
Suasana masih begitu lengang dan sepi di sepanjang jalan utama desa Mojokembang, karena hari masih belum pagi benar sang matahari belum nampak menyapa di ufuk timur. Embun masih tampak menetes perlahan dari atas dedaunan rumput yang tumbuh subur di tepian sepanjang jalan.
Begitupun Pepohonan akasia yang tumbuh berjajar rapi dari Utara ke Selatan mengikuti panjangnya jalan nampak masih basah di atas mahkota-mahkota daunnya sisa gerimis semalam.
Masih agak remang lampu jalan yang bertengger redup di atas tiang-tiang pinggiran jalan masih menyala jua. Dari sudut surau rt.01, beberapa jamaah masih terlihat baru keluar dari dalam surau setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Gemercik air sungai belakang desa Mojokembang masih jelas terdengar, karena belum ada penghalang suara dari bisingnya raungan kendaraan yang berlalu-lalang di jalan utama desa.
Tetapi burung gereja sudah terlihat beterbangan hendak bersiap menyantap padi di setiap ladang yang membujur panjang kanan kiri jalan desa.
Gejolak menjelang pagi yang begitu teduh dan indah oleh lukisan yang terpampang di timur jauh pegunungan Anjasmara melengkapi pesona suasana sehabis subuh. Seakan begitu menakjubkan suguhan alam yang di hadirkan oleh Allah SWT.
Di Jalanan utama desa Mojokembang nampak dua pemuda tengah menikmati teduhnya hari setelah subuh dengan tidak melewatkan satu tarikan nafaspun menghirup segarnya udara pagi. Ya mereka Jaka dan Dava yang tengah asyik berlari-lari kecil sembari menikmati anugerah nikmat Sang Kuasa akan hamparan desa yang masih begitu asri.
“Mas, Kak Putri dan Kak Vivi kenapa tidak ikut lari pagi...?,” ujar Dava sambil terus berlari di samping Jaka.
“Kakakmu Vivi seperti biasa masih molor dengan bantal dan gulingnya kamu kayak tidak tau kebiasaan kakak mu yang satu itu,” jawab Jaka sambil sesekali mengelap keringat di dahi dengan handuk kecil yang ia lingkarkan di lehernya.
“Kalau Kak Putri....?,” Dava kembali bertanya.
“Kalau Kak Putri dia sedang sibuk membantu Budemu di dapur masak,” kata Jaka masih terus berlari-lari kecil terkadang diselingi dengan meloncat-loncat dengan kedua kaki diluruskan bertujuan untuk peregangan otot-otot kaki.
“Rajin ya kak Putri itu..?,” kata Dava.
“Ia rajin, manis pula, cewek siapa dulu dong,” kata Jaka yang terpancing dengan pertanyaan-pertanyaan Dava yang semakin menjurus dan menjebak Jaka.
“Heh......,” Jaka berhenti sejenak seraya menatap Dava yang tengah meringis bahagia, karena tujuan dari semua pertanyaannya tercapai agar iya dapat mengorek keterangan kepada Jaka atas semua kecurigaannya kemarin.
“Hehehe..., akhirnya aku mendapatkan jawaban sendiri dari mulutmu Mas Jaka sudah aku duga,” kata Dava sambil menatap Jaka dengan wajah penuh maksud yang tersembunyi.
“Heh..., waduh ciloko aku terjebak, suuutz....., Jangan bilang siapa-siapa ya...?, Ini masih rahasia perusahaan,” kata Jaka sambil membungkam mulut Dava.
“Hehehe..., Pajak tutup mulut dong, hehe....,” kata Dava menyeringai puas setelah mengetahui kebenaran bahwa Jaka dan Putri pacaran.
__ADS_1
“Aduh lagi-lagi kenak palak aku..,” kata Jaka sambil menepuk jidatnya.
“Halah..., Mas Jaka ini sama adik sekali-kali ngasih kenapa..?,” kata Dava dengan muka begitu mengharap mendapatkan hadiah.
“Lalu apa yang harus ku berikan pada adik keponakanku yang ganteng nan gagah ini?,” ucap Jaka.
“Kita lomba lari mengenang masa kecil kita dulu Mas Jaka tidak pernah menangkan lomba lari denganku,” kata Dava dengan muka mengejek penuh taktik rayuan agar Jaka menerima permintaan sekaligus tantangan darinya.
“Baik kali ini aku tidak akan mengalah lagi dengan mu Dava,” kata Jaka seraya mengambil posisi siap sedia layaknya pelari maraton tengah mengambil start diikuti Dava disampingnya melakukan hal yang sama.
“Siap ya mas, hitungan ketiga kita mulai lari jangan curang..,” kata Dava.
“Sebentar finisnya ini sampai mana..?,” tanya Jaka penuh semangat menerima tantangan Dava.
“Kita inikan berada di ujung kebun pisang nih ya dan kebun pisang ini panjangnya hampir satu kilometer nah siapa yang lebih cepat sampai ujung satu lagi itulah pemenangnya,” kata Dava menjelaskan.
