T O H

T O H
Kita Menang


__ADS_3

“Jaka tolong aku,” teriak Mbah Raji yang kepalanya sudah tersentuh tangan gaib dari lingkaran besar yang di buat Aji.


Mbah Raji seakan melayang ke udara mengikuti alur tanah yang terus-menerus terbelah dan melayang langsung menempel pada bola tanah besar yang terus melapisi Aji sebagai pusatnya.


“Mbah Raji pegang tanganku,” pinta Jaka yang berlari menyongsong tangan Mbah Raji.


Namun saat Jaka hendak menggapai tangan Mbah Raji. Satu tangan gaib besar kembali meraih tubuh Mbah Raji kali ini menekuk tangan Mbah Raji dan menggulung tubuhnya masuk kedalam lingkaran.


“Astagfirullah Mbah Raji!" teriak Jaka.


“Dava waspadalah?" teriak Jaka terus melompati tanah dan batu terkadang pecahan bangunan rumah yang tersedot ke dalam bola besar dari tanah bentukan Aji.


Dari atas langit Gus Bagus dengan menaiki Garuda nampak menunjukkan jari telunjuk ke atas langit. Seketika cakram besar turun dari atas langit menuju tangannya.


“Bismillah,” ujarnya melepaskan senjata cakram besar berwarna kuning keemasan ke arah bola raksasa penyedot seluruh kehidupan di sekitarnya. Namun laju cakram tertahan oleh puluhan tangan ghoib yang keluar dari dalam lingkaran bola segel Aji tersebut dan menyerap energi cakram sehingga cakram seketika mengecil lalu menghilang.


“Gila kekuatan apa ini, kenapa cakramku dapat terhisab?” ujar Gus Bagus.


“Dava percuma saja kita berubah bentuk menjadi mode api. Lebih baik hentikan mode api mu kembalilah ke mode biasa, karena mode api kita bisa saja tersedot masuk ke dalam lingkaran hingga habis energi mode api kita,” teriak Gus Bagus.


“Benar Juga Dava hentikan mode api hijaumu?,” ucap Jaka.


“Baik Mas,” jawab Dava merubah kembali menjadi mode manusia normal dari semula menjadi mode api hijau.


Begitu jua Gus Bari dan Jaka serempak merubah diri menjadi mode normal kembali. Agar tak tersedot masuk kedalam lingkaran Aji. Namun Gus Lukman belum sempat menghindar dan tidak sempat teriak seperti Mbah Raji iya terisap masuk kedalam lingkaran bola tanah.


“Gus Lukman,” teriak Dava.


“Ya Allah, bagaimana Mas apa tidak ada yang dapat mengalahkan Aji?” ucap Dava.


Tiba-tiba belum terhenti Dava bicara mulutnya belum mengatup benar dari penyelesaian perkataannya sebuah teriakan keras bak geledek menggelegar terdengar dari kejauhan.

__ADS_1


“Ada Aku?" teriak sesosok bayi cahaya meloncat cepat dengan lesatan begitu cepat sehingga tidak mungkin dengan mata telanjang ataupun mata gaib sekalipun melihatnya karena teramat cepatnya lesatan sang bayi cahaya.


Dengan cepat ia mendekat pas di bawah bola segel dari kumpulan tanah dan jiwa milik Aji. Tangan kecil dengan jari-jari kecil itu memegang perlahan dari bawah seakan bola segel Aji dengan entengnya di bawa. Matanya tajam seperti Putri dan senyumnya manis seperti Jaka badanya keras seperti haji Wachid dialah sang bayi cahaya bakal jabang bayi dalam kandungan Putri.


Bayi cahaya menatap Jaka seakan tersenyum dan hati Jaka pun seakan bergetar melihat senyuman sang bayi cahaya seolah Jaka dapat menerjemahkan senyuman sang bayi bahwa iya ingin berkata, Ayah aku Wahyu anak mu.


“Putri anak kita,” gerutu Jaka dengan tersenyum bangga.


Tetapi seketika bayi cahaya seakan pecah semburat bersama hancurnya bola segel Aji. Pecah berantakan sinar pecahan sang bayi cahaya begitu silau seakan seluruh desa penuh dengan cahaya dan bagi siapa di dekatnya tentu otomatis menutup mata terlalu silaunya.


***


“Aji bangun Paklik,” ucap Bayi Cahaya membangunkan tubuh dan jiwa Aji yang Asli di dalam keranda namun hanya terdapat Bayi Cahaya dan Aji yang sesungguhnya di dalam Altar gelap gulita di dalam dimensi yang berbeda.


