T O H

T O H
Tangisan Sang Panglima


__ADS_3

Perang memang sudah usai terhitung semalam namun kedahsyatannya sangatlah berdampak di kota Jombang. Perang memang sudah berakhir semalam tapi kesedihan dari krmatian sang suami dan istri yang menjanda atau anak-anak yang tak tahu harus bagaimana.


Perang memang sudah berakhir sepenuhnya berhenti tapi saat kemenangan benar-benar diraih dan terwujud bahkan air mata adalah darah dan bahkan bila ditanya siapa yang mati pasti seseorang itu mendadak gila karena tak dapat menerima keadaan.


Saat Jaka dan rombongan sampai di kota menjelang sore hari tepatnya hampir magrib. Mata Jaka tak sengaja berlinang mengucur deras tak bisa membendung alirannya yang kuat meluncur begitu saja melihat betapa hancur bahkan sangat hancur kotanya.


Putri di bopong tangannya yang gemetar namun kuat masih bertahan serasa ingin berteriak tapi dia lah sang panglima tertinggi hanya bisa menahan. Tapi bagaimanapun Jaka tetap manusia dan akhirnya menangis jua.


Mbah Raji dan Gus Bahri begitu menaruh hormat pada lelaki muda satu ini. Merrka terus berjalan di belakangnya terus mendukungnya. Dalam hati mereka terus berdesir seakan ingin memaki, gila apa benar anak muda di depanku ini yang ku ajari dahulu yang ku timang dahulu sebegitu kuatnya, apa benar dia manusia?.”


Gus Pendik yang tengah di papah salah satu punggawa T O H yang lain dan sedang berdiri di barisan belakang Jaka hanya tersenyum sekarang ia merasa kalah jauh dengan Jaka yang dahulu adalah anak kemarin sore dan pernah ia ajari ini dan itu malah sekarang nama dan kekuatannya jauh lebih besar darinya. Dialah panglima kami dan Gus Lukman yang di atas sana tersenyumlah salah sati anak didik kita, adik sepeguruan kita telah menjadi seorang panglima besar. Begitu sekiranya bila di ungkapkan pandangan Gus Pendik yang tengah menengadahkan mata ke atas langit.


Dava yang berdiri dan masih menggendong Sari di samping Jaka hanya terdiam memandang wajah sang kakak keponakannya tersebut. Iya sangat memahami apa yang dirasakan kakaknya sama dengan rasa yang dialaminya kali ini sangatlah tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata yang jelas kemenangan perang kali ini begitu meninggalkan bekas luka yang sangat dalam.

__ADS_1


Lalu dari arah depan datang begitu cepat dua orang. Begitu cepat sehingga saat mereka berllari tak dapat terlihat bayangannya sekalipun. Lalu tepat berdiri di depan Jaka mereka adalah Gus Bagus dan Gus Dwi Cahyadi.


Mereka datang dengan begitu cepat lalu secara tiba-tiba memberikan beberapa baju bekas yang penuh berlumuran darah mengulurkannya pada Jaka. Baju-baju tersebut milik Haji Wachid dan Umi Epi terlihat pula tangisan di wajah-wajah mereka yang biasanya begitu garang dan sangat di takuti lawan-lawannya kini sangatlah lemah tak mampu menahan tangis.


“Dek Jaka orang tuamu, orang tua Dava, dan orang tuaku juga mereka telah gugur sebagai syuhada. Dan tangisan ini bukan karena kita para pemimpin menjadi lemah, tetapi tangisan ini keluar karena yang kita sayangi telah dipanggil Allah untuk kembali pulang, Dek Jaka Abah dan Umi sudah kami kremasi di rumah mari kita antar mereka ke tempat terakhir kita hendak pulang,” begitulah kata-kata Gus Bagus seraya mengulurkan baju-baju bekas almarhum Abah wachid dan Umi Epi.


