T O H

T O H
Ketika Salat Tak Bisa Diganggu Gugat


__ADS_3

Ada satu sosok pemuda tengah hikmat dalam awalan takbir untuk memulai Shalat dua rakaat subuhnya. Sosok berbadan tegap dan proporsional tengah dibalut sarung bermotif batik tulis Pekalongan. Memakai baju kokoh putih dan berpeci hitam.


Sosok berambut panjang sebahu, namun kali ini rambutnya diikat ke belakang. Demi agar tak mengenai kening saat sujud. Sebab sehelai saja rambutnya mengenai kening dikala iya tengah sujud. Hukumnya secara syariat adalah makruh.


Sosok pemuda tampan alami serta natural khas wajah Jawa. Tersemai teduh dengan basah dari air wudu beberapa saat lalu. Pada atas koran yang iya gelar dan iya fungsikan sebagai sajadah di atas batu besar. Sosok pemuda tersebut mulai khusyuk membaca niat Shalat subuh.


Sambil mengangkat kedua telapak tangan, sampai di samping ke dua telinga, agak ke belakang sedikit. Matanya mulai terpejam meresapi alunan gemercik air kali kecil di kanan dan kiri batu besar. Sebab batu besar terletak pas di tengah aliran kali kecil tengah sawah.


Wajahnya fokus arah kiblat, seakan seluruh tubuh dan hatinya mengikuti khusyuknya kalbu menghadap Allah. Angin semilir subuh membawa dingin menusuk hingga kulit ari. Bahkan bisa jadi sampai menyayat langsung pada tulangnya. Tiada menyurutkan tegak berdiri dari sikap sempurna awal rakaat subuh.


Terbilang di sebuah sudut belakang desa Guyangan, daerah kecamatan Kertosono tempat pemuda tersebut melaksanakan wajib dua rakaat fardu subuhnya. Keadaan masih samar-samar, tiada gelap dan tiada terang sekitarnya.


***


Niat salat subuh,


"Ushallii fardash-Shubhi rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa’an lillaahi ta’aalaa."


Artinya: Saya (berniat) mengerjakan sholat fardhu Shubuh sebanyak dua raka’at dengan menghadap kiblat, karena Allah Ta’ala.


***

__ADS_1


Terlantunlah bacaan biat salat subuh dari bibir sang pemuda. Penuh keyakinan langit dan sesuai syariat Islam. Sehingga si pemuda memulai salatnya tanpa keraguan.


“Allahuakbar, Bismillahirahmanirahim,” bibir sosok pemuda di atas batu mulai melafazkan takbir gerakan pertama Shalat penuh keseriusan.


Takbir pertama sang pemuda, bukanlah lafaz takbir biasa rupanya. Sebab kata Allahuakbar yang terlantun rapi dari bibir merah agak kehitaman dari Si Pemuda. Tampaknya menggetarkan alam sekitar. Air mulai agak membuat getaran, seakan ada guncangan sedikit dari riak gemercik alirannya di sekitar batu besar.


Tanaman semak belukar di kanan dan kiri tepian kali. Seakan tersapu oleh gelombang lingkaran, namun memiliki tekanan frekuensi agak tinggi. Sehingga membuat tanaman semak belukar di tepian sungai menyibak, membuat lingkaran. Ada pula yang sampai terangkat ke atas lalu jatuh lagi ke bawah.


***


اللهُ اَكْبَرُ كَبِرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَشِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا . اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَالْااَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ . اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ . لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَ لِكَ اُمِرْتُ وَاَنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ .


“Allahu akbaru Kabiira Walhamdulillaahi Katsiiraa, Wa Subhaanallaahi Bukratan Wa’ashiilaa, Innii Wajjahtu Wajhiya Lilladzii Fatharas Samaawaati Wal Ardha Haniifan Musliman Wamaa Anaa Minal Musyrikiin. Inna Shalaatii Wa Nusukii Wa Mahyaaya Wa Mamaatii Lillaahi Rabbil ‘Aalamiina. Laa Syariikalahu Wa Bidzaalika Umirtu Wa Ana Minal Muslimiin.”


***


Sosok pemuda di atas batu mulai melantunkan doa iftitah. Sebagai awal bacaan salat setelah takbir pertama. Namun agaknya para penghuni gaib sungai dimanah tempat batu besar yang digunakan si pemuda salat.


