T O H

T O H
Akhirnya Selesai


__ADS_3

Tiga puluh hari dan tiga puluh malam tepat sudah pertempuran sengit medan api membara duel antara para setan dan manusia di area kota Jombang berlangsung. Pagi ini saat matahari terbit kembali sempurna setelah tiga puluh hari lamanya seakan tiada sinar surya di kota ini. Kini kembali terang awan gelap yang menyelimuti kota telah berangsur menghilang.


Tembok penyekat kabut dinding penghalang di sepanjang perbatasan telah menghilang seketika saat Adi Yaksa di habisi. Hujan gerimis aneh yang tak kunjung reda selama sebulan penuh kini telah berhenti petir yang selalu menyambar tak tentu arah kini sudah hilang.


Kota Jombang kini kembali hidup ceria lagi setelah gelap sempat menjadi raja di sana, setelah suram dan muram tiada tanda kehidupan sangat terasa dan bau anyir darah dimana-mana. Kini para warga saling gotong royong dengan para aparatur negara membersihkan puing-puing sisa perang untuk berbenah kembali untuk menghidupkan kembali geliat kota Jombang.


Pagi ini saat matahari menggelincirkan rekahkan senyum dari balik gunung Anjasmara di sela-sela antara gunung Arjuna. Jaka dan Dava keluar dari sebuah lubang besar di sebuah lembah yang di juluki lembah Neraka bersama ratusan pejuang lima kota lainnya.


Jaka dan Dava tampak menggendong sang kekasihnya yakni Dava yang tengah menggendong Sari dan Jaka yang tampak menggendong putri dari depan sedangkan Dava menggendong Sari di belakang.


Di samping mereka berjalan seorang balita kecil ajaib yang sebenarnya belum saatnya bisa berjalan namun karena keistimewaan yang di miliki iya tumbuh besar tak semestinya dari balita kebanyakan.


Dialah Wahyu yang tengah di gandeng Mbah Raji dan di samping Mbah Raji berjalan gontai Gus Bari. Di belakang mereka berjalan pula kelompok lima kota para sahabat T O H. Sedangkan anggota yang gugur telah dipindahkan di pelataran masjid jamik kota Jombang rencananya mereka akan dimakamkan di tpu khusus dimana para pahlawan di makamkan. Jauh di ujung kulon kota tepatnya di area bukit Tunggorono Petapa Tanpa Nama dan Petapa Effendik saling berpelukan lalu saling berpamitan dan menghilang.


Petapa Tanpa Nama memberi pesan pada Petapa Effendi Walau dia harus menghilang jangan sampai dia meninggalkan murid kesayangannya Wahyu dan kota perjuangan kota Jombang. Dan Petapa Effendi pun menyanggupi permintaan sang guru besar Petapa Tanpa Nama yang kembali bertapa di salah satu tempat misterius di bukit Tunggorono dimana tiada satu orang atau makhluk selain orang yang tahu keberadaannya.


“Gus Jaka kami mohon pamit dahulu, kami harus merawat yang terluka dan menguburkan yang gugur dari pihak Pemuda Majapahit,” ucap Ustaz Rais berpamitan pada Jaka seraya mengulurkan tangan mengajak bersalaman Jaka.

__ADS_1


“Baik terima kasih saudaraku dari Mojokerto tanpa kalian kami bisa jadi kewalahan meladeni para setan,” jawab Jaka menyahut jabatan tangan Ustaz Rais dengan senyum dan masih menggendong tubuh Putri.


“Baik kami pergi dahulu dan maaf kami tak bisa hadir di pemakaman para tetua dan anggota T O H yang gugur. Insya Allah malamnya saat diadakan pengajian untuk mendoakan yang mati kami hadir dan maaf sekali lagi itu jua perwakilan dari kami sebab kami pun harus mengadakan pengajian bagi saudara kami yang gugur,” terang Ustaz Rais.


“Kami memaklumi Ustaz tidak masalah sebagian kalian yang datang itu jua kami sudah sangat berterima kasih. Begitu pun kami Insya Allah di malam ke dua kami akan datang di pengajian kalian itu jua sama mungkin hanya perwakilan,” jawab Jaka.


