak luput dari terpaan hangat sinar Surya kala pagi. Terlihat kehidupan telah bergeliat di setiap pematang sawah. Jalanan utama desa telah riuh jua oleh lalu lalang para pengendara dan pekerja yang hendak mengadu nasib di tempat mereka bekerja.


Di salah satu kamar dirumah Pak Haji Wachid nampak Putri yang masih terbaring di samping Jaka dan masih memejamkan mata, karena memang semalam Putri bergadang menanti kepulangan Jaka.


Begitupun Jaka yang masih terbaring di samping Putri dan masih berada dalam pelukan hangat Putri jua masih belum membuka mata, karena terlalu lelahnya atas kejadian semalam yang sangat menguras tenaganya.


Dibalik selimut hangat warna biru laut bergambar kartun kesukaan Putri yakni Doraemon. Jaka dan Putri masih pulas tertidur, mereka tidak tahu kalau Umi Epi, Abah Wachid dan Vivi tengah duduk menunggu mereka untuk bangun di samping ranjang tempat mereka berbaring.


Beberapa saat mata Putri nampak mengernyit hendak terbuka, sesekali tangannya mengucek-ucek kelopak perlahan. Akhirnya bola mata Putri yang berbentuk agak sipit layaknya keturunan Tionghoa mulai terbuka.


“Astagfirullah.., sudah terang aku tidak melaksanakan sholat subuh. Jaka bangun kita terlambat bangun, Jaka bangun..., buka matamu...!?,” teriak Putri mencoba menggoyang-goyang tubuh Jaka namun Jaka tak jua terbangun.


Putri belum menyadari kalau seluruh anggota keluarga Jaka tengah duduk di samping ranjang. Menatap Jaka dan Putri penuh curiga dan menunggu mereka untuk terbangun.


Putri mulai khawatir karena Jaka tidak jua bangun, ia ingat semalam Jaka datang dengan sangat lelah badanya lemas wajahnya nampak pucat. Putri mencoba mengecek suhu tubuh Jaka dengan cara menempelkan punggung tangannya di atas dahi Jaka.


“Ya Allah, Ya Tuhan ku, badan mu sangat panas sayang..,” kata Putri nampak sangat Khawatir.


Putri seketika menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya seraya keluar dari dalam selimut hendak bangun dari tempat tidur, ketika iya mulai menoleh dan membalikkan badan ke sisi lain. Iya baru sadar kalau seisi rumah tengah berada di samping ranjang duduk menatap Putri penuh curiga.


“Allahuakbar,” teriak Putri kaget dengan apa yang ia lihat.


“Ada apa Putri.., kaget...!?,” kata Vivi menatap Putri tajam seakan ingin menghakimi Putri.


“Anu, Umi, Abah, kak Vi, ini tidak seperti yang kalian kira,” kata Putri nampak sangat ketakutan, karena ia ketahuan tidur bersama Jaka satu ranjang berdua di kamarnya.

__ADS_1


Umi Epi berjalan menghampiri Jaka yang masih tertidur dari sisi yang lain, “Ya Allah dari tadi subuh belum turun juga panasnya Abah...?,” kata Umi Epi nampak gelisah.


“Tadi subuh..?!,” ucap Putri lirih sambil berkata dalam hati, berarti tadi subuh Umi masuk ke kamar dan sudah mengetahui kalau Jaka tidur disini,


Putri semakin takut dan khawatir akan di marahi oleh seisi rumah. Putri mencoba duduk agak Jauh di depan meja rias. Sedangkan umi Epi dan Abah memeriksa keadaan Jaka.


“Semalam apa saja yang terjadi antara kau dan Jaka?,” pertanyaan terlontar dengan wajah menatap sinis oleh Vivi.


“Sumpah Kak Vi, Putri dan Jaka tidak melakukan apa-apa, semalam Jaka mau aku antar ke kamarnya tapi tubuhnya sudah begitu lemas jadi terpaksa aku baringkan ia di tempat tidur ku Kak,” kata Putri membela diri namun tak berani menatap Vivi.


“Sudah-sudah tidak usah dibesar-besarkan Vi,” sahut Umi Epi.


“Tapi Umi mereka semalam tidur berdua di ranjang yang sama malah satu selimut. Bagaimana aku tidak menaruh curiga, apa lagi baju Jaka bukan baju yang di pakai kemarin?,” kata Vivi dengan nada agak tinggi sedangkan Putri makin tertunduk takut.


