The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 95


__ADS_3


Bab 95: Pertemuan dengan Kaisar


Siang berlalu, petang menggelap, malam menjelang.


Pertemuan raja akan dimulai.


Aku menarik napasku panjang, sedikit menenangkan hati dan emosi yang sedikit melonjak karena ilusi tadi. Aku harus tenang.


Pintu terbuka, aku dan paman Albert melangkah memasuki ruang konferensi. Di dalamnya berjejer banyak kursi, sebagian telah terisi.


Kami memasuki ruang. Seluruh mata tertuju padaku. Itu wajar, bagaimanapun, aku baru berumur 14 menjelang 15, sama sekali belum bisa dikatakan dewasa. Dan di sini, aku akan menjadi satu-satunya delegasi raja termuda di antara mereka yang pernah datang ke sini kurasa, jika itu hanya sekedar menyetujui, semua akan baik-baik saja. Tapi saat ini, tugasku selain menyetujui juga menggagas.


Mataku menyelisik, memperhatikan keseluruhan anggota di dalamnya dan sedikit memberi hormat. Adalah sebuah larangan bagi para raja untuk meninggikan orang lain selain kaisar saat konferensi berlangsung. Karenanyalah, aku hanya sedikit tersenyum seraya menganggukkan wajah kecilku ringan.


Aku mengambil sebuah kursi, entah ini disengaja atau bagaimana, aku seolah-olah ditempatkan di sebuah kursi yang bertatapan lurus dengan kaisar, entah tujuannya baik agar aku lebih mudah menjelaskannya kepada kaisar, atau tujuannya buruk untuk memperlihatkanku di tempat di mana seluruh mata dapat melihatku dengan jelas.


Sesaat setelahnya, ruangan begitu hening, hanya sedikit di antara mereka yang bercakap-cakap satu sama lain. Mereka semua terdiam seolah-olah kehilangan topik. Dan yah, semua itu dilimpahkan padaku, maksudku- mereka memandangku dengan berbagai jenis pandangan. Ada yang memandangku hangat, ada yang memandangku dengan pandangan tegas dan serius, ada yang meremehkan, dan ada pula yang sama sekali tak peduli. Yah, apapun itu aku tidak peduli.


Setelah beberapa lama, para peserta konferensi mulai berdatangan, dan pada akhirnya, sang kaisar muncul.


"Panjang umur yang mulia kaisar Luminaries" ucap seluruh anggota serempak.


Ia mengangguk dan mengambil kursinya yang ada tepat di hadapanku.


"Apa kabar semuanya, saya harap anda semua baik-baik saja. Begitupun dengan negri-negri tercinta kita. Pertama-tama, aku ucapkan terima kasih atas partisipasi anda semua dalam menangani konflik yang terjadi di salah satu negri kita, Koga. Saya yakin anda semua sudah mengetahui seluruh tentang konflik yang terjadi. Kekaisaran pun sudah tidak mungkin tinggal diam jika kekaisaran iblis bertindak. Karenanyalah, kita akan membahas rencana dalam pertempuran Koga. Yang kedua, saya mohon perhatian anda atas masalah salah satu negri sahabat kita, Arcnight. Semuanya sudah mengetahui tentang hal ini. Karena itulah konferensi hari ini saya laksanakan. Siapapun boleh memulai pembahasan." Ucapnya.


"O ho ho ho, yang mulia, bukankah lebih baik jika yang muda yang memulai?" Ucap seorang pria paruh baya berambut coklat dengan santai, Penatua kedelapan.


"Yah, aku sedikit menyetujuinya" ucap seorang wanita paruh baya berambut hijau segar dengan telinga yang sedikit meruncing, demi Elf, atau yang dikenal dengan penatua ketiga.


Sudut mulutku berkedut, sedikit mengesalkan, namun aku sudah memperkirakannya. Jadi bisa dibilang, kedepannya tidak akan melenceng terlalu jauh dari perkiraanku.


"Tentu saja .. saya rasa juga tidak sopan jika saya tidak bersuara sedikit pun", aku berdiri, seluruh mata menatapku. Saat ini, seolah-olah ruangan besar ituterasa berpusat padaku.


