
Sore ini kamis malam Jumat tengah diadakan pengajian kecil-kecillan di gardu depan rumah Pak Haji Sugian yang dipimpin langsung oleh beliau bertujuan untuk mengirimkan doa bagi korban kecelakaan meninggal kemarin lusa.
Hidangan jajanan pasar terlihat menumpuk di dalam gardu yang ditaruh di sela-sela warga yang hadir hasil dari sumbangsih warga sekitar RT 01.
Jaka dan Putri terlihat ikut serta menghadiri pengajian tersebut mereka ikut melantunkan istigasah, Yasin dan tahlil dengan hikmat.
Turut hadir Pula para pejabat penting di desa Serapah yakni Pak Lurah Mardiono, Pak RT Ari, Pak RW Ustad Gianto, dan Komandan Nawan.
Setelah pembacaan doa penutup yang dibawakan oleh Pak RW Ustad Gianto. Warga mulai menyantap hidangan yang tersedia di samping mereka duduk bersila.
“Allhamdulillah akhirnya terealisasi juga pengajian kecil bagi korban kecelakaan ya Pak Haji,” kata Pak RT Ari seraya menggigit irisan buah semangka di tangannya.
“Ia Pak RT semoga dengan ini tidak ada lagi teror ketukan pintu di rumah warga dan semoga arwah almarhum tenang di alamnya,” ujar Pak Haji Sugian.
“Pak Lurah setelah ini mau langsung pulang atau mampir dulu ke rumah saya?,” kata Pak Haji Sugian bertanya pada Pak Lurah Mardiono yang tengah duduk dan menikmati hidangan di sampingnya.
“Saya langsung pulang saja Pak Haji kebetulan masih banyak urusan di rumah,” jawab Pak Lurah Mardiono seraya berdiri hendak memohon pamit.
“Loh kok terburu-buru begitu, jadi tidak enak saya Pak. Kok serasa saya seperti mengusir Bapak Lurah,” kata Pak Haji Sugian ikut berdiri.
“Endak Pak memang dirumah sedang banyak urusan. Oh iya Pak Haji mumpung ingat di pemilihan Lurah kali ini saya kan sudah tidak bisa ikut menjadi salah satu kandidat calon lurah kembali, karena masa jabatan saya sudah tiga periode jadi saya Cuma bisa kasih bapak dukungan moril dengan ucapan selamat berjuang Pak,” kata Pak Lurah Mardiono.
“Terimakasih Pak sebenarnya itu yang paling penting dukungan moril,” kata Pak Haji Sugian.
“Baik Pak saya pamit pulang dahulu, Assalamualaikum,” kata Pak Lurah Mardiono berlalu pergi masuk kedalam mobilnya langsung tancap gas pergi menjauh.
“Waallaikumsalam,” kata Pak Haji menjawab salam Pak Lurah.
“Jaka, Putri, umi ayo pulang,” kata Pak Haji Sugian mengajak pulang anggota keluarganya lalu beranjak pergi pula meninggalkan gardu.
“Kakek..., kakek...,” celetuk Si Kecil Aisyah berlari mengejar Pak Haji Sugian.
“Hei jangan lari Aisyah...,” teriak Putri mengejar Aisyah yang diikuti oleh umi Wati berjalan menyusul di belakangnya.
“Mari Pak RT saya juga harus pamit dulu menyusul Pakde enggak enak kalau saya diluar lama-lama takut fitnah,” kata Jaka.
“Halah Nak Jaka ini low memang siapa dan hal apa yang harus difitnah Nak Jaka, Nak Jaka,” ujar Pak RT Ari.
“Oh ia Pak RT mumpung ingat maaf saya belum lapor sama Pak RT kalau saya menginapnya lama di rumah Pakde,” kata Jaka.
__ADS_1
“Oalah Nak Jaka masalah itu tidak jadi masalah. Pak Haji Sugian itu sudah saya anggap layaknya keluarga saya sendiri wong kami sudah bersahabat sejak orok,” kata Pak RT Ari sambil menepuk pundak Jaka.
“Allhamdulillah kalau begitu, Insya Allah selesai pemilihan kepala desa yang baru saya balik kok Pak,” kata Jaka menjelaskan.
“Nak Jaka walaupun Nak Jaka selamanya tinggal di rumah Pak Haji Sugian tidak jadi soal kalian kan keluarga jadi tidak ada masalah,” ujar Pak RT Ari.
“Bapak bisa saja, ya sudah saya balik ke rumah Pakde dulu, Assalamualaikum,” kata Jaka seraya pergi ke rumah Pak Haji Sugian.
“Waalaikumsalam,” jawab Pak RT Ari.
Namun belum sampai beberapa langkah Jaka merasa ada yang mengikutinya berjalan. Di sampingnya seperti ada sesosok tak kasat mata tengah ikut berjalan beriringan dengannya.
Jaka tersenyum saat melihat sosok tersebut tersenyum padanya seakan menunjukkan rasa terimakasih atas bantuannya menjelaskan kepada warga agar mengadakan pengajian untuk mengirim doa padanya.
Jaka mengangguk pelan saat sosok tersebut juga mengangguk pelan lantas hilang lenyap dengan senyuman.
Hufffftz....
