
Bab 60: Phoenix
Rentetan suara aneh menyerbu pikiranku.
Aku membuka mataku.
Kegelapan segera menyambutku.
"Maka, bangkitlah dari kematianmu"
"Dan klaimlah tahtamu"
Kembali kudengar suara yang sama. Aku mengangkat kepalaku, dan segera bangkit dari tempatku.
"Siapa kau?"
"Aku?"
"Ya, kau"
"Coba tebak"
"Aku tidak suka tebak tebakan"
"Menyedihkan"
"Dasar pria tua"
"Terserah apa katamu"
"Aku, Phoenix"
Ucapnya membuatku terkejut. Phoenix, salah satu dari beberapa besat tingkat mitos. Keberadaannya yang tidak dipengaruhi ruang dan waktu, itulah level ketinggian kekuatannya.
Dan, kekuatan yang terpenting darinya adalah, karakteristiknya, Abadi.
"Phoenix?"
"Berbanggalah manusia!"
"Aku, sang legenda yang tak pernah mati ini, muncul di hadapanmu"
"Tidakkah kau seharusnya senang!?"
"Dibandingkan itu, bagaimana caraku kembali?"
"Apa maksudmu!?"
"Ah, kelihatannya kau marah" ucapku lirih pada diriku sendiri.
"Hah!?"
"Tidak, lupakan"
"Jadi? Apa yang kau inginkan?"
"Tsk! Tidakkah kau belajar menghormatiku!?"
"Jika kau berharap begitu, maka kau salah orang. Aku bukan manusia yang akan memuja muja sosok besar sepertimu"
"Yah, setidaknya jiwamu bersinar indah"
"???"
"Kelihatannya jiwamu yang bersinar penuh kecemerlangan itu berasalah dari kebanggaanmu ya,"
"???"
"Aku tidak paham, katakanlah sesuatu yang aku paham"
"Yah terserahlah, karena kau membuatku tertarik, jadi katakan apa yang kau inginkan."
"Apa ya?"
"Ah! Serahkan batu blessing of immortality milikku!"
"Hah? Kau pintar. Tapi kenapa kau meminta batu sampah itu?"
__ADS_1
"Berisik!"
"Daripada itu, kenapa kau membutuhkannya saat kau bahkan bertemu induknya?"
"Jika begitu, kau seharusnya tak memerlukannya kan?"
"Tidak juga"
"Apa apaan jawabanmu itu!?"
"Yang lebih penting, kau membutuhkannya kan?"
"Itu yang kukatakan tadi!"
"Baiklah. Jawab pertanyaanku"
"Mana yang lebih penting, kemenangan atau kebangkitan?"
"Kau bercanda?"
"Tidak, ada banyak jawaban di luar sana. Tapi, aku ingin mendengarnya darimu"
"Hmm, bagaimana ya? Biar kupikirkan kata kata yang pas"
"..."
"Kebangkitan atau kemenangan, huh?"
"Aku tidak tahu yang lainnya, tapi kurasa keduanya sama pentingnya."
"Pilih satu yang lebih penting"
"Maka aku memilih kebangkitan."
"Kenapa?"
"Sederhananya, ada banyak waktu saat aku jatuh. Tak peduli apapun, itu terasa sangat berharga saat aku berhasil bangkit dan memenangkannya. Tapi, kemenangan itu tak berarti apa apa saat aku tidak bisa bangkit dari kejatuhanku."
"Bahkan jika aku bangkit tanpa kemenangan, itu terasa jauh lebih baik daripada kemenangan tanpa kebangkitan. Singkatnya, apa gunanya aku menang jika setelahnya aku tidak bisa memenangkannya lagi?"
"Akan selalu ada kesempatan untuk menang dalam kebangkitan, tapi hanya ada sedikit kesempatan untuk bangkit saat kau menang"
"Aku menyukainya, jawabanmu"
Seberkas sinar jingga emas muncul, menyeruak bersama rasa hangat yang penhh keagungan. Dari balik api emas yang penuh keagungan itu, nampak warna jingga yang begitu pekat, menyala dengan sinarnya.
"Kurasa aku tahu kenapa kau menanyakannya" ucapku. Banyak pertanyaan muncul dalam benakku,
'Apa dia selalu secemerlang ini?'
'Apa cahayanya tak pernah redup?'
'Apa api abadi benar benar ada?'
