
Suasana malam di rumah Haji Wachid tampak hening para penghuninya sudahlah terlelap amat sangat. Setelah kehebohan Putri dan Sari yang bermimpi buruk dengan malam yang sama.
Tampak sekilas Ki Datuk Panglima Kumbang kembali di panggil untuk menjaga rumah Haji Wachid serta Maung Bodas si macan putih yang bertugas menjaga rumah Haji Kardi.
Sedangkan arwah Mas Hasan Jaelani tampak duduk di teras dengan terus menatap langit berharap semua kejadian-kejadian di desanya cepat berlalu dan ia segera bisa pergi kr alam atas.
Terlihat Jaka dan Putri tengah menikmati tidurnya mereka berdua terbaring dan tengah terlelap. Tanpa sadar bahwa sudah ada yang datang duduk di kursi pojok kamar mereka. Dia adalah sang petapa sakti Effendik Jangkaru yang datang menyambangi murid kesayangannya Satria Langit atau yang sekarang berinkarnasi pada tubuh Beby Wahyu.
Seakan sadar sang guru datang menemuinya si kecil Beby wahyu merangkak turun dari atas kasur dari pelukan Putri Mamanya. Lalu duduk bersila di hadapan sang petapa layaknya orang dewasa.
“Assalamualaikum guru apakah yang membuat guru mengunjungiku malam ini?,” tanya Beby Wahyu penasaran.
“Waalaikumsalam,” jawab Petapa Effendik Jangkaru.
“Wahyu aku hendak mengajakmu menuju kerajaan Adi Yaksa. Karena mereka sudah semakin meresahkan kota ini. Kalau lama dibiarkan sepak terjang mereka tentu dapat membinasakan seluruh kota tidak terkecuali keluargamu. Perang kali ini tidak seimbang organisasi T O H bisa saja musnah oleh kerajaan Adi Yaksa dengan para raja-raja siluman yang direkrut secara rahasia,” kata Petapa Effendik.
“Lalu kita harus bagaimana guru? Apa sudah saatnya kita menyegelnya kembali,” tanya Wahyu sekali lagi.
“Belum saatnya kita akan ke sana malam ini agar iya tahu bahwa kita telah datang kembali untuk memburu mereka. Agar mereka sedikit memperhitungkan lagi peta kekuatan dari kubu organisasi T O H karena ada kau dan aku. Bisa saja malam ini kita memusnahkan kerajaan itu. Sudah barang mudah bagi kau dan aku tapi tidak begitu perintahnya. Jikalau itu kita lakukan tentu manusia-manusia di kota ini tiada usaha untuk jalan kebenaran,” terang petapa Effendik Jangkaru.
“Tetapi guru firasatku perang kali ini kembali akan memakan korban bahkan banyak pemuka T O H dari ring satu yang akan kehilangan nyawa. Apa tidak sebaiknya kita hentikan kiprah Adi Yaksa sekarang juga,” ucap Beby Wahyu masih dalam duduk bersilanya.
__ADS_1
“Masalah mati atau hidup itu adalah takdir Qada dan ketetapan Allah kalau takdir berkata seperti itu dan jikalau Allah berkata Qun fayakun maka terjadilah sesuai jalan yang ditetapkan kita tak bisa mengelak,” kata Petapa Effendik menjelaskan.
“Baik guru kalau begitu malam ini lekas kita peringatkan Adi Yaksa tapi kalau di perjalanan kita mendapat hadangan apa boleh muridmu ini sedikit bersenang-senang?,” pinta Beby Wahyu kesenangan di sini yang iya maksudkan adalah memusnahkan beberapa siluman jikalau ada hadangan.
“Tentu saja muridku Satria Langit yang penting jangan dihabiskan semua sisakan untuk Ayahmu dan para T O H yang lain agar mereka berkembang dalam pengetahuan dan keimanan kepada Sang Pencipta dan agar ada usaha untuk meraih kebenaran,” jawab Petapa Effendik.
“Baik guru mari kita berangkat,” celetuk Beby Wahyu merapal sebuah ajian lalu menghantamkan telapak tangannya ke lantai kamar lalu menghilang.
Sang Petapa Effendik pun hanya tersenyum melihat muridnya yang dari dulu selalu bersemangat dengan semangat yang berapi-api.