Aji nampak membuka matanya perlahan mulai sadar dari koma panjang sepanjang hidupnya, “Siapa kau Dek?” ucap Aji yang kaget melihat sosok bayi di sampingnya. Bayi yang seharusnya tak dapat berdiri tegap dan bicara, bayi yang seharusnya dalam gendongan sang ibu. Tapi bayi ini dapat membangunkannya, Aji terduduk dan menatap sang bayi terheran-heran.


“Siapa Kau Dedek Bayi, kenapa kau ada disini?" ucap Aji.


“Sarpala!” ucap Aji terbelalak terkejut melihat Sarpala terikat dan meronta-ronta tak dapat melepaskan diri.


“Paklik Aji sebenarnya kau sudah tiada di dunia dan aku di turunkan pula mengajakmu kembali ke alam atas,” ujar Si Bayi Cahaya.


“Yah benar katamu Dedek Bayi, tetapi bagaimana dengan warga yang telah aku hancurkan dalam wujud jahatku. Karena aku sebetulnya tidak benar-benar tertidur aku tahu para pejuang T O H tengah melindungi kota dari Angkara murka Sarpala dan antek-anteknya,” ucap Aji.


“Tenang Paklik setelah kita kembali Sarpala akan tersedot oleh rantai itu kembali kedalam tanah terus ke bawah tanah jauh. Ke tempat dimana iya seharusnya berada yakni Neraka, karena rantai yang membelenggunya berasal dari sana,” ucap Si Bayi Cahaya.


“Syukurlah kalau begitu mari Dedek Bayi tunjukkan aku jalan menuju alam atas,” ucap Aji.


“Mari aku gandeng Paklik,” ucap Si Bayi menggandeng tangan Aji mendaki sebuah tangga putih melewati samping Sarpala yang terus meronta terbelenggu.


“Hai kau putra Jaka suatu hari aku akan datang memberi perhitungan dengan mu,” teriak Sarpala melotot melihat Si Bayi Cahaya bersama Aji terus naik ke atas langit.

__ADS_1


“Sayangnya itu tak akan terjadi Paklik Sarpala,” ucap Si Bayi Cahaya menudingkan jari dengan isyarat bahwa Sarpala akan jatuh terus ke bawah tanah.


“Putra Jaka awas kau!” ucap Sarpala terus terjeblos jauh kedalam tanah.


Lap,


Cahaya dari ledakan sang bayi cahaya hilang seketika. Desa Mojokembang kembali tertata rapi bola segel besar yang semula meluluhlantakkan desa yang di bentuk Sarpala dalam wujud jahat Aji sudah lenyap jua dan semua warga serta pasukan T O H yang terhisab ke dalam bola kembali ke tempat semula berjajar di belakang Jaka.


Jaka tengah mendongak ke atas seakan iya tahu si bayi cahaya tengah melambaikan tangan kearahnya. Jaka nampak tersenyum meneteskan air mata bahagia.


“Mbah Raji, Allhamdulillah,” ucap Gus Bari memeluk Mbah Raji bersyukur masih dapat bertemu lagi setelah perang panjang yang melelahkan.


“Allah terimakasih kau telah menolong kami, Nak terimakasih kau telah hadir setidaknya aku tahu senyumanku semanis senyumanku,” ucap Jaka seraya tersenyum ke atas langit.


“Mas sudah usai Mas, kita menang Mas,” ucap Dava memeluk Jaka seraya menangis tersedu saking bahagianya.


“Benar Dek Allah menolong kita,” jawab Jaka.


“Allhamdulillah,” ucap Gus Bagus yang melayang turun dari atas langit turun dari atas punggung Garuda dengan cara meloncat ke bawah.


Sedangkan Gus Lukman tengah terduduk di salah satu atap rumah warga sambil menyulut rokok lalu mengepulkan asapnya, “Sungguh nikmat rokok rasa kebebasan kali ini,” ucap Gus Lukman.


“Anak-anak,” ucap Haji Kasturi yang datang secara tiba-tiba begitu saja di hadapan para anggota T O H yang tersebar di seluruh desa Mojokembang.


“Kita menang guru, kita menang,” ucap Jaka mendekati sang guru seraya memeluknya dengan menangis terharu.


“Jaka kami telah menyelamatkan keluargamu, dan oh ia, Nak Putri sudah melahirkan kami sepakat memberinya nama Wahyu,” ucap Haji Kasturi berbisik kepada Jaka.


Jaka tersenyum kembali dan melepaskan pelukan sang guru perlahan lalu berteriak kepada seluruh pejuang yang ikut berperang.


“Kita menang, Kita menang, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, guru kita menang guru,” teriak Jaka kembali memeluk sang guru haji Kasturi.

__ADS_1


“Benar Jaka Allhamdulillah,” ucap Haji Kasturi di sambut teriakan dan suka cita seluruh pejuang.


__ADS_2