T O H

T O H
Dukun Pembawa Setan


__ADS_3

“Jaka........!!,” teriak Abah Wachid yang terbangun dari tidurnya oleh karena sebuah mimpi buruk tentang Jaka anaknya.


“Abah, Abah..., Abah,” Umi Epi yang sedari sore terus menunggui Abah disamping Abah berbaring mencoba menyadarkan Abah yang masih setengah terbangun.


“Jaka Umi, Jaka mana...?,” tanya Abah mencari Jaka dengan begitu cemas.


“Ada Apa Abah, Jaka malam ini sedang menginap di Pondok banyak urusan disana katanya,” Umi menjelaskan kepada Abah sambil menyeka keringat dikening dan leher Abah yang terus mengucur.


“Umi, Abah tadi melihat anak kita Jaka sedang di keroyok setan umi, setan itu berbagai macam bentuk dan rupa,” kata Abah menjelaskan apa yang ia lihat dalam mimpinya.


“Istigfar Abah, itu Cuma mimpi, kita berdoa saja semoga Jaka tidak menemui masalah di pondok, serahkan semua pada Allah, Insya Allah Jaka selamat,” kata Umi mencoba menenangkan Abah.


“Astagfirullah hal Adzim...,” kata Abah seraya mengambil nafas agak dalam melalui hidung lalu menghembuskannya kembali perlahan melalui mulut.


“Ia Umi benar kita serahkan semua pada Yang Maha Kuasa, semoga Jaka tidak apa-apa dan tidak ada halangan yang berarti,” kata Abah


“Aamiin...,” sahut Umi


. . . . . . . .


Ponpes As-Salam


“Hati-hati Dik Jaka,” teriak Ustad Khotib di tepian pagar pembatas antara asrama putra dan asrama putri.


Diantara dua gedung asrama tingkat dua tersebut memang terdapat tanah lapang seyogyanya dulu ditujukan untuk kegiatan santri di saat acara-acara besar seperti pengajian ataupun kegiatan rutin lainya.


“Ia Mas Jaka hati-hati,” teriak Ustazah Ratih.


Sementara Jaka yang sedang dikerumuni beberapa santri putra maupun putri yang sedang kesurupan ada sekiranya sepuluh santri lebih yang sedang kesurupan dan tengah melingkari Jaka hendak menyerang Jaka.


Ada yang kesurupan setan serupa harimau yang sering disebut qodam atau Jin penunggu. Ada yang kesurupan setan yang bertingkah laku layaknya monyet dan banyak lagi jenis setan lainya tengah merasuki tubuh para santri.


Jaka terus memasang kuda-kuda layaknya pendekar pencak silat di televisi. Sedangkan Ustad Khotib dan ustazah Ratih tengah berdiri di tepian pagar depan asrama santri Putri ditemani pak Malik yang tengah berjaga mengawasi sekiranya ada santri lain yang kesurupan lagi.


“Kok bisa terjadi seperti ini mas Ustad, bagaimana kejadiannya?,” tanya Pak Malik yang tidak tau menahu awal kejadian kenapa terjadi kesurupan masal dialami para santri.


“Awalnya kami tengah mengecek keadaan sekitar pondok Pak saat kami, saya dan Jaka hendak mengecek keadaan di asrama pondok putra, salah satu santri berteriak katanya ada yang kesurupan dan saat kami lihat santri tersebut sudah menempel di atab langit-langit kamar dengan mata terbelalak dan kepala yang terus diputar,” kata Ustad Khotib.

__ADS_1


“Astagfirullah, kok bisa ngeri begitu Mas Ustad, maaf ya tadi bapak sedang mengecek keadaan depan pondok?,” kata Pak Malik.


“Tidak apa-apa pak bukan salah bapak, ini kejadian di luar nalar kita,” kata Ustad Khotib.


“Itu Mas Jaka jatuh, tolongin dong kasihan Mas Jakanya ya Allah,” teriak Ustazah Ratih melihat Jaka yang sedang dikeroyok santri yang tengah kesurupan dan terpental terkena pukulan salah satu dari santri yang kesurupan.


Namun tidak ada yang berani menolong atau mendekat sekalipun, karena ketakutan bercampur ngeri. Para santri dan santriwati yang lain hanya berani melihat sebatas di balik pagar pembatas Aula.


“Ya Allah Mas Jaka itu loh gimana, tolongin toh,” kata Ustazah Ratih merengek pada Ustad Khotib namun Ustad Khotib juga ketakutan dan tak berani mendekat.


Kini terlihat Jaka tengah tersungkur ke tanah dan masih di kerumuni santri yang kesurupan.


Keadaan Jaka sedang serba salah ia mau mengeluarkan jati diri ia yang sebenarnya takut ketahuan banyak orang karena ia dan anggota dari organisasinya yang lain sudah berjanji merahasiakan siapa mereka. Kini ia hanya bisa mengandalkan ilmu beladiri yang diajarkan Abahnya.


