
Raja menatap sebuah gerbang besar di ujung lembah. Sebuah gerbang penyekat antara dunia nyata dan dunia gaib. Sebuah gerbang dengan tingi sepanjang kita mendongakkan kepala.
Ada ukiran ular kobra dan hiasan ornamen kepala manusia di sisi permukaannya. Banyak semak-belukar yang ternyata terbuat dari urat-urat manusia jua tertata rapi di permukaannya.
Ada dua raksasa bertaring panjang berdiri membawa gada besar di kanan dan kiri. Gerbang terbuat dua sisi sama persis dan simetris dengan gambar lingkaran diagram setan besar pas di tengah.
Raja berdiri pas di depan gerbang kali ini. Raja tak bisa menyebutkan tempatnya berdiri malam atau siang. Sebab pas di sisi gerbang adalah gelap. Namun di sisi depan gerbang berjarak satu langkah adalah terang atau siang.
Raja sendirian berdiri sambil terus mengamati. Sengaja Raja tak mengikut sertakan pasukan anak keturunan bersamanya. Sebab hanya dia yang mampu membangkitkan efek dari doa tiada menghilang tapi tiada terlihat oleh bangsa setan dan jin.
“Hem gerbang ini dahulu yang pernah menjadi medan tempur antara T O H dan kerajaan setan Adi Yaksa. Bahkan dahulu Nenek buyut leluhur pernah dijadikan budak nafsu di dalam sana. Aku berjanji para leluhurku atas nama Sang Pencipta. Suatu hari pasti akan aku hancurkan kerajaan setan ini,” gerutu Raja sambil mengusap dagunya yang ditumbuhi jenggot tipis.
Mata teknik malaikat yang Raja miliki mulai ia aktifkan. Sehingga pandangan mata batinnya menerobos jauh tanpa bisa dihalangi. Walau banyak tembok dan rajah gaib setan sebagai penghalang. Mata malaikat milik Raja bahkan dapat menembus alam kubur sekali pun. Bila Allah atau Sang Penguasa mengizinkannya.
“Wau, wau, wau, hem, rupanya banyak juga ya kekuatan para setan. Bahkan bisa aku lihat serta aku perkirakan ribuan jumlah dengan berbagai macam rupa dan bentuk. Jikalau begini walau keempat divisi di bawah kepemimpinanku dan golongan tua sisa dari organisasi tua T O H yang masih hidup bersatu. Mungkin tetap tidak mampu menandingi jimlah setan di dalam sana,” ujar Raja dengan matanya terus berpendar sinar terang.
“Jadi penasaran aku dengan raja dari para setan itu. Manakah yang dinamakan sang iblis Barbadak. Bahkan aku ingin sekali melawannya sekarang juga. Serasa kebencianku sudah berada di ubun-ubun. Sebab iblis Barbadak yang pernah berhasil memusnahkan organisasi T O H. Bahkan hampir memusnahkan klan Haji Jaka leluhurku,” ucap Raja terus berdiri dan terus mengamati.
__ADS_1
“Oh yang di bawah altar singgasana itu para prajurit dengan ribuan jumlahnya. Sedang yang menempel di dinding adalah, makhluk kelelawar siluman atau sejenis setan kalong. Sedangkan yang di atas temboknya itu dari kerajaan kera. Bahkan kaum raksasa jua ada di antara mereka. Berat juga rupanya melawan kerajaan ini. Tapi kami tak akan mundur, sebab kami di jalur kebenaran. Penting Bismillah saja, tentu Allah memberi Ridho pada kami,” ujar Raja terus meneliti keadaan musuh.
“Mungkin yang dikatakan Ayah Wahyu kerajaan ini. Tetapi ke mana raja mereka si iblis Barbadak. Kenapa walau dengan mode mata malaikat aku tidak bisa menangkap sosoknya? Pantas saja ayah yang begitu sakti Mandra guna saja tak mampu menghancurkan kerajaan ini,” ucap Raja sambil mangut-mangut tanda mulai mengerti.
***
Bukit Harapan,
Tenda-tenda telah terpasang berjajar rapi di balik bukit harapan. Setiap hari ada saja pasukan dari beberapa sub divisi anak keturunan. Maupun dari divisi keempat utama yang telah bergabung. Terlihat ribuan tenda telah tertata di atas tanah padang ilalang sebelah barat atau belakang bukit harapan.
