T O H

T O H
Masa Kecil Dengan Kakek Buyut


__ADS_3

Masa Kecil


“Kakek Buyut Vivi mau tanya apa sih yang di lakukan dalang saat pentas pagelaran wayang biasanya. Kakek Buyut kan Dalang Vivi pengen tahu dong Kakek,” celetuk Vivi kecil yang tengah di gandeng Kakek Buyut Dalang Sakri di tangan kirinya sedangkan di tangan kanan Kakek Buyut Dalang Sakri tengah menggandeng Jaka yang asyik menjilat es krim di tangannya.


“Dalang adalah yang melakonkan wayang Ndok. Jadi yang menggerakkan semua wayang ya dalang. Semua wayang harus nurut apa kata dalang, mau di bawa kemana lakinya terserah dalang. Selagi lakon si wayang belum di katakan,"


"Wayang harus pasrah menunggu giliran di dalam kotak sampai di keluarkan untuk di mainkan. Setelah selesai pasti akan di ganti giliran lakon wayang yang lain dan si wayang yang lakonnya selesai di taruh lagi dalam kotak peti begitu seterusnya seperti kehidupan Ndok terus berputar seperti roda,” ucap Kakek Buyut Dalang Sakri menjelaskan.


“Oh begitu ya kek,” ucap Vivi nampak tak begitu mengerti dan memahami apa yang di terangkan oleh Kakek Buyut, matanya hanya tertarik pada es krim warna kuning yang terus di jilat Jaka di tangannya.


“Jaka bagi dong es krimnya?,” ucap Vivi dengan mata dan wajah seperti sangat ingin ikut menikmati segarnya es krim di tangan Jaka.


“Enggak mau Kak Vivi beli saja sana sendiri, week...,” ucap Jaka sambil terus mengejek Vivi dengan terus menjilat es krim seakan begitu nikmat.


“Jaka tadi kan Kakek Buyut suruh beli dua es krim kenapa kamu beli Cuma satu?,” ucap Kakek Buyut memandang Jaka.


“Tadi beli dua kok Kakek Buyut, tapi satunya sudah habis Jaka makan, hehehe...,” ucap Jaka yang sengaja menghabiskan es krim kesukaannya dengan tangan kecilnya yang masih menggandeng tangan Kakek Buyut. Dan satunya terus memegang es krim seraya menjilatinya sembari mengiming-imingi Vivi.


“Tuh kan Kek, Jaka memang begitu nakal. Vivi mau es krim kek, mau es krim,” ucap Vivi kecil merengek.


“ia, iya ayo pergi beli es krim nanti adikmu Jaka jangan di bagi,” ucap Kakek Buyut mencoba menenangkan Vivi namun Jaka cuek seolah tak menghiraukan sambil terus menjilat es krim di tangannya.


Setelah membeli es krim di toko makanan dan jajanan ringan tak jauh dari tempat mereka berjalan. Gerimis mulai turun membasahi jalanan desa yang belum jua di aspal oleh pemerintah masih berupa jalanan pasir yang apabila kemarau sangat berdebu.


“Kenapa turun hujan tidak biasanya. Inikan menjelang magrib firasatku jadi tidak enak?,” gerutu Kakek Buyut mempercepat langkah Kakinya sambil menggandeng Vivi dan Jaka yang masih begitu kecil dan lucunya sehingga belum mampu menangkap sinyal kekhawatiran sang Kakek Buyut.


Tetapi si kecil Jaka yang sudah sangat peka akan kehadiran makhluk astral walau ia masih sangat kecil nampak menghentikan langkahnya sembari bengong dan tercengang dengan apa yang ia lihat sehingga tanpa sadar es krim di tangannya terjatuh.

__ADS_1


“Kakek buyut itu makhluk apa?, Kok seperti hewan bertanduk dua di depan tapi berdiri seperti manusia, kenapa tubuhnya seperti mandi darah wajahnya seram ada taringnya lagi. Terus kakinya dan tangannya Cuma punya tiga jari kek, dia siapa ya kek kenapa menghalangi kita,” ucap Jaka menggambarkan detail sosok yang menghadang mereka untuk masuk ke dalam rumah dengan berdiri pas di depan pagar rumah.


“Mana Jaka tidak ada apa-apa kamu kalau bicara jangan suka menakuti aku begitu dong,” ucap Vivi yang karena ketakutan sehingga meminta gendong pada Kakek Buyut.


“Sudah jangan di lihat Jaka tutup matamu nak,” pinta Kakek Buyut karena Jaka kecil belum bisa mengontrol mata batin yang di anugerahkan oleh Allah kepadanya.


“Kakek Buyut orang ini sepertinya jahat biar Jaka bidik saja dengan katapel Jaka ya Kek,” kata Jaka yang secara tiba-tiba memegang sebuah katapel di tangannya.


“Loh kamu dapat dari mana itu katapel Jaka tadi kan tidak ada,” tanya Kakek Buyut yang heran melihat Jaka yang tengah mendapatkan katapel entah dari mana.


“Tadi ada bapak-bapak gila berjalan cepat kayak angin Kek memberiku katapel ini, sudah biar aku bidik saja orang jahat ini biar pergi,” ucap Jaka membidikkan katapel kearah makhluk astral yang berdiri di depanya.


Slap...