Aku tersenyum, dengan satu tangan di belakang dan tangan lainnya di dada, bersiap memperkenalkan diri.


"Saya Raka Azalea Arcnight- putra ketiga raja Arcnight. Tujuan saya di sini sesuai dengan apa yang telah diucapkan oleh yang mulia Luminerus, sedikit suara untuk negeri saya. Yah, yang terpenting adalah terima kasih atas kedatangan anda semua, dan terima kasih atas kemurah hatian anda, yang mulia Luminerus." Ucapku.


Suasana menjadi lebih hening sekarang, semua orang benar-benar memperhatikan perkenalanku.


‘maka, itu sudah pasti hal yang baik.’ ucapku pada diri sendiri.


"Terkait dengan bahasan kali ini, saya memiliki beberapa pendapat yang harus saya sampaikan, yang terutama terkait dengan negeri saya dan selanjutnya terkait dengan negeri Koga. Saya rasa, jika itu terkait dengan negeri saya, maka ana semua pasti tahu akan masalah yang terjadi di negeri saya, Arcnight."


"Terkait dengan masalah yang menimpa negeri saya, saya rasa anda semua mengetahuinya. Arcnight, telah lama berperang dengan miasma. saya tidak ingin mengungkit banyak hal yang saya rasa tidak relevan dengan tujuan saya saat ini. lalu, apa tujuan saya? akankah anda semua akan percaya andaikata saya mengatakan, saya ingin membebaskan negeri saya?."


...□□□...


"Kau terlihat lelah." Ucap sebuah suara yang tak asing di telingaku.


Aku menoleh pada sang pemilik suara, "oh. Tidak, aku masih segar." Ucapku tersenyum pahit.


"Yah, kau pandai berkelit." Ucapnya.


"..."


"Tapi kerja bagus. Kau berhasil meraih tujuanmu."


"..."


Aku hanya tersenyum masam menanggapi pujian yang rasanya seperti sindiran itu.


Perlahan namun pasti, sedikit lamunan mangantarku kembali pada pertemuan itu.


Pertemuan malam tadi memang sedikit sengit. Meski aku tahu bahwa akan banyak pertentangan, tapi siapa yang menyangka jika itu sepenuhnya berdebat denganku?

__ADS_1


Terlepas dari itu semua, aku berhasil.


Pada paruh pertama di mana aku mengungkapkan gagasanku soal pembebasan negeriku- lebih tepatnya keluargaku- ada banyak sekali sosok yang menentangku. Beruntungnya, itu masih dalam perkiraanku, jadi tentu saja aku sudah menyiapkan segalanya. Pembicaraan itu pun diakhiri dengan hasil tipis, 6 untukku, 5 yang menolak, dan 3 penatua lainnya tidak mengambilnya.


Itu berhasil, tapi tetap saja ... Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku tidak mengambil kerjasama dengan Sylvania, Alkiria, dan Koga sebelumnya. Lima penatua dan sang kaisar menyetujuinya, mulai dari penatua pertama, keempat, keenam, kedelapan, dan penatua kesebelas menyetujuinya.


Itu sedikit mengejutkan untuk Sang Kaisar bergabung denganku, tapi tidak lebih. Pasalnya, siapa yang akan menyangka jika aku bahkan bisa memenangkan penatua pertama yang paling dekat dengan Kaisar di tanganku? Aku tak pernah memikirkannya. Tidak, lebih tepatnya aku tidak berani memikirkannya.


Faktanya, sebelum ini aku hanya berpikir mampu mengamankan 5 kekuatan dalam keadaan imbang. Karena bagaimanapun, akan ada banyak penatua yang sulit menentukan, itu karena pengaruh Arcnight sebagai negeri militer dan sisanya karena San Gracia dan Azasky bergabung.


Kemudian, di paruh kedua, itu membahas mengenai konflik Koga dengan Baal. Tidak banyak yang kukomentari, terutama soal waktu tepat terjadinya perang itu. Faktanya, bahkan meskipun aku tahu bahwa kemungkinan terbesarnya adalah di pekan kedua, tidak banyak yang bisa kulakukan. Tentu itu bukan berarti aku akan mengabaikannya. Tapi terlalu sulit meyakinkan orang-orang mengenai kemungkinan itu.


