
Sosok Panglima perang siluman babi ternyata sungguh menakutkan layaknya manusia ia bisa berjalan tegap dan berbicara bahasa manusia.
Namun begitu brutal seperti hewan buas dengan dua cula yang tajam dari kedua sisi mulutnya dengan kepala persis babi hutan namun lebih menyeramkan.
Sosok Panglima perang siluman babi hutan juga sangat sakti terbukti ia mampu berjalan diatas tanaman padi yang tumbuh di persawahan. Dengan beringas ia mengoyak tubuh salah satu santri yang ia jatuhkan dari atas pohon tengah sawah menjadi beberapa bagian.
Dan potongan-potongan tubuh itu jatuh diantara rimbunnya padi langsung di lahap beberapa babi yang terus berdatangan.
“Wahai rakyatku, pasukanku, biasanya kalian yang dibinasakan para manusia itu. Sekarang mari kita balik kita yang akan membinasakan mereka semua. Bunuh, hancurkan, bakar rumahnya jangan sampai ada yang hidup walau itu bayi sekalipun, serang...,” teriakan komando dari Panglima siluman babi membuat ratusan babi berlarian, berdatangan tak beraturan dari arah timur desa Mbadas.
“Ya Allah lindungi kami Ya Allah, Mas bersiap setelah aba-aba dariku. Kalian tusukkan bambu runcing yang kalian bawa ke atas usahakan jangan sampai meleset,” ucap Gus Hakim pemimpin para santri yang bersembunyi di parit-parit bawah hutan bambu pas di depan sawah.
“Jangan gemetar ingat janji Allah mati disini atau mati di desa sama saja. Kita lawan hingga titik darah penghabisan. Ingat bahwa pahala mati syahid adalah janji Allah,” ucap Gus Hakim menyemangati puluhan santri sepanjang galian parit yang nampak sudah gemetar. Terlihat dari tangannya yang tidak kokoh saat memegang sepucuk bambu.
Diatas pohon bambu tepatnya di panggung-panggung yang di buat para santri. Gus Jajak dan Gus Tato nampak mengomando pasukan santri untuk melesakkan panah-panah yang dibuat dibuat dari bambu petong.
Slorot... slorot...
Panah-panah melesat dari atas pepohonan bambu berhasil mengenai beberapa siluman babi membuat mereka terpental lagi ke belakang lalu terbakar menjadi abu, karena memang senjata-senjata para santri semua yang berasal dari bambu petong kemarin telah diberi doa dan asma hizib (doa penghancur musuh) sehingga dapat memusnahkan apapun itu jenis setan.
Namun semakin dibunuh dan dimusnahkan seakan mereka bangkit kembali terus berdatangan kembali memenuhi seluruh area sawah.
“Apa ini Kiai?, tidak hentinya mereka berdatangan tadi sepertinya Cuma puluhan babi tidak beberapa lama layaknya berjumlah ratusan. Lalu setelah kita panah beberapa mereka seakan bertambah banyak layaknya ribuan,” ucap Gus Tato yang telah berada di samping kiai Hadi yang semula berada bersama Gus Jajak di sisi selatan.
“Kau pergilah ke sisi Utara cepat Gus Tato di sana tidak ada yang memberi komando biarkan aku yang mengomando di tengah,” perintah Kiai Hadi pada Gus Tato.
“Tapi Kiai...,” jawab Gus Tato namun belum selesai menjawab sudah terlebih dahulu dibentak oleh Kiai Hadi.
“Cepat Gus ini keadaan gawat pergilah!,” bentak Kiai Hadi.
__ADS_1
“Baik Kiai,” ucap Gus Tato menuruti kata Kiai sambil bergumam dalam hati mungkin Kiai sedang panik dan lekas turun dari pohon bambu dengan cepat berlari menuju pos panggung atas bambu paling Utara hutan.
“Anak ku Putri kalau Abahmu tiada umur lagi di malam ini aku berharap Nak Jaka dapat memastikan dirimu aman dalam perlindungan ya. Maafkan Abahmu ini yang belum mampu mengantarkan mu hingga pelaminan Nak,” ucap Haji Hadi seraya menetes air matanya membayangkan Putri anak gadis semata wayangnya.
Kali ini ia merasa melakukan keputusan yang tepat saat mengungsikan anak gadisnya itu di rumah sahabatnya Haji Wachid.
Gruduk... Gruduk... Krosak...
Krosak...
Suara derap langkah babi berlari membelah tanaman padi di area persawahan. Kali ini para siluman babi telah berada tepat diatas parit-parit yang dimana dibawahnya terdapat puluhan santri menanti dengan pucuk-pucuk bambu petong yang siap ditusukkan pada sang babi.