“Tidak masalah kalau begitu kami pamit dahulu, Assalamualaikum...,” ucap salam Ustaz Rais pemimpin dari kelompok Pemuda Majapahit berpamitan pada Jaka lalu sekejap para anggota pemuda Majapahit seakan berlari secepat angin hilang satu-persatu.


“Waalaikumsalam,” jawab serempak yang masih berdiri di sana.


“Pak Haji Hadi saya memohon pada anda untuk menyampaikan salam kepada mertua saya di Kediri. Katakan bahwa beliau tak usah khawatir Putri dan Wahyu masih selamat tolong sampaikan juga permintaan maaf saya kalau tak bisa menjaga Putri dengan baik sehingga dia bisa diculik oleh Adi Yaksa,” ucap Jaka pada Haji Hadi pemimpin teratas kelompok Wong Kadiri yang datang menghampirinya hendak berpamitan.


“Ya sudah kami pamit, dan tolong rawat Putri kami dan Wahyu generasi emas kami, Assalamualaikum,” ucap salam Haji Hadi menandai kepulangan para punggawa Wong Kadiri.


“Waalaikumsalam kami berterima kasih atas bantuan kalian saudaraku,” teriak Mbah Raji sambil melambaikan tangan pada puluhan kelompok Wong Kadiri yang pergi menghilang serempak.


Abah Madun dari Ormas Mataraman mendekati Jaka, “Mas Jaka kami berpamitan dahulu.”

__ADS_1


“Oh iya Abah Madun terima kasih kami kalian telah hadir membantu. Kami sungguh sangat menghargai rasa persaudaraan kalian. Kami bangga atas keberanian kalian saat berperang padahal pemuda Mataraman baru saja dibentuk tapi sanggatlah hebat dalam bertempur kami merasa takjub,” ucap Jaka terharu.


“Itu semua tak lepas dari didikan anggota T O H ring satu sebagai guru dari para pemuda Mataraman sehingga kami mampu mengimbangi musuh dan berani ikut berperang. Justru sebenarnya kami yang seharusnya berterima kasih pada kalian,” jawab Abah Madun.


“Ah tidak Abah banyak dari pemuda Mataraman yang mempunyai bakat pengetahuan alami kami pun jadi mudah menularkan pengetahuan yang telah kami dapat,” sahut Dava yang ikut menjadi guru pembimbing beberapa saat yang lalu.


“Mas Dava ini bisa saja, baiklah Mas Jaka dan Mas Dava kami pamit undur diri dahulu, Assalamualaikum,” ucap Haji Madun pergi dengan rombongannya melompat tinggi lalu hilang begitulah ciri khas mereka.


“Waalaikumsalam,” jawab Dava dan Jaka.


Sementara itu di kedalaman jauh bekas area peperangan semalam yang sudah terkubur akibat diledakkan oleh petasan unik Mbah Raji yang berbentuk seperti mercon bantingan (Petasan kecil biasa dimainkan anak-anak kecil yang meletuskannya dengan cara di banting) namun efeknya sangat dahsyat.


Muncullah sebuah sosok mengerikan yang bernama Iblis Barbadak ayah dari Adi Yaksa. Menggendong seorang anak kecil yang tengah ketakutan dengan mata sembab akibat menangis semalaman.


Barbadak menurunkan sang anak kecil di sebuah batu lalu mendudukkannya. Sesaat Barbadak mengubah wujudnya menjadi sosok gagak nan rupawan agar si anak kecil tak takut dan menghentikan racauannya.


“Hendrik Wijaya,” sekali lagi namanya di sebutkan oleh sosok seram yang kini menjadi rupawan di hadapannya.

__ADS_1


“Bapak siapa...?,” tanya Hendrik masih dengan sesenggukan.


“Sekarang di sini rumahmu, anggap aku Bapak sekaligus gurumu. Di sini kamu akan aku didik sekuat anakku bahkan melebihi kekuatan kakak dari anakku, kau akan sakti dan kau akan dapat membalaskan dendam kematian orang tuamu,” ujar Barbadak menyunggingkan senyum pada Hendrik.


__ADS_2