The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
PROLOGUE


__ADS_3


Prologue: Benang merah kehidupan


Di sebuah kota metropolis dengan gedung pencakar langitnya yang tinggi menjulang.


Dengan dihiasi kerlap kerlip kehidupan malam. Semua orang nampak sibuk dengan kehidupan mereka sendiri, hingga..


"Aaaaaaaaargh!!!" Terdengar suara jeritan dari balik kegelapan. Sontak membuyarkan pikiran orang-orang di sekitar. Mereka berusaha mencari arah datangnya suara.


"Ha haaaah!! di-dia di sini!" teriak seorang pemuda menunjuk ke sebuah gang sempit dan gelap di dekat pemukiman. Seluruh pandangan tertuju padanya saat itu, mereka menghampiri pemuda itu dan benar saja, nampak sesosok pria dengan tubuh pucat terbaring tak bernyawa. Garis polisi kini terpampang menutupi area gang sempit tersebut. Sebuah kehidupan metropolis mendadak berhenti untuk beberapa detik. Para petugas polisi masih menyelidiki kematian pria tersebut.


Mereka sama sekali tak sadar, bahwa sepasang mata berlian menatap tajam dari kegelapan.


□□□


Di sebuah bar di pinggiran kota,


"Nonius!! kau benar benar hebat! padahal kau pelakunya, tapi bisa bisanya kau bahkan menonton sejenak polisi polisi bodoh itu hahaha!" Ucap seorang pria kekar merangkul seorang pria kecil dengan jaket hitam dengan penampilan tertutup.


"Oh" Ucapnya datar seolah olah tak peduli dengan apa yang terjadi.


Pria kekar itu hanya terdiam dengan ekspresi yang sedikit kecewa.


"Ada apa?" Tanya pria berjaket hitam, Nonius.


"Ah, eh? tidak apa apa,, aku hanya sedang berpikir bagaimana mengajakmu" tanyanya dengan raut rumit.


"Hmm?"


"Katakan" Ucap Nonius kemudian.


"Ah.. ini.. aku tidak tahu apakah kau tertarik untuk mengerjakan sebuah misi atau tidak" ucapnya tidak enak.


"Misi apa?"


"Haeh,, tentu saja misi pembunuhan khusus untukmu hehe"


"Aku tahu," "Siapa targetnya?"


"Hmm? benar juga, kau ini tupe orang yang cukup pilih pilih target kan?"


Nonius mengangguk.


"Haha! tenang saja, kau pernah dengar tentang kelompok radikal, Black Dragon?"


Nonius terkejut dengan apa yang dikatakan pria di sampingnya itu.


"Apa maksudmu?" Ucap Nonius dengan ekspresi serius.


"akan kuambil"


"Yah, berhati hatilah, meskipun kau pembunuh handal dan jauh lebih hebat, tapi tetap saja, kau harus tetap selamat agar barku tetap eksis hehe" Ucapnya.


"Yayaya, terserah apa katamu" Ucap Nonius bangkit.

__ADS_1


'Kalau begitu, aku minta maaf padamu, Nonius.. aku tak punya pilihan lain'


□□□


Malam itu hujan turun di kota X, kota metropolis dengan berhiaskan kerlap kerlip kehidupan malam. Atmosfer dingin begitu menekan kulit. Meskipun begitu, aktifitas malam masihlah berjalan. Jalanan masih dipadati oleh lalu lalang kendaraan. Seorang pria dengan penampilan hitam misterius berjalan menembus keramaian hingga kemudian menghilang di kegelapan.


"Tcrik.. Tcrik.. Tcrik.."


Sepasang kaki mengayun cepat menembus genangan air hujan.


"Hosh.. hosh.. hosh.."


Udara panas memburu cepat, beradu dengan dinginnya udara malam yang basah- hujan.


Seorang pria dengan seragam serba hitam dengan sedikit koyakan nampak berlari terengah engah menembus hujan, diantara tinggi nan rampaknya bangunan penduduk.


"Si sialan!"


Sesosok bayangan hitam berjalan tenang menghampirinya, tudung hitamnya terangkat, sepasang mata biru berlian menatap tajam dan dingin.


Setelah beberapa langkah, ia melesat.


"Katakan, di mana bosmu?" Ucap pria berhoodie seraya mengacungkan belati tajamnya searah leher pria yang berlari itu.


Langkah pria itu terhenti saat secara tiba-tiba tembok raksasa menghampirinya- jalan buntu.


Ekspresi pria itu berubah panik, matanya memandang kekosongan, detik ini, ia dihadapkan oleh pilihan kematian.


"Katakan" Ucap Nonius, nafas dinginnya memburu dengan tenang.


Clash!


Sebuah tangan mengayun dengan cepat, belati tajam itu dengan cepat menembus leher pria di hadapannya.


Brak!


Tubuh itu segera kehilangan keseimbangannya, tanpa menunggu lama ia limbung dengan ceceran darah segera bercampur dengan genangan air hujan.


"Kalian merencanakannya?" Ucap Nonius dingin, mata birunya tampak semakin dan semakin dalam- tanpa dasar.


Beberapa bayangan hitam lantas turun dengan cepat.


"Yah, apa kau merencanakannya juga, Monster Tanpa Wajah?" Ucap salah seorang dengan jas hitam mewahnya berdiri.


Di belakangnya berdiri banyak pria dengan seragam hitam, persis seperti milik pria yang mati.


