
Jaka terus berdiri menatap pintu gerbang istana Adi Yaksa penuh amarah matanya sudah memancarkan api membara tentang sebuah puncak kemarahan dalam stadium akhir. Di samping kanan dan kirinya berlari ratusan punggawa lima kota melesat menuju gerbang hitam besar berukir ular raksasa dan tempelan ratusan tengkorak manusia.
Jaka terdiam sejenak seraya mengacungkan tangan kanannya ke atas langit dengan posisi telapak tangan terbuka arah langit. Dalam hatinya Gada Alugara datanglah, lalu sebuah sinar cahaya keemasan membentuk sebuah pusaka gada menyatu dari paduan seluruh energi alam sekitar.
Dengan satu bentakan terlemparlah sang Gada Alugara melontar ke arah gerbang kegelapan dimana di sana tertumpuk segala permasalahan pahit antara hidup dan mati. Di mana di balik gerbang tersebut ada sebuah pertaruhan hancur tidaknya kota Jombang. Dimana sebuah hati dan cintanya dari Putri sedang meronta-ronta terperdaya oleh Adi Yaksa di balik gerbang kesengsaraan tersebut.
“Aaaaaaaaa...., Musnahkan semua, hancurkan jangan sisakan mereka...!!,” teriak Jaka membahana tersampaikan keseluruhan bala pasukan lima kota yang terus bergerak seraya berteriak, “Siap Panglima Jaka.”
Duar...,
Bersamaan itu hancurlah sebuah gerbang yang selama ini tak mungkin dilalui bahkan untuk membayangkannya orang pun tak sanggup. Kini hancur lebur berkeping-keping tak bersisa oleh sebuah senjata sakti Jaka yang selama ini tak pernah ia keluarkan. Sebuah Gada Alugara gada penghancur wadah beraura semesta.
Kini ratusan punggawa lima kota telah meringsek ke dalam Aula kerajaan Adi Yaksa pertempuran tak terelakkan kembali di dalam Aula. Bak badai petir menyambar-nyambar serta letusan-letusan dan percikan benturan dari ke dua kekuatan besar terdengar dibeberapa tempat dalam aula.
Kali ini Dava yang begitu marah dengan aura nyala api hijau pekatnya tengah membabi buta menghancur leburkan para genderuwo dan raksasa yang datang menghadangnya tanpa ampun.
Saat Dava tengah membabi buta iya terhalang oleh sosok tinggi besar berbulu lebat di seluruh tubuh dan bertaring panjang serta berwajah seram. Dia panglima tertinggi dari klan genderuwo dan raksasa dialah panglima Buto ijo yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi raksasa, sewaktu-waktu bisa berubah menjadi sosok genderuwo berperangai buas.
“Hai anak cucu Adam yang bernama Dava kau sekarang milikku, hadapilah kematianmu ini,” ujar Buto Ijo yang tengah menenteng Gada besar bergerigi tajam di tangannya.
“Terima ini anak muda,” teriak sang Buto Ijo mengayunkan gada ke arah Dava.
__ADS_1
Duar..., gada membentur tanah membuat retakan lebar dan menimbulkan getaran bumi sesaat, tetapi dengan lincahnya Dava dapat mengelak dari hantaman gada yang mengarah kepadanya. Dava seketika meloncat tinggi menghindari ayunan gada luputlah iya dari serangan telak Buto Ijo.
“Kali ini aku tak akan berhitung-hitung lagi Buto Ijo. Tak akan lagi aku memberi ampun kepada kalian bangsa setan dan siluman, kali ini giliranku menyerang jangan lari kau Buto Jelek terima ini. Mas Bergala kali ini bantulah?,” ucap Dava seketika keluarlah sebuah naga besar bersisik hijau mengkilat dari telapak tangan kanannya lurus menjurus ke arah Buto Ijo.
“He, he naga ini kenapa padamu?,” ucap Buto Ijo lari terbirit-birit ketakutan namun tetap saja Bergala sang naga hijau dapat dengan mudah dan leluasa melahap tubuh Buto Hijau.
“Krauk..., haik..., aaaaah..., cuih..., Enggak enak Dav, huek, huek, juh,” ujar sang naga Bergala meludahkan sisa tengkorak dari jari telunjuk Buto Ijo.
