
Suasana hikmat tengah mengalun diantara barisan para tamu undangan serta semua panitia yang hadir yang tengah duduk berjajar rapi di bawah teduh tenda biru.
Acara pertunangan Gus Bagus dan Vivi sudah hampir selesai alam cerah gemilang seakan ikut merestui hubungan mereka berdua.
Haji Kasturi tengah melantunkan doa serta puja-puji pada Baginda Rasul Muhammad Saw tercinta. Dan para hadirin seraya menengadah tangan selaras berucap Aamiin berulang-ulang.
Jaka dan Putri tengah duduk bersanding di deretan panitia dengan Beby Wahyu yang terus aktif di pangkuannya.
Sementara tamu yang datang terakhir yakni Effendik Jangkaru yang membuat heboh para tamu karena kedatangannya tengah ikut hikmat mengamini lantunan doa Haji Kasturi.
Sejenak Effendik melirik ke arah Beby Wahyu yang sedang dalam pangkuan Putri. Seketika Beby Wahyu terdiam menatap ke arah Effendik.
Lalu seakan selaras dari tatapan Effendik dan Beby Wahyu, waktu seakan terhenti jarum jam di dinding ruang tamu rumah Haji Wachid yang semula berdetak berputar perlahan kini benar-benar terhenti.
Para tamu undangan dan panitia yang semula menengadah tangan dan mengalunkan lafadz Aamiin kini semua nampak terdiam membisu. Seluruh alam serempak mengikuti alur kejadian yang terjadi di bawah tenda biru.
Angin yang semula berhembus perlahan menerbangkan daun kering yang jatuh dari pepohonan di sekitar tempat acara pertunangan Gus Bagus dan Vivi berlangsung seakan ikut terhenti sealur pohon yang semula bergoyang tertiup angin jua berhenti.
“Beby Wahyu...,” ucap Effendik menggema memanggil Beby Wahyu yang tak ikut terhenti karena memang tujuan sang pertapa Effendik menghentikan waktu adalah untuk berdialog dengan Beby Wahyu.
Kali ini seakan seperti bayi ajaib semula Beby Wahyu hanya berada dalam gendongan Putri. Turun dari atas gendongan menghampiri Effendik yang menyambut Beby Wahyu seraya berdiri.
“Hahaha..., Si Bayi ajaib akhirnya kau menyadari jua untuk apa aku hadir di sini,” ucap Effendik menghampiri Beby Wahyu lalu duduk bersila di depanya.
Sekilas Beby Wahyu meniupkan udara segar dari dalam mulutnya yang mungil mengeluarkan angin dengan butiran-butiran kristal lembut ke segala penjuru. Sejurus dengan angin dari mulut Beby Wahyu semua hal yang terkena terpaan angin menghilang perlahan hingga habis.
__ADS_1
Dan tempat acara pertunangan Gus Bagus dan Vivi yang semula ramai kini hening menjadi sebuah altar putih yang tersisa hanya Effendik dan Beby Wahyu yang tengah berhadapan duduk bersila.
Hahaha...,
Tawa Petapa sakti dari gunung salak itu menggelagar menggema karena melihat kesaktian ajaib si Beby Wahyu.
“Kau ini Wahyu bukankah semenjak berada di alam Malakut kau sudah kudatangi dan ku sarankan lekas turun ke bumi agar dapat menolong keluarga mu, tapi kau tetap ngeyel tak mau turun,” ucap Effendik Jangkaru terus tertawa.
“Paman di kehidupan dahulu kita adalah para Ksatria tak terkalahkan seperti keluarga Ayahku sekarang namun lebih sakti dari mereka. Apakah kau tidak ingat saat kau dan aku pergi ke alam bawah yang layaknya seperti neraka tempat para jin api untuk menolong seorang putri raja yang ditawan,” ucap Beby Wahyu.
“Ya, ya aku masih ingat saat itu nama mu Satria,” celetuk Effendik.
“Benar Paman sekarang bedanya kau makhluk abadi tapi aku terus berinkarnasi yang sama adalah aku selalu di takdirkan menjadi murid mu,” ucap Beby Wahyu menatap Effendik dengan serius.
“Jangan lupa kau sekarang dalam wadah bayi bukan seperti dulu seorang Satria yang gagah dan rupawan, jangan membuat curiga orang apalagi Ayah dan ibumu yang tak tau menau akan hal ini. Salah satu tugasku juga untuk mengingatkan mu yang selalu tak bisa mengontrol emosi diri,” ucap Effendik mengusap kepala Beby Wahyu.
