
Malam berlanjut di Dukuhan Banjar Kerep setelah siang yang tadi Jaka begitu sangat penasaran dengan apa yang engkau terjadi di desa Banjar Dowo khususnya di Dukuhan Banjar Kerep tempat keluarga Pakliknya tinggal.
Jaka tengah berdiri diatas satu ruang kosong di salah satu sisi atap paling atas rumah Haji Kardi. Yang memang sengaja di buat ruang kosong tersebut bertujuan untuk menjemur pakaian oleh Umi Emi.
Jaka begitu serius memandang sekitar area Dukuhan Banjar Kerep. Matanya menelaah, menyibak kabut tebal yang mulai menyelimuti area permukiman warga.
Dengan kedua tangan yang ia selipkan di saku samping celana jin biru muda dan jaket hitam T O H yang ia kenakan dengan resleting dibiarkan terbuka sehingga ujung jaket mengibas-ngibas terkena angin.
Jaka tidak habis pikir dengan pandemi aneh yang tengah berlangsung. Wabahnya begitu cepat menjalar bagaikan badai pasir di gurun gersang yang di hembuskan angin laut menerjang, menghancurkan segala yang ada di hadapannya.
“Mas Jaka,” terdengar suara Dava datang dari arah pintu penghubung antara ruang kosong diatas atab dengan lantai dua dibawahnya. Dava berjalan menghampiri Jaka dan ikut memandang desanya penuh rasa iba.
“Sejak kanan kengerian semua ini terjadi Dek?,” kata Jaka melontarkan pertanyaan pada Dava dengan mata yang terus fokus memandang ke arah pemukiman warga.
“Kata Abah sebelum aku pulang dari rumah Mas Jaka, seminggu sebelumnya sudah mulai mewabah. Warga sudah banyak yang terjangkit dan telah ada jatuh korban Mas,” jawab Dava menjelaskan.
“Sungguh ini bukan ulah manusia Dik, semakin petang desamu semakin berbau busuk sangat menyengat bau anyir darah sangat terasa,” kata Jaka.
“Iya Mas, aku pun sama seperti Mas saat dua hari yang lalu di jemput Abah dari rumah Mas Jaka. Saat itu aku pun begitu miris dan terkejut melihat kondisi di desaku ini,” kata Dava.
“Kau coba lihat di bawah sana namun jangan kau melihat dengan mata manusiamu, tapi lihatlah dengan mata anugerah dari sang kuasa yang kau miliki. Aku akan mengajarkan cara yang benar untuk mengendalikannya agar kau tidak cepat lelah saat menggunakan mata yang bisa melihat makhluk yang tak terlihat yang kau miliki. Pejamkan matamu hirup udara dengan lafaz bismillah tekan di uluh hati agak lama lalu hembuskan searah melewati hidung dengan syahadat tiga kali,” kata Jaka mengajarkan cara menggunakan mata batin yang benar.
“Baik Mas,” sahut Dava lantas melakukan apa yang di perintahkan oleh Jaka.
Selesai memejamkan mata Dava membuka mata kembali dengan hembuskan perlahan dari lubang hidung kembali melihat suasana di setiap permukiman warga.
“Apa yang kau lihat Dik?,” tanya Jaka tetap fokus menatap kedepan.
“Astagfirullah, semua ada di sini Mas, Pocong, kuntilanak, jin iprit, semua ada di desa ini mereka tengah merasuki setiap warga yang di pasung yang berjalan mematung dan yang tidur dengan melotot seperti mati namun hidup,” kata Dava terbelalak kaget melihat kondisi para warga yang terjangkit wabah.
__ADS_1
“Yah, sekarang kau tahu apa dan siapa penyebab wabah ini terjadi. Keadaan ini terjadi akibat ulah manusianya itu sendiri di saat manusia telah semakin lupa dengan Allah. Di saat agama telah di tinggalkan dan keyakinan telah hilang bagai sebuah makhluk yang punah. Maka campur tangan Allah berlaku di sini. Ini semua hanya karena Allah sebenarnya sangat rindu akan keimanan kita yang hilang agar mereka kembali pada jalan yang benar,” kata Jaka menjelaskan.
“Dunia ini sudah semakin tua ya Mas sudah semakin mendekati akhir jaman meski kita tak tahu kapan itu terjadi,” kata Dava
“Ya yang kamu katakan memang benar masa kita adalah masa dimana akhir jaman semakin dekat jadi kita harus banyak mengingat Allah, karena hanya dengan cara itu hati kita menjadi tenang dan hanya dengan cara itu kita bisa ingat semua kewajiban yang harus kita jalankan dan semua larangan yang harus kita jauhkan,” kata Jaka.
