T O H

T O H
Mas Kecil dan Dedek Wahyu


__ADS_3

“Tante, tante Vivi, halo dimanakah dirimu Tanteku yang cantik dan perutnya gendut, hehe. Namanya hamil ya memang gendut ya ah aku ini bagaimana,” teriak Wahyu sambil menggerutu menertawakan diri sendiri terus berlari ke arah kamar Vivi.


“Nah ini kamar Tante sama Om ini, gedor ah kerjai Tante biar langsung bangun tidur melulu Si Tante ah aku kan kangen,” gerutu Wahyu mulai usil dengan rencana-rencana nakalnya.


“Duor,” sekali tendang pas di tengah dengan kakinya membuat suara sangat kencang namun tetap tak terbuka pintu tetap tertutup rapat terkunci dari dalam.


“Loh kok enggak bangun juga ini Tante wah tidur apa pingsan sih ini orang, Tante aku kangen!,” teriak Wahyu di depan pintu kamar Vivi.


“Pakai apa ya biar bunyinya jadi kayak ada ritmenya gitu pas mukul-mukul ini pintu, hem, ahay ini ada palu ini di atas meja kok pas ya ada palu namanya juga novel campur komedi ia kan haha, eh jangan deh nanti rusak dong aku palu ini pintu ah pakek tangan saja lah,” gerutu Wahyu ngedumel sendiri.


“Tok, tok, trotok tok, hae, hae, Tante bangun dong tak kasih katok bolong. Eh kok katok bolong ah bodok gedor lagi,” ucap Wahyu terus menggedor pintu


“dor, dor, to, dor, yaelah sudah kayak room servis saja dor to dor, halah. Tante bangun dong, dong, ah enggak asyik nih Tante Vivi ah kezel jadinya Wahyu nih,” gerutu Wahyu seraya membalik badan hendak kembali ke tempat sang Ayah yang sedang berembuk di ruang tamu bersama para tetua T O H lainnya.


Tiba-tiba saat iya membalik badan ke belakang 180 derajat tante Vivi sudah ada di belakangnya duduk di atas kursi roda dengan bik Amanah berdiri di belakang kursi roda memegangi bagian pendorong kursi roda sambil melotot pada Wahyu.


“Eh Tante, hehe, anu pintunya bagus. Belinya di mana tante,” celetuk Wahyu membuat alasan untuk menutupi kenakalan yang ia perbuat.


“Terus itu palu buat apa, buat apa Wahyu?,” kata Vivi terus melotot melirik genggaman Wahyu yang masih memegang palu yang ia ambil dari atas meja samping pintu.


“Eh ini enggak Tante ih ini palu buat apa ya, oh iya Wahyu mau cek apa pintunya rusak, hehe,” kembali Wahyu membuat alasan agar tidak di marahi oleh tantenya.


“Wahyu...!!, kamu itu nakal sekali sih hiiih, gemas aku,” teriak Vivi sambil kedua tangan seakan ingin meremet pipi Wahyu yang cabi.

__ADS_1


Seperti biasa jurus terakhir agar tak dimarahi dan selalu ampuh menarik simpati dan kasihan keluarganya yang memang sangat menyayanginya. Wahyu mulai menundukkan kepala dengan memanyunkan bibir dengan mata berkaca-kaca layaknya hendak menangis.


Wajah agak menunduk sedikit dengan kaki tampak disilang-silangkan beberapa kali. Kedua tangan dalam posisi meremet kaos yang ia kenakan sambil mengucel-ucelnya. Cara ini memang jurus jitu dan selalu manjur mengalihkan suasana hati tantenya Vivi maupun orang-orang di keluarganya.


“Ya Maaf tante, Wahyu kan kangen sama Tante ingin ketemu, Wahyu kira Tante tidur dan pintunya terkunci dari dalam kayaknya ya Wahyu gedor saja biar Tante bangun,” jelas Wahyu sambil memanyunkan bibir sehingga pipinya yang cabi bertambah cabi pula.


“Aduh ini anak kalau dimarahi pasti pakai jurus wajah di manis-manisi. Oh tidak semudah itu Verguso kau melemahkan mentalku ya, kali ini Tantemu ini tidak akan terbujuk rayu,” kata Vivi bertolak pinggang.


“Hah, Verguso siapa?, Tante Wahyu nama ku Wahyu. Wah Tante Vivi rupanya sudah anemia ini,” celetuk Wahyu menaikkan alisnya sebelah membuat semakin lucu saja mimik mukanya. Sehingga membuat Vivi tak dapat menahan rasa geli ingin tertawa.


“Huahaha, kenapa aku selalu tak bisa memarahimu sih Wahyu. Sini-sini sayang Tante peluk katanya kangen,” ucap Vivi merentangkan kedua tangannya memberi tanda pada Wahyu untuk segera menghampiri untuk memeluknya.


