
Bab 4: Mimpi Dan Emosi
Ugh..
Dingin..
Dingin sekali..
Sakit..
Kenapa sesakit ini?
Gelap..
Aku..
Takut..
Aku takut sendirian..
'Aku.. kedinginan.. ayah ibu... Kalian dimana... kenapa kalian tak menolongku? Kenapa kalian tak mencariku? Ayah.. Tolong aku... apa yang harus kulakukan? tubuhku benar benar sakit.. aku.. akan mati.. ibu.. aku kedinginan.. aku butuh pelukmu.. tolong peluk aku.. aku tak ingin berjuang sendirian lagi.. .. siapapun.. kumohon.. jangan tinggalkan aku lagi..'
Pandanganku kabur, tubuhku mati rasa, aku.. aku benar benar lemah..
disaat itu aku mendengar,
"hei, bukankah kau ini sangat bodoh?bukankah hidup tanpa kematian itu lebih baik? Kau bisa tahu dimana orang tuamu.. kapan.. seperti apa.. dan bagaimana.. tapi itu hanya akan menjadi angan angan jika kau mati.. bukan begitu?" ucap suara misterius yang menggema di telingaku.
Aku terdiam mendengar suara asing bergema di kepalaku.
"Hei.. bukankah seharusnya kau marah? Kau tahu? kurasa membantumu sedikit juga tidak apa apa.. lagipula kurasa kau orang yang cukup menarik.. Raka.." ucap suara misterius tanpa henti.
" Tidak.. aku.. tak peduli lagi.."
"oh? Benarkah? Yah sudah kuduga sih.. kau tidak peduli.. berkata denganmu seperti ini.. entah kenapa aku merasa kau menakjubkan.."
"Siapa pun kau, bisakah kau diam?! Aku mengantuk! .."
"fufufufu.. kau benar benar manusia yang menarik! Raka! yang lemah akan selalu dibawah, diinjak, mereka hanya bisa mendongak dan melihat yang berkuasa menunggu jatah untuk diinjak! Mereka yang kuat selalu menginjak, melihat yang lemah bagaikan semut kecil yang pantas mati.. Anak muda... apa kau yakin? kau tidak membutuhkan kekuatanku?"
__ADS_1
"Cukup! Kau sudah cukup bicara bukan? Diam! kumohon diam!"
"heh,, anak muda apa kau tidak menyesal nantinya? aku adalah kekuatanmu.. didunia ini,, kekuatanku adalah yang terhebat,, jika kau tidak mau hidup dalam kekuatanku yang begitu hebat ini.. maka biarkan aku mengambil alih tubuhmu ini... Ra.. ka.." ucapnya tanpa henti.
'Tch suara menyebalkan!! diamlah! ugh.. satu satunya penyesalanku adalah aku.. tidak bisa memenuhi keinginan kalian,, Ayah ibu..'
perlahan lahan kesadaranku pun hilang, kepala ku pusing untuk sesaat, tanpa sadar aku tenggelam semakin dalam, tubuhku benar benar dingin, mati rasa! aku tidak bisa mendengar ataupun berkata kata.. entah mengapa tubuhku benar benar berat.
'dalam kegelapan ini, yang kulihat hanyalah bulan dan air..'
Entah sejak kapan telingaku berhenti berdengung, yah, kurasa suara parau menyebalkan itu mulai menghilang.. tidak! lebih tepatnya ia mulai menguasai tubuhku, perlahan namun pasti bayangan hitam pekat masuk kedalam tubuhku.. sakit! rasanya seperti darah yang kumuntahkan tadi memaksa masuk kembali ke tubuhku..
Aku terdiam dengan terus jatuh, jatuh, dan jatuh ke dalam dan lebih dalam lagi. Saat ini, meskipun tubuhku merasakan sakit, entah mengapa pikiranku mengalir begitu tenang.
disaat itu pula tubuhku terasa sangat ringan, hatiku benar benar tenang, aku.. tidak tahu apakah aku masih hidup atau mati.. namun, tiba tiba ada yang masuk kedalam fikiranku.
Ada begitu banyak tanya yang mulai bermunculan dikepalaku..
Kesadaranku mengabur,
Aku, terlelap dalam kegelapan.
Aku membuka mataku, sebuah ruangan gelap dengan pemandangan familiar yang asing tersaji dihadapanku.
'Kekacauan, dan ketenangan'
Itulah yang ku pikirkan saat itu.
Aku termenung sekejap.
'Ini.. ada apa dengan perasaan ini? Tempat ini membuatku jauh lebih tenang.'
Aku menatap sekelilingku, begitu gelap.
Setelah memantapkan hatiku, aku mulai melangkah.
Sebuah langkah mengubah dimensi itu.
Pemandangan yang sama tersaji dihadapanku.
Sebuah dimensi penuh langit berbintang seolah menyambut kedatanganku.
__ADS_1
Dimensi itu benar benar luas, sama seperti yang aku ingat tempo lalu di suatu tempat yang samar ku ingat.
Mataku memandang sekeliling, sebuah sudut hitam kembali menarik perhatianku.
'Apakah disana?' Ucapku dalam hati.
Deg!
Jantungku kembali berdentum. Disaat yang sama aku kehilangan pijakan dan terjatuh kedalam suatu kolam yang dingin.
Ugh..
Aku tidak bisa bernafas, reaksi kejut membuatku panik dan kehilangan arah sejenak.
Aku memejamkan mataku dan menenangkan pikiranku sejenak.
'Tenanglah Raka! Tenanglah!' Ucapku menyemangati diriku sendiri.
Sesaat kemudian aku berhasil menangani serangan panik itu.
'Dingin, dingin seperti biasanya,, tapi ia begitu tenang'
Aku terus terjatuh semakin dalam, meskipun begitu sebuah ketenangan hadir dalam jiwaku.
Semakin dalam, semakin dingin dan gelap suasananya. Tanpa disadari, darah yang merasuk ke dalam tubuhku berubah menjadi hitam pekat.
'Gelap, ini benar benar gelap'
Deg!
Lagi lagi jantungku berdentum dengan keras dan lebih keras lagi.
Keugh!
Aku menahan rasa sakit, tangan kecilku terus meremas jantungku yang terus berdenyut.
Darah merah kembali menyembur dari mulutku.
Aku menutup mataku seraya menahan rasa sakit yang terus menghujam jantungku.
Hingga, sebuah sentuhan menyadarkanku.
__ADS_1