***
Di sisi yang lain Wahyu yang berwujud Satria Langit dapat dengan mudah menghabisi para setan dengan sabetan pedang yang ia bawa sebuah pedang sabit mirip pedang negara arab. Di satu sisinya bertuliskan lafaz Shalawat Nabi Muhammad SAW. Dan satu sisi yang lain bertuliskan lafaz Laillahaillalah Muhammaddurasullah. Di ikuti pasukan malaikat serba putih pun membawa pedang yang sama di belakang Wahyu.
Iya terus menebas tanpa ampun sehingga membuat ratusan musuh musnah di ujung pedangnya. Mbah Raji dan Gus Bari yang ada di belakang Wahyu hanya bergeleng kepala melihat sang keponakan anak dari Jaka yang begitu tangguh bin ajaib. Bagaimana tidak ajaib Wahyu yang mereka tahu adalah sosok balita kecil mungil yang baru belajar merangkak berubah menjadi kesatria tangguh nan gagah rupawan.
“Benar ini Gus kalau begiti eh keliru bagito eh keliru lagi eh bagaimana sih ini mulut begitu bagaimana kalau kita ke arah yang lain?,” sahut Mbah Raji.
“Ini orang tua sedang tegang seperti ini sempat-sempatnya bercanda?,” timpal Gus Bari.
“Sekali-kali Gus tegang melulu dalang juga butuh piknik rupanya kurang piknik dia memikirkan T O H terus,” celetuk Mbah Raji.
“Ah Sudahlah Mbah,” ucap Gus Bari melesat ke arah berbeda dari kelompok pasukan malaikat yang dipimpin oleh Wahyu meninggalkan Mbah Raji.
__ADS_1
“Woi tunggu Gus Bari Begitu saja ngambek anak muda-anak muda,” celetuk Mbah Raji mengikuti arah lesatan Gus Bari.
Sampai di sisi paling kiri dari aula kerajaan Adi Yaksa Gus Bari dan Mbah Raji di hadapkan oleh bala tentara siluman monyet dengan pimpinan Prabu Wirang Saga sang kera paling besar berbulu putih namun bertaring panjang berwajah sangar.
“Nah loh kera ini lagi Gus,” celetuk Mbah Raji yang dahulu pernah berurusan dengan kerajaan mereka di selatan pegunungan Arjuna.
“Hai ******..., eh monyet dada kita berjumpa lagi..,” ucap Mbah Raji sambil melambaikan tangan pada Prabu Wirang Saga.
Sang Prabu kera Wirang Saga yang mengetahui kedatangan Mbah Raji dan Gus Bari seketika melesat hendak menyerang mereka berdua dengan lontaran yang cepat dan cakar yang tajam.
“Asyik kita dapat lawan Mbah hayuk mulai Mbah?,” teriak Gus Bari berlari ke arah Wirang Saga.
“Siap Gus Bari Bismillah,” teriak Mbah Raji berlari mengikuti Gus Bari.
Namun belum saja Gus Bari dan Mbah Raji Berlari jauh menghadang Prabu Wirang Saga baru saja melompat beberapa meter.
Sling..., sling...,
Tebasan pedang dari Wahyu telah membelah tubuh Wirang Saga menjadi beberapa bagian seketika terbakarlah Wirang Saga menjadi serpihan abu karena aura pedang Wahyu yang teramat panas bagai api neraka.
“Oalah Nak Wahyu keponakan Mbah yang paling caem blaem-blaem. Mbok ya disisakan satu musuh buat kami berdua loh tole lanang hiiih benci aku kalau sudah tua begini kalah cepat sama yang muda,” gerutu Mbah Raji melihat Wahyu yang hanya tersenyum lalu melesat kembali ke arah lain.
__ADS_1
“Ya sudah Mbah kita cari mangsa yang lain saja memang kita sudah berumur Mbah ya kalah cepat sama wahyu yang baru anak kemarin sore, hahaha...,” kata Gus Bari seraya melesat kembali ke sisi lain.
“Oh ok,” celetuk Mbah Raji ikut melesat mengejar Gus Bari.