“Asyuek, meluk tante,” Wahyu berlari kecil ke arah Vivi ikut merentangkan tangan seperti hendak memeluk tantenya tersebut tapi diurungkannya. Sebentar ia menurunkan rentangan kedua tangannya lalu melewati Vivi begitu saja sambil ngedumel.


“Enggak jadi ah, hehe,” tawa Wahyu serasa puas mengerjai tantenya.


“Ia, ia Tante Wahyu peluk,” ucap Wahyu langsung berbalik arah memeluk Vivi.


“Nah begitukan manis nurut kamu kok jail banget sih kayak Ayahmu dahulu, hem,” gerutu Vivi sambil mencubit kedua pipi Wahyu.


“Aduh, aduh, sakit Tante,” teriak Wahyu.


“Bodo amat ini karena Wahyu selalu kerjai Tante terus tiap ketemu. Tante kan juga kangen sama kamu Wahyu,” kata Vivi masih mencubit pipi Wahyu.

__ADS_1


“Eh Mas kecil nendang-nendang Tante. Mungkin iya tahu ya Wahyu di sini,” ucap Wahyu saat merasakan perut Vivi seperti ada gerakan-gerakan.


“Eh iya Wahyu coba usap dan bilang, Mas kecil Dedek Wahyumu ada disini cepat,” perintah Vivi dan dituruti oleh Wahyu.


Wahyu pun berjongkok sambil memandangi perut Vivi yang semakin besar karena memang sudah 8 bulanan lebih iya mengandung.


“Mas Kecil cepat keluar ya nanti kalau Mas kecil sudah keluar dan sudah besar ikut Dedek Wahyu yuk kita baku hantam lawan setan, hehe,” tawa seringai Wahyu yang selalu usil namun kata-kata Wahyu kecil suatu saat memang akan terjadi anak dari Vivi dan Bagus suatu saat nanti di masa depan.


Saat kota kembali hancur dan keadaan serta kondisi masyarakat semakin semrawut akibat ulah setan yang kembali mengganas. Wahyu dan anak dari Vivi menjadi tandem Emas tokoh utama perlawanan terakhir dari sisa-sisa manusia di kota Jombang.


“Hei, jangan bilang begitu Wahyu, Tante tidak mau ya nanti Mas kecil ikut seperti kamu menjadi penerus para petinggi T O H. Tante maunya nanti Mas kecil menjadi PNS saja,” ucap Vivi menerangkan keinginannya untuk sang anak kelak.


“Ah Tante tidak asyik loh kalau jadi warga biasa. Bekerja lalu pulang ke rumah terus begitu tiap hari tidak ada variasi. Ya Mas kecil nanti ikut Dedek ya main perang-perangan,” ucap Wahyu sambil terus mengusap perut Vivi.


“Ahh, aduh, aduh, kok nendang-nendang keras banget sih Nak,” teriak Vivi merasakan perutnya yang serasa keram karena Mas kecil yang ada di dalam perut seakan merespons kata-kata sang Dedek keponakan Wahyu.


“Eh Mas kecil setuju Tante sama aku, ya Mas kecil, haha, hore, hore,” teriak Wahyu sambil meloncat-loncat di depan Vivi kegirangan.


“Aden Wahyu bantu Bibik ya dorong Tantenya ke dalam kamar biar istirahat kasihan tuh Tante Vivi kesakitan,” ucap Bik Amanah yang sedari tadi hanya berdiri sambil senyum-senyum sendiri melihat tingkah kocak Tante dan keponakannya.


Beberapa lama berselang Vivi dan Wahyu sudah terbaring di atas kasur di dalam kamar Vivi. Dan perut Vivi sudah tidak terasa sakit lagi. Sedangkan Wahyu sudahlah memejamkan mata di samping Vivi tertidur menemani Vivi sambil memeluknya dan tetap mengelus perutnya walau matanya tengah terpejam.


“Ini anak persis seperti Jaka. Kamu beruntung Putri punya anak yang sangat kuat dan cerdas ada saja tingkahnya yang sebenarnya membuat aku tertawa, Nak Wahyu walau nanti kalau kau dan Mas kecilmu yang ada di dalam perut Tante ini sudah sama-sama besar tolong jaga Mas kecilmu ini ya. Tante tidak ingin kejadian yang menimpa kakek dan nenekmu sepuluh tahun lalu terulang kembali ya Nak berjanjilah pada Tante,” kata Vivi ngedumel sendiri sambil mengusap-usap kening Wahyu yang sudah pulas tertidur di sampingnya.

__ADS_1


“Dewa nanti kalau kamu sudah keluar kita main bareng ya Dedekmu ini pasti akan selalu menjagamu. Ya Mas kecil Dewa janji ya,” gerutu Wahyu yang ternyata tengah mengigau dalam tidurnya.


“Dewa kenapa Wahyu memanggil anakku dengan nama Elang,” gumam Vivi.


__ADS_2