
Sumilir Angin wengi kang tumetes
Annambaih kangen ku sangsoyo gedi
Titipan Rindu Iki sangsoyo akeh
Amung biso dedungo angenku nggo kowe
Slirahmu siji Tresnoku Yo mung siji
Tak simpen lan tak jogo tekaning pati
Panyuwunku kanggo Riko njogo tresno nisun
Sayang... Aku tulus Tresno slirahmu... Huuu
Tresno Ra bakal ilyang
Kangen sangsoyo mbekas
Tembang rindu kanggo riko
Janji suci tekaning pati
Salam Tresno di jogo
Snadyan adoh panggonanmu
Sumpah tulus kanggo riko
Salam rindu neng slirahmu
Sumber: Musixmatch
Penulis lagu:
Lirik Salam Tresno ©
***
Petikan dawai gitar dari jemari Halilintar mengalun menyeberangi pintu ke pintu dan mengetuk kaca pintunya. Merayu-rayu penuh ritme agar beberapa orang yang tengah membuka kaca selaras dengan harapan Halilintar mengulurkan sedikit rezeki untuknya makan hari ini.
__ADS_1
Gitar klasik warna hitam tua terus setia menemani perjuangan sang musisi jalanan. Setia menemani kala hujan tiba atau panas terik yang menyenggat seakan membakar ubun-ubun. Halilintar terus bernyanyi sebuah sajak cinta berjudul salam tresno kata lain dari salam cinta.
Matanya hampir meleleh selalu setelah menyelesaikan satu lagu ingatannya selalu pada hangat pelukan ibu dan tentang kerinduan dari wajah sang Ayah. Adakah ia seperti pemuda yang lain untuk berkeluh kesah tentang sebuah kangen dan sebuah curahan kasih pada ibu.
Halilintar tak pernah mengecap sekalipun rasa itu seperti yang lain hanya ada dalam angan dan dawai syair yang terucap dari mulutnya yang sudah mulai menghitam oleh rokok dan panas terik sang surya.
Walau kawan sejati, sehati sejak beberapa tahun silam menemaninya sejalan. Dia Senja yang selalu berharap menjadi kekasih hati namun selalu dianggap layaknya adik kecil oleh Halilintar yang selalu dijaga dimana pun keberadaannya. Selalu ada di samping Halilintar dan selalu membujuk rayu, menggoda kadang menyemangati dengan canda tawa.
Tetap saja Senja adalah Senja dan orang tua adalah orang tua tiada tergantikan rasanya antara rasa kasih sayang orang tua dan rasa kasih seorang teman.
Hari ini entah kenapa Halilintar hanya ingin menenteng gitar dan terus memetiknya. Entah pula berapa lampu lalu lintas menyala merah ia lewati dan iya terus bolak-balik berulang kali ke seberang jalan satu menuju seberang jalan lain tanpa istirahat walau sekedar duduk.
Senja yang terus memperhatikannya semakin khawatir dengan keadaan Halilintar. Yang tak seperti biasanya bahkan hari ini sepatah kata pun tak bergeming dari mulut Halilintar.
“Aa kenapa?,” tanya Senja mencoba mengulik keresahan sang kawan yang tak terjelaskan.
“Tidak apa Senja yuk kita mengamen lagi,” ajak Halilintar sambil menggandeng tangan Senja dan Senja hanya menurut Saja.
***
Di rumah Bagus Mbah Raji sedang bercakap serius di depan teras ditemani Vivi yang duduk diatas kursi roda di samping Bagus.
“Ayah dari Halilintar yaitu Mas Hasan terlalu banyak jasa pada kita Mbah. Sungguh bersalah kalau anak dari beliau tak kita jaga, tak kita arahkan dengan benar dan tak kita didik sedemikian rupa agar kembali pada jalan yang baik tak lagi terlunta-lunta di jalanan,” jawab Bagus.
“Benar Eyang Raji Vivi juga tak keberatan kalau Nak Halilintar menjadi anak kami toh saat pertama bertemu Vivi merasa sudah cocok. Buktinya dia mengejar-ngejar mobil kita hanya untuk memberikan uang kembalian yang aku berikan dari kelebihan uang saat aku beli koran yang ia jajakan,” ucap Vivi menyambung pernyataan Bagus.
“Baik kalau kalian sudah setuju dan tak keberatan. Kalau begitu aku pun bersedia menjadi guru bagi Halilintar dan akan kujadikan dia sang panglima terhebat di generasi T O H selanjutnya. Mengingat desas-desus ada kekuatan besar yang sedang dikumpulkan dari golongan hitam tanpa sepengetahuan kita,” ujar Mbah Raji memberi tahu berita terbaru tentang sepak terjang kaum golongan hitam.
“Ternyata benar ya Mbah kabar itu bukan isapan jempol belaka?,” tanya Bagus semakin penasaran.
“Itu memang benar Gus, jadi kita harus mempersiapkan generasi emas untuk menanggulangi segala kemungkinan yang ada. Jangan kita lengah walau beberapa tahun ini kita dalam masa damai,” ujar Mbah Raji seraya menyeruput segelas kopi hitam yang disajikan oleh Bik Amanah.
“Kalau begiti mari kita jemput Halilintar Mbah sebelum terlambat. Aku takut kalau dari sisi hitam para dukun atau dari para jin setan mendahului kita,” terang Jaka mengungkapkan kekhawatirannya.
