T O H

T O H
Sultan Siluman Guru Agama


__ADS_3

Jaka tengah berdiri di atas atab rumah Pak Haji Kardi di sisi ruang yang kosong sebelah depan pas di belakang atap teras berada. Matanya tajam memandang lurus menerawang jauh hingga sisi desa sebelah barat di mana Sultan dan Panglima Jin iprit tengah berdiri menatapnya jua.


Sementara itu dari arah tengah desa tepatnya di atas atab-atab rumah warga puluhan anjing setan dengan gambaran bentuk layaknya anjing jombi yang di gambarkan di film layar lebar televisi.


Anjing hitam bergigi tajam dengan moncong agak panjang dan bermata merah. Dari mulutnya meleleh air liur di mana di dalam lendir air liur tersebut bila mengenai kulit manusia tentu bisa mengakibatkan kulit tersebut seakan baru terbakar melepuh.


Puluhan Anjing setan terus berlari sambil terus meloncati atab-atab rumah warga menuju ke arah Jaka. Beberapa meter lagi sampai ke tempat Jaka dengan maksud dan tujuan yang sudah pasti yaitu menghabisi.


Satu, dua Anjing telah sampai beberapa langkah lagi di depan Jaka yang tengah berdiri tegak untuk menanti serangan dari sang anjing.


Dengan geraman dan lolongan keras begitu mengerikan seakan memekik telinga bagi yang mendengarkannya di malam ini beberapa Anjing setan meloncati satu atab rumah di depan rumah Pak Haji Kardi. Menukik melesat tajam bagai anak panah menuju sasaran ya yaitu Jaka.


Dengan tersenyum separuh bibir, Jaka lantas mengacungkan lengannya ke atas seraya berucap, “Allah Engkau adalah Raja dari segala Raja ghoib, karena Engkaulah sumber dari segala ghoib. Dari Engkaulah semua ghoib berasal dan kembali bermuara. Maka aku menghantarkan pesan cinta pada sang kekasihmu Nabiku tercinta Ya Rasullah Muhammad yang terang dan suci, Bantulah aku wahai Tuhanku,”


Seketika genggaman tangan kanan Jaka yang tengah di acungkan ke langit menampakkan guratan-guratan cahaya biru membentuk sebuah busur indah layaknya sebuah busur dewa Siwa dalam kisah Ramayana.


Dengan Sholawat pada nabi matanya terpejam sejenak seraya mengarahkan busur ke arah puluhan anjing setan yang meloncat kearahnya.


Menarik tali berbentuk cahaya yang mengikat di setiap sisi busurnya. Dari tarikan tersebut memunculkan panah-panah Cakra yang bersumber dari alam yang terbentuk dari kekuatan hawa murni dari tumbuhan di sekitarnya menjadi satu bentuk anak panah yang teramat kuat.


Dengan langkah demi langkah kedepan Jaka terus melontarkan anak panah Cakra menembus tubuh-tubuh hitam menjijikkan puluhan Anjing setan hingga sosok anjing setan musnah terbakar menjadi abu. Lalu Jaka terus meloncati atab rumah warga satu-persatu menuju dimana Sultan berada.


Tepat di bawah Jaka yang terus melompati atab-atab rumah warga. Dava terus berlari dengan ajian tinju arwahnya terus melayangkan pukulan pada puluhan sosok jin berjubah hitam berperawakan jangkung dengan tutup kepala yang menyambung dengan jubah hitamnya dan berwajah gosong.


“Terus Dava jangan berhenti, keselamatan warga Dukuhan Banjar Kerep bergantung pada kita sekarang,” teriak Jaka yang terus melompat di atas atab sambil terus melesakkan panah kearah Anjing-anjing setan.


“Ia Mas Bismilah, bila malam ini memang malam terakhir kita maka kita kan bersama-sama menghadapinya,” teriak Dava yang berlari di sela-sela rumah warga sambil terus memusnahkan jin berjubah hitam.

__ADS_1


“Tidak Adikku ku pastikan kau tidak akan tiada malam ini karena Janji Allah itu nyata siapa yang berdiri di jalanya batu sebesar gunung pun akan bisa kita pecahkan,” gumam Jaka.


Di sisi desa sebelah timur di mana separuh siluman peliharaan Sultan telah di lepaskan menebar hawa kematian di setiap jalanan. Beberapa anak buah Sultan seakan menggiringnya melesat ke arah rumah Pak Haji Kardi.


Mereka tahu kalau Jaka dan Dava tengah berlari menuju ke arah Sultan berada sehingga untuk memecah keberadaan konsentrasi Jaka dan Dava agar salah satu dari mereka menuju arah timur.


Strategi di luncurkan yakni menggiring para siluman yang dilepaskan dari sisi timur menuju ke tengah desa di mana rumah Pak Haji Kardi berada.


