
Pagi yang berkabut di sekitar rumah Haji Kardi nampak Haji Wachid dan Umi Epi tengah berbenah memasukkan baju dan pakaian ganti yang ia bawa untuk menginap di rumah Haji Kardi beberapa hari yang lalu kini mereka bersama Jaka dan Putri hendak bersiap pulang ke desanya.
“Kenapa tidak menginap di sini untuk beberapa hari lagi Mas?,” ucap Haji Kardi memberikan sebuah tas ransel berisi pakaian ganti pada Haji Wachid.
“Lah kalau aku disini lama-lama siapa yang mengurus Pondok Dik?,” ucap Haji Wachid.
“Baiklah kalau mau Mas Wachid seperti itu, aku cuma ingin berterimakasih atas bantuan Mas dan Jaka terutama calonya Vivi Gus Bagus,” ucap Haji Kardi.
“Halah kamu itu kayak sama siapa saja Dik,” ucap Haji Wachid.
“Kalau kemarin malam tidak ada kalian entah apa jadinya,” ucap Haji Wachid.
“Oh ia, Bukanya Nak Bagus rumahnya di Banjar Dowo ya. Mampir tidak ya takutnya nanti timbul fitnah kalau mampir kasihan Vivi nanti kalau sampai ada gosip miring masak pihak perempuan bertamu dahulu kan tidak baik ya Dik,” kata Haji Kardi.
“Benar Mas lain kali saja berunding dulu sama Nak Bagus bagaimana enaknya,” kata Haji Kardi.
“Eh kemana Nak Bagus rupanya dari pagi sudah tidak kelihatan?,” tanya Haji Wachid serasa melongok kedalam rumah Haji Kardi mencari sosok Gus Bagus.
“Pagi tadi sebelum kalian bangun dia pamit pulang karena ada urusan mendadak dengan Abahnya, katanya sih begitu Mas tidak tahu urusan apa yang dimaksud kan,” kata Haji Kardi.
“Yah kita bersyukur punya sosok seperti Nak Bagus itu, Dia yang tidak pernah tertidur. Walau tidur juga mungkin bisa dihitung maksimal empat jam aku pernah bicara dengannya katanya begitu,” ucap Haji Wachid sambil menutup kap belakang mobil setelah memasukkan barang bawaannya.
“Lagi ngobrolin apa sih serius amat?,” ucap Umi Epi yang baru keluar dari dalam rumah bersama Umi Emi.
“Ia, ya Mbak, aku dengar dari dalam kayaknya seru banget,” ucap Umi Emi.
“Ini urusan laki-laki,” jawab Haji Wachid.
“Hu..., awas loh ya kalau macam-macam sebentar lagi Abah punya cucu loh dari Jaka dan Putri enggak malu sama uban kalo masih nakal,” ucap Umi Epi.
Hahaha...
Gelak tawa kedua keluarga itu pun pecah menyemai sela-sela pagi yang masih diselimuti kabut dan embun yang masih menggelayut diantara dedaunan pohon akasia yang berjajar sepanjang jalan utama desa.
Sementara para orangtua bercanda di luar rumah pasangan muda-mudi para anak dari Haji Wachid dan Haji Kardi tengah asyik membantu Putri dan Jaka berbenah di dalam kamar. Hanya Vivi yang sendiri karena pagi benar Gus Bagus sudah pamit pulang.
“Eh Dek semalam kok ada yang ganjil ya?,” ucap Jaka memulai pembicaraan bertanya pada Putri yang sedang melipat baju.
“Ganjil gimana sih Jaka, Apanya yang ganjil?,” ucap Putri bertanya balik pada Jaka.
“Apaan yang ganjil Mas?, Apa ada sosok makhluk halus atau siluman yang mendekat?,” ucap Dava ikut bertanya penasaran bercampur khawatir.
“Eh bukan masalah yang itu Dik Dava?, kamu nih semangat sekali,” celetuk Jaka.
“Ia Mas Jaka, jangan sampai ada makhluk halus yang jahat lagi yayang ku kan belum sembuh benar,” ucap Sari yang duduk disampingnya Dava.