“Sabar-sabar tunggu aba-aba dari saya Bismillah hunuskan bambu,” teriak Gus Hakim mengomandoi pasukan bagian bawah parit.
Jeb... Jeb... JebJeb...
Ratusan babi musnah menjadi abu hilang terkena tusukan-tusukan bambu petong dari bawah parit.
Hark..., Hark...,
Geraman sang panglima membuat kaki-kaki beberapa santri dibawahnya menjadi amat gemetar ketakutan, karena antara mereka dan panglima siluman babi hanya dibatasi anyaman bambu yang ditaruh diatas mereka sebagai tutup dari parit itu sendiri.
Dengan kode jari telunjuk ditempelkan di bibir tanda bahwa jangan sampai ada yang bersuara. Gus Hakim mulai mengatur strategi hanya dengan menggunakan gerakan tangan.
Memerintahkan barisan untuk dibagi dua menepi ke kanan dan ke kiri agar kalau si panglima menghancurkan penutup dari anyaman bambu dengan bentakan kakinya lalu jatuh ke bawah mereka dapat menyergap dengan cara langsung menusukkan bambu-bambu yang mereka pegang.
Tetapi prediksi dan strategi Gus Hakim melenceng jauh dan gagal total si panglima siluman babi begitu cerdik dan tak sebodoh itu sehingga dapat dijebak dengan mudahnya.
Ia menggunakan salah satu prajuritnya untuk menggantikannya menjebol anyaman bambu dan jatuh ke dalam parit. Sehingga yang ditusuk para santri bukanlah sang panglima melainkan hanya seekor babi berpangkat prajurit
__ADS_1
Sang panglima masih diatas parit bertolak pinggang sambil nyengir menampakkan culanya yang sudah penuh berlumur darah para santri.
“Ya Allah, kita menuju mati syahid serang...?!,” teriak Gus Hakim mengomandoi santri yang berada di bawah parit.
Sehingga pertarungan berhadap-hadapan akhirnya terjadi jua disini banyak santri yang gugur sebagai syuhada di jalan Allah.
“Sebelum kau menghancurkan desa kami langkahi dulu mayatku hai iblis laknatullah,” ucap Gus Hakim menghadang si panglima siluman babi agar tidak banyak lagu berjatuhan korban.
“Wkwkwk, begitulah tadi yang dikatakan temanmu yang berpangkat sama dengan mu di atas pohon di tengah sawah itu. Yang akhirnya ia dapat ku penggal kepalanya dengan mudah,” ucap Panglima siluman babi.
“Jangan banyak omong kau siluman lawan aku,” teriak Gus Hakim berlari ke arah Panglima siluman babi.
Beberapa saat perkelahian berlangsung tidak seimbang dan akhirnya Panglima babi dengan ganasnya mengunci gerakan Gus Hakim dengan posisi Gus Hakim seakan berlutut di tanah
Mengeluarkan banyak darah dari mulutnya akibat hantaman dan pukulan dari Panglima Siluman. Dan leher Gus Hakim tengah di cengkeram oleh Panglima siluman babi dengan rambutnya di tarik ke belakang sudah tak berdaya dan hanya mengeluarkan suara geraman seperti orang yang tengah kesakitan begitu sangat.
Para santri yang berada di panggung-panggung atas pohon bambu yang melihat kondisi Gus Hakim segera turun dengan sesegera mungkin agar dapat menolong Gus Hakim dan menyelamatkan nyawa santri yang lain.
“Itu Gus Hakim tolongin,” ucap Gus Jajak yang sudah berada dekat dengan keberadaan Gus Hakim yang tengah di Jambak rambutnya dan di cekik lehernya dari belakang oleh Panglima babi.
Gus Hakim seakan ingin berteriak meminta tolong namun karena mulutnya yang penuh darah dan karena rasa sakit di kepala dan leher akibat cekikkan dan tarikan di rambutnya. Membuat kata-kata itu tak keluar dan hanya seperti menggumam saja.
“Ya Allah Hakim,” teriak Pak Kiai Hadi yang turun datang hendak menolong Gus Hakim tapi di cegah oleh Gus Tato dan Gus Jajak yang berada di dekat sana.
“Lihat ini, nasib kalian akan sama seperti teman kalian ini, manusia akan kami musnahkan kami para siluman akan menguasai bumi ini,” teriak Panglima siluman babi
Kretek... brol... Curr...
Kepala Gus Hakim seketika terpisah dari badanya dan mengucur darah dari bekas urat leher yang terpotong.
__ADS_1
“Gus Hakim...!, tidak...!,” teriak beberapa orang santri yang tengah berada di dekat area itu.
"Ya Allah Hakim...!!," ucap Kiai Hadi jatuh terduduk melihat kenyataan pahit bahwa santri-santrinya telah banyak yang gugur.