'Jawabannya tidak, mereka pernah menjadi redup, hingga kemudian benar benar padam. Tapi, jiwa mereka tetap berkobar, penuh dengan semangat kebangkitan. Tidak ada yang melihat saat ia kalah dan sirna'
'Tapi itu segera berbalik saat ia bangkit dan memenangkan setiap permainan'
'Ada banyak orang yang menyebutnya sebagai kemenangan'
'Tapi ia membencinya, karena ia adalah kebangkitan, bukan kemenangan'
'Ada banyak orang yang mengagungkan keabadiannya, tapi ia tak benar benar abadi. Ia terjatuh dan padam, tapi ia juga bangkit beribu ribu kali dalam hidupnya yang panjang'
'Jika kemenangan adalah api emas miliknya yang berkobar penuh cahaya dan kecemerlangan, maka kebangkitan adalah inti jiwanya'
"Tidak apa. Kau tahu? Ada banyak orang yang memuji cahaya dan panasku, tapi hanya segelintir orang yang benar benar mengenal intiku"
"Apa aku boleh menafsirkannya dengan, 'ada banyak orang yang melihat kemenanganmu, tapi hanya sedikit yang tahu akan kebangkitanmu,' benar?"
"Kau mendapatkanku, manusia"
"Apa maksudmu?" Tanyaku bingung.
Ia tak menjawab. Hanya diam, hingga kemudian, ia mengeluarkan sebuah suara aneh. Terdengar seperti nyanyian, tapi begitu singkat layaknya sebuah jeritan. Ia bersinar penuh kebanggaan, membakar dirinya dan berubah menjadi cahaya keemasan.
Ia melesat menghampiriku, merasuk ke dalam tubuhku secara mendadak.
"Kutemani kau merebut tahtamu, manusia" ucapnya sebelum ia benar benar sirna.
__ADS_1
"Kau--" ucapku tersekat saat banyak bongkahan ingatan memasuki pikiranku.
《 [RISING PHOENIX] Integrate 》
...□□□...
Ingatan itu berputar, denganku di dalamnya.
Sebuah ruangan gelap dengan hawa dingin menyambutku kemudian.
'Apa aku masuk ke dalam ingatan orang lain?'
"Dimana ini?" Ucapku bingung.
Sembirat aura dengan segera kurasakan di tengah keheningan itu. Derap langkah mendekat, dua orang sosok memasuki ruangan itu. Dua tanduk di kepalanya menunjukkan jati diri mereka sebagai iblis.
Kreak.
Pintu itu terbuka. Aku mencoba menghindar saat kedua pria itu sepertinya tidak menyadari keberadaanku.
"Ha ha! Bukankah Deux itu bodoh?"
"Yah, harus kuakui, dia memang mendapatkannya, telur Phoenix ini. Tapi, siapa yang tidak tahu soal keserakahannya?"
'Apa yang mereka maksud itu Deux dari heart?'
Gumamku dalam hati.
"Ha ha! Tapi yang lebih penting, apa telur ini akan menetas? Ini sudah beberapa bulan, kan?" Ucap salah seorang pria.
'Itu, phoenix?' ucapku saat telur putih itu memberiku kesan familiar.
Kedua iblis itu meletakkan telur Phoenix pada sebuah kotak di sudut ruangan yang penuh dengan senjata senjata berharga.
Setelahnya, mereka tertawa seraya berlalu.
Tepat setelah kepergian mereka, ruangan terdistorsi. Semuanya menjadi berwarna hitam putih untuk sejenak sebelum akhirnya kembali. Namun, sebuah suasana menjadi terasa sangat berbeda.
Seorang wanita muda dengan seluruh bajunya berwarna putih. Di wajahnya, terpasang sebuah topeng berwarna emas menutupi separuh wajahnya.
Ruangan kembali terdistorsi. Menjadi abu abu, menghitam, hingga kemudian kembali menjadi normal.
"Apa yang kau pilih, kebangkitan atau kemenangan?" Tanya sebuah suara yang kudengar beberapa saat lalu, sang Phoenix.
'Hah, deja vu ya' gumamku dalam hati.
"Coba lihat apa jawabannya" ucapku pada diri sendiri.
"Aku tidak tahu" jawab wanita itu dingin dan singkat.
"Membosankan" balas phoenix.
"Tapi, jika itu dia ... kurasa kebangkitan" ucapnya membuatku sedikit bingung.
"Dia? Siapa?"
"Seseorang di masa lalu, kurasa"
"Apa alasannya?"
"Aku tidak tahu."
"Kuharap aku bisa bertemu lagi dengannya untuk menanyakannya. Tapi aku sadar, itu tidak mungkin"
"Karena dia di masa lalu?"
"Benar, tapi juga karena aku, tidak punya keberanian menemuinya"
"Lalu? Bagaimana caraku tahu alasanmu?"
"Mungkin saja kau bisa mendapatkannya suatu saat nanti di masa depan, entah dari siapa pun itu" ucapnya kemudian.
"Kuharap saat kita bertemu lagi nanti, kau sudah tahu alasan dia memilihnya" ucap Phoenix.
"Semoga saja"
Ingatan itu kembali menjadi pudar untuk sejenak, tapi tidak dengan suara suara keduanya. Dengan kata lain, aku masih bisa mendengar keduanya.
"Siapa kau?"
__ADS_1
"Aku? Kurasa iblis" ucapnya.
"Tidak, kau bukan iblis. Siapa namamu?"