T O H

T O H
Penyergapan Hari Pertama


__ADS_3

Malam selanjutnya di area persawahan tepatnya di tepian hutan bambu desa Mbadas. Beberapa santri tengah bersiaga diatas pohon-pohon bambu yang nampak lebat.


Mereka mendirikan panggung-panggung diantara pohon bambu dengan sekelilingnya ditutupi dedaunan bambu itu sendiri agar tidak terlihat dari bawah.


Mereka berjaga untuk menghalau datangnya para siluman babi seperti yang disampaikan Jaka kemarin malam. Dengan bekal beberapa pucuk bambu runcing yang dilancipkan di ujung batangnya mereka terus mengintai keadaan di sekitar persawahan.


Ada kabar yang beredar babi siluman ini hanya mampu dimusnahkan dan dibunuh apabila ditusuk oleh bambu Petong saja. Yang kebetulan banyak tumbuh di sekitar hutan desa Mbadas.


“Bagaimana Gus Jajak apa sudah terlihat pergerakan mencurigakan dari balik tanaman-tanaman padi itu?" tanya Gus Tato pada Gus Jajak yang tengah mengintip dari sela-sela dedaunan bambu yang dipasang berdiri mengitari panggung.


“Belum Gus Tato padahal ini sudah hampir pagi, apa mereka mengurungkan niatnya untuk menyerang kemari?” ujar Gus Jajak


Merasa heran kenapa belum jika muncul satu ekor babi pun dari balik rimbunnya tanaman padi yang menguning hampir panen di bawah mereka.


“Entahlah Gus, tapi firasatku berkata malam ini mereka akan datang. Dan tentunya informasi dari Mas Jaka tentu tidak akan meleset, karena posisi kota Jombang toh berada di timur jauh dari sini. Tentu mereka sudah di serang dahulu oleh gerombolan babi ini,” ujar Gus Tato memaparkan logikanya.


“Bagaimana dengan yang lainya, bagaimana keadaan dari sisi yang lain?" tanya Gus Jajak memastikan keadaan dan kondisi para santri yang lain.


Karena hampir seluruh santri yang mumpuni ikut serta dalam penyergapan malam ini. Mungkin kalau dihitung seratus lebih santri yang datang tadi sore ikut apel pengarahan yang dipimpin Haji Hadi.


“Pak Haji Hadi sedang berada di panggung tengah barusan aku kesana, untuk mengecek kondisi, dari sana pun belum terlihat aktivitas yang mencurigakan dari arah sawah,” kata Gus Tato.


“Terus para santri yang berjaga di bawah bagaimana?” ujar Gus Tato kembali bertanya.


Ada sebagian santri yang tengah berjaga di bawah yang tengah bersembunyi di dalam parit-parit yang di gali oleh para santri tadi pagi.


Mereka bersembunyi di dalam parit yang ditutupi beberapa bilah batang bambu dan di atasnya ditaruh dedaunan bambu kering untuk menyamarkan parit agar tidak diketahui keberadaannya.


Mereka juga dibekali dengan senjata bambu runcing dari jenis bambu petong dengan tujuan kalau sang babi siluman melintas dapat langsung Menghujam perutnya dari bawah parit.


“Ini baru saja aku dari bawah Gus, mereka yang berhadapan langsung dengan hamparan sawah belum juga melihat pergerakan yang mencurigakan,” ujar Gus Tato.


“Ini Jam berapa sudah hampir subuh loh Gus, kenapa mereka belum juga muncul?" ucap Gus Tato.


“Ya kebetulan kalau begitu Gus Tato kalau mereka tidak Jadi menyerang desa kita jadi aman dan hari ini kita bisa pulang tanpa ada yang terluka,” kata Gus Jajak.

__ADS_1


“Benar Juga ya Gus,” ucap Gus Tato.


“Tapi aku belum mengecek teman-teman yang memanjat pohon-pohon di tengah sawah, yang bertugas sebagai pengintai Gus. Dari tadi sore kan mereka sudah berada di sana malah ada yang sedari tadi pagi telah memanjat beberapa pohon di sana,” ujar Gus Tato.


“Gampang itu Gus, kan kita punya kode nyalakan saja senter yang Gus Tato bawa kearah salah satu pohon di tengah sawah itu satu kali berkedip yang artinya menanyakan kondisi di sana. Nanti kalau mereka membalas menyorotkan senter satu kedip pada kita berarti keadaan masih aman,” ucap Gus Jajak.


“Disana siapa yang menjadi pengarep alias Pemimpinya Gus?” tanya Gus Tato seraya menyorotkan senter ditangannya sekali kedip.


“Disana Gus Yahya yang memimpin,” jawab Gus Jajak.


