
“Brem, brem, tengteng teng, sit hop stop,” celetuk Wahyu langsung lompat dari atas motor bergegas lari menuju dalam rumah Pak Bupati Bagus yang memang sudah terbuka pintu depannya.
“Hey, Wahyu hati-hati Nak jangan lari nanti jatuh,” teriak Jaka namun Wahyu tak menggubris dan terus berlari dengan kaki-kaki kecilnya yang menggemaskan.
“Assalamualaikum tante, oh tante,” teriak Wahyu sambil terus berlari melewati Omnya yakni Pak Bupati Bagus beserta petinggi T O H yang lain yang tengah asyik mengobrol di ruang tamu.
“Eh Wahyu jangan lari-lari Nak nanti jatuh,” teriak Bagus mengingatkan Wahyu namun Wahyu melewatinya begitu saja karena saking rindunya pada tantenya Vivi.
Sebentar kemudian Wahyu kembali ke tempat para peringgi T O H yang sedang duduk-duduk seraya menyalami satu persatu dari mereka. Sampai pada tempat bagus duduk Wahyu menyalami Bagus sambil mencium punggung tangannya seraya bertanya, “Om tante dimana sih Wahyu cari di dapur di ruang tengah, di Mushola tengah, di kamar mandi enggak ada.”
“Tantemu lagi bobok sayang dikamarnya jangan ganggu dulu ya,” jelas Bagus memberitahu Wahyu.
“Tante, tante Wahyu datang,” teriak Wahyu malah berlari menuju kamar utama dari Bagus dan Vivi.
Hahaha,
Tawa serempak dari yang hadir di sana seakan sangat terhibur dengan tingkah lucu Wahyu yang memang tak pernah mau menurut dan selalu semaunya sendiri.
__ADS_1
“Punya ponakan satu kok mirip sekali sama Ayahnya waktu kecil dulu ya,” ujar Bagus bergeleng kepala melihat tingkah kocak Wahyu.
“Ehm Assalamualaikum, memang Mas Bagus tahu aku kecil dulu bagaimana. Mas Bagus kenal Kak Vivi juga pas kami sudah SMA. Mas Bagus ngarang nih,” timpal Jaka yang baru datang sesudah memarkirkan motornya di halaman rumah Bagus.
“Lah kita punya indra mata bukan lagi indra keenam kan sudah sampai indra kesembilan malahan. Jadi bisa dong kita menerawang jauh ke masa lalu ia kan Mbah Raji,” kata Bagus menatap Mbah Raji seakan ingin Mbah Raji mengiakan pernyataannya.
“Lah mana aku tahu,” jawab Mbah Raji sambil melirik Jaka dan mengedipkan mata tanda bahwa iya ada dipihak Jaka.
“Oh sekarang jadi satu komplotan nih sama Jaka gara-gara Mbah Raji Kakeknya Wahyu nih. Benar begitu Mbah jangan curang dong. Sebentar lagi kan Mbah juga jadi kakek dari anakku dan Vivi yang akan lahir juga ada anak dari Dava dan Sari loh. Jangan pilih kasih begitu dong Mbah ah Mbah Raji enggak asyik nih pilih kasih,” ucap Bagus meracau.
“Sudah-sudah kok malah bahas kakek dan cucu ini anak kemarin yang menyerang kita bagaimana?,” ucap Gus Bari melerai perselisihan antara Jaka, Pak Bupati Bagus dan Jaka.
“Oh iya yang paham anak ini kan Jaka dan Dava siapa namanya Dav?,” tanya Bagus pada Dava.
“Hendrik Wijaya saya sudah memantau anak ini beberapa waktu silam dan sempat pergi ke ranah gaib yang pada waktu itu sedang bergejolak terjadi perang di sana-sini akibat perebutan kekuasaan. Nah si anak ini si Hendrik Wijaya ini adalah seorang anak yang mampu membunuh raja jin maupun siluman yang ada di sekitaran kota Jombang ini,” terang Dava.
