
Malam ini malam satu suro suasana kota Jombang tengah mencekam kebakaran dimana-mana. Kesurupan masal terjadi di beberapa tempat, kekacauan dan penjarahan terjadi di beberapa tempat. Jalanan menjadi tempat pemerkosaan sejumlah wanita kini keadaan kota Jombang seakan menjadi kota mati.
Tangisan dan teriakan kengerian di setiap sudut gang darah tertumpah dimana-mana. Warna aspal tak lagi hitam menjadi semerah darah bergrletakan nyawa dimana-mana. Malam ini seperti biasa sebagai pertanda awal kehancuran hujan deras dan badai mengguyur serta menyapu kota menambah kehancuran semakin hancur untuk kota yang berjuluk kota beriman bersih indah dan nyaman yang kini tak lagi elok dihuni.
Di sudut-sudut kota terjadi peperangan antara anggota T O H dan para setan atau siluman. Dari mulai anggota T O H ring paling lemah hingga terkuat semua bertarung. Banyak pula dari mereka yang telah gugur mempertahankan kota Jombang.
Di sudut pojok desa Mojokembang tepatnya di ujung gang buntu depan warung Nyi Nurma. Hasan Jaelani tengah menghadapi mantan istrinya yang kini berubah sosok menjadi ronggeng sakti berselendang sakti sebagai senjatanya yakni Nyi Nurma.
Dengan beberapa sabetan selendang dan tubuh memutar Nyi Nurma menghempaskan Hasan jatuh terhempas berguling walau tak menapak tanah, karena Hasan yang sudah menjadi ruh namun iya masih dapat merasakan sakitnya pukulan selendang Nyi Nurma.
“Dek sudah Dek Nurma hentikan aku Hasan Suamimu dahulu,” begitulah kata-kata Hasan Jaelani yang terus di ulang-ulang untuk menyadarkan Nyi Nurma yang terus melayangkan bentakan dan hempasan selendangnya ke arah Hasan.
“Bukan suamiku sudah mati hanyut di sungai beberapa tahun yang lalu kau hanya menyerupainya. Aku tahu itu agar aku dapat kau kalahkan lalu kau nikmati tubuhku seperti orang sakti yang lain yang hanya menginginkan kenikmatan dariku,” teriak Nyi Nurma masih menghantam Hasan dengan membabi buta.
“Nyi sadarlah lihatlah kota ini karena ulahmu yang memberitahu kelemahan Mas Jaka dan Dava kepada raja Adi Yaksa sehingga kota ini hancur apa kau tidak kasihan kepada mereka Nyi. Lihatlah itu para siluman yang menculik Mbak Putri dan Mbak Sari serta membunuh seluruh keluarganya apa kau tidak merasa bersalah,” teriak Hasan yang masih setengah hati meladeni pukulan Nyi Nurma karena mengingat masa lalu mereka saat masih menjadi suami istri.
“Jangan banyak omong kau!!,” teriak Nyi Nurma sekali lagi mengulurkan selendangnya ke arah Hasan namun kali ini selendang itu tertangkap oleh Hasan.
Dengan sekuat tenaga Hasan memegang pucuk selendang yang terlontar kepadanya sedangkan di ujung yang lain Nyi Nurma berusaha menariknya kembali namun tak mampu akibat kuatnya pegangan Hasan di ujung yang lain.
__ADS_1
“Kali ini aku tak akan mengalah lagi Nyi demi menyadarkanmu akan aku ladeni apa pun risikonya walau ruhku harus lebur sekalipun,” kata Hasan memandang Nyi Nurma tajam.
Seketika dari ujung tangan Hasan yang menggenggam ujung selendang perlahan mengeluarkan sinar cahaya terang terus merambat sealur selendang yang tergerai menuju ujung satunya yang terikat di pinggang Nyi Nurma.
Lap...,
Cahaya itu menyatu di badan Nyi Nurma membuat Nyi Nurma tergolek lemah. Tiba-tiba saja sesosok genderuwo berjenis kelamin wanita keluar dari tubuh Nyi Nurma dengan meronta-ronta selayaknya orang yang tengah terbakar api lalu hancur seketika.
Hasan berusaha menghampiri Nyi Nurma yang tengah tergeletak ingin memegangnya namun tak mampu apa daya iya kini sesosok ruh sedangkan Nyi Nurma masih hidup.