“Ok, setuju.., siapa juga yang menanam pohon pisang sebanyak ini merepotkan,” kata Jaka.
“Pak RT Mas, sudah jangan cerewet ayo mulai hitung,” celetuk Dava.
Selepas hitungan ketiga Jaka dan Dava mulai berlari menuju ujung kebun pisang yang satunya, siapa tercepat dia yang menang. Dava terlihat begitu cepat berlari mendahului Jaka, karena memang ia adalah pemenang lomba lari maraton di Jombang tingkat SMK. Jaka yang lebih tua satu tahun dari Dava akhirnya kualahan mengimbangi Kecepatan Dava.
Hampir sampai di ujung ujung kebun pisang yang satunya yang dijadikan tempat finis Dava tiba-tiba memperlambat kecepatan berlarinya. Ada sebuah bayangan misterius seakan mengikuti iya berlari di sela-sela pepohonan pisang. Jaka yang mengerti benar hal ini akan terjadi ikut memperlambat kecepatan berlarinya lalu menghampiri Dava.
“Ada apa Dik...?,” tanya Jaka melihat Dava yang menoleh kesana-kemari mencari sosok bayangan misterius tersebut.
“Apa sih Dik...?,” tanya Jaka sekali lagi.
“Mungkin perasaanku saja ya Mas, tadi seperti ada sosok yang mengikutiku berlari berbarengan di sampingku pas Mas beneran, tapi anehnya ia tidak berlari tapi melompat-lompat, apa ya mas itu...?,” kata Jaka masih dengan raut muka penasaran dan masih nampak meneliti dengan pandangan matanya tertuju pada pepohonan pisang yang lebat.
“Ah jangan menakut-nakuti Mas kau, bercanda pasti ini, jadi lomba enggak nih...?,” kata Jaka agak cemberut.
“Tadi sih aku merasa seperti ada yang mengawasi kita di balik pepohonan pisang ini, tapi tidak aku gubris pas kita masih diujung sana ujung start awal kita berlari tadi. Sekarang malah aku seperti melihat sesuatu yang mengikuti di sampingku tapi tidak berlari melainkan meloncat-loncat,” kata Dava meyakinkan Jaka.
__ADS_1
“Ah perasaanmu saja mungkin Dik,” celoteh Jaka mencoba menetralkan suasana yang mendadak menjadi parno dan horor.
“Lah munculkan dia Mas, ya ini yang aku maksud tadi,” kata Dava sambil menunjuk kearah sela-sela pohon pisang.
“Apaan...?,” Jakapun menoleh ke arah yang dimaksud Dava.
“Itu kak sesosok Putih yang di balut kain kapan, layaknya orang yang mau di kubur tapi kok mukanya gosong ya Mas?, mana nyengir lagi dia,” kata Dava menggambarkan apa yang ia lihat yang muncul di sela pepohonan pisang.
“Oh itu Dik, itu mah namanya Poci, eh salah Pocong, tapi kenapa kapannya jelek ya Dik?,” apa matinya sudah lama ya, kotor sekali kalanya kasihan pasti baunya busuk,” kata Jaka yang tengah berdiri bersama Dava mengamati sosok pocong yang terus menatap mereka dan terus meloncat-loncat mendekati mereka.
“Mungkin sih Mas, coba tanya si poci, hahaha...,” tawa Dava mengulang kesalahan kata dari Jaka dengan menyebut nama Pocong tapi dipelesetkan.
“Eh dia makin dekat Mas kata Dava, jadi penasaran kenapa ya kapanya putih saja apa tidak ada ganti warna lain gitu di kuburan?,” Kata Dava terus mengamati pocong yang mendekat.
“Ah kau dek kalau warna kapannya ganti warna hijau nanti di sangka orang lontong lagi,” kata Jaka.
“Eh wajahnya semakin dekat kok jadi tengkorak ya ada belatungnya lagi. Mas Jaka bola matanya enggak ada itu..,” kata Dava mulai ketakutan.
“Lah iya ya itu kan poci ya eh pocong ya kenapa malah kita amati ya Dik, kamu sih Dik yang mulai ada pocong di depan kita malah di teliti,” kata Jaka yang mulai ikut ketakutan.
“Mas Jaka ini si poci alias pocong keliling aduh pakek aku jelasin lagi, udah di depan kita ini bagaimana...?,” kata Dava yang mulai gemetaran karena melihat pocong sudah pas berada di depannya.
“Sabar, tenang tarik nafas dalam, terus.....,” kata Jaka tidak melanjutkan perkataannya.
“Terus....,” kata Dava mengulang kata dari Jaka.
“Kabuuur......!,” teriak Jaka berlari menjauh.
“Mas Jaka tunggu..., Huwaaa.., ada pocong...,” teriak Dava berlari mengejar Jaka.
_
_
__ADS_1
_