“Oh ia, bukanya Gus Yahya itu berasal dari Jombang ya anak dari Gus Romli salah satu anggota T O H yang gugur?" Ucap Gus Tato.


“Benar Gus Tato, Makanya dia sangat antusias mengikuti penyergapan malam ini. Katanya hendak membunuh babi hutan sebanyak-banyaknya untuk balas dendam atas kematian bapaknya?" ujar Gus Jajak.


“Pantesan,” timpal Gus Tato


“Eh dibalas itu mereka menyorotkan senter satu kali Gus,” ucap Gus Tato yang melihat para santri yang tengah berada diatas pohon tengah-tengah sawah membalas sorotan lampu sekali ke arah Gus Jajak dan Gus Tato berada panjang tak jua di padamkan.


“Heloh sorot lampu senternya sih Cuma satu kali ya, tapi kenapa tidak dipadamkan coba intim Gus,” ucap Gus Jajak.


“Siapa-siapa yang jatuh Gus?" tanya Gus Jajak penasaran.


“Itu Gus Yahya yang baru saja kita bicarakan mati, mati itu Gus Yahya Ya Allah,” gerutu Gus Tato seraya menyalakan senter dan menyorotkannya ke atas pertanda musuh sudah datang.


“Innalilahi wainnailaihi raziun,” ucap Gus Jajak.


Haaaaar, Huwaaar, Argh,


Terdengar suara geraman begitu keras dari arah atas pohon tengah sawah yang semula di tempati Gus Yahya nampak bergoyang kencang seperti ada yang menggoyangkan.


“Allahuakbar, hiiiii, suara apa itu Gus ngeri loh Gus,” ucap Gus Tato dalam posisi bersiap.


Lalu terdengar teriakan beberapa santri yang meneriakkan untuk semua santri agar bersiap.


“Bersiap semua mereka datang, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar,” ucap beberapa santri menyerukan takbir.

__ADS_1


Buk, Kresek, Kerosak,


Kerosak,


Aaaa,


Terlihat ada satu lagi santri yang jatuh dari atas pohon tengah sawah kali ini dibarengi dengan Suara jeritannya.


“Woi bantu kedepan itu kasihan yang berada di tengah sawah,” ujar salah satu santri.


“Laillahaillah Gus itu tadi yang jatuh barusan kayak badanya saja yang di jatuhkan kepalanya tidak ada Gus, mati itu anak orang Ya Allah,” gerutu Gus Jajak.


Dan sebuah lontaran batang pohon dilontarkan dari arah atas pohon tengah sawah menuju tempat Gus Jajak dan Gus Bari berada.


Kerosak,


“Hiya, benar katamu Gus tadi yang jatuh Cuma badan saja lah ini kepalanya,” ucap Gus Tato melihat sebatang kayu yang dilontarkan


Ternyata diujung batang menancap sebuah kepala dari Gus Yahya dengan keadaan mata mendelik dan lidah menjulur layaknya orang tercekik dan lehernya terputus seperti tercabik mendarat pas di tengah-tengah Gus Jajak dan Gus Tato berada sehingga membuat beberapa santri yang ikut di belakang mereka teriak kaget.


“Innalilahi wainnailaihi raziun, semoga kau Gugur dengan ganjaran mati sahut Gus,” ucap Gus Tato menyeka muka dari kepala Gus Yahya agar terpejam dan lidahnya agar kembali kedalam mulutnya.


“Apa itu?” teriak salah satu santri.


“Hati-hati,” disahut teriakan dari santri lain.


Nampak ratusan babi datang menyusuri persawahan sehingga membuat tanaman padi nampak tak beraturan karena dilewati babi siluman.


Dan ada satu babi yang menyerupai manusia sedang berdiri tegak diatas pohon tengah sawah. Berbadan manusia namun memiliki bulu lebat dan kuku-kuku tajam dengan kepala berwujud babi hutan. Nampaknya dia adalah panglima perang dari para babi siluman terus menggeram dan menggoyang-goyangkan pohon yang ia naiki.


Gedebuk, Buk, Kerosak,


Beberapa santri yang berada di atas pohon tengah sawah berjatuhan kembali kali ini jatuh ke bawah dan langsung di sergap babi-babi yang terus berdatangan lalu mengoyak-oyak tubuh santri yang terus berjatuhan.


Aaaa, Aaaaa,

__ADS_1


Jeritan-jeritan santri tersebut menambah kengerian malam semakin mencekam. Padi yang semula berwarna kuning kini bagaikan lautan darah berwarna merah dari cipratan-cipratan darah yang ditimbulkan dari tubuh-tubuh para santri yang tengah dinikmati oleh gerombolan babi siluman layaknya tengah makan malam.


__ADS_2