
Gemercik gerimis basahi dedaunan pohon di pekarangan belakan rumah Gus Romli. Gus Romli termasuk salah satu anggota T O H yang tinggal di daerah perbatasan antara kota Jombang dan Mojokerto yakni di daerah Jombang.
Hampir subuh terdengar jelas lantunan tarhim menggema di surau belakang desa. Namun hujan dari semalam tak jua reda membuat basah sekitar pekarangan belakang rumah Gus Romli dan membuat genangan dimana-mana.
Gus Romli nampak terengah-engah berdiri agak terbungkuk dengan tangan kanannya memegang dada. Pojok bibirnya mengalir darah segar, pandangan matanya hampir pudar masih agak kabur. Bajunya nampak lusuh karena jatuh berkali-kali di atas tanah dengan genangan air yang penuh lumpur.
“Genderang perang telah di tabuh Romli..!, Aku Sis yang membela kaum hitam akan membunuhmu sebagai tanda bahwa perang telah dimulai,” kata Sis salah satu anggota para dukun ilmu hitam
Sis nampak beringas dengan telapak tangan menyala merah layaknya bara api berjalan mendekati Gus Romli yang tengah terengah-engah hampir kehabisan tenaga.
“Majulah Sis aku akan menjadi syuhada pertama atas peperangan ini. Memang aku menantikan waktu ini setelah sekian lama, Bahwa janji Allah ku, siapa yang mati karena berjuang membela agama Allah maka syuhada adalah janji Allah sebagai balasannya,"
"Maka tiada kenikmatan yang paling nikmat selain dari mati syahid,” celetuk Gus Romli masih dengan memegangi dadanya yang telah terkena pukulan telak Tapak Buda dari tangan Sis.
“Diam kau kakek tua! Ajalmu sudah di depan mata masih saja kau mengoceh. Kali ini kami para dukun hitam tak perlu mengeluarkan banyak pasukan untuk membunuhi para anggota mu dari organisasi T O H aku sudah cukup,” teriak Sis perlahan mulai mendekati Gus Romli.
“Uhuk..., Uhuk, hai anak muda kau jangan jumawa aku memang sudah teramat tua, tetapi aku adalah anggota T O H ring tiga. Masih ada anggota T O H di ring dua dan ring satu yang kemampuannya jauh melebihi yang kau miliki. Bahkan mungkin menatapnya saja kau tak akan sanggup,” teriak Gus Romli.
“Sudahlah jangan banyak omong kau Pak Tua terima ini,” teriak Sis melayangkan pukulan tenaga dalam berasal dari tangannya yang membara bagai bara api sehingga keluarlah seperti bayangan serupa telapak tangan dalam seni semedi sang Buda.
Srot... Lap... Duar..
Percikan api mendarat di dada Gus Romli membuat tubuh Gus Romli terpental jauh ke belakang hingga punggungnya terhantam pada tembok pembatas pekarangan belakang rumah nampak tembok berasal dari batu bata merah retak-retak karena terhantam tubuh Gus Romli.
Hahaha... Hahaha... Hahaha...
“Inikah kekuatan dari anggota T O H mudah sekali aku kalahkan,” teriak Sis dengan tawanya yang keras.
Sedangkan tubuh Gus Romli jatuh tertelungkup ke tanah namun masih bisa bergerak kembali. Dengan sisa-sisa tenaga mencoba untuk berdiri kembali.
Dengan tubuh yang sudah dalam batas kemampuan Gus Romli terus berjuang sampai titik darah penghabisan. Setengah sempoyongan ia mencoba berdiri walau tak mampu lagi tegap sempurna.
Slap... Lap...
__ADS_1
Pukulan kilat di lewatkan ke arah sis oleh Gus Romli namun dengan cepat Sis mampu menelannya dengan mudah. Cahaya kilat berbelok menghantam pohon jambu di sebelah sis agak jauh.
Duar... Kratak... Kratak...
Pukulan kilat yang dibelokkan oleh sis membuat pohon jambu yang tak seberapa besar pecah berantakan.
“Inikah pukulan kilat yang tersohor seantero kota ini, benarkah heh.., lemah..!,” ucap Sis berwajah sangat sombong dan penuh jumawa.
“Baiklah akan ku akhiri penderitaanmu Pak Tua terima ini pukulan Tapak Buda milik ku,” kata Sis sambil berlari ke arah Gus Lukman. Begitupun Gus Lukman dengan sisa kekuatan yang masih ada ikut berlari menyongsong sis.
Pukulan kilat dan pukulan Tapak Buda beradu menimbulkan suara gemuruh layaknya petir yang menghantam sebuah pohon besar. Cahaya dari benturan yang ditimbulkan begitu dahsyat sehingga dapat terlihat hingga sejauh satu kilo meter jaraknya.
Duar....
Tubuh Gus Romli terpental begitu jauh ke belakang kali hantaman tubuh Gus Romli membuat pagar pembatas pekarangan yang semula hanya retak-retak kini hancur berantakan roboh membentuk sebuah tangan Buda.
