T O H

T O H
Kotang Antakesuma


__ADS_3

Tak,


Duar,


Lap,


Duar,


Srot,


Duar,


Suara-suara benturan antara pukulan-pukulan Jaka dengan trisula panglima iprit terus berbenturan di langit. Seakan badai kilat menyambar mengurung Dukuhan Banjar Kerep walaupun malam sedang cerah-cerahnya tanpa ada mendung dan hujan.


Jaka dan panglima iprit saling berhadapan, Jaka degan kulitnya seakan seperti baja dan panglima iprit dengan tongkat trisula emasnya kali ini nampak saling menangkis serangan satu sama lain agak lama.


Sehingga mengeluarkan kilat yang menyambar berturut-turun yang berpusat pada benturan serangan mereka.


“Jaka aku sudah lama menunggu hari ini tiba. Bertahun-tahun yang lalu kalau saja bukan karena Haji Wachid datang menolongmu tentu Wewe gombel yang aku perintahkan untuk menghabisi mu saat masih bayi pasti berhasil melenyapkan mu,” kata panglima iprit sambil melepaskan serangannya.


“Jadi semua itu ulah mu kau memang keturunan iblis. Kau tak pantas berkeliaran di muka bumi ini,” ucap Jaka


“Kau tahu kau adalah halangan terbesar kami para jin kafir untuk menyesatkan manusia. Karena kau terlahir yang ditakdirkan menjadi pemusnah golongan dari kami,"


"Maka dari itu sedari kau lahir aku terus mengirimkan beberapa setan untuk menghabisi mu dan beberapa orang di sekitarmu. Yah benar Wewe gombel, bayi bajang, Dewi penari, dan genderuwo pohon sawo itu semua sebenarnya aku yang memerintah mereka dengan perantara-perantara manusia yang bersifat layaknya setan dengan segala keserakahannya,” ucap Panglima iprit kembali melancarkan serangan pada Jaka dan kembali Jaka menangisnya dengan telak terus seperti itu.


“Kau memang sungguh keji iprit, kau selalu menjerumuskan manusia ke lembah hitam,” ujar Jaka yang mulai menampakkan sebuah baju zirah, baju pelindung layaknya rompi Gatot Kaca atau baju rajah Sunan Kali Jaga yang sering di sebut baju pelindung kotang antakesuma.


Panglima iprit begitu terkejut melihat baju zirah yang melekat di tubuh Jaka. Matanya terbelalak seakan tak percaya.


Dan bertanya-tanya kenapa Jaka pun memiliki baju Kotang antakesuma sama seperti yang di miliki Haji Wachid padahal Jaka bukan asli darah dagingnya.


Karena baju itu tidak akan mampu panglima iprit tembus sekalipun ia mengerahkan semua kekuatan ataupun seluruh pasukan ipritnya.

__ADS_1


“Kenapa baju zirah itu ada padamu? Bukankah kau bukan anak dari Haji Wachid?” teriak panglima iprit.


Namun belum selesai ia menutup mulutnya dari lontaran kata-katanya. Sebuah tendangan keras dari turun mengenai tubuh panglima iprit seakan sebuah meteor yang jatuh dari langit sebuah tendangan dari kaki Haji Wachid dengan kaki yang menyala-nyala seperti api.


“Jaka adalah anak ku dan selamanya akan seperti itu,” teriak Haji Wachid


Yang baru datang langsung melayangkan tendangan besinya yang tanpa batas dari langit membuat tubuh panglima iprit hancur lebur tak bersisa namun karena kesaktiannya seakan serpihan-serpihan dari tubuh panglima iprit bisa hidup dan menyatu utuh kembali.


“Sudah ku duga kau pasti datang membantu anakmu ini hai Wachid,” teriak Panglima iprit.


“Kita berjumpa lagi iprit sudah sekian lama sejak saat itu saat kau membunuh seluruh keluarga adikku lurah Mojokembang. Sejak perkelahian kita malam setelah kematian adik lurah saat kau datang berkunjung ke rumah hendak menculik Jaka bukankah saat itu aku sudah membinasakan mu,” ucap Haji Wachid.


“Heh, belum tau dia, selama masih ada manusia yang ingkar kepada Allah aku akan selalu hidup di hati mereka dengan kemusyrikan akibat bujuk rayuku, Hay Wachid kenapa kau turunkan baju pelindung itu pada Jaka?" teriak Panglima iprit menggelegar dengan kemarahannya.


“Kau memang sudah pikun iprit kau rupanya juga buta warna tidak dapat membedakan mana baju pelindung yang ada di tubuhku yang berwarna emas dan baju pelindung di tubuh Jaka yang berwarna perak,” kata Haji Wachid


Yang dengan tiba-tiba memunculkan aura keemasan membentuk sebuah baju pelindung layaknya yang berada di tubuh Jaka bedanya kali ini berwarna emas.


“Siap Abah,” ucap Jaka melesat dahulu memulai serangan mendahului Haji Wachid di susul Haji Wachid berlari beriringan dengan Jaka.


