
Pukul, 00:01 waktu Desa Mojokembang,
Seperti biasa Jaka pulang agak larut malam setelah mengurus yayasan yang iya kelola. Seperti malam ini kembali telat iya sampai rumah sudah begitu larut bahkan waktu sudah menunjukkan tengah malam.
Sambil menghibur hati sambil memacu perlahan motor trail milik sang istri. Jaka agak bersenandung-senandung lirih demi menepis hawa dingin yang mulai merambati kulit hingga membuat pori-pori semakin membesar dan dalam bahasa Jawa disebut katisen atau kedinginan.
Dengan melaju perlahan Jaka melewati rumah-rumah yang telah terkunci rapat. Sebab telah begitu malam tentu si penghuni rumah jua sudah menunu alam mimpi masing-masing.
“Ah begitu sepi, begitu damai kotaku. Begini seharusnya sebuah kota, bukan setiap hari mengurusi setan saja kan enggak enak ya,” gerutu Jaka sambil berkendara dan mulai bersenandung sebuah lagu ciptaan Iwan Fals berjudul kembang pete.
***
Kuberikan padamu setangkai kembang pete
Tanda cinta abadi namun kere
Buang jauh-jauh impian mulukmu
Sebab kita tak boleh bikin uang palsu
Kalau di antara kita jatuh sakit
Lebih baik tak usah ke dokter
Sebab ongkos dokter di sini, terkait di awan tinggi
Cinta kita cinta jalanan, yang tegar mabuk di persimpangan
Cinta kita cinta jalanan, yang sombong menghadang keadaan
Semoga hidup kita bahagia
Semoga hidup kita sejahtera
Semoga hidup kita bahagia
Semoga hidup kita sejahtera
__ADS_1
Kuberikan untukmu sebuah batu akik
Tanda sayang batin yang tercekik
Rawat baik-baik walau kita terjepit
Dari kesempatan yang semakin sempit
Cinta kita cinta jalanan, yang tegar mabuk di persimpangan
Cinta kita cinta jalanan, yang sombong menghadang keadaan
Semoga hidup kita bahagia
Semoga hidup kita sejahtera
Semoga hidup kita bahagia
Semoga hidup kita sejahtera
Semoga hidup kita bahagia
Semoga hidup kita sejahtera
Sumber: Musixmatch
Penulis lagu:
Lirik Kembang Pete ©
***
“Ah memang mantap syair-syair cinta Iwan Fals selalu mengena dan dalam maknanya,” Jaka terus berkendara sebab iya ingin segera pulang dan memeluk Putri istrinya. Sambil membayangkan yang tidak-tidak andai dia dan Putri bermesraan malam ini pasti mak nyus, pikirnya dalam hati.
Masih satu kilo menuju rumahnya berada dan iya masuk di kebun pisang yang dahulu kala pernah membuatnya terkapa. Saat pertama kali baru dapat mengaktifkan mode api amarah yang membuatnya terkapar jatuh sakit beberapa hari.
Perlahan namun pasti Jaka terus berkendara menembus kabut yang semakin tebal dari dalam hutan pisang di samping kanan dan kirinya.
__ADS_1
“Alah mau menakuti aku, iya, pakai acara turun kabut dari dalam hutan pisang. Sori ya enggak ngefek, percuma meladeni yang kayak begini mending pulang bubuk manis sama Mama Putri terkasih, tersayang, tercinta, ter apa lagi ya pokoknya ter deh, hehe,” ucap Jaka terus memacu motor trail agak kencang.
Kesuraman malam yang melukis gelapnya langit tanpa bintang. Membuat hutan pisang bertambah gelap dan terasa pula hawa-hawa mistis yang menyelimuti di sekitar area hutan. Seperti biasa dedaunan dari pohon pisang yang menjuntai-juntai bak tangan raksasa terus berkibar di setiap sisi hutan. Bagaikan deretan tangan yang berjajar rapi dan hanya tangan melambai dan memanggil ingin mengajak kita bermain.
“Alah ini waktu itu disini, ehm iya benar aku masih ingat pas lari pagi sama Dava, disini nih ketemu si poci. Mana dia mana dia biar aku sekarang yang gantian menakuti, sekali-kali lah manusia menakuti hantu. Masak hantu terus yang menakuti manusia. Baiklah kita cari si poci cek, hehe,” celetuk Jaka yang sedang dalam mode pikiran usil bin jail, menepikan motornya di pinggir jalan pas tepian hutan. Berlagak seperti orang hilang dengan duduk termenung memainkan sebuah potongan ranting di tangannya.
Agar memancing si poci datang dan dia dapat membalas menakuti si poci yang waktu dahulu pas Jaka dan Dava sedang enak-enaknya lari pagi malah di ganggu sama si poci.