Tubuh Gus Romli kini tak bergerak lagi tertelungkup di timpa reruntuhan tembok. Nampak dari dadanya mengalir darah segar karena kini dadanya telah pecah akibat hantaman Tapak Buda dari Sis.
“Hahaha..., Hahaha, aku menang, aku menang, hai para anggota T O H yang lain lihatlah aku telah membunuh satu dari kalian. Tunggulah aku datang aku akan memburu kalian walau ke ujung dunia sekalipun pasti akan ku kejar,” teriak Sis begitu sombongnya.
Nampak Gus Romli Gugur dengan tersenyum bangga karena ia mati syahid di jalan Allah sebagai syuhada. Sis masih belum mengetahui kehadiran sosok Dava yang telah berada di samping jenazah Gus Romli masih terus berkoar dan berteriak.
“Woi anggota T O H yang katanya pelindung kota Jombang saksikan aku Sis akan menghancurkan kalian. Perang telah dimulai, perang telah dimulai,” teriak Sis begitu yakin akan kemenangan ya.
“Assallamualaikum Mas Sis,” Ucap salam Dava namun tak di jawab oleh Sis,
Dava berjalan perlahan ke arah Sis setelah jasad Gus Romli ke arah dapur rumah Gus Romli agar tidak kehujanan.
“Nah datang lagi satu siapa kau anak kecil? Kau memakai jaket kebesaran dan kebanggaan dari organisasi T O H tentu kau bagian dari mereka,” kata Sis seraya melotot kearah Dava yang terus berjalan kearah Sis dengan santai.
“Sudah Mas Sis jangan banyak bicara kau sudah melanggar batas-batas Keesaan Allah dengan mendahului kehendak Allah membunuh Gus Romli. Kau juga menyalah gunakan pengetahuan ilmu Tapak Buda yang seharusnya teramat sakral dan hanya boleh digunakan untuk melindungi yang lemah malah kau gunakan demi kejahatan,” ucap Jaka terus berjalan ke arah Sis
“Tau apa kau tentang pengetahuan anak kecil pergilah pulang kerjakan pekerjaan rumah dari sekolah mu, belum waktunya kau ikut berperang jangan sampai setelah kuhabisi, ibu dan bapak mu menangis sejadi-jadinya,” celetuk Sis nampak yakin bisa mengalahkan Dava dengan mudahnya.
__ADS_1
“Hidup dan mati itu urusan Allah bukan kita manusia yang menentukan. Janganlah kau melanggar batasan-batasan,” kata Dava mulai mendekat pada Sis.
“Halah jangan terus berceramah dan menceramahi ku anak kecil aku pun lebih tua dari mu tau apa kau soal hidup,” teriak Sis nampak mulai kebingungan karena melihat Dava yang berjalan sebentar hilang sebentar ada iya mulai panik.
Namun memanglah itu strategi bertempur Dava yang diajarkan langsung oleh kakaknya Jaka untuk mengecoh lawan dengan terus mengajaknya bicara terus membuatnya lengah dan dengan sekali jalan.
Tangan Dava seakan dapat mengambil ruh dari Sis secara mudah, karena Sis tidak mengetahui bahwa Dava sudah melewatinya dengan mengambil ruh dari badanya.
Tubuh sis yang ditinggal ruhnya ambruk ke tanah. Sedangkan ruh yang di pegang Dava nampak meronta dan tidak menyangka ia akan di keluarkan dari badanya.
“Kak Jaka, sekarang bagianmu kak,” ucap Dava memanggil sang kakak yang tengah asyik memakan jambu dari pohon yang hancur tadi.
"Halah malah makan Jambu," ucap Dava.
“Ia, ia,” jawab Jaka berdiri melesatkan panah api ke arah ruh Sis seketika ruh terbakar dan lenyap tak bersisa.
“Kak Jaka makan melulu bukankah tadi sore sudah dibuatkan mi goreng oleh kak Putri?,” kata Dava berkata pada Jaka yang telah berada disampingnya.
“Sudahlah ah banyak protes kau kayak si Sis tuh,” kata Jaka menunjuk jasad Sis.
“Sekarang apa kak?,” tanya Dava.
“Kita bawa dua jasad ini ke markas besar di sana guru kita telah menyediakan pemakaman masal kalau-kalau keluarga tidak mencarinya,” jawab Dava.
“Baik kak aku bawa jasad Gus Romli dan kakak bawa jasad Sis ya.
“Ah kau menurut saja Dik Dava apa yang kukatakan,” celetuk Jaka.
“Lah terus bagaimana kak?,” tanya Dava.
“Ini loh rumah Gus Romli biar besok keluarganya yang urus, dan mayat sis nanti juga terbakar dengan sendirinya seperti biasanya,” kata Jaka.
“Kan kasihan kak,” kata Dava.
__ADS_1
“Aduh Adikku satu ini, kamu lupa apa di T O H ada orang berkeahlian merasuki alam mimpi seseorang biar mereka yang memberi tahu keluarga Gus Romli sudah ayuk cabut,” kata Jaka.
Jaka dan Dava kembali menghilang dengan cepatnya layaknya angin dan kilat yang melesat beriringan meninggalkan pekarangan belakang rumah Gus Romli.