
Bab 49: Berakhirnya Perang
"Ada apa? Apakah kalian sama sekali tak mencoba berdalih?" Ucapku seraya melayangkan pandang pada ketiga orang rekan Aaron yang tersisa.
Mereka tidak bisa menyembunyikan reaksi mereka yang gemetar ketakutan.
Yah, kurasa itu wajar bagi mereka yang baru saja melihat kematian mengenaskan dari rekan rekan mereka.
Zrrrrt...
Formasi itu bereaksi. Terdengar suara raungan yang begitu memekakkan telinga.
Aku memalingkan pandangku pada formasi berwarna semerah darah yang berkelap kelip dengan aura membunuh yang tajam.
Dalam sekejap, hawa di tempat itu berubah, begitu gelap dan menyesakkan dada.
"Sigh." Aku menghela napasku berat.
Sebuah suara yang kompak berbicara, memanggilku secara tiba tiba, "Hormat kepada tuan," ucap kelima jendral secara tiba tiba.
"Kami turut bersedih."
"Berdiri," titahku kepada kelima bawahannya yang masih berlutut.
"Tuan muda, iblis ini.."
"Tak perlu dikhawatirkan"
"Sesuai perintah anda"
"Alice, data dan obati seluruh prajurit yang terluka" ucapku melempar pandang pada wanita berambut panjang dengan aura yang nampak lebih kental di sekitarnya.
"Sesuai perintah anda, tuan muda" ucap Alice tenang.
Aku melemparkan pandangku pada kerumunan orang yang berdiri jauh dariku, "Barto, perintahkan kepada seluruh prajurit untuk kembali ..."
"Sesuai kehendak anda " balas Barto.
"Paman Edward, bisakah anda menyiapkan logistik dan seluruh kebutuhan yang diperlukan di kota secepatnya?"
"Sebuah kehormatan bagi saya melayani anda, tuan muda"
Kemudian, rencana akhir yang kususun, "Louise, Ryan, sebarkan berita kematianku dan kehancuran pasukan Qrystial lewat para pemburu dan pedagang"
"Sesuai titah anda, tuanku" ucap mereka menjawabku.
"Kai, obati lukamu dan bantu Ryan menjalankan tugasnya"
"Sesuai kehendak anda, dan ... maaf" ucap Kai menyesal.
"Mm" gumamku lirih seraya berlalu.
Saat ini, binatang iblis itu telah seutuhnya dipanggil melalui formasi.
Nampak seekor binatang iblis dengan tanduk penuh aura hitam pekat meraung ganas. Jika itu aku yang dulu, mungkin aku akan dengan cepat berpikir keras tentang cara mengalahkannya.
Jika itu aku yang dulu sebelum bereinkarnasi, mungkin aku akan langsung menghadapinya dan melawannya langsung.
Dan, seperti itulah perasaanku saat ini. Saat ini, seluruh tubuhku terasa sempurna, seolah olah aku bisa bertarung dengan mengerahkan semua kekuatanku begitu saja. Seolah olah, itu bukan hal yang sulit bagiku membunuhnya.
Rasa percaya diri ini, sama seperti perasaanku dulu, saat aku masih menjadi seorang pembunuh handal.
'Apa itu artinya ... kekuatanku saat ini sudah setara dengan kekuatanku dulu?' Gumamku seraya menatapi tangan kecil yang nampak tak lagi asing.
"Iblis perlu dilawan oleh iblis, kan?" Tanyaku.
"Sigh." Aku menghela napasku, aura hitam pekat segera naik dari belakang tubuhku, terus bergerak perlahan menyelimutiku.
Aku tidak tahu itu benar atau tidak, tapi kurasa ... penampilanku saat ini akan cukup mirip dengannya, aku dengan mata merah darahnya.
Secara bersamaan, aku melafalkan [Sacred Thunder] di dalam hatiku.
__ADS_1
Zsrrt ...
Aku melangkahkan kakiku, bersamaan dengan itu, kilatan merah berkilau melesat dan dengan cepat menghilang mengiringi langkahku.
Tubuhku menjadi cukup ringan untuk ukuran manusia, begitulah.
Srash..
Tubuhku berhenti, dalam sepersekian detik menarik pedangku dari kerangkanya.
Hanya dalam sepersekian detik itu, aku melihat segalanya. Semuanya terasa lebih lambat, bahkan jika aku tak berlari pun, aku yakin bahwa monster itu tetap tak akan mampu melindungi tubuhnya dari tebasanku.