“Mana nih Si Poci ah elah, giliran ditunggu dia tidak datang. Giliran enggak di cari dia datang macam mantan yang gagal moveon saja tuh si poci,” gerutu Jaka menengok kesana-kemari mencari keberadaan si poci.
“Hehehe begini ini kala aku sedang gabut. Orang mengerjai temannya atau orang lain aku mah enggak setan aku prank haha, kota Jombang keras teman,” gerutu Jaka tertawa sendiri sambil menutup mulutnya.
Sejenak angin berubah arah dan hawa bertambah dingin. Terdengar suara gaduh seperti ada yang sedang mendekat tapi begitu cepat dari arah belakan Jaka. Sehingga membuat suara yang sangat berisik akibat gesekan sesuatu benda berbenturan dengan pohon dan dedaunan dari pohon pisang.
Kerosak, kerosak, kerosak,
Suara itu semakin lama semakin jelas didengar oleh telinga Jaka. Kabut semakin menebal dan malam semakin gelap menghitam. Jaka yang memang sejak awal hendak mengusili si poci penghuni hutan pisang tetap tenang dan santai walau kenyataannya memang sesosok pocong bermuka tengkorak dan gosong serta keluar belatung dari rongga matanya yang sudah tiada mata dan hanya tengkorak tengah mendekat dengan mode terbang lurus serta begitu cepat ke arah Jaka.
“Ehm, ehm, datang-datang dia. Malam ini jangan harap kau lolos kenak mental kau sama aku ya poci, bersiaplah wahai kau poci jelek,” gerutu Jaka masih dengan posisi duduk memainkan ranting kering ditangannya sambil bersiul-siul seakan ia ingin mengecoh pocong yang datang dengan berlagak tak tahi kalau pocong tersebut tengah mendekat.
Dan pada akhirnya sesosok pocong keliling atau poci begitulah Jaka menyebutnya telah datang dan berdiri namun terbang tak menapak tanah di belakang Jaka. Wujudnya kali ini begitu menyeramkan tampak kain kafan yang membalut tubuhnya di beberapa bagian telah compang-camping tak karuan dan berlumur tanah comberan.
Apa lagi di beberapa bagian dari kain kafan yang dikenakan telah robek sehingga terlihat jelas tubuh yang hancur di gerogoti cacing dan ulat ada pula lintah ada juga ular menempel di sana.
“Hey, hey,” suara berat nan keras namun menggema dan berdaya serak maksimal di keluarkan oleh poci untuk menakuti seseorang di depannya yang tak lain adalah Jaka tanpa disadari oleh si poci itu sendiri.
“Hehe, kena kau poci salah sendiri pernah menakutiku hayo kena mental loh sekarang ya,” sesaat tubuh Jaka kembali mengubah sel-selnya menjadi bara api. Dari setiap pori-pori keluarlah seperti kobaran api. Kali ini mode api amarah yang di keluarkan Jaka tak seperti dulu. Sebab mode api amarah Jaka kali ini telah masuk tahap paling akhir dan paling tinggi sehingga apinya tak berwarna merah atau kuning. Namun apinya menyala berwarna hitam selayaknya cerita api neraka dalam kisah ulama terkemuka dalam kisah seribu satu malam Abu Nawas.
“Eh, Eh Loh Jaka Bin Wachid, lah, lah mati aku, mati sudah,” gerutu poci terbang kembali menuju ke dalam hutan yang penuh pohon pisang. Tetapi sebab kuatnya daya panas mode api amarah Jaka, si poci terbang menjadi tak beraturan dan kadang-kadang terjatuh.
Memang Jaka hanya berniat menjaili si poci bukan untuk menghancurkannya. Sebab bentuk si poci tak begitu membahayakan seperti makhluk-makhluk setan musuh Jaka yang lain. Kali ini Jaka hanya bersenang-senang dengan kegabutannya selepas pulang kerja.
“Woi poci, dimana kamu, aku di sini. Kenapa lari main yuk poci,” ucap Jaka masih menakuti poci yang tengah bersandar pada salah satu pohon pisang tampak ketakutan.
“Kok jadi aku yang takut ya,” ucap poci yang tengah bersembunyi di balik salah satu pohon pisang.
“Hayo loh poci hey, hehe,” ucap Jaka yang masih dalam mode api amarah mencoba mengageti poci dengan cara muncul secara tiba-tiba di depannya sambil menyalakan mode api amarahnya.
__ADS_1
“Huwa ada Jaka...?!” teriak si poci kabur terbang tak tentu arah sesekali menabrak pohon pisang jatuh lalu bangkit lagi dan menghilang.
“Woi ci, poci, ini Cuma prank woi, woi prank woi, wkwkwk, kenak mental loh kan poci. Misi balas dendam terselesaikan, hihihi,” ucap Jaka yang sungguh bermuka puas telah menjaili si poci.