Dengan kata lain, tidak ada yang akan percaya dengan firasat seorang anak kecil. Meski itu tidak berarti aku menggapku sebagai anak kecil, sih. Yah, jika itu terjadi sesuai perkiraanku, maka aku akan bergerak sendiri, tak perlu terlalu banyak mengandalkan orang lain.


...□□□...


"Yang mulia, apa anda yakin akan hal ini?" Tanya seorang pria.


"Tentu saja." Jawabnya. Pria itu berambut hitam panjang dengan mata merah yang tampak begitu tenang.


"Maksud saya, bukankah terlalu naif untuk percaya pada ucapan anak seumurannya?"


"Itu benar"


"Lalu! Apa masalahnya, yang mulia?"


Pria itu tertawa kecil, "Hmm~ bagaimana ya bilangnya ... Justru karena ‘dia’ yang mengatakannyalah, aku tidak punya pilihan selain percaya." Ucapnya terkikik.


"Itu ..."


"Ha ha! Tidak apa jika kau tidak dapat memahaminya, tidak semua orang bisa melihat hal-hal istimewa darinya". Ucapnya sembari melambaikan tangannya.


"Iya kan, saudaraku- Yama?" Bisiknya kemudian.


Untuk sesaat ketenangan yang aneh menyelimuti sekitar pria riang itu, Luminerus.


Masih dengan senyum hangat di wajahnya yang tenang itu, siapapun akan lalai dan tidak akan menyadarinya, sebuah kerutan yang perlahan hadir di antara kedua alisnya.


Bahkan jika para penatua itu adalah orang kepercayaannya, akan tetap ada perbedaan pikiran di antara miliknya sendiri dengan orang lain, kan?


Saat itu, pria tua sedikit mengkhawatirkannya, tapi perasaan itu segera hilang ditelan mata biru teduh yang entah bagaimana begitu tenang dan dalam.


Ia paham betul bagaimana rasanya. Fakta bahwa ia adalah kaisar Holy Throne termuda, ia bahkan sedikit khawatir saat pertama kali berbicara di hadapan keempat belas penatua Holy Throne. Meskipun ia tidak bisa disamakan dengan manusia lain, tetap saja, mereka bahkan mungkin akan membisu saat tatapan penatua jatuh.


"Sigh. Saya mengerti dengan apa yang anda semua pikirkan. Faktanya, ketakutan manusia akan kematian jauh lebih besar dari hasrat apa pun, benar?"


"..."


"Fakta lainnya bahwa miasma adalah bencana kematian itu sendiri. Saya tidak akan menyalahkannya, saya juga mencintai hidup saya."


"Itu benar, jadi apa? Kau ingin kami melakukan apa untuk menebus hal itu?"


"Oho? Bagaimana jika saya beri tahu bahwa, saya tahu solusi dari miasma ini?"


"!!"


"Arcnight! Apakah itu benar!?"


Segera, setelah ucapan itu mengalir, suasana segera mendidih, bukan dengan amarah melainkan dengan kegemparan yang terus terjadi.


"Itu benar." Ucap anak itu dengan menggenggam sebuah gulungan perkamen.


"Ini masih formula, tapi akan segera siap." Ucapnya.


"Ini omong kosong! Apa kamu pikir kami tidak pernah berpikir untuk menyelesaikannya segera!?"


"Sayangnya, apakah saya berani berbohong di hadapan orang-orang semulia anda semua?" Tanyanya tak kalah.

__ADS_1


"Apa jaminan bahwa hal ini benar?"


"Itu benar, konyol rasanya jika kami kalah dari seorang anak kecil."


"Para penatua, ingat bahwa usia atau latarbelakang sama sekali tak di butuhkan di sini." Ucapnya tajam.


"Ah! Saya benar-benar lupa."


"Jadi? Apa yang anda semua inginkan agar formula ini dapat dipercaya?"


"Sumber. Dari mana asal formula ini?"


"Aha? Biar saya pikirkan. Bagaimana jika saya bilang Alpha?"


Untuk sesaat semuanya terdiam, seolah waktu telah berhenti. Namun dengan segera, letusan tawa terdengar.


"Ha ha! Apa lagi yang kau katakan!?"