Tiada menerima akan keberadaan si pemuda, mereka merasa terganggu akan gelombang aura, pancaran dari hawa salat fardu si pemuda. Sebab aura salat si pemuda membuat mereka seakan terbakar.


“Hai saudaraku sesama bangsa jin dan setan tepi sungai. Kita adalah pemilik area sepanjang aliran sungai ini. Kenapa kita takut pada manusia itu yang baru singgah. Lalu ia mengganggu kita seakan hawa dari tubuhnya hendak membakar seisi gaib tepi sungai. Apakah kalian takut dengannya, jikalau kalian takut pergilah bersembunyi. Namun apabila kalian berani ikut denganku untuk membunuh pemuda tersebut,” teriak salah satu jin bertitel kepala suku dari sekian banyak jin tepian sungai.

__ADS_1


Ajakan jin kepala suku rupanya membagi klan jin dan setan tepi sungai menjadi dua kubu. Kubu pertama adalah kubu jin yang takut akan hawa manusia tengah salat, khususnya si pemuda yang tengah salat di atas batu besar tengah sungai. Lalu mereka lari tunggang-langgang mencari persembunyian.


Kelompok kedua adalah kelompok setan. Mereka malah bersiap membawa senjata-senjatanya. Mempersiapkan diri seolah mereka hendak menghadapi peperangan dahsyat dengan bangsa manusia.


“Mari saudaraku sesama jin tepi sungai. Kita binasakan manusia itu, sebab iya telah mengusik ketenangan kita!” teriak jin kepala suku mengomandoi separuh jin dari jumlah semula yang mengikutinya.


“Mari kepala suku kita libas manusia itu. Salah sendiri dia salat di tempat kita. Bukankah manusia sudah membangun tempat peribadatan yang layak untuk salat menyembah Tuhannya? Kita serbu segera kepala suku,” teriak beberapa jin tepi sungai terbang lurus ke arah si pemuda yang telah sampai pada sujud di rakaat pertama.


“Allahuakbar


“Allahuakbar Subhana Rabbiul Akla Wabi Hamdih,” doa kala sujud telah terlafazkan mengudara keluar dari sela-sela bibir si pemuda.


Namun kelompok jin tepi sungai masih terus terbang dengan persenjataan lengkap. Lurus menuju si pemuda, hendak membinasakan si pemuda yang tengah salat. Namun belum sampai sejengkal mereka mendekat. Tiba-tiba seluruh anggota jin kepala suku tepi sungai musnah. Mereka seakan terbakar oleh hawa panas yang keluar dari sela sujud si pemuda. Habis tak bersisa hingga menjadi abu.


Si pemuda seakan tiada peduli dengan suasana sekitarnya, ia tetap melangsungkan dua rakaat subuh sesuai urutan yang disyariatkan. Seakan ia hanya fokus pada salat dan Allah saja. Seakan ia telah pasrahkan semuanya pada Sang Pencipta. Si pemuda seakan begitu yakin akan perlindungan Allah setiap ia melaksanakan wajib fardunya.


Akhirnya si pemuda mengakhiri dua rakaat subuh dengan dua kalimat salam, “Assalamualaikum Warahmatullah, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”


Lalu membasuh muka dengan kedua telapak tangannya. Menandai bahwa telah usai dua rakaat fardu subuh olehnya. Lalu satu persatu si pemuda melepas pakaian khusus yang selalu ia gunakan melaksanakan kewajiban pada Allah. Si pemuda tampak melipat baju kokoh putih dan sarung warna hitam bercorak batil pekalongan miliknya. Perlahan ia masukkan baju kokoh, sarung dan peci ke dalam tas ransel yang ia letakkan di sampingnya sedari awal.


“Alhamdulillah Hirabbil Alamin, sudah selesai salat subuh. Terima kasih Ya Allah atas waktu yang kau berikan untukku. Baiklah kalau begitu aku akan kembali melanjutkan perjalanan pulang ke Jombang,” ucap si pemuda tampak membersihkan celana pendek dan kaos yang ia kenakan, yang beberapa saat lalu ia rangkap dengan baju kokoh dan sarung saat salat.

__ADS_1


“Bismillah, Ayah Jaka tunggu anakmu. Umi Putri aku kangen sekali sama Umi,” ucap si pemuda melesat tinggi selayaknya sebuah rudal ke arah kota Jombang. Tepatnya menuju sebuah desa tempat kelahirannya di tepian kota Jombang bernama desa Mojokembang.


__ADS_2