The Eternity: Colour Of Fate

The Eternity: Colour Of Fate
Bab 47


__ADS_3


Bab 47: Selamat tinggal, Raka


Secara bersamaan mereka menyerang. Sementara Yama hanya terdiam dan kemudian mengayunkan pedangnya. Dalam sekali tebas, kedelapan orang itu terlempar dan terluka parah.


Darah mengucur dari tubuh mereka. Yama hanya terdiam, berdiri mematung masih dengan ekspresi dingin.


Ia menarik napasnya berat, "Aku tahu kau masih disini, Evangelion" ucap Yama dengan nada dingin menghunuskan pedangnya kearah seorang pengikut.


Seorang prajurit lantas berdiri terhuyung huyung.


Suara tulang yang tak terhingga banyaknya bergemeretak, bersamaan dengan satu persatu tubuhnya yang digerakkan. "Cih. Ternyata memang susah ya untuk mengelabuimu, Yama" Ucap Evangelion dengan mengambil tubuh kosong milik seorang prajuritnya.


Dengan terhuyung huyung ia bangkit dan mulai secara mendadak melesat dengan cepat ke arah Yama. Yama menangkis serangan demi serangan Evangelion.


Pertarungan kembali memanas.


"Tch. Dasar pak tua! Bukankah saat ini kau sudah mencapai batasmu? Bahkan kekuatan kehidupanmu nampaknya sudah habis ke ke" ucap Evangelion.


"Oh? Lalu kenapa jika aku mati huh!? Setidaknya aku mati untuk sesorang yang pantas, tidak untuk sekelompok baj*ngan seperti kalian," ucap Yama dengan tersenyum bahagia.


"Lagi pula, sejak awal pun. Aku cukup bersyukur, setidaknya aku masih bisa bertarung denganmu, bahkan jika itu yang terakhir kalinya bagiku. Maka itu juga akan jadi pertarungan terakhir bagimu, kawan lama"


"Kalau begitu keputusanmu, bagaimana jika aku mengabulkannya."


"Tentu. Lakukanlah"


Pertarungan kembali terjadi. Baik itu pukulan, tendangan, atau pun serangan fisik dan sihir saling menerjang. Bagi mereka yang masih sadar, maka pertarungan ini terasa seperti melihat debu yang diterbangkan angin secara acak- benar benar kacau dan cepat.


Tapi mereka tak memperdulikannya, mereka bertarung seperti di dunia mereka sendiri, tanpa henti saling menyerang tanpa memperdulikan semuanya.


Setelah beberapa lama, kedua belah pihak nampak saling terpental mundur, keduanya sama sama memuntahkan darah segar dari mulut mereka. Napas mereka tersengal, dan indera mereka mulai tumpul. Berbeda dari Yama yang mengetahui keadaan dirinya, Evangelion sama sekali tak menyadari bahwa, bendera kematian telah berkibar, melambai ke arahnya dengan dingin dan kelam.


Yama tersenyum sederhana, "Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengejutkan, Evan?"


Sementara Evangelion hanya berdiri diam, seraya mengelap sudut bibirnya yang diwarnai merah darah.


"Apa ini rencanamu? Membawakan kematian untukku?" Ucapnya dingin.


"Mengapa? Bukankah kau sendiri yang mengatakannya dulu? Kita bukanlah teman, melainkan saudara. Saudara yang berbagi hidup dan mati. Maka, apa salahnya jika aku mengambil sedikit hidupmu?" Balas Yama, masih dengan lengkungan senyum di wajahnya.


Ia menghela napasnya, lengkungan senyum itu sirna dari wajahnya yang nampak pucat. Berganti dengan tatapan dingin, "Bahkan, jika master dulu tidak datang untuk kita. Apakah menurutmu kita bisa bertarung seperti ini? Tidak! Jangan pikirkan itu. Bahkan, jika master tidak datang di hari itu, kita akan mati, dengan begitu seharusnya dunia akan jadi lebih damai. Tidakkah kau setuju?"


"Kau naif, Yama" Ucap Evangelion seraya mengibaskan tangannya.


"Ha ha ... baiklah, kurasa bukan ide yang buruk jika kau duluan yang mati. Dengan begitu bukankah kau bisa bertemu dengan master yang sangat kau rindukan itu?"

__ADS_1


"Fall"


Nampak sebuah lubang besar muncul dari langit biru. Yama tersadar akan bahaya yang menimpa muridnya. Dengan cepat ia bergerak ke arah muridnya yang belum sadarkan diri.


Dug!


Jantungnya berdentum dengan keras. Seteguk darah merah mengalur dari mulutnya. Ia berlutut menahan rasa sakitnya. Sementara Evangelion terkekeh.


"Baj*ngan kau Evangelion!" Umpatnya.


'Tidak! Aku tidak boleh pergi saat ini. Anak itu masih menungguku. Setidaknya dia harus hidup untuk melindunginya. Satu satunya pelindung dan satu satunya penghancur.'


Yama berdiri dan dengan cepat bergerak. Lubang besar itu mengeluarkan sebuah meteor yang sangat besar ke arah tempat Raka terlelap.