“Vivi coba bantu Abah nak, tolong panggilkan Pak Dokter Arif. Mumpung jam segini beliau belum berangkat dinas,” kata Abah Wachid menghampiri Putri yang mulai meneteskan air mata di pipinya seraya memeluk Putri penuh perhatian.


Hikz... hikz... hikz...


Terdengar lirih suara tangisan Putri dalam pelukan Abah Wachid.


“Sudah jangan menangis Putri. Abah yaqin sekali bahkan teramat yaqin kau dan Jaka tidak akan melakukan suatu hal yang dapat menimbulkan dosa besar dan laknatullah,” kata Abah Wachid sambil mengusap air mata di pipi Putri layaknya anak sendiri penuh kasih sayang dan mengayomi.


“Abah Putri tidak melakukannya Abah, tolong Jaka Abah, Jaka badanya sangat panas Putri khawatir Jaka kenapa-kenapa..?,” kata Putri yang masih sempat memikirkan kondisi Jaka.


“Putri sudah Jangan menangis sayang, kami tidak marah kok,” kata Umi mulai menghampiri Putri untuk menenangkan tangisannya.


“Benar Umi tidak marah, benar Abah tidak marah?,” tanya Putri masih nampak sesenggukan dengan wajah mengiba.


“Tidak sayang kau tahu tujuan Abahmu menitipkanmu pada kami, selain agar kau terhindar dari wabah mematikan yang tengah terjadi di kota Kediri?,” kata Umi Epi bertanya kembali pada Putri.

__ADS_1


“Tidak Umi,” jawab Putri seraya gelengkan kepala perlahan.


“Dulu Abahmu dan suamiku yang juga kau panggil Abah, saat beliau berdua masih sama-sama belajar satu pondok bahkan satu kamar pernah bernazar bersama. Bahwa kalau beliau berdua khatam menghafal Al-Qur’an 30 zus dalam waktu singkat secara bersamaan. Suatu hari nanti akan menjodohkan anak-anaknya. Agar terus bisa bersilaturahmi sebagai keluarga,” kata Umi Epi menjelaskan.


“Ia Putri, beberapa tahun kemudian setelah kelahiran Vivi lahirlah Jaka. Dan yang anehnya Abahmu yang baru saja genap setahun menikah dengan Umimu datang kemari membawa bayi yang sangat manis yaitu kamu Putri,” kata Abah Wachid.


“Abahmu yang sempat takut nazarnya tidak kesampaian, akhirnya datang dengan sangat gembira mengabarkan bahwa umimu melahirkan anak perempuan dan kami berjanji saat kau dan Jaka dewasa nanti akan mempersatukan kalian dalam ikatan suci pernikahan tentu kalau kalian sudah lulus nanti kan sekarang masih kelas 3 SMA,” kata Umi seraya mengusap-usap kepala Putri.


"Ia Putri salah satu cara kami agar kau semakin dekat dengan Jaka ya dengan cara menitipkanmu di rumah ini, kalau kau belum yaqin coba nanti kau telepone sendiri Abahmu," kata Abah Wachid.


“Apa benar Abah, Umi, apa yang kalian ceritakan, tapi Kak Vivi tadi marah sama Putri?,” kata Putri.


“Kak Vivi mu memang begitu anaknya lebih jail dari adiknya Jaka, coba liat hp mu sayang pasti ada wa dari kakakmu Vivi,” sahut Umi tersenyum sambil mengulurkan hp Putri yang semula di letakkan di atas meja rias.


Putri mulai membuka cat wa di hpnya lalu ia mulai tersenyum membaca cat wa dari Vivi


“Dek, Kakak minta maaf ya karena telah mengerjai kamu dengan berpura-pura marah-marah, sebenarnya aku sudah tahu tentang perjodohanmu dengan Jaka sejak dulu. Maafkan Kakak mu ini sudah buatmu menangis, aku sayang kamu kok Dik sama seperti aku sayang kepada Jaka,” begitu sekiranya isi cat wa dari Vivi di hp Putri.


“Ia Umi kak Vivi jahat Umi,” kata Putri mulai tersenyum kecil.


“Sudah sambil menunggu Pak Dokter Arif datang coba siapkan sarapan untuk Jaka sana. Nanti tolong bantu Umi menyuapi calon suamimu ya menantuku, tetapi sebelumnya Putri juga harus sarapan ya sayang,” kata Umi mulai menggoda Putri agar tak sedih lagi di sahut dengan anggukan perlahan dari Putri pelan.


_


_


_


_

__ADS_1


__ADS_2