__ADS_1
“Cie, cie, ada yang perhatian nih,” ucap Jaka menggoda Sari dan Dava
Yang tiba-tiba pundaknya disenggol-senggol dengan pundaknya Putri seakan Putri memberi kode pada Jaka jangan menggoda Dava dan Sari kasihan sama Kak Vivi yang tengah asyik bermain hp sendirian di depan meja rias karena ditinggal pulang Gus Bagus dari pagi.
“Apa sih Dik?,” ucap Jaka belum mengerti kode Putri.
“Itu Mas, kasihan Kak Vivi jangan begitu nanti dia sedih,” ucap Putri sambil memelankan suaranya agar Vivi tidak mendengarkan.
“Emang apaan Jaka yang ganjil?,” tanya Putri membelokkan arah pembicaraan Jaka agar tak menggoda Dava terus.
“Anu semalam kok aku merasa aku kamu bodohi ya Put!,” ucap Jaka.
“Lah kok begitu maksudnya bagaimana?,” tanya Putri sekali lagi dengan wajah heran.
“Semalam saat aku tancap gas kan katamu begini, besok aku palang merah loh awas kalo ngambek. Memang bisa gitu orang hamil halangan kan kagak mungkin ya?,” ucap Jaka merasa polos.
“Maksud Mas Jaka bagaimana Mbak aku kok enggak paham ya?,” ucap Dava.
“He..., Jaka..., mulutmu ilo!!,” teriak Putri sambil membungkam mulut Jaka dengan tangannya.
“Sudah jangan dengarkan Masmu ini Dava anggap saja lagi kumat,” ucap Putri.
“Hahaha..., Ia Mbak,” ucap Dava.
“Apasih Dek kok malah mulutku kamu bungkam?,” ucap Jaka sembari melepas tangan Putri yang membungkam mulutnya.
“Aduh, aduh, aduh, ia ampun-ampun,” teriak Jaka kesakitan.
“Ngomongnya itu loh ada Sari sama Dava nanti kalau ditiru Adikmu itu gimana,” ucap Putri berbisik di telinga Jaka.
“Iya maaf sayang,” ucap Jaka membalas bisikan Sari memelankan suaranya.
“Malah bisik-bisik apa kok Mbak Putri?, tadi maksud Mas Jaka apaan. Tancap gas dan kok bisa hamil bisa halangan, maksudnya bagaimana aku kok enggak paham ya?,” ucap Dava.
“Anu Dava semalam Mas dan Mbakmu Putri bahas soal Valentino Rossi yah Moto GP itu loh tancap gas dia kena halangan ban bocor nah benar,” ucap Jaka mencoba beralasan agar Dava tak bertanya lagi.
“Ayo cepat beres-beresnya Putri, Jaka nanti kesiangan kita ada kondangan di rumah Pakde Giant loh nanti siang,” ucap Vivi seraya mengambil tas ransel di sampingnya lalu berjalan keluar kamar.
“Tuh kan kamu sih Jaka!?,” ucap Putri.
“lah kok Aku,” ucap Jaka.
Sedangkan Dava dan Sari hanya bengong tidak mengerti maksud dan arti percakapan Jaka dan Putri.
“Loh hawa ini!, Dava Kamu sudah bisa merasakannya juga kah?,” ucap Jaka yang tiba-tiba merubah mimik mukanya menjadi sangat serius.
__ADS_1
“Ia Mas beliau datang menemui kita, ada apa ya Mas tiba-tiba sekali?,” ucap Dava yang ikut berwajah serius.
Putri sudah mengerti kalau sang suami sudah sangat serius seperti ini berarti memang ada seseorang yang teramat sakti tengah datang mengunjungi mereka. Sedangkan Sari yang belum paham tentang situasi seperti ini hanya diam dan bingung dengan tingkah laku Jaka dan Dava.
“Dava gerak cepat kita keluar,” ucap Jaka menyuruh Dava.