“Dan anehnya dia anak manusia loh tak ada keturunan jin atau siluman seperti yang pernah kita kalahkan Si Sulton misalnya,” tambah Jaka menerangkan menambah penjelasan dari Dava.
__ADS_1
“Saat aku bertanya pada salah satu warga dari pemukiman jin di kaki gunung Anjasmoro pas penelusuranku waktu itu. Katanya di belakang anak itu si Hendrik ini. Yang pernah kita lihat waktu berhadapan dengannya tadi. Sebuah bayangan besar serupa malaikat pencabut nyawa itu. Ternyata dia adalah sosok Barbadak Raja Jin terkuat di era sekarang yang tak pernah muncul sebelumnya dan dia adalah bapaknya si Adi Yaksa,” jelas Dava meyakinkan tentang eksplorasinya saat penelusuran gaib.
“Kalau begitu ini sangat serius dong, oh iya sampai lupa Dav. Pas waktu aku menggendong Wahyu lalu kalian menemui Halilintar. Aku dan Jaka dikagetkan satu sosok setan kecil. Waktu itu Wahyu yang tahu nah setan ini mirip sekali wajahnya seperti anak setan yang dilahirkan Sari istrimu dulu Dav. Yang bahayanya lagi Maysa Allah Dav kekuatannya dahsyat melebihi si Hendrik ini,” ujar Mbah Raji memberi kabar pada Dava.
“Benar Dek aku juga merasakan wong aku ada di sana juga saat itu. Dan kekuatannya itu alami. Kalau si anak setan ini jatuh ke tangan bangsa hitam bisa berbahaya Dav, kok bisa ya anak setan ini lepas dari rantai cahaya yang kupasang?,” ujar Jaka berpikir keras.
“Siapa lagi Jak yang membukanya kalau bukan tadi sosok Barbadak yang ada di belakang Hendrik Wijaya itu. Tapi yang jadi pertanyaan kenapa anak ini ditelantarkan begitu saja oleh Hendrik Wijaya apa tujuannya?,” celetuk Gus Bagus.
“Oh iya benar kelihatan ya mas sampean putar ulang. Si Barbadak ya yang melepaskan rantai pengikat ruh ku,” cetus Jaka dan Bagus hanya mengangguk perlahan.
“Kalau benar begitu adanya berarti kejadian ini saling berkaitan dan memang sudah diatur sedemikian rupa oleh Barbadak itu. Kalau begitu kita tak boleh lengah dan berleha-leha sepuluh tahun ke depan. Bisa-bisa ancaman Hendrik Wijaya tentang datang sepuluh tahun lagi untuk berperang dengan kita bukan isapan jempol belaka,” ujar Gus Bari ikut menimpali.
“Ya benar seperti halnya mendiang guru kita Haji Kasturi yang menyiapkan kita dan para pemuda lain dulu untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Kita jua harus melakukan hal yang sama seperti beliau sepuluh tahun ke depan,” kata Mbah Raji menegaskan.
“Benar itu Mbah andai Guru kita itu masih ada di tengah-tengah kita ya,” ucap Jaka agak murung yang memang paling dekat dengan Haji Kasturi.
“Sudahlah Jaka jangan kau tambah beban guru untuk naik ke tangga surga dengan kesedihanmu itu, aku tahu kau yang paling dekat dengan guru biarkan beliau tenang cukup kita kirim wasilah Alfatihah kepada beliau jangan lagi kita merepotkan beliau untuk turun lagi ke bumi membantu kita,” celetuk Gus Pendik mengingatkan Jaka.
__ADS_1
“Yah benar Gus Pen dan ada benarnya kata Mbah Raji kali ini tugas Pak Bupati Bagus. Masku yang paling yes ini untuk menggalakkan dan menghidupkan organisasi karang taruna desa seperti dulu lagi,” cetus Jaka memegang pundak Bagus.
“Itu sudah aku pikirkan Dek dan tadi sebelum kau datang aku sudah menyuruh beberapa orang untuk melaksanakan hal itu. Dan kalian semua akan ikut andil dalam pelatihan masal pembinaan kanuragan nantinya,” jawab Pak Bupati Bagus.