“Dek Nur bangun dek buka matamu,” pinta Hasan penuh harap berharap mantan istrinya tersebut tak mati karena pukulan cahaya yang ia lontarkan.
Perlahan mata Nyi Nurma terbuka, “Akhirnya kau tersadar juga Dek Nur. Aku khawatir pukulan cahayaku tadi berakibat fatal padamu,” ujar Hasan.
“Sudahlah Dek Nur semua sudah berlalu, aku lega akhirnya kau tersadar dan kembali menjadi Nurma seperti awal bersama denganku. Asal kau tahu Dek Nur kematianku tak seperti yang dibicarakan orang-orang bahwa aku mati tenggelam dan hanyut ke sungai saat mencari ikan. Tetapi aku mati berkelahi dengan beberapa pemuda laknat yang hendak berencana memperkosamu,” kata Hasan Jaelani menjelaskan tentang kematiannya.
“Hikz..., hikz..., maafkan Adek Mas!?,” ucap Nyi Nurma dengan bercucuran air mata ingin memeluk Hasan namun tak bisa karena Hasan sudahlah menjadi ruh bukan manusia lagi.
“Lalu bagaimana aku dapat menebus kesalahanku ini Mas, yang aku rasa sangat fatal akulah penyebab kehancuran seluruh kota ini Mas,” rengek Nyi Nurma sambil sendeku di atas rerumputan di samping gubuk rumahnya.
__ADS_1
“Masih ada cara Dek, masih ada satu cara untuk menolong Mbak Putri dan Mbak Sari kalau sekarang kita bergegas menuju ke dalam kerajaan Adi Yaksa,” kata Hasan meyakinkan Nyi Nurma.
“Bagaimana bisa Mas, Adek sudah tidak memiliki kesaktian lagi,” jawab Nyi Nurma dalam keadaan masih bercucuran air mata.
“Masih ada cara Dek Nur, yakni dengan cara Mas masuk ke raga Adek. Meminjam tubuh Adek semacam menyusupi sehingga Dek Nur tidak sadar dan Mas yang bertarung,” terang Hasan Jaelani mencoba meyakinkan sebuah cara untuk menolong Putri dan Sari yang diculik.
“Tapi bisa saja para panglima atau para prajurit Adi Yaksa mengetahui hal ini Mas, auramu dan auraku kan berbeda loh,” ucap Nyi Nurma.
“Ya kalau saat di area kerajaan Adi Yaksa kita bergantian. Mas tetap di dalam tubuh Dek Nur tetapi Dek Nur yang tersadar. Mas menyusupi Dek Nur tujuannya biar dapat langsung menuju kerajaan Adi Yaksa sampai dengan cepat dengan kesaktian Mas berjaga-jaga kalau sewaktu-waktu kita ketahuan jadi bisa melawan,” jelas Hasan Jaelani.
“Semoga saja masih sempat Mas kita menolong Mbak Putri dan Mbak Sari. Soalnya aku mendapat kabar mereka akan diambil sari patinya,” ucap Nyi Nurma.
“Maksudnya sari pati bagaimana Dek?,” tanya Hasan mulai curiga.
“Ya sari pati Mas, Mbak Putri hendak diambil setetes air hina yang keluar dari *********** tetes pertama dari puncak klimaksnya. Sedangkan Mbak Sari hendak diambil sari pati darah perawan pertama yang keluar dari alat *********** untuk membangkitkan ribuan tentara hitam yang paling kuat di jagat ini,” kata Nyi Nurma menjelaskan.
“Waduh gawat ini dengan kata lain mereka berdua hendak diperkosa Adi Yaksa dong,” celetuk Hasan.
“Benar Mas,” Jawab Nyi Nurma.
__ADS_1
“Kalau begitu lekas Mas susupi Adek lalu kita lekas pergi menuju kerajaan Adi Yaksa semoga belum terlambat dan Mbak Putri serta Mbak Sari masih belum sampai di kerajaan itu jadi kita bisa mencegatnya di jalan,” pinta Nyi Nurma pada Hasan.
“Baiklah bersiaplah Dek,” ujar Hasan Jaelani perlahan menyatukan ruhnya masuk ke badan Nyi Nurma seketika menghilang.