Nonius hanya terdiam, saat ini tubuhnya telah berbalik memandang pria licik di hadapannya itu. Pria itu sedikit terkekeh.


"Mungkin kau bingung, bagaimana caranya aku mengetahui keberadaanmu dan pergerakanmu bukan?"


Pria itu lantas memberi isyarat kepada beberapa pria di belakangnya.


Sesaat kemudian, sesosok jasad familiar nampak tergeletak di hadapan nonius.


Jasad itu adalah seorang pria, dengan tangan dan kakinya yang terikat, wajahnya yang tertunduk. Dengan darah merah membasahi kaos putih yang dikenakan pria itu. Kaos itu sedikit terkoyak di bagian depan, menandakan sayatan memanjang di bagian perut, membelahnya dan mengoyak koyak bagian dalam.

__ADS_1


Nonius memanas, pria itu- Jonathan. Pria pemilik bar, sekaligus satu satunya temannya di dunia bawah.


Ia menggertakkan giginya, mengeratkan belati tajam di kedua tangannya. Ia lantas melesat cepat menembus dengan gila serombongan pria di seberangnya.


Sementara lawannya, nampak dengan segera maju dan menghalangi jalannya. Pria berjas itu, berjalan dengan tenang kemudian menjauhi tempat berdarah itu dan berdiri cukup jauh dengan senyum mekar di wajahnya.


Nonius yang berusaha menembus serombongan pria kekar dengan berbagai senjatanya itu terhenti, ia terkepung.


Selangkah kemudian, pria-pria itu menyerangnya secara bersamaan, entah itu tembakan, atau itu tusukan terus menghampiri Nonius tanpa henti.


Nonius meringkuk dengan cucuran darah dari tubuhnya. Sebuah tawa menjijikkan terdengar di telinganya- muak.


"Menyerahlah, Nonius, jika kau menyerah sekarang, bukan tak mungkin bagiku meninggalkan tubuhmu tanpa merusaknya loh.. lagipula untuk apa kau marah padaku? Seharusnya kau marah pada pria yang sudah mati itu. Jika dia tidak bekerjasama denganku, bagaimana mungkin aku yang lemah ini bisa melacakmu huh? Dan, yang lebih penting lagi, jika ia tidak bekerjasama denganku, tentunya kau tidak akan meringkuk di gang kotor seperti ini kan?"


"Itu benar." Ucap Nonius seraya bangkit. Tapi, bukan ekspresi marah atau ekspresi jelek yang ada di wajahnya, melainkan ekspresi datar dan kuat.


"Minggir!" Ucap Nonius dingin seolah mengokohkan pijakannya.


"Keugh! Cepat, halangi dia!"


Serombongan pria itu dengan cepat kembali berbaris di hadapan Nonius. Nonius meneguhkan langkahnya yang sempoyongan, dan secara tak terduga, ia kembali melesat dengan kecepatan yang lebih cepat lagi. Tanpa ragu, ia mengayunkan kedua belati di genggamannya itu.


Gerakannya semakin cepat dan cepat, seolah ia kehilangan kewarasannya atas segala luka di tubuhnya. Matanya terus mendingin.


Sementara rombongan pria di hadapannya dengan cepat menghujaninya dengan banyak serangan.


Tapi itu tidak berguna, pria di hadapan mereka itu, berdiri dengan kukuh, dan terus menyerang di titik-titik vital. Sementara mereka, hanya bisa meninggalkan luka-luka tak berarti baginya.


Nonius terus menyerang dengan gila, sementara laeannya nampak kewalahan dan beberapa dari mereka tumbang, baik dengan atau tanpa nyawa.


Aliran darah segar terus mengalir dari sudut mulut Nonius. Dengan langkah dan nafasnya yang tersisa, ia melangkah cepat menghampiri pria berjas yang sedikit tercengang.


"Tidak.. tidak mungkin!" Ia lantas mundur dan mencoba kabur sebelum belati Nonius dengan cepat menembus betisnya.


"Ack!" Pria berjas itu tersungkur seraya memegangi betisnya yang terluka parah. Ia mencoba bangkit, tapi tangan dingin Nonius dengan cepat menyambarnya, mencegahnya pergi.


Pria itu panik, dengan cepat ia menarik pelatuk pistolnya kearah kepala Nonius yang menyandar padanya.


Door! Door! Door!


Bukan sekali atau dua kali, tapi berkali kali pistol itu melepas timah panas ke arah kepala Nonius yang sudah berlumuran cairan merah darah. Nafasnya memburu dengan cepat.


"Tch! Sialan! Lepaskan! Mau kau berusaha seperti apapun, kau tidak akan mampu membunuhku ataupun selamat!"


"Oh? Memangnya aku terlihat seperti ingin hidup huh? Jika memang sedari awal ingin hidup, bukan suatu hal yang tak mungkin bagiku untuk pergi setelah kedatanganmu tadi" Ucap Nonius dengan senyum di wajahnya.


Tit..... Tit.... Tit... Tit.. Tit. Tit tit ti...


"A-apa maksudmu!? Jangan bilang kau berniat.."


"Itu benar, sejak awal, tidak ada satupun misi gagal di hidupku. Jadi, sekalipun aku mati, juga akan menyeretmu bersamaku"


"Sial!"


Boom!

__ADS_1


Sepersekian detik berikutnya, ledakan besar menghantam pemukiman itu. Bangunan bangunan yang roboh, meskipun begitu, tidak ada korban jiwa. Kecuali, Nonius dan para anggota komplotan radikal.


__ADS_2