Duar,


Tubuh Panglima iprit kembali hancur terkena pukulan Jaka dan tendangan besi dari Haji Wachid.


“Jaka mantra segel kantong Semar,” teriak Haji Wachid agar Jaka mengeluarkan sebuah kantong emas mirip kantong uang jaman dahulu peninggalan Kakek buyutnya yang bernama Kiai Para.


“Baik Abah,” teriak Jaka dengan sigap membuka tali ikatan kantong Semar terhisablah sosok panglima tertinggi jin iprit masuk kedalam kantong Semar.


Sekali suatu makhluk baik itu ghoib atau manusia tak akan dapat kembali keluar bila terjebak di dalam kantong Semar. Layaknya bunga kantong Semar yang memakan serangga begitupun senjata ini berfungsi.


“Allhamdulillah,” ucap Jaka karena telah berhasil mengatasi perlawanan Panglima iprit.


Dengan musnahnya panglima jin iprit bersama itu pula menyeluruh seperti ledakan bom atom yang menghempas kota Nagasaki dan Hiroshima seluruh antek-antek jin iprit yang sedari tadi mengubah alam mimpi para warga ikut hancur lebur bagai debu.

__ADS_1


“Nak janganlah kau terpengaruh dengan omongan setan seperti iprit. Karena sampai kapanpun kau akan dikenal orang sebagai Jaka bin Haji Wachid,” ucap Haji Wachid memeluk Jaka penuh kasih sayang.


“Ia Abah siapa pun dia entah dia anak seorang yang sakti mandraguna atau dari turunan trah kerajaan sekalipun bila Allah tak memberi ijin membawa pengetahuan yang Maha Luas ini. Maka dia tak akan menjadi sesuatu, sebaliknya walau dia anak orang biasa tapi dia selalu berusaha mencintai sepenuh hati Allah dan Rasulullah tentu Allah akan memberikan ganjaran yang setimpal akan cintanya benarkan Abah,” ucap Jaka masih dalam pelukan Haji Wachid.


“Benar anakku, wah yang akan menjadi seorang ayah ternyata sudah memiliki pemikiran yang semakin dewasa,” ucap Haji Wachid merasa bangga.


“Sekarang tinggal adik mu Dava, semoga Dik Kardi tidak terlambat menolongnya,” ucap Haji Wachid melepaskan perlahan pelukannya pada Jaka.


“Kalau begitu Abah pulanglah aku akan pergi menolong Dava, aku masih memiliki perhitungan dengan Si Sultan,” ucap Jaka.


“Baik Nak berhati-hatilah, karena Sultan seperti ayahnya mempunyai seribu akal licik dan tipu muslihat,” kata Haji Wachid.


“Eh tapi bentar deh Abah, kok bisa aku memiliki berbagai macam senjata dari kakek buyut kapan beliau mewariskannya?” tanya Jaka heran.


“Suatu saat kau pasti mengetahui saat beliau menemuimu langsung,” ujar Haji Wachid.


“Tapi Kakek Buyut kan sudah lama meninggal Abah. Bagaimana mungkin beliau bisa menemuiku?” ucap Jaka masih penasaran dengan perkataan Abahnya.


“Bocah gemblong makanya kalau diajari mengaji sama kakakmu Vivi dan istrimu Ndok Putri jangan tidur melulu. Begini jadinya telat mikir kan kamu akhirnya malu dong sama istrimu itu yang pemahamannya luas tentang syariat,” ucap Haji Wachid menjewer kuping Jaka.


“Aduh, aduh, ia ampun Abah,” teriak Jaka kesakitan.


“Walaupun orang sudah meninggal itu belum tentu benar-benar meninggal. Bagi beberapa orang yang dahulu semasa hidupnya berbakti pada Sang Pencipta dan selalu cinta Rasulullah dia di beri keistimewaan Karomah di masa hidup begitupun saat sudah tiada dia diberi jatah tujuh syafaat untuk mengingatkan tujuh generasinya agar tak salah jalan. Oo bocah gemblong sudah sana tolong adikmu Dava?” ucap Haji Wachid.


“Ia, ia, Jaka pergi dulu Abah titip salam sama Umi kalau Jaka pulang jangan lupa tumis kangkung, hehe,” kata Jaka sambil mengentakkan kaki lalu melesat pergi namun beberapa saat turun kembali.


“Apa lagi,” kata Abah Wachid request apa lagi sambal tumpang gitu, ada panglima perang request makanan, kalau enggak kamu itu Jaka,” ucap Haji Wachid.


“Enggak Abah belum Salim, hehe,” ucap Jaka seraya menyalimi tangan Haji Wachid lalu kembali pergi berlari.


“Hati-hati di jalan Abahku Sayang Assalamualaikum,” ucap Jaka sambil meloncat menjauh menuju tempat Dava.


“Waalaikumsalam nih anak kok jadi mirip aku dulu ya hehe,” ucap Haji Wachid tersenyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2