Ledakan besar tak terhindarkan. Sepersekian detik sebelumnya, Sebuah formasi merah besar nampak berputar di tempat Yama berdiri. Lingkaran itu perlahan lahan meluas, tanpa disadari oleh Evangelion, lingkaran itu mulai menghampirinya.


Sadar akan lingkaran yang terus bertambah luas hingga berusaha mencakupnya, Evangelion terkejut dan dengan cepat mundur. Tapi terlambat, lingkaran itu dengan cepat mencakupnya, memerangkapnya dalam barier yang dijadikan kurungan oleh Yama.


"Exchange"


Sebuah senyum nampak di ujung bibir Yama yang berdarah. Ia, tersenyum bangga untuk terakhir kalinya.


Ledakan itu meluluh lantakkan medan perang itu. Tanpa terkecuali tempat Raka terlelap.


Semuanya terkesiap dan menunjukkan emosi marah mereka. Ditengah debu yang masih mengepul, nampak siluet seseorang mencoba bertahan.


Itu Yama!


Sebuah amarah melonjak berat mendominasi seluruh area. Ia mendecih.


Sadar akan kematian dari lawan mereka, kedelapan orang itu lantas melesat dengan pedang panasnya ke arah Yama. Yama bangkit dan dengan segera menangkis semua pedangnya.


Crassh..


Sebilah pedang menembus perut Yama. Meski pun begitu, Yama terus fokus menebas. Seorang pengikut yang menancapkan pedangnya kepada Yama tertebas. Dengan begitu, ketujuh orang terus berusaha membunuh Yama.


Satu persatu pedang tertancap dan menembus tubuh Yama. Dan begitu pun sebaliknya, satu persatu bawahan jubah putih tumbang tanpa nyawa. Yama terus bertahan mempertahankan napas terakhirnya.


Dengan delapan pedang di tubuhnya, ia berdiri dengan gagah. Armour hitamnya kini bersimbah cairan merah darah.


Raka membuka matanya perlahan.


"Ugh ... master ..." ucapnya membuka mata.


Yama tersenyum sesaat mendengar suara kecil itu memanggilnya. Ia berpaling dan menunjukkan ekspresi tenangnya.


"Sudah bangun huh!? Bagaimana tidurmu?"

__ADS_1


Raka terkejut. Sebuah perasaan melonjak dalam dirinya.


Pupil matanya menyusut, "Master! Apa yang terjadi pada anda!" Ucap Raka terkejut.


"Tsk. Bodoh! Mau berapa kali kau membuatku yang tua ini khawatir huh!? Tindakanmu tadi itu sangat berbahaya ... kau tahu? Menurutmu apa yang harus kulakukan jika penerus kecilku mati?" Ucap Yama dengan ringan.


"Tch. Berhenti mengatakan hal hal yang tidak penting! Alice lin.." Raka terhenti sesaat melihat ketiga bawahannya yang masih berlutut. Sementara sisanya, tersungkur dengan luka di tubuh mereka, tidak bisa bergerak.


"Tunggu. Apa ini yang kau maksud saat itu? Dan apakah kau yang memerintahkan hal bodoh seperti ini!?"


"Jika bukan aku yang memerintahkan mereka apa menurutmu aku bisa tenang saat meningggalkanmu sendirian huh!? Dan juga, bisakah kau melakukan apa yang aku sampaikan padamu saat itu?" Ucap Yama dengan tersenyum.


"Tapi ..." ucap Raka segera dicegah oleh Yama.


"Diam ... Tidak. Ada. Bantah. Han ..."


"Master!" Ucap Raka segera bangkit saat melihat tubuh masternya yang mulai ambruk.


"Ssst ... bisakah kau pelankan suaramu? Aku mengantuk."


Perlahan lahan tubuhnya limbung. Raka menghampirinya dan menahan tubuh gurunya.


Raka hanya terdiam, menggigit bibirnya menahan tangis.


"Tenangkan dirimu ..."


"Kau adalah penerusku ..."


"Dan lagi, bukankah kau yang sekarang adalah pemimpin?" Ucap Yama dengan senyum di wajahnya.


"Maaf, aku hanya bisa membimbingmu sampai disini ..."


"Sampaikan salamku pada orangtuamu dan dia"


"Jika ada ... kehidupan lainnya ..."


"Biarkan aku ..."


"Bertemu denganmu ..."


"Anak nakal ..." ucapnya dengan suara yang semakin lirih. Ia menutup matanya, menghembuskan napas terakhirnya. Dengan ini, hidupnya selama ratusan tahun telah berakhir.


"Tentu."


Ekspresi Raka dingin, matanya menatap kosong, ia menunduk menyembunyikan mata birunya yang dalam, semakin dalam dan redup- begitu gelap.


"Lalu, jika ada hidup selanjutnya. Tolong biarkan saya mengabdikan diri saya sebagai murid dengan lebih tulus"

__ADS_1


"Dan tolong, ajari saya tentang banyak hal, lagi" ucapnya tanpa mampu membendung air matanya yang menetes.


...□□□...


__ADS_2