“Baik Mas ayo kita sambut beliau?,” ucap Dava yang tiba-tiba menghilang berjalan keluar secepat kilat disusul Jaka yang melakukan hal sama seperti Dava.
“Loh kok hilang, Mas Dava, Mas Jaka kok hilang Mbak kemana mereka?,” tanya Sari yang kebingungan karena secara tiba-tiba Jaka dan Dava menghilang.
“Tenang Dek tidak apa-apa nanti kamu juga akan terbiasa dengan perilaku mereka yang seperti ini kok kamu. Mbak saja sering di tinggal begitu sedang asyik-asyiknya bermesraan malam-malam eh ada yang datang. Alhasil Mbak ditinggal padahal lagi enak-enaknya,” ucap Putri.
“Enak-enaknya, maksud Mbak bagaimana?,” tanya Sari begitu polos.
“Eh, maaf, Ups..., Mbak keceplosan ya sudah lupakan,” ucap Putri.
Di luar rumah Haji Kardi dan Haji Wachid tengah menyambut sosok sakti yang dimaksud Jaka dan Dava datang berkunjung.
Beliau adalah sang guru besar orang nomor satu di organisasi T O H Haji Kasturi. Yang datang secara tiba-tiba dan muncul saja begitu cepat. Jaka dan Dava sudah berada disampingnya Haji Wachid dan Haji Kardi secara cepat.
“Ini anak-anak sudah sangat peka ya Mas Kasturi tau saja kalau gurunya datang,” ucap Haji Wachid.
“Hehehe..., Ia Dik Wachid Allhamdulillah mereka sudah semakin terlatih,” ucap Haji Kasturi.
“Mas mbok ya masuk dulu lama kita tidak bertemu kangen aku sama kamu,” ucap Haji Kardi.
“Sudah di sini saja aku tidak lama hanya mampir sebentar mau memberi kabar pada kalian,” ucap Haji Kasturi.
“Apa itu guru?,” ucap Jaka penasaran.
“Kali ini hawanya sudah terasa dan waktunya sudah semakin dekat. Kalian bersiaplah ini adalah pertarungan terakhir kita, pertaruhan antara kalah atau menang dan hidup atau mati sebuah pertarungan besar antara kebaikan dan kejahatan,"
"Semalam panglima sosok ghoib yang serupa iblis dan berbentuk serupa panglima iprit juga layaknya bangsa siluman karena dia perpaduan dari seluruh unsur ghoib telah menyatakan akan menyerang habis-habisan ke seluruh elemen desa di seluruh Jombang,” ucap Haji Kasturi.
“Astagfirullah..., akhirnya datang juga hari ini sudah kuduga. Seperti yang telah kita prediksi dahulu Mas,” ucap Haji Wachid.
“Benar Dik Wachid, kali ini kita tidak bisa menghindar mau tidak mau seluruh elemen T O H dari generasi pertama dan kedua akan ikut terlibat, seperti kata panglima ghoib dari kelompok ilmu hitam bahwa mereka akan menyerang setiap desa jadi satu-satu dari kita akan sibuk dengan perang di desanya masing-masing,"
"Kali ini kita tak bisa saling membantu tapi kita bisa menyiasati setelah menang di satu tempat langsung bergerak ke tempat yang lain untuk membantu di tempat yang lain agar tidak lagi ada jatuh korban,” ucap Haji Kasturi.
“Yah kami mengerti,” ucap Haji Wachid.
“Jaka dan Dava bersiaplah terutama Dava kau yang belum cukup pengalaman jadi berusahalah sebaik mungkin agar kau tak terbunuh kali ini tidak akan ada yang membantumu, karena yang lain akan sibuk dengan musuhnya sendiri-sendiri,” ucap Haji Kasturi.
“Siap guru,” ucap Dava.
__ADS_1
“Baiklah aku pamit dahulu aku hanya ingin menyampaikan hal itu, Assalamualaikum,” ucap Haji Kasturi tiba-tiba hilang dari pandangan.
“Waalaikumsalam,” jawab serempak Jaka, Dava, Haji Kardi dan Haji Kasturi.