
Hujan lebat tengah melanda desa Mojokembang di setiap sudut hanya sunyi di dapati. Terlihat sosok-sosok mayat bergelimpangan di depan rumah tiap warga. Entah kenapa setiap terjadi peristiwa baku hantam alias pertempuran alias perang antara kebaikan yang di wakili oleh para punggawa T O H melawan kebatilan yang di anggotai para dukun hitam dan mahluk sesat seperti setan dan siluman selalu diawali dengan hujan lebat dan kabut petang merambat di satu wilayah sebagai tanda awal mulainya perang.
Namun kali ini dampaknya terlalu besar keranda yang di bawa Aji sang putra kegelapan menimbulkan banyak korban. Setengah desa Mojokembang yang di lewati Aji dengan keranda terbangnya membuat para warga seketika berjatuhan tak bernafas, tak bernyawa. Karena ruh setiap orang yang di lewati Aji akan tersedot ke dalam keranda terbang yang di bawanya.
“Hahaha..., Siapa yang bisa mengalahkan ku, aku abadi. Aku tak terkalahkan bahkan pemimpin tertinggi T O H tak berdaya melawanku. Dimana perwira tinggi T O H yang kalian banggakan itu, ya dimana Jaka penjaga desa ini dimana dia?, Hai Jaka keluar kau jangan bersembunyi seperti pengecut hadapi aku Aji Nata Negara sang putra kegelapan,” teriak Aji terus berjalan melewati jalan utama mungkin sebentar lagi mendekati rumah Jaka.
“Mas Jaka bagaimana apa aku hancurkan dahulu keranda terbang itu,” ucap sosok Ki Datuk Panglima Kumbang yang tengah berdiri di samping Jaka.
“Tenang Ki coba Ki Datuk lihat dengan teliti, sebenarnya keranda itu tidak benar-benar terbang. Keranda itu di bawa makhluk yang tidak terlihat walau secara kasat mata butuh tenaga ekstra untuk melihatnya,” ucap Jaka yang tengah berdiri di atas atab rumah di depan rumahnya.
“Makhluk apa itu Mas sehingga aku yang notabene sebangsa jin muslim tak mampu menembus untuk melihatnya?,” ujar Ki Datuk Panglima Kumbang penasaran.
“Keempat tatakan keranda yang biasanya adalah empat manusia yang bertugas menggotong mengantarkan jenazah dari pihak sanak saudara. Kali ini keranda Aji di isi oleh empat raja genderuwo di setiap pegangan atau tatakan setiap sisinya dan setiap sosok membawa kapak maut. Di mana kapak tersebut kalau sudah di ayunkan dan terkena musuh satu gores saja dapat meruntuhkan semua ilmu yang di miliki sang musuh,” ujar Jaka menjelaskan pada Ki Datuk Panglima Kumbang.
“Lalu kita harus bagaimana Mas Jaka, apa kita harus menunggu semua warga desa ini mati semua mati, karena ruhnya terhisab semua kedalam keranda terbang si Aji itu?,” ucap Ki Datuk Panglima Kumbang.
“Tenang Ki sebenarnya kita bisa dengan mudah mengalahkan Aji kalau kita dapat menghancurkan kerandanya itu. Sebab di sanalah pusat kekuatan Aji berasal bahkan Aji yang Asli tengah tertidur di dalam keranda,” ujar Jaka.
“Loh kok bisa seperti itu Mas?,” tanya Ki Datuk Panglima Kumbang merasa heran dengan perkataan Jaka.
“Dahulu bapaknya Aji bernama Pak Kliwon ingin sekali memiliki keturunan namun ia di diagnosis oleh dokter tidak bisa memiliki anak karena mandul. Lalu Pak Kliwon bersekutu dengan rajanya setan di daerahnya kebetulan saat itu di sana Sarpala yang memimpin. Alhasil dengan menyerupai Pak Kliwon pada malam Jumat legi. Si istri Pak Liwon yang gemar duduk di teras saat magrib tiba di tiduri oleh Sarpala yang menyamar Jadi Pak Kliwon,” ucap Jaka menerangkan.
__ADS_1
“Dan sebenarnya sedari kecil Aji tidaklah hidup dia sudah mati karena dari Pati hawa murni kehidupannya terus di hisap Sarpala, karena hanya itu tujuan Sarpala. Dari kecil Aji hanya tidur di Keranda itu. Dan yang kita hadapi kali ini bukan Aji tapi Sarpala langsung yang menyerupai Aji,” ucap Jaka menambahkan keterangan pada Ki Datuk Panglima Kumbang.
