T O H

T O H
Suasana Latihan Wahyu


__ADS_3

Sehabis magrib berkumandang di pelataran rumah Gus Dwi. Oncor telah terpasang di setiap sisi beberapa buah terpasang pada batang-batang bambu kuning yang dibuat mengelilingi satu area kosong di tengahnya tertata rapi bujur sangkar setiap ujung oncor tersumpal kain basah oleh minyak tanah yang memang sebagai bahan bakar oncor telah dinyalakan semua.


Gus Dwi dan Gus Mamat tengah berdiri memusatkan mata dan pandangan pada titik tengah pas area kosong yang di kelilingi oncor. Tiba-tiba ada pusaran angin namun tak begitu besar tapi cukup untuk menghempaskan tubuh seseorang hingga terpental jauh. Angin terus berputar layaknya tornado namun masih setinggi orang dewasa.


“Lumayan Mas Dwi sudah ada perubahan anginnya sudah mulai bertenaga,” celetuk Gus Mamat memandang angin yang terus berputar dan masih berwarna keruh sebab masih terkontaminasi dengan dedaunan kering yang terbawa oleh pusaran.


“Menurutku dari usianya yang masih terbilang anak-anak terbilang sembilan tahun sudah bagus dapat melakukan putaran sepi angin seperti demikian,” timpal Gus Dwi sambil mangut-mangut melihat perkembangan sang keponakan dalam melakukan perubahan wujud dalam ilmu sepi angin.


“Wahyu tangkap ini?” teriak Gus Mamat melontarkan bambu kecil namun sepanjang sedepa dan telah diruncingi di bagian ujung-ujungnya ke arah putaran angin. Meluncur deras lurus kearah angin yang terus berputar layaknya angin tornado.


Tapi saat bambu kuning kecil begitu dekat pada putaran angin berubah menjadi sosok wahyu dengan tangannya menyahut bambu yang dilontarkan Gus Mamat. Setelahnya Wahyu membuat segel tangan selayaknya pada serial film manga negeri samurai dengan tetap bambu di tanggangnya tergenggam.


Setelah segel tangan diselesaikan muncullah dua Wahyu lain di samping Wahyu yang asli berada di tengah. Sama persis bentuk dan rupa serta kekuatan sama besarnya. Kini Wahyu memperagakan beberapa jurus andalan yang diajarkan Gus Mamat dan Gus Dwi para petinggi grup Alif kota Serang.


“Hem sudah tambah satu lagu ya bayangannya bagus juga, cepat ya perkembangan Wahyu Mas?” tanya Gus Mamat masih memperhatikan Wahyu yang tengah berlatih memperagakan beberapa jurus dengan dua kloning bayangan.


“Siapa dulu Omnya, hehe” cetus Gus Dwi membanggakan diri bahwa kehebatan Wahyu dalam pemahaman kecepatan menangkap pelajaran kanuragan adalah karena iya Omnya.


“Halah yah enggak loh, ya karena Wahyu anak dari pasangan hebat Jaka dan Putri penjaga kota Jombang yang sangat sakti,” ucap Gus Mamat mengelak dengan memberi pernyataan berbeda.


“Em, baru saja diomongin panahnya sudah sampai sini,” celetuk Gus Dwi sedikit menghindar dengan seketika menangkap sebuah panah cahaya yang terlontar secara tiba-tiba begitu kencang dan deras.

__ADS_1


Andai bukan Gus Dwi yang dituju tentu sudah tertusuk bahkan tertembus panah lalu hancur sebab panah cahaya itu adalah milik Jaka yang berdaya hancur bak bom nuklir siapa saja yang terkena lontaran entah itu setan, jin, siluman, monster bahkan manusia pasti hancur lebur menjadi api.


“Awas Gus Mamat!!” teriak Gus Dwi mengingatkan Gus Mamat untuk menghindar sebab terlalu cepat dan beratnya panah walau berukuran kecil namun sudah pasti tak sembarangan bisa menangkap cepatnya panah yang melontar seakan sama dengan kecepatan roket nasional suatu negara.


“Wuih dasar Jaka, tak sanggup aku menandingi kehebatan tokoh utama kota Jombang ini dari dulu kawan kecilku satu ini memang terkenal begitu hebat, masak bisa memanah dari Jombang Jawa Timur sampai kota Serang,” ucap Gus Mamat sambil meloncat menghindar.


Panah sudah tergenggam oleh Gus Dwi di pucuk panah ada sebuah kertas kecil bertulis tangan oleh Jaka. Namun tak sembarangan orang jua dapat membaca tulisan Jaka sebab membacanya harus memakai mata penerawangan spesial yang hanya dimiliki oleh keturunan clan keluarga Ki Dalang Sakri kakek buyut pertama dari keluarga almarhum Abah Wachid.