Jaka menghela nafas panjang, “Akhirnya kau pulang ke alam sana dengan senyuman kawan, Akhirnya kau sudah tenang, semoga jalanmu tidak terjal menuju nirwana kawan, selesai sudah kasus ketukan pintu depan rumah,” ucap Jaka dalam hati.
......
Malam sebelum besok pemilihan lurah,
Entah kenapa gardu selalu menjadi tempat favorit warga untuk berunding atau sekedar duduk-duduk mengisi waktu luang setelah seharian bekerja di sawah dan ladang milik mereka.
Untuk sekedar bercerita tentang tanaman yang telah mereka tanam di sawah seberapa besar tumbuh atau untuk sekedar bercengkerama, bergurau bersama para tetangga sekedar melepas penat dan lelah.
Namun malam ini suasana yang berbeda terasa di dalam gardu suasana yang sangat serius dengan topik perbincangan yang sangat serius pula, karena besok adalah hari dimana para warga menentukan nasib desa ke depan yakni hari dimana pemilihan calon kepala desa yang baru di gelar. Sebuah pesta rakyat terakbar lima tahun sekali.
Dimana calon kepala desa yang baru kali ini hanya ada dua kubu yaitu kubu Pak Haji Sugian yang berpusat di gardu RT 01 dan satu lagi kubu Pak Suroto yang berpusat di rumah Pak Suroto yang tengah terletak di RT 10.
Pak Suroto adalah seorang kaya raya juragan pemborong padi para petani saat musim panen tiba yang sering disebut juga sebagai juragan beras.
Beliau sangat terpandang dan selalu royal kepada masyarakat tetapi tersiar kabar burung bahwa kekayaannya tersebut didapatkan dari hasil yang tak wajar.
Kabar-kabarnya ia suka meminjamkan uang kepada warga dengan bunga yang tinggi atau sering juga di sebut rentenir.
Malam ini topik perbincangan di gardu nampak sangat serius yakni pembahasan mengenai Pulung keprabuan yaitu sebuah benda magis sejenis bola api sebuah Wahyu leluhur yang sangat sakti yang biasanya melayang-layang diatas desa. Biasanya muncul setiap malam sebelum besoknya di gelar acara pemilihan Lurah atau kepala desa.
__ADS_1
Sebuah Wahyu magis leluhur teruntuk bakal kepala desa yang terpilih dan memangku jabatan kedepan.
Biasanya siapa calon yang akan terpilih diatas rumah si bakal calon tersebut akan di jatuhi atau di hinggapi Si Pulung Wahyu keprabuan tersebut.
“Malam ini pokoknya aku tidak tidur sampai pagi,” kata Mbah Yono salah satu tetua desa yang terkenal memiliki pengetahuan adat istiadat kejawen.
“kalau begitu biar anak-anak memesan kopi saja Mbah buat melean (berkumpul untuk satu acara tidak tidur sampai pagi),” kata Pak Haji Sugian.
“Harus itu Pak Haji, saya ini sebagai pendukung Pak Haji harus bisa memastikan Si Pulung jatuh ke rumah Pak Haji, syaratnya ya itu kopi, hahaha...,” kata Mbah Yono sambil tertawa.
“Halah Mbah ngomong saja terus terang kalau Mbah minta dibelikan kopi oleh Pak Haji,” kata Pak RT Ari.
“Yah kalau memang di belikan ya itu bonus, itu kan juga buat kalian semua biar enggak mengantuk, tuh liat anak-anak muda itu matanya sudah seperti lampu 5 Watt, merem-melek, merem-melek (melihat-terpejam, melihat memejamkan mata lagi),” kata Mbah Yono seraya menunjuk beberapa pemuda yang ikut bergabung.
Hahaha....
Seketika tawa menyeringai gaduh di sela-sela warga di dalam gardu.
“Ya sudah, tolong salah satu pemuda untuk membeli kopi beberapa bungkus dan gorengan kalau bisa,” kata Pak Haji Sugian seraya mengulurkan uang seratus ribu, lalu salah satu pemuda berdiri dan lekas pergi ke warung untuk membeli kopi dan gorengan.
“Pulung itu rupanya bagaimana sih Mbah Yono,” kata Pak Toni salah jawara kampung yang ikut hadir.
“Pulung itu seperti bola api tapi bukan memedi loh ya kan ada yang seperti bola api merah panas itu ada yang berjenis teluh ada pula yang berupa hantu banaspati. Pulung itu seperti bola api tapi tidak terlalu besar ya sebesar bola sepak lah,”
“Memiliki tiga warna yang pertama warna merah itu bahaya itu berarti sumber maka petaka Pulung penyakit artinya membawa pagebluk lah si yang bakal kejatuhan Pulung nanti harus mampu menghancurkannya,”
“Warna kedua yakni warna biru ini paling kalem warna ini adalah Pulung Raja atau titah Wahyu keprabuan itu sendiri biasanya saat jatuh pada orang yang bakal menjadi Lurah akan berubah menjadi tongkat sakti berukir naga kembar dan berwarna emas nantinya,”
“Warna yang ketiga warna Putih atau hitam tergantung si pemangku jabatan kelak, kalau orang baik tentu yang datang putih kalau orangnya jahat tentu putih,” kata Mbah Yono menjelaskan.
“Oh begitu ya Pak,” kata Pak Tono sambil mangut-mangut mendengarkan.
_
_
_
_
__ADS_1