“Kalau berita saat Mas Jaka berhadapan dengan Aji saat masih sekolah SMA dahulu terus kalah apa benar?,” tanya Ki Datuk Panglima Kumbang.
“Benar Ki, berita itu benar adanya, karena ya itu Aji yang kuhadapi dari dulu memang Sarpala dalam bentuk Aji. Andai Abah Haji Kasturi dan Abahku tidak datang menyelamatkan ku tentu aku sudah tidur bersama Aji yang asli di dalam keranda itu,” ucap Jaka.
“Kok bisa tidur dalam keranda itu Mas?,” ucap Ki Datuk Panglima Kumbang.
“Makanya aku bilang jangan gegabah keranda itu bukan hanya bisa menghisap ruh manusia di dalamnya namun bisa juga menghisap manusianya sendiri kalau terhisab sudah tak bisa kembali,” ujar Jaka.
“Waduh bahaya dong Mas apa aku yang sosok Jin juga dapat terhisab ke dalam keranda itu?,” ucap Ki Datuk Panglima Kumbang.
“Lalu bagaimana kita melawannya Mas?,” ucap Ki Datuk Panglima Kumbang.
“Tenang sabar tunggu dulu kita amati dahulu semoga mereka tidak telat datang kemari,” ucap Jaka.
“Siapa mereka itu Mas?,” tanya Ki Datuk Panglima Kumbang penasaran siapa yang di maksud Jaka dengan mereka.
“Mereka bala bantuan dari anggota kita para perwira T O H sedang menuju kemari. Aku merasa ada satu orang dari luar Jawa timur yang datang hawanya terasa sangat besar. Tapi tenang ia bersama teman-teman kita,” ucap Jaka.
“Tetapi firasatku ada yang aneh Mas Jaka mereka seperti di buntuti kekuatan lebih besar lagi bahkan lebih kuat dari Haji Kasturi sekalipun, tetapi sosoknya ini yang membuatku heran dan ingin bertanya apa iya?,” ucap Ki Datuk Panglima Kumbang.
__ADS_1
“Maksud Datuk bagaimana bahkan aku tak bisa menembusnya,” ucap Jaka menatap Ki Datuk Panglima Kumbang dengan wajah penasaran.
“Sosoknya berupa bayi merah yang baru dilahirkan tapi berbentuk cahaya, tetapi kekuatannya sangat besar. Yang membuatku heran rupa bayi itu sama persis seperti mu Mas,” ucap Ki Datuk Panglima Kumbang.
“Loh apa iya?, Apa Datuk bisa berkomunikasi langsung dengan sosok bayi itu tanyakan sebenarnya siapa dia?,” ucap Jaka semakin penasaran.
“Sebentar Mas aku akan coba berkomunikasi dengan sosok bayi ini,” ucap Ki Datuk Panglima Kumbang seraya berdiri dengan kedua tangan di silangkan di depan dada dan memejamkan kedua matanya.
“Bagaimana Ki apa ada jawaban?,” ucap Jaka yang melihat Datuk Panglima Kumbang kembali membuka matanya.
“Kata Si Bayi itu, namanya Raden Wahyu Bin Jaka Bin Wachid. Dia sebenarnya belum terlahir tapi di utus dari langit turun untuk membantu Ayahnya bertempur melawan kebatilan,” ucap Ki Datuk Panglima Kumbang.
“Berarti Dia bakal anakku dong Ki,” ucap Jaka terheran-heran.
“Bisa jadi Mas, Mbak Putri kan mengandung sudah hampir delapan bulan. Sebulan lagi Insya Allah melahirkan. Apa Mas masih ada keturunan darah biru?,” ucap Ki Datuk Panglima Kumbang.
“Ada kakek ku masih tersambung sampai salah satu keraton di Madura tapi itu jauh. Entah aku juga hanya mendengar cerita dari Abah,” ucap Jaka.
“Apa kalian sudah selesai berdiskusi,” ucap Aji yang tiba-tiba ada di depan Jaka dan Ki Datuk Panglima Kumbang dengan posisi melayang di udara bersama keranda di atas kepalanya.
“Allahuakbar, awas Mas,” ucap Ki Datuk Panglima Kumbang yang melihat sebuah tangan besar hitam berbulu lebat denah cakar-cakar tajam memanjang dari dalam keranda hendak mengambil jiwa dan ruh Jaka.
__ADS_1