“Benar Mas, lalu kita harus melakukan apa untuk menolong mereka Mas?,” tanya Dava.
“Sementara ini kita hanya bisa mendoakan mereka Dik tidak bisa berbuat banyak, karena belum ada perintah dari Sang Ketua yakni Haji Kasturi. Tentu beliau tengah berpikir dan tengah memohon petunjuk pada Sang Yang pemilik Jagat raya mengenai masalah ini,” kata Jaka.
“Apa kakakmu Putri sudah tidur?,” tanya Jaka mengganti topik pembicaraan.
“Sudah Mas tadi aku lewat kamarnya sudah tidak ada suara mungkin sudah terlelap,” jawab Dava.
“Kasihan dia karena melihat kondisi seperti ini, iya menjadi sangat sedih karena menghawatirkan kondisi keluarganya di kota Kediri,” kata Jaka.
“Bagaimana dengan kondisi kekasihmu Sari?,” tanya Jaka sekali lagi.
“Setelah tadi siang iya tersadar lalu sampai sore hanya melamun mungkin ia sangat terpukul mengingat peristiwa pembantaian keluarganya oleh Gendon. Sekarang ia sudah agak tenang tertidur pulas setelah di bantu minum obat penenang dari dokter,” jawab Jaka.
“Yah sungguh tragis nasib keluarga Bu Bidan Romlah, kenapa Gendon sampai sangat sadis seperti itu ya Dav. Padahal dulu Gendon yang kukenal sanggatlah alim di bawah asuhan Paklik Kardi,” kata Jaka.
“Yah hati orang siapa yang tahu Mas, untung saja tiga anggota T O H kemarin datang disaat yang tepat kalau tidak entah bagaimana nasib Sariku tersayang,” kata Dava.
“Oh iya, katanya Paklik sempat melihat sosok Mas Bagus ikut datang, apa itu benar?,” kata Jaka.
“Benar Mas aku melihat dengan mata kepala ku sendiri saat di panggil Gus Pendik untuk segera membawa Satu menjauh dari tempat kejadian kemarin,” kata Dava.
“Calon kakak ipar kita yang satu itu sungguh sangat istimewa, badanya memang tak seberapa tinggi dan ia pun jarang terdengar berkelahi namun kemampuannya di atas rata-rata anggota T O H yang lain, Dia juga termasuk dalam anggota T O H generasi pertama dan telah masuk sejak awal pembentukan T O H itu sendiri,” kata Jaka.
__ADS_1
Tiba-tiba saja di sela-sela percakapan Jaka dan Dava di sebuah ruang kosong atas atab rumah Haji Kardi. Terdengar suara tanpa rupa memanggil-manggil nama mereka berdua seraya mengucap salam.
“Assallamualaikum, Jaka, Dava,” kata suara tanpa rupa yang ternyata berasal dari Haji Kasturi bicara pada Jaka dan Dava menggunakan telepati.
“Tenang Dava, sebentar dulu ada suara.Apa kau juga bisa mendengarnya?," celetuk Jaka.
“Ia Mas aku mendengarnya,” ujar Dava.
“Waalaikumsalam guru,” jawab Jaka dan Dava serempak.
“Inilah suara dari Sang Pemimpin utama orang nomor satu di dalam organisasi T O H kita,” kata Jaka menjelaskan.
“Dava selamat bergabung di dalam organisasi pemburu kejahatan dan pemusnah kebatilan ini,” kata Haji Kasturi namun hanya suaranya saja sosoknya tiada di tempat.
“Ia guru mohon bimbingannya,” ucap Dava dengan rasa hormat dan berterima kasih.
“Soal bimbingan Jaka sudah cukup untuk membimbingmu, ia termasuk salah satu andalan di dalam organisasi kita, Jaka, Dava dalam saat gerhana bulan berikutnya tiba aku tunggu kalian di markas pusat tepian Waduk Rejosari di gubuk reot milikku. Kita adakan rapat kembali mengenai wabah ini,” kata Haji Kasturi.
“Baik guru kami akan datang,” sahut Jaka dan Dava.
“Pesanku berhati-hatilah kalian, Assalamualaikum,” kata Haji Kasturi mengakhiri percakapan di alam pikiran atau yang disebut telepati tersebut.
“Waalaikumsalam,” Jawab Jaka dan Dava.
_
_
_
__ADS_1