Bukit harapan terletak begitu dekat dengan lembah setan. Bukit ini dinamakan bukit harapan dahulu memiliki kisah heroik. Sebab Haji Jaka atau leluhur awal para anak keturunan yang menamakan bukit tersebut dengan nama bukit harapan. Pernah berkemah di sana setelah menyelamatkan sang permaisuri hati istrinya tercinta Mbak Putri. Jua setelah meluluh lantakkan kerajaan iblis Adi Yaksa di lembah setan.
Arum tampak masih berdiri sejak beberapa jam yang lalu di atas bukit harapan. Pas di ujung perkemahan dan tendanya tak jauh di dirikan dari tempatnya berdiri. Memang sebab terlalu banyaknya tenda. Jadi tenda yang berdiri dari atas bukit hingga ke kaki bukit.
Hati Arum tampak gusar dan gelisah. Matanya mulai meneteskan air bening, perlahan menetes di pipinya yang halus. Dalam pikirannya hanya nama Raja sang suami yang tengah pergi sendirian menuju lembah setan. Kemarin Raja berpamitan padanya hendak memantau kekuatan musuh. Tapi sampai hari ini bahkan sudah begitu larut, bisa dikatakan tengah malam Raja belum pulang jua.
“Mas Raja cepat pulang, Adek khawatir akan keselamatanmu Mas. Kenapa kau tak mau ditemani kemarin saat hendak pergi. Bukankah kerajaan lembah setan sanggatlah berbahaya. Dahulu kala bahkan organisasi tua leluhur kita yang bernama T O H, yang begitu tangguh. Mereka dapat dihancurkan oleh kerajaan lembah setan. Pulang sayang, mari kita diskusikan bersama di sini. Jikalau kita harus gugur, maka lebih baik kita gugur bersama sebagai syuhada pembela kebenaran,” gerutu Arum terus berdiri mematung menatap lembah setan.
__ADS_1
“Mbak Arum kenapa tidak istirahat. Khawatir ya sama Mas Raja, Insya Allah Mas Raja akan baik-baik saja Mbak. Kita doakan saja Mas Raja kembali dengan membawa kabar baik. Sebuah kabar tentang peta kekuatan lawan agar kita bisa merancang strategi melawan mereka,” ucap Nyimas Suci menghampiri Arum dan ikut berdiri menatap lembah setan di samping kanan Arum.
“Aku sangat khawatir dengan Masmu Dek Suci. Sifatnya yang selalu mengeyel bisa saja jadi bumerang bagi dirinya sendiri,” tegas Arum menatap Suci dengan masih berisak tangis.
Tiba-tiba ada puluhan orang berjalan dari sisi kanan bukit. Mereka adalah para anggota divisi empat dengan Petir berjalan paling depan.
“Assalamualaikum Mbakyu Arum, Mbakyu Suci,” ucap Salam Petir yang baru datang bersama rombongan anggotanya divisi keempat.
“Waalaikumsalam, loh Petir kenapa pasukanmu berkurang sangat banyak Dek?” tanya Nyimas Suci.
“Biasa Mbak Suci, perang ya seperti ini ada yang gugur tentu sebagai syuhada. Ada yang selamat. Sebenarnya aku begitu terpukul biala ada yang gugur. Tapi Allah yang memegang kematian itu sendiri. Jadi aku hanya bisa berkata ini semua takdir,” ucap Petir berdiri di depan Nyimas Suci dan Arum. Sedangkan para anggota yang lain dari divisi empat mulai mendirikan tenda sebagai tempat istirahat malam ini.
“Apa dalam perjalanan kalian dihadang pasukan setan Dek?” tanya Arum dengan wajah penasaran tapi jua iba dan sedih mendengar berkurangnya pasukan setiap divisi yang datang.
“Kebetulan kami melintasi bukit tengkorak. Kami bertempur dengan pasukan tengkorak di sana. Kami banyak kehilangan pasukan di perang medan bukit tengkorak tersebut. Tapi Kakek Dewa dan Kakek Halilintar datang membantu kami dan Alhamdulillah kami selamat dan melanjutkan perjalanan kemari,” ucap Petir.
“Lalu dimanah Kakek Halilintar dan Kakek Dewa Dek?” kembali Suci bertanya pada Petir.
__ADS_1
“Kata beliau hendak menyusul Mas Raja ke lembah setan. Mereka ingin menjajal kembali kekuatan kerajaan Lembah setan. Katanya seperti itu,” jawab Petir.