Tap.
Aku menolakkan kakiku kuat, mencoba mendapat momentum dari sepersekian detik yang terasa begitu lambat.
Groaaaargh...
Iblis itu meraung tatkala tubuhnya terbelah menjadi dua.
Tubuh iblis itu terjatuh dan membuat tanah bergetar sesaat.
Aku menghembuskan napasku sejenak, sebelum kembali mengangkat tanganku sejajar.
"Sacred Thunder"
Zrrt-Zsrrtt..
Darah di dalam tubuhku mengalir dengan tenang, tapi begitu hangat dan terus menjadi hangat, seolah berkumpul di satu tempat, telapak tanganku.
Aku merasakannya, hawa panas yang bergerak naik seolah terpanggil oleh laju aliran darah di tanganku. Udara panas itu perlahan lahan berkumpul dan berubah menjadi partikel partikel kecil yang bercahaya merah.
Partikel kecil itu terus bergerak, berkumpul dan membentuk bulatan yang terus berkembang.
Aku kembali menarik napasku, tatkala tekanan hawa panas yang terus meningkat seolah ingin membakar tanganku.
"Distress"
Kilatan petir itu meledakkan tubuh iblis itu, udara bergetar panas, untuk sejenak tanpa kuduga itu mengundang petir petir yang lain. Dalam sekejap, langit menjadi gelap dan petir merah darah berpendar di medan perang itu.
Tetesan air hujan turun dengan derasnya mengiringi tarian tarian petir merah. Aku hanya bisa menundukkan wajahku.
"Sampai jumpa, master ..." ucapku seraya memandangi tangan kecil di hadapanku yang nampak sedikit merah terbakar.
Kilasan ingatan muncul di pikiranku, "Ayah, ibu, saudara saudari! Tunggu aku!" Ucapku seraya mengangkat tanganku yang terkepal erat sembari terus menahan tangis.
Selang beberapa waktu, aku mengalihkan pandangku jauh ke arah para prajurit yang nampak tersenyum bahagia dan beberapa dari mereka bahkan nampak berlutut.
"Apa kalian tidak memutuskan untuk pergi?" Ucapku kepada ketiga orang sisa.
"Menurut anda? Apakah kami terlihat seperti orang yang percaya akan kemurahan hati orang yang sudah kami bunuh?"
"Oh? Benarkah?" Jawabku.
"Jika kalian tetap di sini hanya kematianlah yang akan menunggu kalian" lanjutku ringan.
"Ini adalah perang, tidakkah itu yang anda katakan? Siapapun pihak yang kalah, maka harus bersedia dengan segala konsekuensinya ... dan pihak yang menang harus menunjukkan ketegasannya ... bunuh kami sebagai musuh anda, itu jauh lebih terhormat dibandingkan jika kami harus hidup di tengah orang orang yang bahkan tidak bisa dipercaya ..."
"Setidaknya anda adalah orang yang terhormat dan memandang musuh anda setinggi mungkin tanpa meremehkan kami, Tuan Akara ..."
"Kalau begitu, apa kata kata terakhir kalian?" Tanyaku.
"Ah, jika kami boleh meminta maka tolong kalahkan kaisar iblis. Kami ... menderita" ucapnya mengerutkan dahinya rumit.
"Kau berniat mengancamku?" Tanyaku dingin.
Pria itu tersenyum pahit. "Kenyataannya? Apa gunanya aku mengancam jika nyawaku sendiri ada di ujung pedangmu?"
"Kau paham itu."
Aku berbalik acuh, "nyawa kalian ada di tanganku, tidakkah begitu?"
Mereka nampak bingung, seraya saling berpandangan "maaf?"
__ADS_1
"Jika kalian ingin menghancurkan organisasi mereka, maka hancurkanlah sendiri. Dendam kalian tetap dendam kalian, bukan dendamku kan?" Gumamku seraya melirikkan pandangku.
"Maksud anda .."
Aku tersenyum, sebuah ide terbayang di kepalaku, "Pergi. Sebagai bayaran atas nyawa kalian, buatlah kabar palsu tentangku" Ucapku.
"Katakan pada kaisar iblis, jika wanita deux itu siapa namanya ... telah mengorbankan nyawanya untuk membunuh dan memusnahkanku beserta bawahanku. Pada akhirnya, dia mati dengan pengorbanan suci. Dan kalian berhasil selamat berkatnya"
"Bisakah kalian melakukan itu?" Tanyaku kemudian.