***
Sedangkan Sang Raja tetap seperti biasa di atas singgasana sambil menikmati jamuan sebotol darah manusia. Layaknya meminum anggur mahal yamg berlabel wiski atau sejenisnya. Raja Adi Yaksa meneguk per gelas darah manusia begitu santainya.
Tiba-tiba ada kilatan cahaya putih dari atas langit yang begitu menyilaukan turun pas di atas tebing singgasana. Suara jatuhnya cahaya terdengar menggelegar sehingga membuat kocar-kacir beberapa pasukan yang berjaga di sana. Ada pula yang hangus lalu menjadi abu akibat efek ledakan yang ditimbulkan kilatan cahaya tersebut.
“Kurang ajar siapa, makhluk apa, siluman dari kerajaan mana yang berani mengusik Adi Yaksa dan sudah berani membelah pohon beringin di atas singgasanaku?,” teriak Adi Yaksa benar pula terlihat beringin besar yang selama ini berdiri kokoh tak tersentuh tumbuh menjulang di atas singgasana Adi Yaksa tampak terbelah.
“Guru sama siluman apakah harus pakai salam kalau datang,” ucap Beby Wahyu bertanya.
“Halah kok malah bercanda hayo rasakan,” kata Petapa genit meninju kepala Beby Wahyu tentu dengan tinju yang tak keras juga bermaksud bercanda.
__ADS_1
“Aduh kan bercanda guru,” ujar Beby Wahyu seraya turun dari tebing menuju kerumunan siluman di bawahnya dengan cara meloncat. Sedangkan Petapa Effendik hanya dengan menghilang sudah sampai di bawah tebing di mana aula kerajaan Adi Yaksa berada.
Duar...,
Suara tapak kaki Beby wahyu saat menapak lantai aula kerajaan Adi Yaksa menggelegar seakan bom yang di jatuhkan hingga meretakkan tanah dan dinding di sekitar jatuhnya. Raja Adi Yaksa begitu terkejut dan terperangah saat melihat kedua musuh bebuyutan yang paling ia takuti berabad-abad silam kini berdiri di hadapannya.
“Ka kalian dan aura ini. Aura yang sama ribuan tahun yang lalu. Kau petapa dan bayi ajaib itu ternyata dia reinkarnasi Satria Langit rupanya,” ucap Adi Yaksa dengan mata terbelalak saking terkejutnya.
Petapa Effendik melemparkan sebuah kepala ke hadapan Adi Yaksa. Bruk..., sebuah kepala milik raja siluman kucing Ramones tergeletak dengan mata melotot di bawah kaki Adi Yaksa.
“Ramones...!!,” teriak Adi Yaksa semakin terkejut.
“Benar aku adalah Satria Langit yang diturunkan kembali untuk kembali menyegelmu Adi Yaksa. Dan benar aku telah membumi hanguskan kerajaan sekutumu Ramones sebagai bukti kubawa kepalanya kemari. Agar kau tahu organisasi Ayahku T O H sekarang di bawah perlindungan kami para petapa dari gunung Anjasmara yang pernah menyegelmu ribuan kali,” teriak Beby Wahyu.
“Dan ingat Adi Yaksa kali ini aku pun akan menyegelmu kembali karena itu sudah tugasku hidup kembali,” teriak Beby Wahyu sekali lagi membuat dada Adi Yaksa seakan tergetar hebat didera ketakutan.
Mengingat kekuatan Satria Langit yang dapat memusnahkan satu kerajaan siluman dalam sekejam. Berperang melawanya adalah bunuh diri bagi Adi Yaksa.
“Malam ini kami tak akan menyegelmu Adi Yaksa. Kami datang hanya ingin memberimu peringatan bahwa kami telah datang. Agar kau berpikir berulang-ulang bila hendak berperang dengan kaum manusia. Belum saatnya kau tertidur kembali,” kata petapa Effendik seraya lenyap kembali bersama Beby Wahyu seketika hilang dari pandangan para siluman.
“Aaaa..., kurang ajar kenapa mereka selalu ada di saat aku sudah menghirup udara bebas dan kembali berkuasa,” teriak Adi Yaksa dengan suara teriakan amarah yang menggelegar.
__ADS_1