Sebuah batu kerikil terlontar dari katapel menuju mahluk astral yang berdiri di depanya meluncur. Bidikan pertama Jaka tak mengenai sasaran seperti tembus pandang melewati makhluk tersebut.


“Kok bisa tembus Kek aneh Jaka bidik lagi ah kurang asem ini orang jahat,” ucap Jaka seraya jari-jari kecilnya meraih batu kerikil di bawahnya.


“Oh iya, ya kek, Astagfirullah Jaka lupa,” ucap Jaka kembali mengarahkan bidikan Katapel dengan berkomat-kamit seraya bibirnya yang mungil nampak membaca bismillah di lanjutkan ayat kursi namun begitu lirih.


Srot...


Peluru katapel dari batu kerikil terlontar mengenai sasaran pas di dahi si makhluk astral. Sehingga membuatnya hilang seketika.


“Dalang Sakri mungkin bukan saat ini aku akan membunuh cucu kesayanganmu Jaka. Mungkin nanti saat ia sudah dewasa aku akan datang lagi untuk membuat perhitungan dengannya,"


"Saat ini memang dia dalam perlindunganmu tapi suatu saat nanti saat kau tiada aku akan datang lagi untuk membunuhnya, karena bila Jaka hidup suatu saat dia akan memimpin perang melawan bangsaku dan dapat menghalangiku meraih tujuanku ingatlah itu,” gema suara sosok astral yang telah hilang menyampaikan pesan-pesannya.

__ADS_1


“Kakek Buyut memang Dava kenapa harus di bunuh Jaka salah apa?,” ucap Jaka begitu polos dengan wajahnya yang lucu dan menggemaskan nampak kebingungan mendengar pesan dari sosok astral yang baru saja menghilang.


“Ya karena kamu nakal Jaka jadi harus dihukum, eh kek siapa yang dibunuh kok seram,” ucap Vivi masih tak mengerti.


“Sudah-sudah ayo masuk biar kakek kunci pagar dulu. Kalian duluan sana sudah magrib,” ucap Kakek Buyut Dalang menurunkan Vivi.


“Yee..., sholat magrib,” teriak Jaka dan Vivi bersamaan seraya berlari menuju ke dalam rumah.


Nampak Si Kakek Buyut Dalang Sakri tengah mengunci pagar depan rumah. Tiba-tiba seseorang berpakaian layaknya orang gila berdiri tepat di balik pagar yang setinggi dada orang dewasa.


“Assallamualaikum mas Sakri,” ucap orang tersebut.


“Eh kau Dek Kasturi, kenapa berdiri di luar ayo masuk sudah magrib kita jamaah bersama yuk,” ucap Kakek Buyut Dalang Sakri.


“Tidak Mas Sakri aku hanya mampir sebentar,” jawab seorang yang dipanggil Dim Kasturi oleh Kakek Buyut Dalang Sakri.


“Loh kenapa kok buru-buru setelah lama kita tak bertemu. Semenjak eyang guru kita meninggal dahulu. Jangan begitulah kita memang di jalan yang berbeda kau memilih jalan lakon kiaimu dan aku memilih lakon pengetahuan Jawa atau Kejawenku, tetapi kau dan aku adalah saudara sepeguruan mampirlah,” ucap Kakek Buyut Dalang Sakri.


“Mas aku hanya menyampaikan berita bahwa aku telah membentuk sebuah kelompok dari anak-anak keturunan yang mempunyai tanda lahir unik. Termasuk menantumu Ustad Wachid dan adik-adiknya ikut bergabung. Seperti yang kita cita-citakan dahulu saat masih belajar sama-sama di padepokan Guru kita Kiai Ronggo,” ujar Ustad Kasturi.


“Maaf tanpa seizin mu tadi aku yang mengalungkan katapel dari kayu Cendana pada Jaka. Niatku hanya melindungi Jaka. Kau pun tahu siapa yang berdiri di depan mu barusan dialah sosok panglima tertinggi dari bangsa astral dan siluman dia lah Sarpala Si anak keturunan dari bangsa separuh jin dan separuh manusia,” ucap Ustad Kasturi menerangkan.


“Yah aku tahu Dik Kas, memang sudah waktunya kita menjaga kota kita ini dari gangguan makhluk setengah siluman seperti dia, aku tak bisa membantu banyak pada mu Dik Kas, tetapi aku janji akan mengajari Jaka semampuku dan melindunginya,” ucap Kakek Buyut Dalang Sakri.


“Itu sudah cukup bagiku Mas, aku tahu Mas adalah jawara tanpa tanding jangankan Sarpala manusia setengah siluman itu. Aku pun gemetar bila mendengar nama Mas Ki Dalang Sakri,” ucap Ustad Kasturi.


“Jangan melebih-lebihkan Dik Kas, ini beneran tidak mau mampir dahulu,” ucap Kakek Buyut Dalang Sakri.

__ADS_1


“Matursuwon Mas, terimakasih aku pamit. Tolong jaga anak yang diramalkan Mas dia cucumu kelak akan memimpin kami melawan Sarpala di masa depan, Assalamualaikum,” ucap Ustad Kasturi yang tiba-tiba hilang sekejap mata.


“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, dasar kau Dik kas aku kan kangen masa-masa bersamamu dulu saat menimba ilmu di padepokan Guru kita Kiai Ronggo,” ucap Kakek Buyut Dalang Sakri berlalu pergi menuju ke dalam rumah.


__ADS_2