“Baiklah Mari Gus kau belum lupa kan bagaimana cara menghilang, hehe,” celetuk Mbah Raji menggoda Bagus.
“Ah Si Embah mulai sombong ini tak baik itu Mbah,” timpal Bagus.
“Maaf hanya bercanda, baiklah aku duluan cepat kau menyusulku firasatku kita akan terhadang beberapa jagoan dari golongan hitam saat bertemu Halilintar mereka juga mengincar Halilintar,” ucap Mbah Raji yang perlahan tubuhnya hilang sedikit demi sedikit hingga tak terlihat lagi.
“Ayah mau pergi?,” tanya Vivi agak khawatir karena ia tak mau kembali pada masa menanti kabar sang kekasih saat pulang dari peperangan.
__ADS_1
“Tenanglah sayangku berdoalah selalu untuk keselamatanku dan keselamatan calon anakmu Halilintar. Aku pergi ya jaga rumah baik-baik panggil Bik Amanah untuk menemani Mama di sini ya. Ayah pergi dulu menjemput Halilintar, Assalamualaikum,” ucap salam Bagus pada Vivi tak lupa untuk mengecup mesra selalu kening sang istri lalu menghilang dengan sekejap mata saat Vivi memejamkan mata.
“Waalaikumsalam sayang cepat pulang,” ucap Vivi lirih.
***
Sementara itu tak jauh dari perempatan Kebon Rojo dimana Halilintar sedang asyik mengamen. Jaka dan Wahyu tengah berkendara dengan motor metik keluaran terbaru produkan jepang. Wahyu tampak menikmati saat dibonceng sang Ayah di depan tepatnya berdiri di antara jok motor dan setang.
“Ngeng, ngeng, nging, ngong, ngung,” teriak Wahyu bercanda sambil mengangakan mulutnya lebar bergaya layaknya pembalap yang melaju kencang padahal Jaka berkendara santai hanya 60 km perjam.
“Eh Nak janganlah Kau buka mulutmu lebar-lebar nanti masuk angin. Lagian kenapa bunyi motor jadi aneh kamu ini. Sejak kapan bunyi motor jadi nging, ngong, ngung,” celetuk Jaka memperingatkan Wahyu agar tak masuk angin.
“Habis gabut aku Ayah dari tadi enggak sampai-sampai di rumah Om Bagus, sudah kangennya aku sama Tante Vivi,” ucap Wahyu merengek.
“Ah apa itu gabut, sok-sokan kayak orang dewasa bicaramu Wahyu pakai gabut segala macam anggota DPR saja,” kata Jaka sambil fokus menyetir.
“Ia aku badmod ini Ayah, bosannya aku kalau berkendara pelan macam siput begini, hai Bu Polwan tilang aku Bu, hehe?,” celoteh Wahyu sambil berteriak pada Bu Polwan cantik yang tengah mengatur lalu lintas di jalan.
“Eh ada-ada saja Kau Nak kenapa minta di tilang ya tidak maulah Bu Polwan itu kita kan pakai helm lengkap pula. Apa lagi itu apa tadi kau bilang badmod macam anak alay saja bicaramu Wahyu-Wahyu. Sudah diam saja tenang nanti juga sampai kata kakekmu dulu pelan-pelan asal selamat,” ujar Jaka menasihati Wahyu.
“Ah Ayah ini kurang digauli,” celetuk Wahyu.
“Eh apa Kau bilang salah itu pengucapanmu Nak yang benar kurang bergaul kenapa kau ganti jadi kurang digauli tidak baik kata-kata itu jangan diulangi,” ucap Jaka kembali menasihati Wahyu.
“Oh sudah ganti rupanya ya Yah kata-katanya,” jawab Wahyu yang selalu bisa saja menjawab saat diberitahu oleh Jaka.
“Bukan begitu memang dari dulu kosakatanya begitu kurang bergaul bukan kurang digauli dari mana kau tahu kata-kata seperti itu jangan kau ulangi ya Nak,” jawab Jaka.
“Siap Ayahku tersayang,” ujar Wahyu tersenyum kecil.
“Nah itu baru benar anakku yang ganteng,” ucap Jaka sambil mengelus rambut Wahyu.
“Ayah berhenti deh, cepat menepi sebelum lampu merah itu?,” kata Wahyu menampakkan gelagat satu hal yang tak baik.
“Ada apa Nak Kau melihat apa?,” tanya Jaka sembari menepikan motornya di depan taman Kebon Rojo tepatnya di depan trotoar.
“Itu Ayah di tengah jalan pas itu. Di tengah perempatan ada orang gila dan Om Bagus bukan sih itu kok lagi berhadapan sama anak muda berbaju hitam-hitam itu loh,” ucap Wahyu seraya menunjuk ke arah tengah perempatan depan Kebon Rojo pas.
“Oh iya itu Ommu Wahyu, ada apa ini, sebentar ya Nak kamu di sini dulu jaga motor bapak. Ayah mau ke sana dahulu jelas tidak baik ini,” ucap Jaka turun dari motor berlari ke arah tengah perempatan meninggalkan Wahyu sendirian.
“Ah Ayah selalu Wahyu yang disuruh jaga motor padahal Wahyu juga ingin baku hantam. Wahyukan ketua geng di sekolah hehe,” celetuk Wahyu yang memang seorang anak pemberani bermental baja.
__ADS_1