Agar kalau salah satu dari Jaka dan Dava menyadari ada bahaya mendekati rumah Pak Haji Kardi Abah dari Dava tentu salah satu dari mereka akan berbalik arah menyelamatkan anggota keluarganya.


“Mas Jaka, ada segerombolan siluman dari timur menuju rumahku,” teriak Dava sambil terus menghantam beberapa jin berjubah hitam.


“Biarkan Dava tetaplah mengikutiku ke arah barat di mana pusat dari cakram kekuatan mereka berada di sana pemimpin mereka berada. Kita harus bisa mengalahkan pemimpinya. Bila pemimpinya kalah tentu yang lain akan mundur,” teriak Jaka terus melompati atab.


“Tapi bagaimana dengan keluargaku Mas, bagaimana dengan kak Putri dan Sari?, Mereka dalam bahaya,” teriak Dava yang mengikuti Jaka berlari namun berada di bawah yakni di jalanan utama desa.


“Kau belum tahu bagaimana kakak mu Putri kalau sedang beraksi Dava lagian aku sudah tahu aroma baumu Sultan dan kau pun tak tahu Sultan aku sudah menunggumu beberapa hari ini, aku jua sudah mengetahui rencana busukmu untuk membunuh Dava dengan jalan memecah konsentrasi kami aku tak akan membiarkan itu terjadi,"


"Sekarang duhai istriku tersayang Putri kuserahkan keselamatan rumah Paklik Kardi beserta isinya padamu dan jangan Sampai calon anak ku terluka berhati-hatilah permaisuriku,” gerutu Jaka dengan terus berlari.


Anjing setan telah habis tak tersisa jarak Sultan dan Jaka masih jauh. Jaka menghentikan langkahnya berlari di atas atab rumah warga.


“Sekarang apa lagi Sultan,” ucap Jaka.


Wraau... Oar... Argh...


Suara geraman dari arah depan Jaka, muncullah beberapa siluman macan putih yang begitu menyeramkan seketika beberapa siluman macan tersebut meloncat kearah Jaka hendak menerkam Jaka.

__ADS_1


Namun Jaka tak beranjak dari tempatnya berdiri ia tahu kalau sesosok Harimau kumbah sudah berada di belakang Jaka tengah meloncat dari samping kanan Jaka menyambut para siluman macan putih yang di lepaskan Sultan.


“Mas Jaka pergilah,” ucap sosok macan kumbang.


“Maaf merepotkan mu Datuk Panglima Kumbang,” kata Jaka kembali melanjutkan larinya.


Di bawah atab Dava telah mengatasi perlawanan Jin jubah hitam kini ia terus berlari menyusul Jaka. Tetapi langkahnya terhenti saat seorang anak buah Sultan menghadangnya.


“Dava, Dava, maaf perjalanan mu harus kuhentikan sampai di sini,” ucap sosok pemuda anak buah Sultan.


Betapa terkejutnya Dava karena sosok pemuda yang menghentikan ia berlari yang menjadi salah satu anak buah Sultan adalah sahabatnya sendiri teman satu kelasnya di SMK 3 Jombang.


Bahkan sosok tersebut yang terkenal cupu, pendiam dan kurang pergaulan adalah sosok sahabat terbaik Dava yang sering di panggil Si Cimot.


“Loh Cimot kau Cimot kan,” ucap Dava dengan rasa tak percaya melihat sosok sahabatnya kini berdiri di depanya memakai seragam kebesaran para siluman.


“Ada apa kau terkejut teman, aku sebenarnya lelah berpura-pura setiap hari saat di sekolahan menjadi sahabatmu. Tapi apa boleh buat itu perintah Sultan ketua kami,” ucap Cimot.


“Apa Sultan?, Anak Ki Kromo dukun cabul yang di hakimi warga dua tahun yang lalu itu. Bukankah dia guru agama di sekolah kita kok bisa dia menjadi pawang siluman?,” ucap Dava.


“Sudahlah jangan berlagak polos bertarung lah denganku sampai mati. Kepalamu itu sangat kubutuhkah untuk kenaikan pangkat dari ketua kami Sultan,” teriak Cimot.


“Jangan gila kau Cimot aku Dava temanmu aku sahabatmu apa kau lupa saat-saat kita dalam susah dan senang menantang bahaya saat menakklukkan geng-geng berandal kota Jombang,” kata Dava.


“Diam kau Dava semua itu hanya pura-pura. Yang benar sekarang bertarung lah dengan ku,” teriak Cimot berlari kearah Dava.


“Cimot Jangan Salahkan aku kalau kali ini demi Allah apapun akan kuhapus sekalipun itu persahabatan kita,” gerutu Dava berlari menyongsong ke arah Cimot nampak air mata Dava menetes karena tak mengira sahabat terbaiknya akan menjadi seperti ini pemuja setan.

__ADS_1


__ADS_2