...□□□...
Peperangan antara Qrystial melawan Jubah putih telah usai.
Sementara di suatu tempat di utara,
"Suamiku! Apa kau merasakannya!? Petir merah itu! Petir merah itu! Anak kita! Anak kita ..." Ucap seorang wanita seraya berlari terengah engah menghampiri seorang pria yang nampak tengah berbincang dengan pria lainnya.
Pria itu menoleh dan merentangkan tangannya memeluk wanita yang nampak panik itu.
"Rishma, ada apa? Udara saat ini begitu dingin, bagaimana mungkin kau keluar dari kamarmu di tengah cuaca yang dingin tanpa jubahmu!?" Ucap pria itu lembut seraya memberikan jubahnya.
"Rei, aku tidak apa, aku hanya terlalu bahagia merasakannya ... kau merasakannya juga kan? Petir itu ... kekuatan darah pewaris ... pasti putra kita kan? Itu putra kita ..." Ucap wanita itu dengan meneteskan air matanya.
"Pfft ... maaf yang mulia, bukannya saya lancang mengatakan ini pada anda, tapi pada kenyataannya,Yang mulia pangeran kedua sudah tiada ..." ucap pria yang sebelumnya nampak berbincang dengan menunjukkan ekspresi mengejeknya.
Sementara pria yang masih memeluk istrinya itu terdiam dengan ekspresi dingin. Wanita itu memberontak, tangisnya pecah dan dengan marah ia menyakinkan suaminya.
"Tidak! Anakku! Dia anakku ... anakku tidak akan pernah mati!" Matanya memanas. Perlahan lahan air matanya meleleh dan histeris di pelukan suaminya.
"Gideon! Tarik kembali ucapanmu itu dan pergilah!" Ucap Rei dengan hawa dingin mencuat.
"Ah .. hamba meminta maaf kepada yang mulia ratu," ucap Gideon sebelum pergi.
Rishma masih nampak menangis dipelukan suaminya. Sementara suaminya dengan sabar mendekapnya lebih erat.
"Ah, itu benar ... dia putra kita, istriku merasakannya, maka aku pun juga merasakannya ... jangan lupa, dia juga putraku ..."
"Benarkan? Dia putra kita! Dia masih hidup ..." Ucap Rishma menyeka air matanya.
"Tentu saja ... dia masih hidup, tidak ada yang akan terjadi padanya. Dia adalah putramu, putraku, putra kita ... dan juga pangeran kedua kerajaan ini ... tidak ada satu pun yang bisa merenggutnya dari kita ..." Ucapnya dengan tenang dan penuh keyakinan.
Wanita itu menjadi lebih tenang.
'Ah, aku tidak tahu apakah itu benar benar kau atau bukan, tapi, apa pun itu ... kau harus kembali, nak ... apa pun konsekuensinya. Karena kau, adalah pangeran kedua kerajaan kita'
...□□□...
'Apakah itu kau?' Pikir seorang wanita bertudung dan dengan jubah biru panjangnya.
Wanita itu nampak sendirian dan memandang ke langit yang menggelap.
"Ada apa? Aku merasa sedih saat ini" tambahnya seraya mengepalkan kedua tangannya di depan dada.
...□□□...
Alpha College.
Seorang pria tua nampak berdiri dengan kedua tangannya di belakang. Ia nampak menatap jauh ke langit gelap yang bergemuruh dengan petir dan hujan.
Ia menarik napasnya panjang, sembirat kesedihan mewarnainya. "Begitu. Jadi ini jalan pulang yang kau pilih, tuan pemimpin?"
Ia lantas membalikkan tubuhnya membelakangi jendela luas. Menatap ketiga sosok yang duduk dengan ekspresi kacau mereka.
"Seharusnya kalian tahu jika ini pilihannya. Kita tidak punya hak untuk mencampuri keputusannya." Ucapnya bijak.
Ia memejamkan matanya sebentar sebelum kembali membukanya dan berjalan melewati ketiga sosok itu.
Dengan helaan napas berat, ia berkata, "bangunlah dari kesedihan kalian. Bukan ini yang diinginkannya."
"Bahkan jika kita mampu menghancurkannya, takdir itu. Kita tetap harus menunggu dengan tenang, seraya mempersiapkan masa depan bagi generasi yang lebih baik."
"Sudahlah, kita harus segera mempersiapkannya, entah itu akan menjadi penghukuman atau justru tes ... hanya dia yang bisa melakukannya sendiri"
__ADS_1