Akibatnya Jaka yang seharusnya dapat dengan mudah mengatasi setan berapa pun Jumlahnya. Kini tersungkur tak berdaya di kerumuni setan yang merasuki para santri dan nampak ngos-ngosan kelelahan.


Ustazah Putri terus merengek pada Ustad Khotib sambil terus memukul-mukul Ustad Jaka namun tidak begitu keras karena refleks antara khawatir dan cemas melihat Jaka yang tengah dalam kondisi babak belur.


“Itu loh Mas Ustad Khotib, Mas Jakaku cepat ditolongin,” kata Ustazah Ratih yang mulai menangis tak tega melihat Jaka.


Hahaha... haha.. ha... hahaha...ha... ha... ha...


Tiba-tiba terdengar suara tertawa terbahak-bahak dengan kencang bersamaan itu seseorang yang datang dengan berlari begitu cepat seakan orang itu sebentar menghilang sebentar ada menuju tempat Jaka yang tengah beradu fisik dengan para santri yang kesurupan.


“Loh, loh, loh... itu siapa Mas Ustad kok pakaiannya kayak dukun gitu?,” kata Ustazah Ratih.


“Mana-mana, mana enggak kelihatan, mana sih...?,” tanya Ustad Khotib melongok kesana-kemari mencari sosok orang yang dikatakan oleh Ustazah Ratih.


“Oh iya itu Mas Ustad itu ada orang jalanya cepat sekali, datang dari arah gerbang, oh aku tau siapa dia Mas,” kata Pak Malik.


“Siapa Pak Malik...?,” tanya Ustazah Ratih.


“Dia itu Pak Wiro Mbak Ustazah Ratih, dukun terkenal dan terkemuka di kampung sebelah. Dia memang tidak suka dengan keberadaan pondok ini,” kata Pak Malik.


“Kok ada orang yang tidak suka di sekitar tempat tinggalnya berdiri pondok heran aku,” kata Ustad Khotib.


“Desas-desus kabar dari masyarakat sih katanya sejak pondok ini didirikan jadi tidak ada yang mintak bantuan kepadanya. Mungkin iya merasa lapangan rezekinya hilang gara-gara pondok ini didirikan,” kata Pak Malik.

__ADS_1


“Kok ada orang seperti itu, pekerjaannya yang sepi kok nyalahin pondok,” kata Ustad Khotib.


“Loh dia bawa apa itu, keris ya Mas mau apa dia bawa keris kearah Mas Jaka, mbok tolongin toh itu mas Jaka, pak Malik tolongin Mas Jaka?!,” kata Ustazah Ratih kali ini merengek pada Pak Malik.


“Saya takut Mbak Ustazah, tidak berani Pak Wiro orangnya sakti Mandra guna, saya takut Mbak,” kata Pak Malik.


“La terus siapa yang bantu Mas Jaka itu?,” kata Ustazah Ratih.


Sementara itu sosok dukun yang datang membawa keris bernama Pak Wiro mendekati Jaka yang tengah terkapar.


Dengan cepat ia sudah berada didepan Jaka dan dengan satu tangan layaknya orang memukul tapi tanpa menyentuh ia menghentakkan tangan kanan kearah Jaka.


Seketika Jaka terpental jauh hingga tubuhnya terbentur pagar pembatas asrama pondok putri.


Gubrak....


Jaka nampak meringis kesakitan terduduk lemas tak berdaya, “Loh Mas Jaka....,” teriak Ustazah Ratih.


“Hai dukun jangan sakiti Mas Jaka,” teriak Ustazah Ratih sekali lagi kini terlihat air matanya mulai mengucur deras.


“Hiks.., hiks.., Mas Jaka....., tolongin Mas Jaka Pak Malik, Mas Ustad Khotib tolongin Mas Jaka,” Ustazah Ratih terus berteriak dan menangis meminta tolong.


Seakan tak menggubris teriakan Ustazah Ratih dan santriwati yang lain. Pak Wiro terus mendekati Jaka dan langsung mengangkatnya dengan tangan kiri sedangkan ditangan kanannya memegang sebilah keris yang siap menghunus tubuh Jaka.


“Jaka..., Kau harus menerima akibat dari perilaku Abahmu dulu yang pernah membuat teman-temanku mati, kau harus kuhabisi sekarang agar Wachid tau betapa ngerinya kehilangan orang yang ia cintai,” kata Pak Wiro.


“Aku tau kau dan teman-temanmu itu adalah kelompok persatuan para dukun pembawa setan. Bukan salah Abahku kalau kalian dimusnahkan oleh kelompok T O H terdahulu,” Kata Jaka yang sedang babak belur ditangan Pak Wira.


“Ah..., banyak omong kau Jaka sama seperti Abahmu, terimalah ajalmu di tanganku,” teriak Pak Wiro seraya menghunuskan sebilah keris menuju tubuh Jaka.


“Mas Jakaaaaaaaa........!!,” teriak Ustazah Ratih santri yang lain.


_


_


_

__ADS_1


__ADS_2