Jaka menerima baju-baju tersebut lalu dupakainya jubah putih yang tak lagi putih. Dan di pakaikannya hijab pink yang tak lagi pink pada rambut Putri sebagian ia tutupkan di atas tubuh Putri dan berkata sambil terus meneteskan air matanya, “Istriku sayang mari kita pulang ya nanti seperti biasanya ya buatkan aku kopi lalu kau menimang Wahyu anak kita ya sayang.”


Berbeda dengan Dava yang tiba-tiba mengeluarkan sang naga Bergala dari dalam tanah pas di bawah kakinya perlahan terbang menuju desa Mbanjar Kerep di ikuti beberapa punggawa T O H yang berasal dari sana atau sekitar desa Mbanjar Kerep ikut berlari pergi menjauh.


Begitu pula yang lainnya mereka pergi ke tempat masing-masing untuk menemui sanak-saudara yang masih hidup. Tinggalah Gus Bagus dan Gus Dwi yang saling berdiri berhadapan bertatap-tatapan seakan tak percaya ini telah terjadi.


Gus Dwi mengambil sebungkus rokok di saku celananya seeaya duduk di sebuah tumpukan batu bata bekas robohan rumah warga. Perlahan sebatang rokok ia hisap terbentuklah sebuah asap kemenangan dengan arti sebenarnya dari perang mengepul ke atas langit yang sudah kembali cerah.

__ADS_1


“Duduklah Gus, kalau semua kalut, kalau semua sedih lalu siapa nanti yang menghibur mereka yang sangat terpukul dengan kondisi kali ini, aku tahu memang begitu tersayat kita. Tapi bersedih begitu lama itu tidak di anjurkan dalam agama kita bukan. Cukup kenang mereka yang mati dengan hantaran Wabilkhususon dan nama si mati benarkan Gus?,” ucap Gus Dwi sambil terus menghisap rokok di tangannya.


“Mau Rokok?,” tanya Gus Dwi mengulurkan sebungkus rokok pada Gus Bagus namun Gus Bagus hanya berdiri mematung sambil memandangi tingkah kakak keponakannya yamg satu ini penuh rasa kagum karena selalu mengeluarkan petuah-petuah bijak yamg seauai dengan apa yang tengah terhadi dan semua itu tanpa sengaja ia kutip dari Al Quran.


“Sudahlah aku tahu dulu kau termasuk perokok berat tapi setelah mengenal cinta pada ciptaanya kau tak lagi menikmati pemberian Allah ini ia kan?, aku tak sepertimu Dek Bagus kau harus tahu rasa kehilangan dan rasa cinta atas ciptaanya itu memang berat. Tetapi kau harus tahu jua jangan sampai semua ujian ini menghilangkanmu dari rasa cinta atas yang menciptakan,” terang Gus Dwi tersenyum karena melihat Gus Bagus ikut duduk dengan wajah begitu lelah.


“Apa kata mereka bila merokok haram atau merokok bisa menimbulkan penyakit. Ya sudahlah memang aku akui dan aku pun tahu rokok tak baik untuk kesehatan bagiku yang sudah terlanjur merokok ya sudahlah dan yang belum merokok janganlah merokok. Bagiku menikmati rokok cukup aku berkata bismilah menikmati sari pati tembakau nikmat pemberian Allah urusan mati atau sakit urusan Allah,” kata Gus Bagus yang kembali mengantongi sebungkus rokok merek pabrikan malang yang biasa ada di sakunya.


“Lah kok dikantongin lagi Mas?,” ujar Gus Bagus.


“Loh mau toh, bilang dong?, hahaha,” kata Gus Dwi di sambut tawa yang sebenarnya dipaksa untuk melepas lelah mereka.


Karena hanya cara itu yang mereka anggap ampuh untuk mengusir kesedihan yang berlarut-larut di wajah mereka. Mereka tahu kesedihan berlarut-larut sangatlah dilarang oleh ajaran agama mereka dan hal itu bisa memberi celah syetan untuk masuk pada otak kita lalu merayu-rayu pada kesesatan.

__ADS_1


__ADS_2