"Kutarik kembali pernyataanku sebelumnya, darah Arkaiz tidak mengalir pada baj*ngan kecil sepertinya."


"Sudah cukup untukmu berkata omong kosong, segera diam jika kau tidak ingin dipenggal, nak. Kau tidak bisa bermain-main dengan nama itu."


"Diam." Sebuah suara mengalir dingin. Tepat dari seorang pria berambut hitam di ujung meja.


"Apakah itu benar, Arcnight?" Tanyanya dingin.


"Sayangnya, itu benar, yang mulia Luminerus." Ucapnya seraya membuka perkamen itu.


Segera sinar kebiruan mencuat dari sudut perkamen- Alpha Academy.


"Saya adalah seorang pengembara, mendiang master saya kebetulan salah satu dari sekian banyaknya orang beruntung yang mengenal Alpha Academy. Dari sanalah, saya bisa mengetahui banyak informasi mengenai sihir iblis dan fenomena-fenomena kuno. Salah satunya adalah bencana asal dari miasma."


"Apa jawabannya? Dari mana asal miasma?"


"Iblis. Seperti yang kita semua tahu, sihir iblis adalah sihir yang memicu kekuatan darah dengan mengakumulasikan nasib buruk dan emosi negatif dari suatu makhluk lainnya."


"Mereka adalah penyihir yang memuja kematian sebagai asal kekuatan."


"Saat iblis mati, sihir dan tubuh iblis tidak akan langsung menghilang begitu saja, ia akan mengambang sebentar sebelum akhirnya musnah seiring berjalannya waktu."


"Itu tidak akan berpengaruh, tapi dalam beberapa kasus di catatan sejarah Alpha, kematian dengan energi negatif yang terlampau tinggi seringkali menyebabkan suatu gangguan. Terutama jika tanpa sengaja energi itu terserap sebagai Aether."


"Jika itu ringan, itu hanya akan menyebabkan ketimpangan dan kekacauan dalam aliran mana. Tapi jika energi negatif terlalu mendominasi, maka ada kemungkinan makhluk itu mati atau hidup sebagai iblis."


"Makhluk yang segera mati tidak akan menyebabkan terlalu banyak masalah. Namun jika energi negatif berkembang tanpa disadari, siklus akan terus berlanjut."


"Tapi bukankah penyebarannya terlalu lambat?"


Ia mengangguk, tapi dengan cepat segera menggeleng, "bisa benar atau tidak. Itu adalah peristiwa tunggal. Lantas biarkan saya menanyakan ini, bagaimana jika makhluk yang tercemar lebih dari satu dan semuanya melanjutkan siklus?"


"Tunggu."


Ia kembali mengangguk kecil, "itu akan semakin besar dan besar hingga akhirnya tak terkendali."


"Kurasa itu masuk akal. Jika diingat, Arcnight adalah tempat berlangsungnya banyak perang di benua ini selain benua cermin. Dengan kata lain, jika ditanya di mana tempat yang paling tepat untuk lahirnya iblis, maka Arcnightlah jawabannya."


"He-hei ... Apakah kalian tidak memperhatikan suatu fakta?"


"Hah?"


"Andaikata isolasi Arcnight terus berlangsung, mau tidak mau itu sama saja menjatuhkan takdir kematian, bukan? Aku tidak mengatakan bahwa ini tidak adil atau bagaimana. Bagaimanapun, Arcnightlah yang menginginkan hal ini. Jika itu masalahnya, seluruh rakyat Arcnight akan mati tanpa terkecuali para royalty dan bangsawan."


"Seandainya apa yang dikemukakan Arcnight muda adalah benar, semakin banyak kematian akan menimbulkan banyak energi negatif. Itu artinya semakin banyak miasma. Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi cangkang telur pun punya waktu untuk pecah. Jika itu yang terjadi pada pelindung, percaya atau tidak, akan ada banyak kerajaan yang ditimpa bencana miasma."


Semua orang menelan ludahnya masing-masing, faktanya terlalu pahit, hanya ada sedikit keheningan.


Tak berapa lama, sebuah ******* muncul.

__ADS_1


"Haa~ yang benar saja ... Mengapa kau tidak lahir sepuluh tahun lebih awal saja?" Gerutunya.


...□□□...


__ADS_2