“Apa isinya Mas?” tanya Gus Mamat menjadi penasaran.


Wahyu yang sedari tadi tengah melakukan beberapa gerakan jurus silat dengan dua kloning bayangan kembali mempersatukan kloning bayangan pada satu tubuh kembali. Lalu menghampiri Gus Dwi dan Gus Mamat yang tengah membaca surat kecil dari Ayahnya.


“Em, hooh, eem iya benar,” ucap Gus Dwi sambil memegang dagu dan dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan membaca surat kecil dari Jaka sedangkan panah yang dibuat sebagai wadah pengantar surat telah dibakar oleh Gus Dwi sebab panah seperti itu hanya bisa sekali pakai saja.


“Oalah Om kok Cuma aem, aem, saja sambil mangut-mangut, apa isinya kok Wahyu kan penasaran?” rengek Wahyu sambil menghardik-hardik tanah.


“Hahaha, ya begitulah kelakuan Om mu Wahyu aneh,” tawa Gus Mamat menyeringai menertawakan Wahyu yang merengek.


“Ini loh Wahyu Ayahmu bilang dua keponakanmu sudah lahir, dari anaknya Ommu Bagus alias Pak Bupati Jombang saudaramu laki-laki bernama Dewa dan keponakanmu dari Ommu Dava bernama Elang laki-laki juga,” kata Gus Dwi memberitahukan isi surat.


“Woi sudah lahir ya generasi penerus T O H, wah seru nih kita jadi semakin tua ya, hahaha,” tawa Gus Mamat terbahak sambil bertolak pinggang merasa geli sebab usianya dan para generasi kedua dari pergulatan dunia pendekar semakin tua saja.

__ADS_1


“Yei, asyik, Adik-adikku sudah lahir, Asyik, Asyik, Asyuek,” teriak Wahyu sambil melonjak kegirangan lalu menari-nari sambil menggerak-gerakkan bokongnya.


“Ayo-ayo latihannya istirahat dahulu, ini pisang goreng dicicip dulu dan minumannya di minum dulu mumpung masih hangat,” ucap Mbak Hajah Sakinah istri dari Gus Dwi yang datang dari dalam rumah membawa sepiring penuh berisi pisang goreng dan tiga gelas berisi dua seduhan kopi hitam dan satu gelas berisi seduhan susu dibawa diatas nampan lalu diletakkan pada potongan kayu berdiameter besar yang tergolek di tengah-tengah ruang kosong yang dibatasi barisan oncor.


Sengaja potongan kayu berjenis gaharu diletakkan Gus Dwi ditengah-tengah sebagai alat latihan dan jua berfungsi sebagai tempat makanan yang disajikan sang istri.


“Wahyu ini susumu Nak, Gus Mamat kopimu, Mas kopimu ini loh mumpung masih panas,” ucap Mbak Hajah Sakinah meletakkannya diatas potongan kayu setinggi setengah meter di depannya.


“Asyik mimik susu,” teriak Wahyu menghampiri tantenya seraya mengambil segelas susu dan meraih pisang goreng diikuti oleh Gus Mamat dan Gus Dwi disampingnya meraih segelas kopinya masing-masing.


“Ada kabar apa Mas dari Jombang?” tanya Mbak Hajah Sakinah pada sang suami.


“Ini loh Dek keponakan-keponakan kita lahir dengan selamat walau ya ada gangguan-gangguan kecil lah biasa lah para setan kan sukanya mengganggu manusia,” ucap Gus Dwi menyeruput kopi hitam di tangannya.


“Oh sudah lahir toh, laki apa perempuan Mas?” tanya Mbah Hajah Sakinah merasa ingin tahu.


“Semua jagoan Dek,” jawab Gus Dwi seraya mengunyah pisang goreng di mulutnya.


“Alhamdulillah apa pun jenis kelamin yang diberi oleh Allah. Itulah Rizki yang dititipkan yang penting mereka semua lahir dengan selamat dan ibunya juga selamat dan Ayahnya yang menjaga juga selamat,” celetuk Mbak Hajah Sakinah duduk di potongan kayu yang lebih kecil yang diletakkan di samping-samping potongan kayu yang lebih besar yang di buat menaruh makanan olehnya dan dipasang melingkar.


Kehangatan sore keluarga Gus Dwi begitu sangat akrab. Seperti itulah kegiatan Wahyu kala sore bersua latihan bersama para guru besar yang sangat sakti di kota Serang namun tidak seperti pendekar lain yang sangat jemawa dan sombong. Gus Dwi dan Gus Mamat tampak seperti orang biasa padahal merekalah Duo emas kota Serang.

__ADS_1


__ADS_2