Hahaha...
“Dengan wujud seperti ini sebagai bayinya Jaka kau tampak lucu Satria,” ucap Effendik terus tertawa melihat tingkah Wahyu.
“Wahyu Paman, nama ku sekarang Wahyu...!,” ucap Beby Wahyu.
“Ia, ya Wahyu Si Beby ajaib, jangan lupa tugasmu nanti masih banyak yang harus kau kerjakan di reinkarnasi mu kali ini, salah satunya kau akan memimpin pasukan termuda dari golongan organisasi Ayahmu melawan Adi Yaksa,” ucap Effendik menuturkan.
“Adi Yaksa dia bangkit kembali, bukanya dahulu aku sudah menyegelnya diatas bukit salak Paman?,” ucap Beby Wahyu.
__ADS_1
“Benar kau memang telah menyegelnya dan aku jua yang memagari tempat Adi Yaksa di segel, tetapi manusia jaman sekarang sanggatlah munafik diluar mulutnya berkata aku Islam tapi tanpa sepengetahuan orang banyak. Banyak orang yang melakukan puja demi meraih kekayaan, kedudukan dan kejayaan di dunia dengan menyekutukan sang pencipta. Karena ketimpangan seperti itu alam jadi timpang tindih dan karena pergesekan hawa yang sangat deras rantai-rantai segelmu terlepas dengan sendirinya akhirnya Adi Yaksa sang siluman seribu rupa terlepas,” ucap Effendik.
“Apa bala tentara Adi Yaksa dari lembah neraka pun ikut Bangkit Paman?,” kata Beby Wahyu bertanya penasaran.
“Ya benar firasat mu Wahyu, kali ini ia tengah melatih sepuluh ribu pasukan lembah neraka dan bersiap untuk meluluh lantakkan Setiap kota di bawah kaki gunung Anjasmara,” ucap Effendik mengabarkan.
“Adi Yaksa sudah beberapa kali aku segel Paman tapi kalau manusianya sendiri selalu ingkar dari Sang Pencipta tentu makhluk sepertinya akan terus bangkit lagi walau seribu kali kita segel,” ucap Beby Wahyu masih dalam posisi duduk bersila berhadapan dengan Petapa Effendik.
“Maka dari itu aku turun gunung khusus menemui mu Wahyu, aku membawakan seluruh senjata yang kau butuh kan terimalah,” ucap Effendik seraya membuka genggaman tangannya yang berisi penuh ribuan senjata berbentuk kecil-kecil namun sebenarnya sanggatlah besar tapi sengaja ia jadikan kecil di tangannya.
Beby Wahyu seketika membuka mulutnya lebar untuk dapat menelan seluruh senjata yang di ulurkan Effendik di atas telapak tangannya.
Setelah menelan ribuan senjata tubuh Wahyu menjadi mengeras sekeras batu sehingga apapun tak dapat menggoresnya.
“Kau ini dari dulu masih sama saja walau ribuan kali berganti wadah dan rupa, ini seluruh elemen bumi kuserahkan pada mu bersiaplah?,” ucap Effendik menaruh telapak tangannya di dada Wahyu membuat tubuh Wahyu menyerap seluruh elemen dari alam.
“Sudah sementara percakapan kita sampai sini dahulu lain waktu saat aku datang lagi berarti sudah saatnya tabuh genderang perang ketiga dari manusia melawan bangsa setan kembali harus di tabuh lagi bersiaplah saat itu tiba?,” ucap Effendik seraya berdiri dan menghilang dari pandangan Beby Wahyu.
Beby Wahyu setelah bercakap dan berbincang dengan sang guru iya kembali meniupkan angi dengan jutaan butiran kristal seketika semua hal yang tadinya lenyap karena embusan angin dari mulut Beby Wahyu muncul kembali namun masih dalam keadaan diam waktu masih nampak terhenti.
Setelah Beby Wahyu berjalan naik ke atas gendongan Putri iya memulai tangisannya sebagai tanda pencair suasana untuk mengembalikan keadaan seperti semula.
Oek, oek, oek,
Tangisan Beby Wahyu mengagetkan Putri dan Jaka yang mulai tersadar kembali begitupun para undangan yang hadir begitu terkejut karena semula keadaan hening dan hikmat oleh lantunan doa Haji Kasturi.
__ADS_1
“Loh kenapa sayang kok menangis?,” ucap Putri mulai menimang Beby Wahyu agar tidakmenangis.